
"Tuan, kami menemukan ada seribu seratus lima puluh satu orang wanita memakai jaket berwarna biru."
Setelah menunggu lebih dari lima menit dalam keterdiaman, dimana Vina akhirnya membungkmkan dirinya setelah di beritahu oleh rekan tim nya, bahwa orang yang hendak Vina usir itu adalah seorang Tuan muda, anak pemilik dari tempat itu, Vina pun segera membungkuk hormat dengan dan menyatakan,
"Saya minta maaf-" Kata Vina singkat?
Itu adalah gaya dari orang yang tidak pernah meminta maaf kepada orang lain setelah melakukan kesalahan.
Dan itu jelas terlihat di mata Vatler, kalau wanita yang ada di depannya itu benar-benar tidak tahu cara meminta maaf yang benar.
Tapi apa pedulinya itu?
Vatler tidak menanggapi permintaan maaf itu, dan memilih untuk pergi menghampiri satu orang yang tadi berhasil menemukan.
"Perlihatkan padaku semuanya." perintah Vatler lagi.
"Baik,"
Sedangkan Vina yang masih menunduk itu, langsung mengumpat kasar. 'Dasar Tuan muda sombong! Dia mengabaikan perminataan maafku?!' Racau Vina.
Tapi terlepas dari itu, Vina pun penasaran siapakah wanita yang sedang di cari oleh Tuan muda itu?
Vina melihat ke arah layar monitor besar itu, dimana satu persatu muncul gambar dari seorang wanita yang sedang memakai jaket berwarna biru.
Tapi itu banyak, seribu seratus lima puluh orang itu bagi Vina cukuplah banyak, dan akan memakan waktu yang cukup lama.
"Tuan, memangnya seperti apakah wanita yang sedang anda cari itu?" AKhirnya Vina memberanikan dirinya untuk bertanya, sekalipun beberapa waktu lalu dirinya bertindak tidak sopan kepada pria tersebut.
"Sayangnya aku tidak memilii fotonya. Jadi sekalipun kamu mau membantu, itu tidak akan berguna." Jawab Vatler, dimana seluruh kalimat itu mengancung kata menyindir yang cukup berarti bagi Vina sendiri.
'Dia meremehkanku ya?' Vina yang merasa tertantang itu, berjalan menghampiri Vatler, lalu kembali berkata. "Saya bisa membantu anda, jika anda mengatakan lokasi terakhir dari wanita yang anda maksud itu. Dengan begitu saya bisa mencarinya."
Vatler awalnya diam. Dia memang menghargai tawaran yang dilakukan oleh Vina kepadanya. Tapi sayangnya Vatler adalah orang yang tidak sabaran. Karena itulah, dia pun menolaknya. "Tidak perlu. Urus saja pekerjaanmu." Ketus Vatler.
"Ta-"
"Percepat lima kali lipat." Pungkas Vatler, dengan sebuah perintah agar pegawainnya itu memperlihatkan sederetan gambar dengan transisi yang cepat.
__ADS_1
Dan yang diberiakan perintah, hanya mengikuti aturannya itu.
Dia membuat transisi pergantian gambar pada layar monitor jadi lima kali lebih cepat.
'Dia gila? Itu sama saja tidak melihat semua gambarnya dengan jelas .' batin Vina.
Deretan gambar yang terpampang di layar monitor itu segera memenuhi layar tersebut, dan secara bergantian memperlihatkan satu orang wanita dengan wanita yang lainnya.
Tapi bagi mereka yang tidak terbiasa dengan kecepatan transisi itu, mereka hanya bisa diam saja.
'Dimana dia? Aku yakin dia bukan orang yang akan pergi begitu saja tanpa menungguku lebih dulu.' Pikir Vatler, di saat kedua buah pasang matanya menatap tajam layar itu, dan memperhatikan setiamgambar yang silih berganti dengan wanita lain dalam durasi yang cukup cepat.
Sekalipun ada seribu lebih gambar yang di ambil, tetapi karena dengan kecepatan transisi yang tinggi itu, jumlah satu ribu seperti seratus saja bagi Vatler.
Deretan para wanita dalam berbagai penampilan yang berbeda satu sama lain itu, jelas dapat Vatler lihat dengan jelas.
Walaupun begitu, dia hanya ada satu saja wanita yang sedang di carinya, yaitu Risyella seorang.
Tapi permasalahannya adalah dia ada dimana?
"Pasti su-" Belum juga menyinndir Tuan muda Vatler yang belum saja kunjung menemukan wanita yang di carinya, tiba-tiba Vatler yangs sedari tadi diam itu, justru angkat suara.
