
Dalam suasana ribut layaknya pasar, kelas lebih ramai dari biasanya karena ada alasannya. Itu adalah sekarang dimana kelas dua berisi orang-orang dari kelas lain. Semua kelas di isi oleh murid yang sudah diundi secara acak oleh pihak sekolah. Jadi dikelasnya ada wajah lama juga wajah baru.
Hanya saja sekarang Risya menerima undian untuk masuk ke kelas terakhir.
‘2-D.’ Risya memperhatikan sekelilingnya. Bangku yang dia dapat justru ada di baris ketiga. Itu juga harus rebutan dengan seseorang, karena tidak ingin duduk di barisan depan.
“Hei! Siapa namamu?“ Tanya seorang perempuan di barisan belakangnya persis.
Risya sedikit blik badan, dan melihat perempuan berkacamata sedang bertanya nama kepadanya. “Risya.“
“Risya, kenalkan aku Annisa.“ Annisa mengulurkan tangannya ke Risya untuk berjabat tangan.
“Ya.“ Risya dengan canggung menerima salam perkenalan dari Annisa.
Annisa akhirnya baru menyadari bahwa Risya ternyata memakai sarung tangan hitam. Meski hanya bersalaman saja, dia sudah tahu kalau sarung tangan yang di pakai Risya cukuplah mahal. Tapi dia tidak ingin membahas soal itu, karena yang terpenting sekarang adalah bisa berkenalan.
Karena setidaknya dia bisa menambah satu teman.
Tapi tidak lama kemudian, suara pengumuman langsung terdengar. Pengumuman itu menyerukan seorang nama yang membuat seluruh kelas sama-sama mendengar nama yang sama.
“Diberitahukan kepada Risya dari kelas 2-D untuk pergi ke ruang siaran sekarang juga, terima kasih.“
“..................?!“ Sontak Risya terkejut bukan main. Belum lama juga duduk di kursi, tapi sudah dituntut untuk pergi dengan cara menarik perhatian semua orang terutama di kelas. ‘Apa ini?. Kenapa namaku tiba-tiba dipanggil?’ Risya langsung terbebani dengan pandangan di kelasnya, karena semua pasang mata saat ini tertuju padanya.
“Risya?“ Seseorang berbisik, tapi masih dapat didengar oleh Risya.
Itu adalah bisikan dari orang yang baru tahu, kalau Risya adalah dia. Yang saat ini sudah berdiri, dan perlahan mengambil langkah keluar kelas.
“Jadi dia namanya Risya?“
“Kira-kira kenapa dia dipanggil ya?“
Pertanyaan dari segala rasa penasaran mereka semua langsung menghilang dari indera pendengaran Risya setelah keluar dari kelasnya.
Dia harus berjalan menyusuri lorong sepanjang seratus meter itu.
__ADS_1
Dalam perjalanan yang dipenuhi ketidak tahuan, Risya jadi gugup sendiri dalam diam. Dia tidak tahu apa yang membuat namanya tiba-tiba dipanggil dengan cara seperti itu.
‘Apa aku melakukan hal yang salah? Apa ada seseorang yang akan memberikan aku perintah?’ Semua pikiran itu langsung membebani Risya tat kala kakinya masih berjalan dengan langkah besar dan cepat. Dia tidak ingin membuat seseorang menunggunya.
Letak dari ruang siaran ada di lantai tiga, dan punya ruangan yang cukup tertutup karena tidak sembarangan orang bisa masuk ke sana. Yang diizinkan hanyalah anggota resmi.
Jadi dia tahu, orang yang baru menyiarkan namanya dari pengumuman tadi adalah salah seorang dari yang memiliki jabatan menjadi anggota osis.
Ya!
Hanya anggota osis saja yang bisa masuk ke sana sesuka hati.
“Hah! Tapi kenapa juga ada di lantai tiga.“ Risya mendesis kesal karena merasa lelah harus dikejar waktu, juga harus berjalan sedikit jauh dari kelasnya.
Setelah tiga menit berjalan dengan kecepatan yang lumayan, dia akhirnya sampai di tujuannya. Dua pintu besi yang tertutup rapat dan ada sebuah papan peringatan di depan pintu, akhirnya tiba-tiba langsung terbuka.
Seorang laki-laki setinggi lebih dari 160 cm, dimana dari rambut sampai ujung kaki, terlihat kalau murid ini adalah siswa rajin paling rapi, membuat Risya sukses tergoda karena penampilannya yang dia sukai.
“Ah! Apa kamu yang namanya Risya?“ Tanya murid ini kepada Risya.
