Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
146 : IPHTV : Keinginan Vatler yang mendadak


__ADS_3

TOK...TOK...TOK....


Revina mengetuk pintu toilet dalam kabin pesawat, karena dia saat ini benar-benar sudah kebelet untuk buang air kecil, tapi sayangnya satu orang yang ada di dalam sana masih saja belum keluar juga.


"Vat, cepat keluar. Aku sudah keb-"


KLEK..


Suara pintu yang tiba-tiba terbuka itu segera membawa Risyella masuk kedalam toilet kecil berukuran dua kali dua meter itu. Cukup kecil, tapi tidak terlalu kecil untuk di isi oleh mereka berdua.


"Kenapa ak-" kalimat miliknya langsung menghilang setelah ujung dari jari telunjuk milik Vatler tiba-tiba saja mendarat di depan bibirnya.


"Shhtt..." desis Vatler kepada Risyella agar tidak berisik, apalagi setelah berhasil membawa Risyella ini masuk bersamanya.


Mengerti untuk tidak membuat suara yang keras, maka Risyella pun bertanya dengan nada yang cukup lirih dalam bentuk sebuah bisikan seperti sebuah hasutan.


"Kenapa aku di tarik masuk? Kamu keluar dulu. Kalau orang lain tahu bagai mana?" Bisiknya.


Tapi apa tanggapan yang bisa Vatler berikan saat itu?


"Apa pedulinya itu? Aku sudah menyuruh pramugari itu untuk berjaga, agar tidak mengganggu kita." Jawab Vatler, sama hal nya dengan Risyella, Vatler juga menggunakan nada lirih.


Tapi perbedaannya saat ini, Vatler menjawab dengan berbisik tepat di telinga Risyella langsung. Karena itu, Revina langsung merasakan geli juga hembusan nafas yang cukup panas di telinganya.

__ADS_1


"Apa? Kenapa kamu mengatakan itu?" Tekan Risyella, sambil menutup telinga sebelah kanannya yang tadi di gunakan untuk Vatler berbisik.


"Karena aku membutuhkanmu." Tatap Vatler pada sang wanita yang sudah menjadi Istrinya itu.


"Butuh apa?" Tanya Risyella karena penasaran.


Tapi rasa penasarannya kali ini justru adalah hal yang mengundang sesuatu untuk memancing Risyella untuk..


"Ahw.." Risyella tanpa sadar jadi mende*sah karena colekan dari jari Vatler yang cukup nakal itu, sebab tiba-tiba saja jari tangan itu sudah menyentuh area pribadinya? 'S-sejak kapan posisku jadi seperti ini?!' Pekik Risyella saat kedua kakinya sedikit terbuka lebar dan srupanya tangan Vatler saat ini sudah masuk kedalam celana jeans nya? "V-vatler, apa yang kamu lakukan ini?" Lirihnya, lalu tubuhnya sedikit membungkuk ke depan dan kedua tangannya tanpa sadar sudah mendarat di atas bahu Vatler yang lebar itu, dan suara lenguhan tak jelas itu kembali keluar.


"Apa lagi? Jika bukan karena aku menginginkan ini sekarang juga." bisiknya lagi.


"Tapi- bagaimana bisa, kamu bukannya sudah bilang tidak akan menyentuhku?"


"T-tapi, kamu kan sudah berjanji un- Angh~" Lenguh Risyella saat ujung jari itu diam-diam sudah masuk kedalam sana. 'Apa ini? Apakah ini mimpi? Tapi jika ini mimpi, kenapa aku sampai bisa bermimpi seperti ini?' Pikir Risyella, seraya menahan lenguhan yang bisa timbul kapan saja sebab Vatler rupanya bukalah pria seperti tembok beton yang dingin saja, tapi bisa menjadi serigala ganas yang kelaparan, dan jati dirinya sebagai serigala yang kelaparan itu pun muncul juga, tapi sayangnya tidak berada di waktu yang tepat seperti ini.


"Janji apa, hanya janji semata, bisa di langgar kan? Tolong, jika bukan karena ada yang memberikanku obat di minnumanku, aku tidak akan memintamu sampai seperti ini." Bisiknya lagi.


"T-tapi, aku takut."


"Takut apa? Apakah aku terlihat menakutkan?" Dan karena sudah tidak dapat menampung segala tahanan yang sedang Vatler tahan saat itu, Vatler pun langsung mendaratkan bibirnya di atas kulit tipis dari leher Risyella, tanpa menunggu sebuah jawaban pasti dari sang Istri ini/


"Ahh~ Vatler, itu..geli." Rintih Risyella di bahwh tekanan hebat yang dilakukan oleh sang Suami yang sungguh-sungguh ingin mengeluarkan has*ratnya saat ini juga?

__ADS_1


Ketika Risyella mencoba menunduk ke bawah, maka Risyella akhirnya bisa melihatnya, sesuatu yang tumbuh di balik celana yang di pakai Vatler itu sudah lebih besar dari sebelumnya.


Hanya saja karena Vatler saat ini memakai celana lengkap, maka itu tidak terlalu kelihatan selain diri Vatler yang sepenuhnya menahan rasa sakit karena tertekan dengan celana yang di pakainya itu.


"Ris..maaf, tapi aku sudah tidak tahan lagi." kata Vatler memohon kepada Risyella, dan saat itu pula Vatler pun langsung menyeret jaket yang dipakai oleh Risyella itu agar terlepas.


"T-tunggu, ini rasanya terlalu terburu-buru, ba-bagaimana jika ada orang yang mendengarnya?" Panik Risyella saat Vatler sudah mulai mengganas, sampai dengan kasarnya, Vatler menarik jaket yang di pakai Risyella agar di lepas.


"Tenang saja, aku sudah membayar semua penumpang di sini, kamu hanya perlu melakukan tugasmu saat ini juga." Cetus Vatler.


"A-apa? Membayar mer-" Tapi sayangnya semua suaranya itu langsung sirna karena Vatler berhasil membungkamnya dengan bibirnya, sehingga tautan di antara mereka berdua pun terjadi, setelah terakhir kali mereka lakukan tepat di bawah hujan saat malam pertama pernikahan mereka berdua.


"Ya, jadi kamu tidak perlu memikirkan apapun lagi." Imbuhnya setelah melepaskan tautannya.


"Tapi ini memalukan." Keluh Risyella. "Mereka tetap mendeng-"


"Itu tidak akan juga. Jangan membahas itu lagi, sekarang lakukan apa yang ingin aku lakukan ini." Tuntut Vatler kepada Risyella saat ini juga.


"I-iya." Antara takut dan juga senang, semua itu bercampur menjadi satu saat itu juga.


Semua penumpang di kabin pesawat sudah di bayar, dan masing-masing diharuskan mendengarkan musik lewat earphone mereka, sedangkan di satu sisi lagi, dua orang yang kini ada di dalam toilet, sedang mencoba melakukan tugas mereka masing-masing.


Walaupun terkesan seperti tidak kenal tempat, tapi demi Vatler yang nyatanya memang baru saja mendapatkan obat dari seseorang, membuat Risyella tidak punya pilihan lain untuk melayani has*rat yang di miliki oleh Vatler yang toh sekarang sudah menjadi suaminya.

__ADS_1


Karena itulah, sekarang...


__ADS_2