
Di rumah dari kenangan lama milik mereka berdua.
Karena Vatler baru seja minum-minum, maka dia memutuskan untuk menumpang di mobil yang di gunakan untuk mengantar jemput Arshel dan menyuruh sang supir untuk pergi ke rumah lama, rumah milik Vatler yang menajdi saksi bisu semua kisha mereka semua, yang kini sudah berakhir, sebab Arshel saat ini sudah tinggal bersama dengan neneknya.
Sedangkan Vatler?
Dia untuk satu minggu ke depan akan terus menempatinya, tapi setelah itu, Vatler akan memilih untuk tinggal di markas. Setidaknya untuk menghentikan rasa dari kegalauan hati yang sedang di milikinya itu.
KLEK..
Arshel akhirnya masuk ke dalam rumah yang memang benar-benar punya banyak kenangan, apalagi bersama dengan Risya, dan semua itu kebanyakan dalam bentuk pertengkaran yang Arshel pikir tidak akan ada habisnya. Tapi siapa yang akan menyangka, kalau semua itu sudah berakhir kemarin.
Dimana Risya sekarang sudah tinggal bersama dengan sang Ibu.
"Darimana kamu mendapatkan ini semua?" Tanya Vatler, mulai menanyakan satu pertanyaan yang dari tadi terus di simpan, sampai berada di tempat yang tepat untuk melakukan pembicaraan.
"Locker milik Risya. Aku awalnya hendak mengambil semua bara yang ada di dalam sana. Tapi ternyata Risya tidak menyimpan barang-barangnya di sana, kecuali semua foto itu." Jelas Arshel. Saat ini dia uduk di depan persis sang Ayah yang terlihat seperti bukan Ayahnya lagi, karena penampilannya sungguh jauh lebih berbeda dari sebelumnya.
Jika sebelumnya terlihat seperti seorang preman, maka sekarang sudah seperti ayaknya pria yang ingin menampilkan kesan terbaiknya di depan orang?
"Apa Ayah baru saja mengunjungi makam Ibu?" Tanya balik Arshel.
Vatler langsung melirik ke arah Arshel dan menjawabnya. "Ayah baru saja memindahkan tubuh Risya."
"A-apa?!" Terkejut Arshel mendengar jawaban sang Ayah yang cukup mencengangkan, sampai Arshel langsung berdiri saat itu juga.
"Kenapa kamu panik?"
"A-ayah melakukan itu?! Kenapa?" Tanya Arshel dengan cukup menuntut.
"Dari awal, peti yang ada di makam itu kosong. Sedangkan tubuh Risya masih berada di peti lain. Ayah melakukannya, karena Risya ingin bersama dengan Ibu kan? Maka Ayah yang kamu bilang sebagai pria yang tidak berguna ini, sengaja membuat makam di belakang rumah dan akan Ayah makamkan di samping tempat Ibu." Jelas Vatler.
'A-ayah...ayah memang cukup mengerikan. Dia sampai berani melakukan sejauh ini, di belakang nenek? Pasi nenek tidak tahu ini. Pasti. Karena sekalipun di tempat pemakaman yang ada di sana ada makam Ibu, tapi waktu itu, Ayah juga pernah bilang, bahwa makam Ibu yang sebenarnya adalah di belakang rumah dan tepatnya di bawah pohon Wisteria.
Jadi Risya-' Arshel pun langsung menatap kembali wajah Ayahnya yang begitu serius sekaligus terlihat menikmati untuk mengamati semua foto yang sedang Ayahnya pegang itu.
Arshel sendiri tidak tahu, siapakah orang yang berani untuk mengambil foto mereka berempat secara diam-diam.
__ADS_1
Tapi karena tindakannya yang ilegal itu juga, nyatanya membuat rasa rindu yang awalnya sangat tertanam dalam hati mereka berdua, perlahan bisa pudar juga karena perasaan mereka berdua tergantikan dengan kenangan yang bisa mereka berdua lihat dengan mata mereka sendiri, sekalipun hanya dengan melihat semua foto yang ada di dalam kotak milik Risya itu.
Vatler kembali memasukkan semua foto yang sempat di keluarkannya tadi kedalam kotak.
Hatinya sedikit lega, tapi itu belum sepenuhnya menambal sesuatu yang di miliki Vatler yang masih menyimpan lubang yang cukup besar.
"Ayah mau kemana?" Tanya Arshel, melihat Ayahnya tiba-tiba saja berdiri dan melepaskan balzer hitam itu ke atas sofa secara sembarangan.
"Melakukan acara pemakaman yang asli." Sahut Vatler, sambil memeluk kotak itu.
Arshel meneguk salivanya sendiri. 'Pemakaman yang asli? Berarti Ayah memang benar-benar belum memakamkan tubuh Risya? Apakah Ayah melakukan ini untuk menungguku juga?' pikir Arshel.
Sekalipun dirinya sedikit takut dengan cara Ayah melakukan pekerjaannya yanng bisa di bilang cukup ekstrim, karena berani memanipulasi pemakaman Risya dari semua orang, tapi mau bagaimana lagi? Arshel sendiri juga merasakan hal yang sama dengan apa yang di rasakan oleh sang Ayah, yang ingin melakukan pemakaman Risya di tempat yang lebih baik, dan itu adalah di samping makam ibu nya yang terletak di belakang rumah.
