
"Ayo masuk." Kata Vatler memberikan tawaran kepada Arshel agar segera masuk kedalam mobil.
Arshel pun segera masuk kedalam mobil yang di kendarai oleh Ayahnya.
"Memangnya kita mau pergi kemana?" Tanya Arshel seraya memasang sabuk pengaman.
"Nanti kamu akan tahu sendiri." Jawabnya.
Setelah itu Vatler pun membawa pergi satu-satunya anak yang tersisa itu pergi bersama, meninggalkan sekolah.
'Sebenarnya Ayah ingin pergi kemana?' Sampai tanpa sengaja, dia melihat ada paperbag di bagina kursi penumpang. "Apa Ayah baru saja belanja?"
"Hmm, Ayah ingin pergi ke suatu tempat yang belum pernah kita datangi." Itulah jawaban yang bisa Vatler berikan kepada Arshel.
Arshel hanya mengerjapkan matanya, dia tidak salah melihat kalau wajah Ayah nya kali ini terlihat lebih lembut.
Tidak seperti biasanya yang terlihat seperti orang yang memuuhi semua orang yang di lihatnya, wajah Vatler saat ini terlihat seperti seseang yang akan menemukan kebahagiaannya sendiri?
'Sebenarnya Ayah ini baik-baik saja atau tidak? Kenapa aku jadi khawatir ya?' Terselip rasa khawatir melihat sang Ayah yang tiba-tiba saja melakukan hal yang tidak biasanya di lakukan.
Dan perjalanan yang perlu di tempuh oleh mereka berdua adalah satu jam. Cukup menguras waktu untuk seseorang yang sangat jarang pergi sejauh ini, dan itu adalah Arshel sendiri.
'Sebenarnya kita mau pergi kemana? Aku jadi sangat penasaran dengan rencana Ayah yang sulit di tebak itu.' Batin Arshel seraya menyangga dagunya dengan menggunakan tangan kanannya, dan arah pandangannya terus menatap ke samping jendela, dimana dia tiba-tiba di tawarkan sebuah pemandangan dari air laut?
BYURR......
Aroma asin itu langsung menyeruak masuk ke dlaam indera penciumannya. Dan pemandangan dengan air yang sedemikan banyaknya yang di gulung layaknya dadar gulung, menjadi sebuah jawaban tersendiri untuk Arshel kalau Ayah nya membawanya pergi ke pantai?
"Apa Ayah melakukan ini, karena ingin mengabulkan permintaan Risya yang belum tersampaikan itu?" Tanya Arshel.
Mendengar hal tersebut, Vatler menoleh ke arah anaknya, dan menjawabnya dengan kata yang cukup singkat. "Ya, Ayah ingin mengabulkan keinginan Risya yang tertunda itu."
WUSHH...
Angin laut itu pun menerpa dengan daya yang cukup kuat, hingga semua pohon kelapa yang tumbuh berjejer di samping jalan persis itu ikut terkena imbasnya, dengan daun yang saling bergoyang satu sama lain.
"Coba, Ayah melakukan ini dari awal, betapa senangnya Risya, bisa melihat laut yang indah itu." Ungkap Arshel, lagi-lagi menyalahkan Ayah nya yang memang kelewatan, dalam mengabaikan anaknya untuk sekedar memberikannya kasih sayang yang tidak memerlukan uang sama sekali, dan pengabaian yang cukup lama.
Vatler diam. Dia tahu, dirinya itu memang salah dan akan tetap di cap sebagai orang yang salah serta tidak bertanggungjawab, karena dirinya tidak menepati kata dari janji yang pernah dia ucapkan di saat pernikahannya dengan Risyella dulu.
"Tapi memangnya Ayah harus bagaimana lagi untuk menenbus dosa Ayah? Tidak ada yang bisa di putar balikan, dan Ayah sendiri tidak tahu harus berbuat apa, selain hal kecil seprti ini." Dan sorotan mata milik Vatler pun menjadi sendu.
