
Karena itulah, Vatler lebih memilih berdiri dan berbicara dengan membelakangi Bu Emi seakan dia sedang mencoba melihat-lihat pemandangan luar kelas dari lantai dua itu.
Disana Vatler melihat sekumpulan anak berlalu lalang membawa buku, makanan, ada juga yang berjalan memakai baju olahraga karena baru saja selesai dengan pelajaran olahraga.
Tapi semua lamunan itu Vatler tarik kembali saat Bu Emi megatakan inti dari semua pertemuan itu.
"Saya tahu anda merasa apa yang saya katakan terasa dibuat-buat. Tapi akan saya akan mengatakannya dengan jujur, saat kelas satu semester satu Nona Risya memang masuk dalam peringkat sepuluh besar, tapi di semester dua peringkatnya jadi masuk 15 besar, dan untuk semester baru di kelas dua sampai di semester kedua ini nilainya terus mengalami penurunan.
Saya sebagai wali kelasnya termasuk anda sebagai ayahnya pasti merasa khawatir tentang masalah ini, jadi mohon Tuan coba tanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada putri anda.
Lalu saya akan sedikit menambahkan, saya rasa Nona Risya pada dasarnya memang mampu untuk masuk ke dalam peringkat 10 besar lagi, tapi jika mengetepikan masalah akademiknya yang kian menurun, pasti ini disebabkan masalah lain. " Beritahu Bu Emi panjang lebar.
Vatler terdiam sambil menyentuh kaca jendela itu, 'Khawatir dan masalah lain?' Vatler menunduk dan menghela nafas dengan pelan. Dia tidak tahu apapun tentang anaknya sendiri, pertanyaannya adalah bagaimana cara menanyakan masalah itu?
Arshel adalah satu-satunya orang yang mampu berpikir jernih, jadi Vatler pertama-tama dulu akan menanyakannya.
"Apa ada lagi?" Tanya Vatler.
"Tidak ada Tuan." Jawab Bu Emi singkat.
Vatler kemudian berbalik dan berkata : "Aku tidak akan basa-basi, meskipun dia memiliki nilai rendah, sebaiknya jangan terlalu menekannya. Ini peringatanku." Vatler menatap lawan bicaranya dengan ekspresi serius.
Bu Emi yang tidak mau salting sendiri menerima tatapan dari seorang Vatler yang seperti akan membunuhnya, hanya diam menutup mata dan menjawab. "Baik tuan."
"Kalau it-" kalimat yang akan diucapkan Vatler lagi pun langsung sirna sesaat sudut matanya tidak sengaja melihat kepala dari orang yang sedang menjadi topik pembahasannya saat ini. 'Risya.' Matanya membulat sempurna saat melihat di balik pintu tadi ternyata itu adalah Risya.
Tanpa membuang waktu, Vatler bergegas keluar meninggalkan Bu Emi yang masih duduk dengan mata terpejam gara-gara tidak mau terlena dengan wajah Vatler yang tampan itu.
"...............!" Risya yang merasa posisinya sudah ketahuan, langsung berlari kabur dari sana.
__ADS_1
KLEK.
"..............." Vatler tidak menemukan siapapun, dia sudah tahu Risya sudah lari kabur duluan. 'Dia menghindariku?’ pikirnya.
'H-hampir saja. Tapi kenapa ayah ada disini?' Deru nafasnya memburu, detak jantungnya tak beraturan saat berlari kabur menghindari dirinya ditemukan oleh Vatler, yaitu ayahnya sendiri.
“Risya, apa yang sedang kau lakukan disini?” Sayangnya Annisa yang tiba-tiba muncul dengan cara senyap itu, berhasil membuat posisinya yang sedang bersembunyi dari Vatler, langsung dibuat ketahuan.
“Risya.”
“...........!” Kedua bahu Risya terangkat karena terkejut namanya tiba-tiba saja dipanggil dengan nada rendah oleh ayahnya sendiri. Risya terpaksa menoleh ke belakang, dan akhirnya mata mereka berdua saling bertemu. “Hai!” Risya tersneyum tawar sambil melambaikan tangan.
Annisa yang melihat sosok Vatler yang muncul secara tiba-tiba sambil memanggil nama Risya, berhasil membuat Annisa diam membisu. ‘S-siapa dia? Kenapa dia tampan sekali? Apa hubungannya dengan Risya? Tunggu, kenapa warna mata mereka berdua juga warna mata yang dimiliki oleh Arshel terlihat sama? Sebentar, dari wajahnya saja kenapa pria ini terlihat sangat mirip dengan Arshel kakak Risya?’ Deretan pertanyaan yang tidak bisa ditanyakan langsung oleh Annisa langsung muncul berhamburan.