*
*
*
"A-ayah, apakah Ayah tidak perlu bantuan?" Tanya Arshel ragu, melihat Ayahnya itu saat ini sedang menyeret sebuah peti.
Tapi sayangnya tawaran yang Arshel tanyakan itu, tidak di respon oleh pria yang kini sedang memasang wajah yang cukup serius.
Dan dari pada itu, rupanya Vatler itu membawa satu bingkai foto, membuat Arshel tidak mampu untuk mengatakan banyak hal lagi, apa yang akan di lakukan oleh Ayahnya itu.
WUSSHH~
Kedua orang yang dalam masa belasungkawa itu berjalan beriringan, bersama dengan satu peti mati berwarna putih yang kini sedang di bawa oleh Vatler, mereka mereka bertiga pun menyusuri hutan yang terletak di belakang Villa milik Vatler itu.
Tidak seperti hutan pada umumnya yang di tumbuhi pohon dengan tidak beraturan, maka yang mereka lewati itu semua pohonnya berjejer cukup rapi. Seakan perjalanan dari mereka bertiga itu membawa mereka ke alam lain, dan semua deretan pohon yang ada di samping kanan dan kiri mereka, adalah lorong khusus untuk mereka.
Dan tepat di ujung dari perjalanan mereka bertiga, ada satu pohon wisteria yang cukup besar, dan sangat kebetulan pohon itu tengah berbunga. Sehingga setiap angin yang datang itu, selalu berhasil membuat bunga wisteria yang bergelantungan itu berkibar.
Sesampainya mereka di depan pohon yang paling berkenang itu, terlihat adanya satu batu nisan yang menjadi pemilik dari pohon Wisteria ini, yaitu adalah Risyella, Ibu dari kedua anak Vatler yang saat ini Vatler bawa.
"Ibu?" Panggil Arshel dengan cukup lirih. Matanya jadi sendu, melihat satu fakta, kalau batu nisan yang ada di depan mereka berdua akan bertambah satu.
__ADS_1
Dan itu adalah untuk Risya.
Vatler pun menatap makam milik Istrinya yang sudah ada sejak empat belas tahun yang lalu itu.
Istrinya yang meninggal tepat setelah melahirkan kedua anaknya.
"......." Sama-sama merasakan perasaan yang cukup sama, Arshel menoleh ke arah Ayahnya yang terlihat seperti sedang menemukan kenangan lain, tepat ketika sepasang mata Ayahnya itu menatap batu nisan milik sang Ibu.
TAK..
Vatler tiba-tiba melepaskan peti yang derek itu, meletakkan bingkai foto Risya di atas batu nisan milik sang Ibu, Vatler berjalan pergi menuju belakang peti yang tadi dia derek itu.
Vatler mengambil cangkul dan memulai melakukan penggalian?
"....." Arshel yang melihat Ayahnya menggali sendiri seperti itu, membuat hatinya jadi kembali berdenyut.
Keluarganya, bertambah tidak sempurna.
'Sudah Ibu, sekarang Risya. Kenapa aku punya keluara yang seperti ini?' Arshel menunduk. Dia memang senang, bisa terlahir dari keluarga yang kaya. Tapi apa gunanya itu, jika kenyataan paling pahitnya adalah dia tidak memiliki Ibu, dan sekarang adiknya yaitu Risya, sudah pergi meninggalkannya juga. 'Aku hanya punya orang tua tunggal saja, tapi kenapa jadi bertambah hancur?'
Selagi Vatler sibuk dengan urusannya untuk membuat lubang makam, perhatian Arshel terus tertuju pada satu peti mati, yang dimana di dalamnya ada tubuh adiknya yang sudah tidak memiliki nyawa lagi.
"Risya." Arshel menghampiri peti mati itu. Dia pun membukanya, hinga akhirnya aroma wangi yang semerbak itu segera mengalihkan perhatian mereka berdua. "Apa ayah memberinya parfum?"
Vatler menghentikan penggaliannya, karena terallihkan dengan arima wangi itu."Tidak."
Tapi sayangnya Vatler yang tidak ingin pekerjaannya terhenti, kembali melanjutkan membuat lubang kuburan.
Dan Arshel yang merasa sepi itu, terasa terobati karena dia bisa melihat wajah adiknya yang begitu tenang.
'Seperti yang dia katakan malam tadi, dia lebih suka dengan kehidupan barunya. Risya, apakah kamu juga senang, karena Ayah memindahkanmu untuk tinggal bersama dengan Ibu di bawah pohon rindang ini?' Tanya Arshel, seraya mengusap lembut pipi Risya yang ternyata sudah di rias, sehingga kini dia menyadari, kalau Risya memang cantik.
Tapi kenapa waktu itu Arshel menolak agar Risya berdandan?
Semua itu dia lakukan, karena memang waktu itu Arshel melihat Risya yang berdandan itu cukuplah aneh, sekaligus dia tidak ingin Risya bertambah cantik di depan banyak laki-laki.
Tapi semua itu sudah berakhir. Keinginan Risya terwujud di saat tubuhnya sudah tidak bernyawa lagi.
__ADS_1
'Kamu benar-benar meninggalkanku ya.' Arshel meletakkan kepalanya di tepi peti mati, dan terus menatap adiknya yang terlelap selama-lamanya, menemani sang Ibu yang meninggal lebih dulu, tanpa merasakan bagaimana rasanya mendapatkan kehadiran dari dua orang anak-anaknya.