Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
35 : IPHTV


__ADS_3

“Kenapa Ayah bisa disini?” Risya bertanya dengan wajah bingungnya. 


Siapa yang tidak bingung, jika ternyata pria pemilik dari segala keseriusan itu sudah ada di depan matanya. 


Bahkan saat sepasang mata berwarna biru itu melirik kearah Risya secara intens, sudah berhasil membuat Risya memiliki hati sekecil tikus. 


‘Jangan-jangan Ayah mau membawaku pulang?’ Risya langsung menatap paman Freddy, lalu kembali menatap Ayahnya secara bergantian. 


Hal itu membuat Risya semakin tertekan dalam sebuah pilihan. Risya ingin tetap bersama dengan paman Freddy, tapi Ayahnya juga datang, dan kemungkinan besar adalah untuk membawanya pulang. 


“Risya, ka--” Belum sempat mengatakan hal yang ingin dikatakannya kepada Risya, soal kedatangannya, Risya langsung menyelanya terlebih dahulu.


“Aku tidak mau pulang.” 


Mendengar keinginan Risya memilih tidak mau pulang, Vatler hanya mengatupkan mulutnya. 


Itu adalah hal yang wajar, ketika kemarahan baru saja Risya luapkan. Dan sekarang, yang Risya butuhkan adalah menenangkan dirinya. 


Tapi yang membuat Vatler tidak mengerti adalah, ‘Kenapa Risya punya hubungan dengan Freddy?’ 


Itulah kenapa Vatler jadi memiliki kesan curiga yang besar, mengingat waktu Istrinya Vatler masih hidup, Freddy juga dekat dengan Risyella. 


Kini Vatler jadi sadar kalau Freddy adalah memang orang yang tepat untuk bersama dengan Risyella. 


‘Jika dulu aku tidak membuat Risyella hamil, dan sampai kontrak pernikahanku berakhir, dia pasti akan pergi ke Freddy. 


Sangat lucu sekali, aku punya rasa cemburu seperti ini, padahal semua itu sudah menjadi masa lalu. Tapi melihat Risya ternyata juga dekat dengan Freddy, aku merasa seperti jadi Ayah yang tidak berguna sama sekali. Tapi jika itu yang membuat Risya nyaman, aku tidak akan mempermasalahkannya.’ Pikir Vatler. 


“Apalagi bertemu dengan dia, aku sudah tidak sudi lagi. Padahal foto ibu ada di dalam handphone ku, tapi dia…” Risya pun menghentikan ucapannya. Hatinya sudah tidak kuat untuk menceritakan apa yang baru saja terjadi. 


Kepalanya pun sebenarnya sudah merasa pusing, dan sangat malas untuk mengulas kembali pertengkaran tadi. 


Wajahnya saat ini sudah merenung, Risya benar-benar sudah tidak memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu lagi selain ingin tidur. Itulah yang sedang Risya inginkan saat ini.


‘Jadi karena itu, dia menangis sampai berteriak seperti itu? Seberapa besar dia sangat merindukan wanita itu?’ Vatler terus menatap lurus ke arah Risya. Vatler mulai sedikit mengerti alasan dari Risya sampai menyatakan ketidaksukaannya kepada Arshel dengan cara berteriak. 


Itu karena Risya sangat merindukan Ibunya. Dan cara untuk melampiaskan rasa rindu itu adalah dengan melihat foto yang Risya simpan di dalam handphonenya. 


Tapi karena Arshel, handphone yang sudah seperti bagian dari hidup Risya itu sendiri, malah dilempar. 


Sangat tragis drama dari keluarga yang sudah tidak utuh itu. ‘Apa ini karma untukku?’ Batin Vatler, lalu berkata : “Jika kau ingin tinggal disini, Ayah akan mengizinkanmu.”

__ADS_1


‘Apa? Ayah mengizinkanku? Aku pikir Ayah akan menarikku pulang, karena ekspresi wajahnya seperti mengatakan itu.’ Risya tidak menduga kalau Ayahnya akan membiarkannya tinggal di luar. ‘Atau mungkin karena paman Freddy adalah teman Ayah, makannya Ayah membiarkanku tinggal di luar?’