Melihat hal itu, Arshel lagi-lagi jadi merasa bersalah, karena menyinggung kesalahan Ayah nya lagi. Padahal saat ini saja, Ayah nya sedang mencoba yang bisa di lakukannya agar bisa menjadi penebus apa yang belum pernah dia berikan kepada kedua anaknya, dengan mengajak Arshel jalan-jalan ke pantai.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak akan membahasnya lagi." Potong Arshel, menjadi kalimat akhir untuk pembicaraan mereka berdua.
Dan dengan begitu, Arshel pun hanya bisa mencoba menikmati segala pemandangan yang di suguhkan oleh pantai di depannya itu.
Hingga lagi-lagi Arshel jadi di buat kembali mendapatkan sebuah kejutan lain.
Arshel melihat ada seorang anak perempuan sedang berdiri di tepi pantai sambil menekan topi bundar di kepalanya agar tidak terbang. Tapi sekalipun begitu, tidak bisa membuat rambut hitam panjang yang terurai itu tidak berkibar.
'Siapa dia? Kenapa dia berdiri sendirian di pinggir pantai? Dia tidak mencoba untuk menenggelamkan dirinya kan?' segala kalimat dari pikiran negatifnya pun muncul juga.
Secara kebetulan, mobil yang di naikinya itu malah tiba-tiba saja berhenti di tepi jalan.
"Kenapa berhenti?"
"Kita sudah sampai." Sahutnya.
"Tapi-" Arshel seketika kehilangan kata-katanya saat Ayah nya sudah lebih dulu keluar dari mobil sambil membawa paperbag yang ada di belakang nya tadi.
Arshel yang tidak mau di tinggal sendirian di dalam mobil, bergegas keluar juga dan berjalan mengekori Ayah nya dari belakang, dimana Ayah nya membawanya pergi untuk menghampiri satu orang perempuan yang ada di depan sana.
BYURR....
BYURR....
Gulungan ombak itu pun jadi pemandangan utama untuk di nikmati oleh perempuan di depan sana.
"Tidak juga, Tuan." Jawab perempuan ini.
Dan itu berhasil menjadi kejutan besar untuk Arshel sendiri, karena suara dan, wajah dan penampilan dari perempuan yang ada di depannya itu benar-benar sangat mirip dengan 'Risya?'
Tapi Arshel segera menggelengkan kepalanya dengan pelan .
Arshel sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Risya sudah di kubur di halaman belakang rumah mereka, jadi sudah pasti sosok perempuan yang ada di depannya itu bukanlah perempuan yang Arshel kenal.
"Pakai ini." Vatler menyodorkan paperbag ke depan perempuan tersebut untuk memakai pakaian yang Vatler sengaja bawa untuk di pakai oleh gadis di depannya itu.
Dengan ragu-ragu gadis itu menerima pemberian dari pria yang gadis itu lihat pagi tadi.
"Saya harus memakai ini?" Tanya gadis ini, saat dia mengetahui isi yang ada di dalam paper bag itu adalah sebauh pakaian santai, tapi harganya itu cukuplah tinggi.
Vatler yang lupa melepas banderol harga itu, segera berkata lain. "Anggap saja itu angka yang aku buat sendiri."
"........?" Arshel dan gadis itu menatap wajah Vatler dengan tatapan bingung.
__ADS_1
Menyadari adanya tatapan dari mereka berdua, Vatler seegera berbalik, : "Kamu cepat pakai itu, dan kembali ke sini."
"Ah, oh..iya Tuan. Saya akan segera kembali." Jawabnya dengan nada yang cukup gugup.
Setelah itu, gadis itu pun pergi dengan cara berlari, menuju toilet umum yang memang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat pertemuan mereka bertiga.
Lalu setelah kepergianya, Arshel pun langsung tancap gas dengan bertanya, "Ayah, dia itu, perempuan yang ada di bus sekolah tadi pagi kan?"
"Iya. Memangnya kenapa?"
