
TAP....TAP.....TAP......
Dua pasang kaki itu pun berjalan saliing beriringan satu sama lain.
Meskipun satu pasang kaki terlihat berjalan dengan santai karena memiliki kaki yang begitu jenjang, maka tidak dengan sepasang kaki yang satunya lagi, karena pemiliknya harus menyesuaikan langkah dari sepasang kaki milik seorang pria yang sudah dia kenal, yaitu Vatler.
Yah...demi mengikuti Vatler yang ingin membeli pakaian, maka mau tidak mau Risyella harus mengikuti kemauannya terlebih dahulu.
Dari situlah, Risyella mencuri-curi pandang sosok Vatler yang memiliki tubuh tinggi, postur tubuh yang cukup atletis, lalu di sempurnakan oleh wajahnya yang tampan.
Hingga semua perempuan yang berpapasan dengannya tidak bisa mengalihkan pandangan mereka pada pria jangkung yang saat ini berjalan disamping Risyella.
"Dia sangat tampan."
"Iya. Pria itu tipe ku sekail. Aku jadi ingin minta fotonya."
Satu bisikan demi bisikan lirih dari mereka semua, masih bisa Risyella dengar terus.
Hingga Risyella yang posisinya saat ini sebagai pengikut Vatler pun tetap tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pria ini. 'Mungkin karena sudah terbiasa dengan tatapan mereka, dia jadi terlihat biasa-biasa saja.' pikir Risyella.
Hingga di satu waktu, Risyella tiba-tiba mengernyitkan matanya karea terbesit akan satu pikiran, 'Kapan ya, aku bisa menikah?'
Satu pikiran yang terlintas itu ada, sebab sudut matanya yang dari tadi mencoba melepaskan tatapan intensnya dari Vatler, tiba-tiba menemukan sebuah butik yang memperlihatkan dua boneka manekin yang dipakaikan gaun pengantin berwarna putih, terpajang di etalase depan toko.
'Cantik.' Detik hati Risyella saat memutuskan memberhentikan langkah kakinya untuk melihat gaun itu lebih seksama lagi.
Dan selagi RIsyella menatap kaca depan toko untuk melihat gaun itu, Risyella juga tanpa sadar secara perlahan dia jadi bercermin sendiri. Dimatanya saat melihat tubuh dan wajahnya di pantulan kaca itu, membuatnya memiliki pikiran lain yang menyatakan kalau gaun pengantin yang memiliki harga selangit itu tidak akan cocok di tubuhnya.
__ADS_1
"Hah~" Risyella pun menghembuskan nafasnya dengan pelan. Risyella sejujurnya sedikit frustasi, karena dia merasa kalau harapan setinggi itu tidak akan mungkin dia capai, mengingat dirinya sendiri adalah perempuan yang tidak menarik sama sekali.
Terbesit satu keinginan kecil dari imajinasinya yang tiba-tiba muncul, kalau orang yang memakai gaun pengantin itu adalah dirinya, dan mempeai pria nya tentu saja Vatler.
"Tapi itu tidak mungkin. Dia adalah orang yang tidak bisa aku gapai. Dan rasanya tidak cocok sama sekali kan?" Keluh Risyella.
Setelah Risyella hendak melanjutkan perjalanannya untuk mengekori Vatler, secara tiba-tiba dia dikejutkan oleh Vatler yang sduah berdiri di sampingnya persis, sampai Risyella hampir saja menabrak tubuh Vatler yang tinggi itu.
"Kenapa kau kembali?" Tanya Risyella, tahu kalau Vatler tadi sebenarnya sudah berjalan jauh, tapi entah karena apa, pria itu sudah berada di sampingnya lagi.
Vatler melirik kearah Risyella sekilas, lalu menatap kearah etalase itu kembali. "Tidak penasaran?"
Satu pertanyaan aneh yang tidak bisa Risyella mengerti pun terucap begitu saja dari mulut yang terlihat bisa mengucapkan kata-kata sadis itu.
Salah satu alis Risyella terangkat dan bertanya, "Penasaran tentang apa?"
"Aku tadi dengar kau bilang tidak cocok memakai itu kan?"
"Apa kau tidak penasaran untuk memakai itu?"
Risyella termangu, dia tidak percaya akan diberikan pertanyaan seperti itu oleh seorang pria yang bahkan baru dia kenal kemarin malam.