Risya hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
‘Oh, dia. Dari suaranya tadi memang terdengar maskulin. Rasanya juga cocok untuk menjadi penyiar radio yang memerankan drama, ternyata orangnya adalah ini.’ Dalam diam Risya memuji. “Jadi kenapa aku dipanggil?“ Akhirnya Risya bertanya dari tujuannya tadi sampai dipanggil dengan cara yang mencolok.
Evan hanya sedikit memberikan sebuah senyuman canggungnya. Dia masuk kembali ke ruangannya, dan kemudian keluar dengan sebuah benda yang dibungkus dengan kain. “Sebenarnya bukan hal khusus. Ada seseorang yang memesankan ini untuk diberikan kepadamu. Karena aku tidak punya waktu untuk mencarimu, karena aku tidak tahu apakah kamu ada di kelas atau tidak, jadi aku sengaja memanggilmu dengan cara itu. Maafkan aku.“
Risya menerima kotak yang dibungkus dengan kain berwarna biru tua yang punya motif bunga kecil dengan sebuah kupu-kupu.
“..................? Tidak apa-apa.“ Jawabnya. ‘Kenapa seperti bekal makanan?’ Pikir Risya. Tapi dia segera berkata lagi. “Terima kasih.“
“Sama-sama.“
Risya kemudian berbalik pergi dengan tangan sudah membawa lagi-lagi kotak makanan.
Sedangkan Evan dia kembali masuk ke dalam ruangan untuk mengambil tas, lalu keluar dari sana sambil mengunci pintu sebelum dia kembali ke kelasnya juga.
__ADS_1
‘Siapa yang membawa ini untukku? Apa paman Ard kembali lagi untuk mengganti bekal yang tadi tumpah?’ Dalam banyak pikiran yang ada di dalam otak kecilnya, dia memutuskan untuk kembali ke kelasnya.
Setelah sampai di kelas, dia disambut beberapa pertanyaan dari beberapa orang yang tidak Risya kenal.
“Ngomong-ngomong kenapa kamu tadi dipanggil?“ Seorang wanita yang duduk di kursi guru, bertanya kepada Risya tepat setelah Risya mau duduk.
“Bukan karena ada masalah kan?“ Tanya perempuan lainnya.
Risya hanya menjawab seadanya. “Ada seseorang yang menitipkan ini untukku.“
Risya sedikit memperlihatkan kotak makanan yang dia bawah tadi di atas meja. Jadi banyak diantara mereka hanya meliriknya sekilas dan kembali kepada aktivitas rutin mereka.
“Itu apa?“ Annisa bertanya penasaran.
“Hanya makanan." Jawab Risya singkat. Lalu menyimpan kotak dari bekal makanannya ke laci mejanya.
Risya sebenarnya ingin makan sekarang juga, tapi bel masuk sekolah langsung berbunyi. Dia akan memakannya di waktu istirahat.
Dia penasaran dengan isinya karena sudah merasakan lapar, gara-gara tadi dia tidak sarapan di rumah tapi bekal makanan yang dibawa juga tidak sengaja tumpah. Tapi semua itu harus ditahan karena pembelajaran akan dimulai.
Bahkan tiga jam itu terasa seperti satu hari penuh. Tapi semuanya sudah terbalaskan karena akhirnya rasa penasarannya akan terkuak setelah bel istirahat akhirnya terdengar.
Dia membawanya ke rooftop, dan duduk sendirian.
Bekal makanan yang membuatnya menjadi penasaran akhirnya terbongkar dengan wajah terkejutnya.
“.............? Kenapa ini terlihat lebih enak dari yang tadi? Meski bentuknya sedikit kekanakan.“ Mengambil potongan sosis yang dibentuk menyerupai wajah dari rambut kribo. “Tapi ini lebih baik dari yang tadi.“ Risya pun memakannya dalam diam. Kenikmatan yang berbeda dari yang biasanya dia makan selama ini. ‘Pasti ini karena kemampuan bibi dalam memasak sudah meningkat.’
Risya hanya menebaknya, karena tidak ada orang yang tahu selain mereka yang tahu Risya menumpahkan makanannya.
___________
Sedangkan di sebuah Cafe yang letaknya di pelosok salah satu gang di pemukiman kumuh. Pria berambut hitam dengan iris mata biru ini sedang duduk dengan tampang dari wajah berpikirnya.
“Apa yang sedang kau pikirkan?“ Tanya bartender kepada orang yang tiba-tiba datang ke tempatnya berjualan.
__ADS_1
“Bukan apa-apa.“ Jawab Vatler kemudian kembali memakan sesuap puding. ‘Apa dia menyukainya?’ Vatler memejamkan matanya dengan penuh rasa berpikir. Dan menikmati manis di dalam mulutnya saat memakan puding spesial dari bartender yang merupakan temannya.
Sebenarnya dialah orang yang menitipkan bekal makanan pada murid lain untuk diberikan kepada Risya.