Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
149 : IPHTV : Luka hati


__ADS_3

"Mama...aku takut."


"Ahw..ini sakit, pelan-pelann dong."


"Bagaimana sih, kalau seperti ini aku juga yang rugi waktu, juga rugi psikologis. Untung saja pesawatnya tidak jatuh."


Setelah selama kurang lebih lima belas menit mengalami turbulensi yang cukup berat, pesawat yang mengarah ke negara paris prancis itu pun akhirnya bisa mendarat dengan selamat.


Tapi karena kejadian nahas itu pula, body bagian dalam pesawat pun benar-benar banyak yang rusak, banyak penumpang yang mengalami trauma atas kejadian itu, selain itu banyak pula yang terluka.


Karena itulah, banyak ambulans yang datang untuk menangani semua penumpang yang mengalami cidera.


Dan salah satu diatara banyak penumpang itu adalah Risyella sendiri.


Yang mana, saat ini dahi Risyella benar-benar terluka hingga menciptakan darah segar terus saja mengalir, sekalipun Risyella sudah menyekanya dengan kain.


"A-apa itu?" Tanya Risyella dengan wajah takut, karena saat ini seorang perawat, tiba-tiba saja sudah memegang jarum.


Melihat perawat itu memegang jaru, Vatler menoleh ke arah Risyella.


"Lukamu harus di jahit." Jawab Vatler, karena Risyella tidak akan mengerti apa yang di katakan oleh mereka, sebab menggunakan bahasa inggris. "is it not possible not to be sewn?" Tanya Vatler.


"But your wife's wound is quite wide, so it must be sewn immediately." Jawab perawat ini.


Dengan ekspresi wajah datar, Vatler kembali menoleh kearah Risyella dan menjawab : "Karena lukamu lebar, maka harus di jahit."


"Tapi aku tidak mau ada bekas luka jahitan." Risyella menutupi luka yang di milikinya itu agar tidak di di jahit. Dia merasa enggan, karena tidak mau mendapatkan bekas luka sebauh jahitan di dahinya.


Karena bagi Risyella sendiri, hal itu akan membuat Risyella jadi merasa tidak percaya diri dengan penampilannya itu.


"Tapi jika lukamu tidak di jahit, ada kemungkinan untuk infeksi, karena ada celah lebar untuk bakteri bisa masuk. Jika yang kamu khawatirkan adalah bekas luka dari jahitan, aku akan menangani itu nanti." Jelas Vatler panjang lebar.


Sejujurya dia merasa bersalah karena pilihannya untuk tidak menggunakan jet pribadi, jadi membuat Risyella terluka seperti itu sekaligus jadi momen mengerikan untuk mereka berdua, sebab kejadian ini benar-benar akan meninggalkan memori kelam tersendiri, apalagi bagi Risyella ini.

__ADS_1


'Apakah setelah ini dia akan menolak untuk pergi lagi? Tapi jika memang begitu, bukannya itu jadi bagus?' Pikirnya.


"Y-ya sudahlah, terserah mau melakukan apa kepadaku. Aku tidak peduli lagi." Gerutu Risyella. Dia sebenarnya sungguh takut, karena jarum itu, jarum yang biasanya di gunakan untuk menjahit pakaiannya yang sobek, ternyata akan di gunakan untuk menjahit kulitnya.


Sungguh, Risyella benar-benar tidak menyangka hal itu akan kembali terjadi kepada dirinya setelah punggung nya juga pernah di jahir, dan sekarah dahinya?


Risyella pun jadi sedih, dia benar-benar tidak memiliki kualifikasi untuk bisa memiliki tubuh yang tidak tidak ada bekas lukanya.


Seperti saat ini, sekarang dahinya sungguhan akan di jahit.


Apa boleh buat, pada akhirnya semuanya demi kesembuhannya juga. Walaupun sungguh di sesalkan, karena dia jadinya harus memiliki satu luka lagi, dan semua itu bertepatan di hari pertama untuk melakukan bulan madu dengan Vatler.


"Then I'll give you an anesthetic injection first."


"Dia akan memberikanmu obat bius." Beritahu Vatler, menjadi seorang penerjemah.


"Hmm."


Akan tetapi, Vatler justru memberitahu kepada perawat itu untuk memberikan Risyella obat bius full. Dengan kata lain, obat bius agar membuat Risyella sepenuhnya bisa tertidur.