Risyella kembali melirik kearah Etalase dan menjawabnya dengagn cepat, "Penasaran sih, tapi buat apa aku mencobanya? Lagi pula aku tidak akan pernah memakai gaun seperti itu. Dari pada mengurus rasa penasaranku, ayo pergi." Cetus Risyella, tidak mau berlama-lama berdiri di tempat yang membuatnya memiliki harapan lebih untuk pernikahan yang tidak tahu kapan bisa Risyella dapatkan.
Di tinggal pergi oleh Risyella yang terlihat seperti memiliki harapan untuk memakai gaun pengantin itu, Vatler hanya bisa diam membisu memperhatikan gaun yang dipajang di manekin itu.
'Tidak akan pernah?' Tiga kalimat itu akhirnya jadi terngiang di dalam kepalanya.
__ADS_1
Di umur yang semakin matang, kebanyakan orang terbesit satu hal yang ingin mereka capai, tapi belum kunjung sampai, yaitu pernikahan.
Di usianya yang baru menginjak umur 27 tahun, Vatler sudah seharusnya memiliki pemikiran seperti itu. Tetapi sayangnya Vatler sama sekali tidak memiliki pikiran itu, sebab Vatler merasa berurusan dengan pekerjaan adalah sesuatu yang lebih menyenangkan ketimbang pecintaan dengan lawan jenis.
"Kenapa masih ada disana? Ayo pergi." Ujar Risyella, mencoba menunggu Vatler yang masih berdiam diri di depan toko.
'Suasana hatinya cepat sekali berubah.' Batin Vatler saat melihat Risyella yang terlihat semangat lagi megajak orang yang belum lama Risyella kenal untuk ikut berbelanja.
Puluhan pasang mata yang lewat pun menatap kearahnya.
"Perempuan itu beruntunng sekali dapat pacar seperti dia."
"Aku jadi iri."
"Kapan aku bisa dapat pacar setampan pria itu?"
Segala pujian pun kembali menyerukan Vatler adalah pria yang tampan?
Soal wajah, itu memang benar. Tapi kalau soal kesempurnaan maka itu tidak ada didalam diri Vatler, sebab Vatler sama sekali tidak memiliki ketertarikan untuk mencintai perempuan, karena bagi Vatler, perasaan cinta itu sangat merepotkan.
'Tapi aku pikir ini tidak masalah juga.' Benak hati Vatler. 'Biasanya ada beberapa wanita yang berani datang kepadaku untuk menggodaku, minta foto atau nomor, tapi setelah dia aktif mengajakku pergi, mereka jadi tidak berani menggangguku.' Sembari berjalan menghampiri Risyella yang masih berdiri menunggunya, Vatler pun dalam diam menyembunyikan senyuman puas.
Dia merasa puas karena keberadaan Risyella saat ini seolah bisa Vatler jadikan tameng untuk menghalang para perempuan untuk mendekatinya.
"Ayo." Ucap Vatler singkat, yang mana seketika itu berhasil membuat Risyella memperlihatkan sipu malu.
'Kenapa suaranya bisa seksi seperti itu?' Pikir Risyella, mencoba menyembunyikan sipu malunya dengan berjalan lebih cepat agar tidak jadi bahan perhatian Vatler untuk menatap wajahnya secara terang-terangan.
__ADS_1
Melihat hal tersebut, Vatler pun kembali dibuat untuk menyembunyikan tawanya, karena melihat Risyella berpura-pura kuat menghadapi dirinya. 'Kenapa aku tiba-tiba jadi berpikiran kalau dia lucu?' Vatler pun menggeleng pelan dengan pikirannya yang terasa konyol karena menganggap reaksi wajah Risyella saat ini, bagi Vatler cukup lucu.
'Ah~ Aku memang tidak sanggup berlama-lama menghadapi wajahnya yang tampan. Kenapa aku selemah ini?' Pikir Risyella lagi sambil menutup separuh wajah bagian bawahnya dengan telapak tangan. 'Walaupun aku sebenarnya malu untuk berjalan bersama dengan dia, tapi aku merasa ini akan jadi pengalaman terbaikku di hari ulang tahunku ini. Vatler, kau satu-satunya orang yang bisa membuatku merasakan hal semacam ini, perasaan seperti aku sedang berjalan bersama dengan pacar, atau bahkan...aku seperti sedang menikmati waktu berdua dengan suami. Hah~ Hanya seperti ini, ternyata hatiku bisa sebahagia ini.'