Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
150 : IPHTV : Hal Berharga


__ADS_3

Dan balasan yang Risyella dapatkan setelah memanggil pria di sampingnya itu dengan panggilan Vatler adalah sebuah usapan lembut ynag Risyella dapatkan di ujung kepalanya, setelah itu tiba-tiba saja wajah itu terus mendekat ke arahnya, hingga jarak diantara mereka berdua akhirnya habis juga dengan akhir sebuah kecupan basah di dahinya.


CUP..


"Aku sangat salut denganmu, bisa bertahan sampai sejauh ini." Ucapnya, mencoba menciptakan sedikit jarak lagi diantara mereka berdua.


Risyella yang merasa enggan untuk di tatao lama-lama seoerti itu, menarik tangannya dari genggaman pria ini.


Tapi tangan kirinya itu tetap di tahan untuk tidak terlepas dari genggaman tangannya.


Karena itulah, Risyella pun menggunakan tangan kanannya itu untuk meraih wajah dari pria ini, dan Risyella jadi serasa langsung menemukan sebuah senyuman, diantara wajah yang sedang Risyella sentuh itu.


Walaupun Risyella tidak bisa melihat seperti apakah sosok dari pemilik wajah ini, tapi kesan hangat yang Risyella rasakan, membuatnya jatuh hati untuk tidak membiarkan pria ini pergi darinya juga.


Hingga sampailah, tatapan mata di antara mereka berdua berujung pada jarak bibir mereka yang semakin terkikis dan menciptakan kisah lembut juga hangat yang bisa di ciptakan dari dua bibir yang saling berci*uman itu.


CUP....


Sesaat Risyella melepaskan ci*uman itu.


"Apa kamu sudah mempunyai nama untuk mereka berdua?" Tanya pria ini.


"Aku baru punya satu nama yang terlintas di dalam kepalaku, tapi untuk yang perempuan saja." Jawab Risyella atas pertanyaan tersebut.


"Coba katakan."


"Risya."


"Namanya sungguh cantik sepertimu." Ucapnya, seraya mengusap pipi Risyella dengan lembut.


"Terima kasih."


"Berarti hanya tinggal yang laki-lakinya saja ya?"


"Hmm.." Dehem Risyella, menikmati sentuhan lembut yang di cipatakan oleh pria ini. "Apa kamu sudah punya namanya?"


"Entahlah, aku hanya memikirkan tentang kondisimu saja." Masih setia mengusap wajah Risyella yang sembab karena harus menangis ketika merasakan sakit luar biasa ketika harus melahirkan secara normal.


Walaupun begitu, Risyella sendiri tidak menyadari akan wajahnya yang sembab dengan mata yang sayu karena menangis.

__ADS_1


"Bertahan ya, jangan tinggalkan kita."


"Apa maksudmu?"


"Tidak ada maksud apapun. Tapi aku bangga, bisa melihatmu melahirkan dengan semangat. Mereka berdua pasti akan senang, bisa memiliki Ibu secantik ini dan kuat sepertimu ini."


"Hmm...terima kasih." Untuk sesaat Risyella memejamkan matanya, karena saat ini dia benar-benar merasakan kehangatan karena sentuhan dari tangan pria ini yang saat ini sedang mengusap kepalanya, serta wajahnya juga,


Dan akhir dari semua itu, Risyella dan pria ini pun sama-sama menarik wajah yang mereka berdua pegang itu untuk kembali meraskaan apa itu arti dari kisah lembut yang di buat saat menempelkan kedua bibir mereka membentuk sebuah hubungan kisah cinta dari sebuah ci*uman.


Ciuman hangat, manis yang dibawa oleh mereka berdua.


CUP..


_________


"Uhmm...." Ciu*man itu pun berlangsung untuk waktu yang lama.


Hingga sang korban yang di cium itu yang awalnya membelalakkan matanya karena tiba-tiba mendapatkan serangan tidak terduga dari Risyella, membuat tatapan mata Vatler saat in ikembali datar.


Dia pada akhirnya hanyabisa menerima apa ang sedang di lakukan oleh Istrinya itu terhadapnya.


'Kali ini, apa yang dia mimpikan? Lalu tadi dia mengatakn Risya? Risyella, Risya. Apakah-' Vatler kemudian melirik ke arah Istrinya yang masih memejamkan matanya, namun tidak dengan mulutnya yang saat ini kedua mulut mereka saling bekerja sama satu sama lain.


Dan ketika Vatler hendak menyudahinya, sayangnya Risyella terus menahan dirinya dengan terus mempertahankan kedua tangannya untuk melingkar di belakang tengkuknya.


Ketika untuk sesaat tautan dari mereka berdua lepas, Risyella justru bergumam lagi, "Jadi kamu setuju anak perempuan kita adalah Risya?"