Annisa tidak mengerti dan setengah mengerti saja, kalau pria yang sedang menyapa Risya memang memiliki suatu hubungan yang cukup dekat.
Tapi hubungan apa?
“An-” Risya kehilangan kata-katanya saat teman sekelasnya pergi begitu saja.
“.................” Vatler hanya melihat kepergian dari teman Risya. Setelah melihat Annisa benar-benar pergi meninggalkan Risya, Vatler kemudian mencengkram tangan Risya yang hendak kabur itu. “Apa kamu tidak-”
“..............!” Risya kembali menoleh ke belakang sambil melirik ke arah tangannya yang dicengkeram oleh tangan ayahnya yang terlihat besar itu. ‘I-itu, kenapa aku tidak dibiarkan pergi saja? Apa yang ingin ayah katakan padaku, lalu apa yang sebenarnya tadi mereka bahas? Apakah ini tentang masalahku yang **kemar**in?.’ pikir Risya panjang lebar.
Dia merasa gugup setiap ayahnya membuka suara untuknya.
Risya merasa bahwa setiap apa yang akan terlontar dari mulut ayahnya, itu seperti sebuah perintah yang tidak bisa diganggu gugat. Risya masuk kedalam tekanan seperti seorang tawanan, apalagi disaat kini tangan kanannya sedang dicengkram oleh tangan ayahnya sendiri yang terlihat kuat itu.
“.................” Vatler sendiri juga akhirnya kehilangan kata-katanya saat melihat Risya melirik ke arah tangannya yang sedang di cekal. ‘Perasaan bibi memberinya banyak makanan dengan nutrisi yang lengkap dan cukup, tapi kenapa tubuhnya tetap saja kurus seperti ini?’
__ADS_1
Vatler benar-benar merasa bahwa cengkraman itu jika Vatler kuatkan, maka dalam sekali remas pergelangan tangan anaknya akan remuk.
Karena itulah, Vatler segera melepaskan cengkramannya. “Apa kamu baik-baik saja di sekolah?”
“Ya?” Risya bertanya dengan kepala teleng. Dia sama sekali bingung harus menjawab apa, karena pertanyaan tidak terduga itu keluar dari mulut yang terlihat seperti akan mengatakan kalimat penghakiman.
Vatler memejamkan matanya sesaat, lalu mengoreksi ucapannya tadi. “Kemarin kamu ditampar oleh orang lain, apa wajahmu baik-baik saja?”
Risya otomatis memegang pipinya yang kemarin terkena tamparan kuat oleh Rose, lalu dia menjawab. “Sudah diolesi salep, jadi sudah tidak apa-apa.”
“Apa dia masih mengganggumu?”
“Eh? T-tidak!” Risya menjawabnya dengan sedikit keras dan dengan nada gugup, karena merasakan pertanyaan tadi adalah bentuk kekhawatiran kepadanya.
‘Apa aku menakutinya? Kenapa reaksinya sama persis dengan yang biasanya Risyella lakukan?’ Vatler merasa kepalanya bertambah pening karena tiba-tiba saja mengingat mendiang istri kontraknya yang sudah meninggal sekian lama itu. “Apa uang jajanmu kurang?”
“T-tidak. Itu sudah lebih dari cukup, bahkan satu bulan saja masih lebih.” jawab Risya.
“.................” Vatler mulai termenung dengan jawaban Risya. ‘Lebih? Dia bahkan hanya memakai tidak sampai seperempatnya. Kenapa anak ini sangat mirip denganmu, Risyella?’ Vatler yang tidak mau terjerat dengan kenangan lamanya, memutuskan mengakhiri pembicaraan singkat itu. “Jika kurang, beritahu saja pada bibi.”
“Iya.” Risya tidak bisa menjawab lebih dari itu karena sudah bingung apa yang mau dikatakannya lagi.
Melihat suasananya terasa semakin canggung, Vatler pun pergi. Tapi sesaat kepergian itu, tangan kanannya sempat mendarat di kepala Risya untuk beberapa detik sebelum akhirnya Vatler benar-benar pergi.
“.............!” Risya termangu saat ujung kepalanya tiba-tiba diusap singkat begitu. Dia segera berbalik dan melihat kepergian ayahnya lagi.
Lagi-lagi dia melihat punggung itu kian menjauh.
‘Kenapa ayah datang kesini?’ pikirArshel di balik tembok. Dia sempat mendengar pembicaraan singkat tadi, tapi dia sengaja tidak mau menemuinya karena memang merasa tidak ada gunanya.
__ADS_1
Meskipun, hal itu ternyata adalah pertemuan yang membawa kenangan untuk adiknya yang nampak terkejut setelah kepalanya di usap sesaat oleh ayahnya sendiri yang pada dasarnya jarang sekali bertemu.