"Stop!"
Tepat dengan foto yang dia lihat, akhirnya transisinya sudah berhenti. Dan di foto itu menunjukkan seorang wanita yang sedang dihampiri oleh pria yang...
"Tuan?" Salah satu diantara mereka sama-sama terkejut, sebab wanita yang dicari oleh Vatler itu ternyata sedang bergandengan tangan dengan seorang pria yang memiliki wajah serta perawakan yang sama dengan Vatler yang saat ini sedang ada bersama dengan mereka di ruangan itu.
"Kelihatannya ada satu masalah besar." Sela Vina di tengah suasana canggung itu. "Pria yang ada di sana itu, diri anda loh," Tunjuk Vina terhadap fsebuah foto Risyella yang sedang di ajak pergi oleh Vatler sendiri?
"Tch....." Desisan kesal dari Vatler yang tiba-tiba muncul itu langsung mengagetkan mereka, karena terlihat wajah kesal milik Vatler. 'Ternyata ada yang menyamar jadi aku? Hahh~ Kelihatannya hari ini akan jadi hari yang panjang.' batin Vatler.
"Apakah anda-"
Tanpa diberikan kesempatan untuk berbicara, Vatler langsung menyela dengan sebuah perintah lagi, "Perintah dariku, entah kalian mau percaya aku yang disini asli atau bukan, tapi kerahkan lebih banyak penjaga dalam posisi menyamar agar mambaur dengan para pengunjung."
"Apakah ada alasan pastinya, sampai memberikan perintah itu kepada kami?" Tanya Vina, sebagai wakil dari mereka semua untuk berbicara dengan Vatler.
__ADS_1
"Hanya insting. Jangan banyak tanya lagi, lakukan saja apa yang aku katakan, karena jika tidak, aku akan buat kalian tidak bisa bekerja dimanapun," Kata Vatler.
Lantas mereka semua segera menunduk hormat sebagai jawaban mereka atas perintah yang diberikan Vatler kepada mereka.
Dan selepas berkata seperti itu, Vatler langsung pergi begitu saja.
BRAK....
'Memangnya ada apa? Insting?' Vina yang bingung itu langsung bertanya kepada anak buahnya. "Apakah ada dari kalian yang tahu pekerjaan orang itu?" Tanyanya, tanpa menyebut kata anda ataupun Tuan muda.
Toh karena orangnya sudah pergi, Vina jadi berkata bebas.
Tapi jawaban dari mereka adalah sebuah gelengan kepala tidak tahu.
"Kalau begitu, apakah instingnya yang mengartikan bahaya itu selalu benar?" Tanya Vina lagi.
"Benar. Walaupun Tuan muda sangat jarang ke sini, tapi beliau beberapa kali melakukan pencegahan pada kejadian tak terduga."
"Iya...misalnya saja. Mesin pembuat ombak....beliau memang tidak melihat secara langsung apa atau seperti apa mesin itu. Tapi Tuan muda lebih dulu untuk menyuruh mengganti mesin itu dengan yang baru. Dan benar saja, setelah di ganti, mesin itu sempat rusak."
"Ah benar...." Satu orang lagi mendukung pernyataan dari rekannya itu. "Kalau saja mesin itu masih di pakai, ada kemungkinan justru meledak, dan menghancurkan pipa utama bawah tanah."
"Lalu ada lagi-" Satu orang lagi ingin mengutarakan jawabannya juga.
Dan Vina mencoba mendengarnya lagi.
"Saat pembuatan rolercoaster. Tuan muda langsung menhentikan pekerjaan itu,"
"Alasannya?" Tanya Vina.
"Waktu itu, Tuan muda untuk pertama kalinya berkunjung ke tempat ini. Karena Waterpark ini sedang dalam proses pembangunan, Tuan muda pun berjalan melihat-lihat. Sampai di arena permainan Rolercoaster, hanya dalam sekali lihat, beliau secara tiba-tiba langsung menyuruh para pekerja untuk menghentikan proyek itu, karena perhitungan dari arsitek yang membuat jalan rel rolercoaster kurang benar." Jelasnya.
Sampai akhirnya satu persatu pernyataan itu Vina kumpulkan, dan membuat bukti kuat kalau, 'Dia memang bukan orang biasa.'
Itulah kesan yang Vina dapatkan. Dan untuk memperkuat semua pernyataan dari mereka, secara diam-diam Vina pun melakukan penyelidikan kecil, dan semua yang dikatakan oleh anak buahnya itu memang benar adanya.
Bahwa Vatler rupanya memiliki insting yang tepat untuk menangani masalah yang belum terjadi.
__ADS_1