
ZRASSHH...
Mereka berdua pun kehujanan bersama. Dibawah langit yang gelap dan sedang menangis, alam yang dingin itu pun menjadi saksi bisu atas pertengkaran berakhir dengan adanya perbedaan persepsi dari mereka berdua.
Vatler dan Risyella, dua orang yamg akan menjalin kisah bersama di lembaran baru yang namanya pernikahan pun akan dimulai.
Bukan akan, tetapi memang sudah dimulai.
dan satu lembar pertama dari kisah mereka. berdua adalah rasa bersalah berdampingan dengan rasa sepi.
Karena ego masing-masing, terutama yang dimiliki oleh Vatler, membuat Risyella di tinggal, dialah satu-satunya orang yang akhirnya membawa kesepian dan kesedihan. kepada Risyella.
Namun di satu sisi, Risyella ternyata tetapi menerima kesabaran yang dibuat oleh pria ini, Vatler dengan sebuah senyuman paksa di iringi tangisan yang tidak terdengar.
Ironis...
Cinta memang selalu membuat seseorang menjadi bodoh, dan kebodohan itu sudah dimiliki oleh Risyella untuk terus menghadapi kesabaran yang di berikan oleh pria yang belum lama Risyella kenal dan sekarang sudah menjadi suaminya.
Dan karena satu tatapan yang diberikan kepadanya, satu tatapan itu pun berhasil merubah suasana hati Risyella untuk tidak sedih lagi.
"Vatler~" Panggil Risyella dengan mata sendu. Dia sungguh sangat ingin berteriak, tapi hatinya tidak punya nyali besar untuk berteriak kepada pria ini.
"Ayo masuk-" Sela Vatler detik itu juga, menghentikan segala kalimat yanga akan diucapkan oleh Risyella.
"........." Risyella mengigit bibir bagian bawahnya, dia sangat ingin berbicara kepada pria ini, tapi mendengar Vatler sudah mengatakan berhasil menyela ucapannya lebih dulu, Risyella pun jadi tidak bisa berbuat apa-apa.
TAP...TAP...TAP...
Vatler lebih dulu pergi menuju mobil, yang mana Risyella lagi-lagi disuguhi punggung Vatler yang kembali pergi menjauhinya.
"Ayo..kenapa disana terus?" Tanya Vatler, sempat menoleh kebelakang dan melihat Risyella ternyata masih berdiam diri di tempatnya.
__ADS_1
"Tidak usah. Lagian dekat, aku tidak mau me basahi kursi mobilmu." Ungkap Risyella dengan kesedihan yang kembali tertahan di dalam hatinya.
Vatler mengatupkan mulutnya, dia tidak jadi masuk kedalam mobil dan memilih kembali menghampiri Risyella.
'Dia mau apa kembali berjalan kearahku lagi?' pikir Risyella, bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh Vatler kepadanya?
GREPP...
Tangan Vatler langsung mencengkram tangan kanan Risyella, lalu menarik Risyella agar ikut dengannya.
"Masuk saja, aku tidak peduli jika kursinya basah." Itulah yang dikatakan oleh Vatler kepadanya.
"........." Risyella tidak berkata apapun selain berjalan mengikuti arah kemana Vatler menariknya dan membawanya masuk kedalam mobilnya.
TAP...TAP....TAP.....
Dua pasang kaki itu pun berjalan beriringan, membawa mereka berjalan bersama menuju mobil.
"Padahal aku tidak apa-apa jika disuruh jalan lagi." ucap Risyella lagi, sebelum masuk kedalam mobil.
Lagi-lagi Risyella mengatakan hak yang menyatakan kesedihannya kepada Vatler.
"Akulah yang sal-"
CUP.....
Secara tiba-tiba Vatler dibuat bungkam dengan tindakan yang dilakukan oleh Risyella, sebab wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu kembali menciumnya.
Ini kedua kalinya untuk Vatler bisa mendapatkan ciuman sedemikian singkat namun terasa menyedihkan.
Vatler lagi-lagi hanya membiarkan apa yang dilakukan oleh Risyella, karena Vatler sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mencintainya.
__ADS_1
Namun, sepertinya...
'Dia memang benar-benar sudah mencintaiku.' Pikir Vatler melihat Risyella menciumnya dan saat ini...bibirnya pun benar-benar merasakan dingin. Itu karena Risyella memang sudah kedinginan.
Akan tetapi tatapan Vatler yang seolah tidak menggubris perbuatan dari Risyella itu, ternyata salah.
Vatler memicingkan matanya, dan secara refleks tangan kirinya itu tiba-tiba melingkar di pinggang ramping Risyella, seakan sedang mendukung apa yang sedang di lakukan oleh Risyella terhadapnya.
'Kenapa aku merasa menikmati ciuman ini? Padahal Angie lebih berpengalaman, kenapa Risyella yang tidak berpengalaman seperti ini justru membuatku menginginkannya? Aku tidak boleh seperti ini. Aku sudah mengatakan pada diriku sendiri agar tidak memberikan hatiku ini pada siapapun, termasuk Risyella.'
'Dia meletakkan tangannya di pinggangku?' Pikir Risyella, saat merasakan adanya sesuatu yanng besar, hanga, dan cukup bertenaga, tiba-tiba mendarat di pinggang nya.
Akan tetapi sesaat kemudian, tangan Vatler langsung menyingkir dari sana, dan mendorong bahu Risyella agar menyudahi kegiatan yang dilakukan oleh satu pihak saja itu.
"Masuk." Setelah mengatakan itu, Vatler pergi ke sisi mobil lainnya.
'Dia benar-benar seperti tidak punya pikiran lebih dari apa yang barusan aku lakukan. Buktinya saja, dia tidak mengatakan apapun selain itu. Berarti Vatler ini, memang tidak menganggapku sebagai wanita kan?' Batin Risyella.
Melihat Vatler sudah masuk kedalam mobil, Risyella pun menyusul masuk.
Dan ternyata di dalam mobil, bahkan Ac sedang dinyalakan.
"Hachumm..." Risyella tiba-tiba bersin.
"............." Tanpa sepatah kata, Vatler merubah suhu dingin menjadi hangat, lalu Vatler pun membawa pergi mobilnya untuk masuk kedalam gerbang kematian?
Dimata Risyella, itu terlhat seperti gerbang kematian, mengingat saat Risyella mengintip kedalam, di balik gerbang itu terdapat Villa yang terlihat cukup horor.
Hanya saja semua pikiran itu seperti salah. Sebab gerbang utama itu tiba-tiba saja terbuka, dan membawa mereka masuk ke dalam halaman yang cukup luas.
'I-itu...bagaimana bisa? Bukannya tadi Rumahnya itu gelap total seperti rumah terbengkalai? Kenapa sekarang semua lampu tiba-tiba saja menyala?' Hanya satu yang pasti, kalau rumah mewah yang akan di jadikan tempat mereka berdua berteduh itu sudah di atur dengan jaringan nirkabel, dimana semuanya bisa di atur dari jarak jauh.
__ADS_1