"...........!" Jujur saja Vatler jadi tahu apa makna kata Risya barusan ada di peruntukan untuk anak perempuannya? 'Memangnya kita akan puny anak? Risyella? Aku sudah berjanji untuk tidak menyentuhmu. Atau kamu sudah ada janji dengan pria lain, untuk bisa memiliki anak dengannya dan jika perempuan maka di namai Risya?'


Dan Risyella pun berkata lagi. "Terima kasih, Vatler."


Vatler pun di buat terkejut, apa yang di pikikannya beberapa waktu tadi ternyata salah besar, nama anak perempuan yang tadi Risyella katakan adalah untuk anak mereka berdua kelak?


'Anak? Sedemikian inginnya punya anak denganku, sampai terbawa mimpi?' Benak hati Vatler sekali lagi.


Dia sebenarnya sudah punya janji pada dirinya sendiri, kalau dia tidak akan menyentuh wanita yang ada di bawahnya itu sedikit pun, tapi menurut waktu yang sudah tertera di dalam surat kontrak pernikahan mereka berdua, Vatler yakin akan satu hal, kalau lambat laun hatinya itu bisa saja berubah.


"Umhph..?" Dan setelah beberapa waktu, Risyella yang perlahan merasakan sakit di bagian kepalanya itu, membuat Risyella akhirnya membuka matanya. Dan apa yang dia dapat, tentu saja adalah 'Vatler! K-kenapa aku menciumnya lagi? Dia tidak marah kan?'

__ADS_1


Terkejut bukan mmain, melihat wajah itu Risyella lihat dengan cukup dekat, Risyella pun perlahan melepaskan kedua tangannya dari belakang leher Vatler.


"Kamu cukup menikmati bulan madunya ya?" Tanya Vatler, lagi-lagi seolah tidak peduli dengan apa yang barusan terjadi, Vatler mengusap bibirnya itu dengan punggung tangannya.


"M-maaf."


"..........." Bosan mendengar kata minta maaf terus dari Risyella, Vatler memilih diam saja seraya memperhatikan perban yang melilit di dahi Risyella itu.


Penasaran apa yang sedang Vatler tatap itu, Risyella mengangkat tangannya untuk menyentuh sesuatu yang sakit di dahinya persis.


"SHh..." Risyella langsung mendesis merasakan sensasi sakit yang lagi-lagi dia dapatkan.


Vatler beranjak dari atas tubuh Risyella dan bertanya : "Apa tubuhmu baik-baik saja?"


"Entah, aku hanya pusing." Jawab Risyella dengan selamba. Dia sama sekali tidak ingin menatap Vatler karena malu iya, juga karena dia sangat ini menutup trauma apa yang terjadi tadi siang, soal dirinya tidur di dalam pesawat dengan gumaman yang berakhir dengan de*sahan, dan membuat banyak orang salah paham.


Tapi kali ini, rupanya dia sudah tidak berada di bandara lagi.


'Dimana ini? Kenapa aku di dalam kamar anti serasa sangat romantis? Baunya...aroma mawar, ini membuat kepalaku semakin pusing saja. Aku ingin keluar.' Karena Risyella penasaran dengan dirinya saat ini berada di mana, dia pun bangun dan bertanya. "Dimana ini? Hotel kah?"


"Tidak, kita ada di Villa. Dan Lagi-lagi, ibuku sudah mengatur ini semua, jadi jangan salah paham kenapa aku membawamu ke kamar ini, karena banyak pelayan yang mengawasi kita, dan itu suruhan dari Ibuku."


"Ibumu, kenapa dia seperti itu? Aku jadi merasa tidak bisa bebas." Kata Risyella seraya memegang dahinya yang cenat cenut.


Vatler yang saat ini tengah membuka tirai jendela, hanya menoleh ke belakang dan menemui Risyella yang terlihat seperti orang susah.


Ya,... Vatler mengakui Risyella menyusahkan, tapi entah kenapa Vatler menganggapnya biasa saja.


"Mungkin saja, jika kamu yang mengatakan kleuhanmu itu, Ibu akan lebih mendengarkanmu ketimbang aku. Aku sudah berulang kali membicarakannya, tapi seperti yang di pikirkan, Ibu lebih menyukaimu." Ungkap Vatler.


"Pasti kesal ya." Tiba-tiba saja Risyella tersenyumn mencibir.


"Tentang apa?"


"Padahal aku hanya orang luar, tapi Ibumu lebih menyukai ketimbang aku. Pasti siapapun jengkel jika merasakan rasanya di sisihkan." Jelasnya.


Dan vatler sukses untuk diam saja.


Maka itu jelas membuktikan kalau apa yang Risyella katakan memang benar. Walaupun dari eksrpresi wajah terlihat tidak begitu memperdulikannya, tapi tidak dengan hati.

__ADS_1


Itulah yang di alami oleh pria di depan sana.


__ADS_2