"Kan aku sudah bilang, tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisi Risya sebagai adikku. Dan apa-apaan itu, kenapa Ayah justru memanggilnya?!"
"Arshel, turuti saja permainan yang Ayah buat ini. Walaupun memang menyakitkan, tapi Ayah hanya ingin bisa meraskan bagaimana rasanya bersenang-senang bersama dengan Risya. Anggap saja dia Risya pengganti, untuk sehari saja, apa kamu masih tidak paham dengan ini?" Jelas Vatler.
"Pantas saja, dari tadi aku merasa janggal, kenapa Ayah bisa punya ekspresi senang begitu, jadi ini rupanya rencana dari Ayah. Bersenang-senang di pantai sesuai ke inginan Risya." Mengatakan bersenang-senang di pantai dengan adiknya yang sudah tidak ada itu, Arshel jadi menutup mulutnya sendiri dengan rapat.
Dia sangat marah sekaligus sedih.
Demi menebus keinginan Risya yang belum terwujud di semasa hidupnya, Ayah nya ternyata memanggil seorang perempuan yang punya wajah dan penampilan yang cukup mirip dengan Risya agar bisa bersenang-senang bersama di pantai.
Arshel sendiri pun akhirnya jadi tersudutkan dengan posisinya sendiri.
Dia tidak mampu menyangkal kalau hatinya memang belum rela Risya pergi. Dan secara kebetulan disini Ayah nya sudah menyiapkan seorang pengganti Risya yang cukup pas untuk di jadikan pelampiasan untuk mereka berdua melepas rindu kepada Risya.
"Hahhh~ Kenapa jadinya seperti ini sih?" Arshel pun tiba-tiba jadi tertawa mencibir untuk dirinya sendiri. Karena demi satu keinginan yang belum tercapai itu, mereka berdua jadi menyewa orang. "Berapa banyak yang Ayah bayar untuk dia?" Tanyanya.
Vatler menoleh ke belakang, lalu menjawab : "Dia tidak menginginkan apapun, selain bisa bersama kita berdua."
"Bohong, banyak orang menempel pada orang seperti kita karena kita kaya, makannya dia rela mau jadi pemeran pengganti Risya kan?" Papar Arshel.
"Tidak percaa ya sudah. Padahal kamu sendiri bukannya tahu reaksi dia saat berada di dalam Bus?" Vatler pun jadi tidak peduli dengan pendapat Arshel tentang gadis yang Vatler bawa itu memang tidak menginginkan apapun selain bisa bersama dengan mereka berdua.
Lalu di tengah-tengah perdebatan antara Ayah dan anak itu, suara derap langkah kaki itu berhasil menarik perhatian mereka berdua untuk melihatnya.
Melihat seorang perempuan yang saat ini ternyata sedang berlari tergesa-gesa ke arah mereka berdua, seperti orang yang takut di tinggal pergi, padahal sudah seperti yang di katakan, akan menunggunya, Arshel pun kembali menoleh ke belakang.
Satu orang perempuan berpenampilan layaknya orang yang sangat Arshel kenal itu membuat Arshel mematung.
"Hah..hah...m-maafkan saya, apakah saya terlalu lama?" Tanya gadis ini, merasa tidak enak dengan perbuatannya yang akan membuat kedua pria di depannya itu menunggu terlalu lama.
"Tidak juga." Sahut Vatler, menanggapi pertanyaan dari gadis itu.
Lalu sama hal nya dengan Arshel, Vatler saat berbalik ke belakang, dia pun membuat reaksi yang sama.
__ADS_1
'Kenapa dia punya wajah semirip ini? Apakah kalau seperti ini, aku akan menemukan juga wajah yang sama miripnya dengan Risyella?' Tapi Vatler segera menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dia tidak akan mungkin melakukan itu, membuat hal yang sama dengan apa yang dia lakukan saat ini kepada perempuan yang memiliki penampilan serta wajah yang sama dengan punya nya Risya.