Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
164 : IPHTV : Untuk Riyella juga Risya


__ADS_3

"Aku bahkan tidak bisa membuat penyakit Risya sembuh. Aku sungguh minta maaf Risyella." Tunnduk Freddy, merasakan penyesalan paling dalam atas apa yang dia usahakan, ternyata tidak membuahkan hasil dan salah satunya adalah menyembuhkan Risya dari penyakitnya itu. "Padahal sebentar lagi Risya bisa mendapatkan donor sum-sum tulang belakang. Tapi aku terlambat, aku terlambat membuat Risya sembuh." Bebernya lagi.


Risya yang tidak tega melihat kesedihan di wajah paman Freddy itu, tentu membawa Risya untuk bangkit dari tempatnya duduk dan berjalan mengampiri Freddy yang duduk di depan makam milik mereka berdua.


Setelah berada di depan pamannya persis, Risya pun berjongkok dan berakhir berlutut untuk menyentuh wajah milik paman Freddy seraya berkata : "Paman jangan salahkan diri paman sendiri. Aku tidak mempermasalahkannya jika aku memang ditakdirkan berakhir seperti ini. Ini buan salah paman, jadi jangan bersedih lagi."


Jika saja tangannya saat ini memiliki wujud dari tubuhnya sendiri, sudah pasti Risya bisa mengusap wajah paman Freddy yang sudah basah akan air matanya sendiri.


Setelah sang Ayah, dan Arshel, ternyata satu fakta yang baru kalau pamannya juga turut merasa kehilangan juga?


Melihat semua fakta itu, Risya pun jadi ikut sedih, karena rupanya ketiga pria ini sungguh-sungguh merasakan kehilangan juga.


'Apa ini? Tiba-tiba wajahku terasa jadi dingin.' Pikir Freddy, merasakan adanya sensasi dingin dari wajahnya. 'Apakah ini Risya? Biasanya Risya suka mengusap wajahku.'


Sekalipun rasanya seram sejuk, karena ada suasana yang cukup dingin, padahal matahari sudah cukup terik, tapi tidak membuat Freddy merasa takut pada hal tak kasat mata, apalagi Freddy tahu kalau saat ini yang sedang ada di depannya adalah Risya.


"Apakah kamu senang, bisa bersama untuk menemani Ibumu?" Tanya Freddy, seperti orang gila, karena berbicara sendiri.


Padahal kenyataannya Freddy sedang mencoba berbicara dengan Risya.


"Ya, aku merasa senang. Akhirnya impianku untuk bertemu sekaligus menemani Ibu, jadi terwujud. Walaupun terdengar egois, karena meninggalkan paman yang sudah merawatku seperti aku adalah anak paman, aku juga turut minta maaf ya, aman." Ucap Risya dengan senyuman lemah.


Dia benar-benar sama sekali tidak bisa lagi menyentuh wajah pamannya yang masih saja bisa mempertahankan ketampanannya.


"Tapi aku benar-benar berterima kasih kepada paman, yang mau merelakan sebagian besar waktu paman yang berharga untuk terus menemaniku. Terima kasih." Tambahnya. Lalu walaupun tidak bisa memberikan sentuhan yang cukup nyata kepada pria di depannya itu, Risya pun memberikan satu kecupan di pipi kanan Freddy.

__ADS_1


Freddy yang akhirnya merasakan adanya sesuatu yang mendarat di pipi sebelah kanannya, tiba-tiba jadi mengulas senyum simpul.


"Ternyata setelah menjadi arwah, kamu jadi lebih berani kepada paman ya, untuk mencium pipi paman." Beber Freddy, tapi tidak membuat Risya bergeming dari tempatnya.


Karena yang ada, justru adalah tetap menatap wajah paman Freddy dengan jarak yang sungguh dekat.


Kalau saja dia punya tubuh fisiknya sendiri, maka jarak itu hanya tinggal menunggu sedikit waktu lagi untuk mmebuat sebuah ciuman yang terjadi antara bibir dengan bibir.


Ya..sekalipun memang sudah tidak memiliki tubuh fisik lagi, Risya pun pada akhirnya memberikan kecupan singkat di bibir Freddy.