“Sebelum Ayah pergi, ini ada sesuatu untukmu.” Vatler tiba-tiba mengeluarkan Handphone dari balik saku jaketnya, berjalan menghampiri Risya, lalu memberikan handphone versi terbaru itu kepada Risya. 


‘Tapi apa gunanya handphone baru dengan harga mahal ini ada di tanganku jika apa yang biasanya aku lakukan dengan handphone lama, sudah tidak ada lagi?’ Risya hanya menatap handphone pemberian Ayahnya dengan tatapan seperti tidak memiliki rasa tertarik sama sekali dengan handphone baru itu. 


Padahal banyak anak yang menginginkan handphone lipat seperti itu, tapi karena harganya sangat mahal, maka itu hanya menjadi angan-angan belaka. 


Tapi apa yang terjadi dengan Risya?


Risya tidak membutuhkan handphone baru dan mahal. ‘Karena yang aku butuhkan saat ini, aku ingin bertemu Ibu saja. Aku ingin bertemu Ibu secepatnya Itu yang terbaik untukku. Dan untuk hutang pada paman, aku akan secepatnya membayarnya.’ 


Tapi demi kebaikan bersama saat ini, Risya hanya bisa menerimanya. 


Uang tidak bisa dicari dengan mudah layaknya memetik daun dari pohon, jadi Risya tidak bisa menolak handphone baru pemberian Ayah.


“Terima kasih Ayah.” Ucap Risya. 


Vatler tidak merespon rasa terima kasih itu, selain mengatakan : “Besok ujian kan? Jadi istirahatlah.” Sambil menepuk pelan kepala Risya, lalu ditinggal pergi lagi. 


KLEK.


Awalnya Freddy ingin memberikannya kepada Risya, tapi sebelum itu dia akan memindahkan semua data dari handphone lama milik Risya ke handphone yang baru. 


Tapi karena Vatler lebih dulu memberikan apa yang awalnya ingin Freddy berikan juga, membuatnya harus mengubur niat itu sedalam-dalamnya. 


Tapi apa yang Freddy dapat saat melihat Risya masih menatap handphone pemberian Vatler itu?


Ekspresinya seperti akan menangis. 


“Apa kau tidak suka itu?” Tanya Freddy, mencoba memecah keheningan di dalam kantornya itu.


Risya hanya menggeleng pelan dan menjawab, “Aku bukan tidak suka, hanya saja aku tidak menyukai orang yang menyia-nyiakan uang hanya untuk membeli handphone seperti ini. Lagi pula apa gunanya handphone baru, jika di dalamnya tidak isi apa-apa?” 


Sudah seperti yang Freddy duga.


Risya bukannya tidak tertarik sama sekali dengan handphone pemberian dari Vatler, melainkan isi yang Risya harapkan itu sudah tidak ada. 


“Paman bisa mengisinya.” Ujar Freddy memberitahu kepada Risya, kalau sebenarnya dia sudah memulihkan semua data yang ada di handphone lama.


“Memangnya mau di isi apa?” Tanyanya. Ekspresinya seperti merasa enggan untuk mendengarkan.

__ADS_1


Untuk memicu rasa penasaran Risya, Freddy kembali duduk di belakang meja kerjanya. “Apa alasanmu datang untuk menemui paman?”


“Jelas karena aku ingin paman melakukan sesuatu pada handphone ku yang rusak itu.” 


“Paman sudah berhasil memulihkan semua datanya. Lihat ini.” Freddy yang merasa bangga dengan kemampuannya sendiri, segera membuka folder yang sudah Freddy saring dan memperbaiki baik itu dokumen, video, dan foto.


“Benarkah paman?” Raut wajah Risya seketika berubah detik itu juga menjadi wajah bahagia. 


Risya berlari menghampiri Freddy yang sedang duduk, dan mencoba melihat apa saja yang pamannya lakukan dengan komputer itu. 