Karena itulah, setelah di suntik, 'Obat bius macam apa yang dia gunakan? Kenapa rasanya aku jadi ngantuk? Ahhh...kalau aku tidak tidur, aku rasanya seperti mau mati saja. Tapi masa aku tidur, aku kan-'


Perlahan tapi pasti, deraian air mata yang sebenarnya mulai membasahi pipi Risyella karena saking sedihnya sebab harus mengalami musibah di hari pertama bulan madunya itu, membuat diri Risyella masuk dalam lingkup kenyamanan yang di namakan tidur.


BRUK. .


Vatler segera menangkap tubuh Risyella sebelum oleng jatuh ke samping membentur bamper mobil ambulans.


'Belum juga seminggu, kenapa dia terlihat seperti orang yang menderita selama bertahun-tahun?' Tatapan Vatler kepada wajah Istrinya yang terlelap itu.


Setelah puas menatapnya, Vatler memberikan kode kepada perawat itu untuk segera melaksanakan proses menjahit luka Risyella.


Jahitan dari jarim kecil namun penuh siksa akan rasa sakit itu tidak membuat Risyella mendapatkan reaksi apapun karena tertidur.

__ADS_1


'Apa ini, jadi aku di bius total? Aku masih bisa mendengar suara orang-orang yang ribut, tapi aku benar-benar tidak bisa membuka mataku ataupun menggerakkan jariku. Apakah seperti ini jika orang yang menggunakan obat bius? Masih bisa mendengar tapi tidak bisa bergerak sedikitpun.


Untung saja Vatler ada di sisiku, jadi aku tidak perlu merasa khawatir lagi. Apalagi di peluk seperti ini, aku jadi senang.


Ah~ Kalau saja tanganku bisa bergerak, aku ingin sekali memegang wajahnya itu. Tapi aku sekarang saja sedang tidur seperti ini.


Biar saja lah, dia bilang akan melakukan sesuatu yang bisa membuat bekas luka jahitan ini bisa menghilang, berarti itu termasuk perhatian padaku.


Walaupun aku tahu, ucapannya itu hanya di lakukan berdasarkan karena tidak mau merasa bersalah kepadaku, kan? Apalagi bagaimana jika Ibunya tahu? Pasti dia yang di salahkan lagi.


Au ah, aku benar-benar tidak mau memikirkan hal lain, selain bisa di peluk seperti ini.' Pikir Risyella,


Dan nikmat dari itu semua membawa Risyella untuk tidur sungguhan.


__________


"Owee...owee....owee....."


"Owee....owee....owee...."


'Hmm? Kenapa ada suara tangisan bayi?' Karena sungguh terusik dengan tangisan dari dua bayi yang menangis secara bersamaan, Risyella pun perlahan membuka matanya.


Suara tangisan itu masih terdengar di telinganya. Akan tetapi ketika dia membuka matanya, cahaya silau dari lampu yang ada di atasnya persis itu membuat Risyella tidak mampu untuk melihat semua wajah dari orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Nyonya, selamat ya, anda berhasil melahirkan Tuan dan Nona dengan selamat." Kata seorang wanita yang berpakaian jas putih, yang sudah pasti adalah dokter.


'Tuan dan Nona? Nyonya? Apakah itu untukku? Dan..bayi yang di gendongnya itu, anakku? Ha? Mana mungkin? Mana mungkin aku melahirkan, bulan madu dan melakukan malam pertama dengan Vatler saja juga belum, masa aku sudah punya dua anak?' Risyella yang kebingungan karena mendapati dirinya ternyata sedang tiduran di ruang bersalin, tidak merubah perhatiannya itu dari dua orang bayi kecil yang baru saja di bersihkan, dan saat ini sudah di bedong dan juga di gendong oleh dua orang di depan sana.


Namun, semua perhatian itu tiba-tiba saja teralihkan dengan tangan kirinya yang di genggam dengan erat oleh tangan dari seorang pria.


"Risyella, akhirnya kamu berhasil melahirkan. Kamu sudah berjuang keras untuk melahirkannya, kamu memang pantas jadi istri yang tangguh, bisa melahirkan dua anak kembar." Ucap pria ini.


Ketika Risyella menoleh ke arah samping kiri, dia memang melihat adanya seorang pria yang saat ini sedang berdiri di sampingnya persis, tapi sayangnya lagi-lagi, Risyella tidak mampu melihat wajah dari pria ini.

__ADS_1


"Vatler?" Panggilnya dengan nada lirih. Sebenarnya dia agak ragu, karena suaranya cukup berbeda, akan tetapi perawakan dari tubuh dari pria di sampingnya itu cukup mirip dengan suaminya, makannya Risyella jadi menyebut kata Vatler untuknya.


__ADS_2