Freddy mematung, 'Barusan, apakah Risya menciumku?' Sambil menyentuh bibirnya yang sesaat tadi sungguh terasa cukup dingin, layaknya mencium balok es.


Selepas memberikan hadiah kecil berupa kecupan, Risya pun undur diri dan kembali menghampiri sang Ibu yang hanya diam saja tanpa memberikan komentar apapapun kepadanya.


Mendapatkan rasa hangat kembali, Freddy pun berdiri dan menatap ke arah depan, dimana di depan pohon wisteria persis, Risyella dan Risya pun sedang berdiri dan menatap kearah Freddy juga.


Lalu Risyella pun menatap Risya.


"Ayo. Kita sudah seharusnya tidak berada di sini lagi." Ajak Risyella kepada Risya.


Risya hanya memberikan sebuah anggukan iya kepada sang Ibu. Dan mereka berdua pun memberikan lambaian tangan kepada Freddy.


Samapi kepergian dari mereka berdua pun akhirnya tetap bisa Freddy rasakan juga, bahwa sekarang dirinya sudah benar-benar sendirian di sana.


Tidak ada lagi roh yang ada di depan sana, karena setelah Freddy mencoba mengambil gambar lagi dengan hanpdhone nya, kedua gambar yang memperlihatkan sosok dari Riyella dan juga Risya pun sudah tidak ada.

__ADS_1


Yang artinya, 'Mereka sudah benar-benar pergi. Semoga kalian berdua baik-baik saja.' Batin Freddy sambil menatap bunga wisteria itu dengan penuh makna.


Setelah beberapa waktu berlalu, dan sekiranya memang sudah cukup untuk menghabiskan waktunya untuk mengunjungi makam milik mereka berdua, Freddy yang sudah menyiapkan mawar putih, segera meletakkan kedua mawar itu satu untuk di letakkan di atas makam milik Risyella dan satunya lagi untuk Risya.


Barulah, Freddy pun pergi dari tempat itu, lewat jalan yang tadi Freddy gunakan.


Perbincangan singkat mereka semua pun berakhir juga.


Masing-masing akhirnya harus menjalankan jalan mereka masing-masing.


Vatler dan Arshel yang pulang ke rumah dengan sejuta kenangan milik mereka, dan Freddy yang akhirnya mendapatkan kebebasa dari sebuah tanggung jawab yang mengikatnya.


Dan kisah dari dari keseharian mereka semua setelah kehilangan hal berharga di antara mereka semua pun terjadi juga.


Kesedihan memang masih di rasakan oleh semua orang yang diam-diam memang menyimpan banyak rasa entah itu kepada Risyella yang di miliki oleh dua orang pria yang sama-sama memiliki perasaan kepada Risyella yaitu Freddy juga Vatler, maupun Risya sendiri yang ternyata kepergiannya itu juga di rasakan oleh semua teman-temannya yang ada di kelas.


_____________


"Tanam itu di sini." Kata Vatler. Setelah kembali membuat dirinya menggali lubang kecil di tengah-tengah halaman kosong yang ada di depan rumahnya persis, sekarang dia pun meminta Arshel untuk menempatkan pohon Wisteria yang masih kecil itu kedalam lubang yang sudah Vatler buat.


Dengan pelan dan penuh perasaan, Arshel pun menempatkan pohon itu dengan hati-hati ke dalam lubang, dan kembali menimbun tanah berlubang itu dengan tanah kembali.


"Apa kamu sudah mengerti, jaga dan rawat pohon itu dengan baik. Karena kamu lebih pintar dariku, aku pikir kamu lebih bisa di andalkan untuk merawat pohon itu dariku." Ucap Vatler dan kembali memabwa cangkul itu lagi di bahunya dan meninggalkan Arshel yang masih terdiam, karena dia baru saja mendapatkan titah pertama paling berharga dari mulut yang bisa mengatakan kalimat kejam itu dengan sebuah pujian.


"Baik, Ayah. Akulah yang akan merawat pohon ini dengan baik." Jawab Arshel lirih sambil menatap pohon kecil itu.

__ADS_1


Sehabis menanam pohon kehidupan yang berisi kenangan milik mereka berempat, Arshel pun berjalan meninggalkan pohon kecil itu.


__ADS_2