Hasilnya adalah, semua foto miliknya benar-benar ada, bahkan dokumen, video, sampai lagu pun benar-benar sudah tersimpan semua di dalam beberapa folder itu.


“Paman! Makasih!” Ungkap Risya sambil menerjang tubuh Freddy. Risya memeluknya dengan sangat erat dan mengucapkan kata yang sama lagi. “Terima kasih, jika bukan karena paman, aku sudah tidak tahu apa yang akan terjadi.” Ucap Risya tepat di samping telinga Freddy.


“................” Freddy yang baru pertama kali mendapatkan pelukan seperti itu dari Risya, langsung membalas pelukan tersebut. ‘Bahkan aromanya juga sama?’ Benak hati Freddy saat merasakan aroma tubuh milik Risya sama persis dengan milik Ibunya Risya, yaitu Risyella.


“Ternyata berteman dengan paman, memang tidak sia-sia. Selain jadi dokter, ternyata paman juga pandai melakukan pemrograman data. Aku sangat tertolong. Terima kasih, karena sudah menjagaku sampai sekarang. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan paman.” Jelas Risya. Mengungkapkan perasaan hatinya terhadap pamannya sendiri yang benar-benar memiliki banyak kemampuan luar biasa. ‘Coba Ayah bisa seperti paman Freddy juga.’ Batin rIsya, berharap kalau Ayahnya sendiri juga mampu melakukan apa yang dilakukan oleh paman Freddy. “Aku jadi semakin menyukai paman.”


DEG!


‘Menyukaiku? Risya?’ Freddy menoleh ke arah kiri untuk menatap wajah Risya yang kebetulan memang sedang diletakkan di atas bahu Freddy di sebelah kirinya. “Menyukaiku?”


Risya perlahan menoleh ke samping kiri. Sampailah waktu dimana mereka berdua saling bertatap mata dengan jarak yang cukup sangat dekat. “Iya lah. Paman itu baik, seorang dokter, siapa yang tidak menyukai pria seperti paman?” Kata Risya. 


Tapi di saat Risya mengatakan jawabannya, kedua mata Freddy membulat sempurna, ketika darah itu keluar kembali dari kedua hidung Risya. 


“Paman itu sangat baik, sampai aku pun menyukai kebaikan dari paman.” Imbuhnya lagi dengan senyuman lemah. Dimana tatapan mata Risya semakin waktu berlalu, tatapan itu semakin sayu dan..


“Risya!” Pekik Freddy saat mendapati Risya langsung tumbang di pelukannya. “Risya! Bangun, RIs!” Freddy menepuk-nepuk pipi Risya. Tapi Risya sendiri tidak membuat respon sama sekali, selain mimisan yang masih saja keluar dari dalam hidungnya itu. ‘Aku harus cepat mendapatkan sumsum tulang itu saat ini juga.’


Dengan perasaan khawatir yang kembali menyelimuti hati Freddy, Freddy segera menggendong tubuh Risya yang rupanya semakin ringan. 


Freddy menggendongnya ala bridal, dan langsung membawanya keluar dari kantornya, untuk pergi ke ruang rawat.


‘Ris, kau harus bertahan.’ Pikir Freddy. Kedua kakinya terus berlari menyusuri koridor rumah sakit. Sampai Jansen yang baru kembali dari suatu tempat, buru-buru berlari menghampiri Freddy.


“Fred, dia kenapa?” Tanya Jansen, apalagi saat matanya tidak sengaja melihat darah merah segar itu menyusuri hidung dari gadis kecil yang dibawa oleh Freddy. “Jangan-jangan pasien yang waktu itu kau maksud adalah dia?” Terka Jansen.


“Ya. Dia adalah pasien pribadiku.” jawab Freddy. 


‘Pantas saja wajahnya memang dari tadi sudah terlihat pucat, dan dia terlalu kurus untuk ukuran perempuan yang baru menginjak usia remaja.’ Pikir Jansen, mulai bersimpati pada Risya yang sudah terdiam dengan wajah sangat tenang. 

__ADS_1


__ADS_2