Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
30 : IPHTV


__ADS_3

Setelah hari dimana Risya di hasut oleh kakaknya sendiri, yaitu Arhsel. Mulai saat itulah Risya kembali di buat untuk belajar. 


Sebentar lagi kebetulan memang akan ada ulangan semesteran, dan dari situlah awal mulai Risya harus memiliki perubahan dalam nilai.


Tidak seperti biasanya, jika di jam Istirahar maka Risya akan dengan bebas berkeliaran demi mencari mood yang bagus dengan mencari makan atau melakukan hal yang disukainya, saat ini dia jadi harus pergi kedalam perpustakaan. 


Risya memang cukup sering pergi ke perpustakaan, tapi yang dia lakukan adalah membaca novel maupun koran. Dan sekarang yang ada adalah, dia tiba-tiba diberikan setumpuk buku tebal oleh Arshel.


Arshel menepati janjinya untuk mengajarinya, tapi itu tidak main-main.


“Ini kau harus baca semua yang sudah aku tandai. Setelah itu aku akan membuat beberapa pertanyaan padamu, agar aku tahu seberapa banyak yang kau ingat.” perintah Arshel.


Dengan wajah malas, tangannya perlahan mengambil buku Ips.


Risya memang membacanya, tapi otaknya terasa tidak mau bekerja sama sekali. ‘Belum juga satu hari, tapi sudah melelahkan seperti ini.’ pikir Risya, mengeluh dalam diam.


Dan secara kebetulan, Risya teringat kalau setelah jam istirahat pertama, dia memiliki jam olahraga. 


‘Apa aku harus melakukan semuanya dengan sempurna?’ pikirannya yang sudah berhasil dicuci oleh Arshel membuat semua yang diinginkan nya harus dia pendam lebih dulu dan memprioritaskan apa yang ada di depan matanya. 


Mulai dari situ, Risya pun jadi semakin terpengaruh oleh Arshel agar menuntut sebuah kesempurnaan. 


                     ***


Satu hari berubah menjadi dua hari, tiga hari dan seterusnya. 


Demi mengejar yang namanya nilai sempurna, agar mendapatkan peringkat seperti yang diharapkan oleh Arshel karena dengan begitu Arshel tidak akan mendapatkan hukuman dari ayahnya, Risya tanpa sadar melewati hari dimana dirinya harus mendapatkan kemoterapi dari paman Freddy.


“Ulangi, ini masih salah!” ketus Arshel kepada Risya. Karena terus menerus mendapatkan jawaban salah, padahal soal yang Arshel buat, baginya adalah yang termudah. 


“Tapi ini sudah ke 3 kali, masa masih salah?” rungut Risya, mendapatkan nilai 0 dari kakaknya sendiri, dari hasil ulangan pribadi. ‘Aku ingin batuk, aku harus pergi dulu.’ Risya yang tiba-tiba berdiri itu, langsung di cegat oleh Arhsel.


“Apakah aku menyuruhmu pergi? Selesaikan soal ini, baru pergi.” tuntut Arshel. 


“Aku ingin ke kamar mandi dulu.” Risya membuat alasan dengan sengaja. 


“Sana, cepat pergi. Jangan lama-lama, waktuku itu sangat berharga.” ucap Arshel, memperingatkan Risya.


“Hmm!” dan Risya menjawabnya dengan deheman, karena tenggorokannya benar-benar sudah gatal dan ingin batuk.


BRAK!


“Kenapa dia membanting pintu?” Arshel bergumam dalam rasa penasaran. ‘Kalau mau kencing, kenapa pakai ditahan segala. Dasar, adik yang menyusahkan.’ benak hati Arshel sambil melihat jawaban soal matematika yang Arshel buat secara pribadi dan memberikannya kepada Risya agar di jawab, isinya separuh benar dan separuh salah. 


Tapi Arshel tetap memberikan nilai zonk karena belum ada yang benar seratus persen.

__ADS_1


“Uhuk...uhuk...uhuk…”


Suara batuk itu pun terdengar sampai ditelinga Arshel, tapi di saat yang sama, terdengar handphone yang berdering. Itu bukan handphone miliknya, karena sedang di Charge di kamar, jadi ada satu kemungkinan.


“.................” Arshel melirik kearah handphone milik Risya yang tergeletak di atas kasur. Dan benar saja, hanphone Risya lah yang berdering. ‘Paman F? Siapa paman F ini?’ pikirnya.


“Uhuk...uhuk….” 


“Kalau batuk harusnya minum, bukan ke kamar mandi.” kata Arshel, menyela aktivitas Risya yang sedang terbatuk.


                           *******


“Kenapa Risya tidak mengangkatnya? Apa dia sedang sibuk?” gumam Freddy. Dia berusaha untuk menelepon Risya untuk memberikannya peringatan karena sekarang jadwalnya untuk melakukan pemeriksaan, tapi sudah sampai ke 3 kali Freddy mencoba meneleponnya, tidak ada satupun panggilan yang diterima.


Freddy mencobanya lagi, dan itu berhasil tersambung.


📞 : Halo?


“.................!” Freddy langsung menjauhkan handphone nya. ‘Suara laki-laki? Apa itu Arshel?’ Freddy menatap handphone nya sendiri. 


📞 : Kenapa tidak bicara? Apa kau mencari Risya? Dia sekarang ada di kamar mandi. 


📞 : Uhuk...uhuk...uhuk….


📞 : Cari obat batuk sana!


📞 : Ada orang bicara, ternyata kau paman yang tidak sopan.


TUT.


Panggilan tersebut langsung berakhir begitu saja. 


Membuat Fredy benar-benar merasakan kesan yang mendalam, terhadap Risya yang tidak diperlakukan dengan baik oleh kakaknya sendiri. 


GRRT….


Fredyy menggenggam erat handphone nya sendiri dengan lebih kuat. 


Hatinya membuak ingin segera berlari pergi menjemput Risya dan segera membawanya pergi dari sana. 


Tapi sayangnya, Freddy tidak memiliki keputusan itu. 


Lagi-lagi karena hubungan. 


“Kau kenapa?” tanya Jansen kepada Freddy yang terlihat memiliki suasana hati yang buruk.

__ADS_1


“Tidak ada apa-apa.” sahut Freddy, segera menyimpan kembali handphone nya di dalam saku jas dokternya. ‘Aku masih belum bisa mendapatkan uang sebanyak itu untuk membeli sum-sum tulang untuk Risya. Masih kurang 13 milyar lagi. Darimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu di bulan ini?’ 


Freddy sempat bernegosiasi pada orang yang memiliki sum-sum tulang yang cocok dengan Risya. Namun, harga yang ditawarkannya cukuplah tinggi. Sedangkan Risya sendiri bersikeras tidak ingin memberitahukan penyakitnya kepada ayahnya maupun kakaknya. 


‘Kalau aku berada di posisinya, aku juga akan menyembunyikan penyakit itu dari keluargaku yang bahkan tidak pernah memperhatikanku.’ Karena masa lalu Freddy sendiri sedikit mirip dengan Risya, karena itu pula Freddy bisa mengerti perasaan RIsya dan keinginannya itu. 


Itu adalah hak masing-masing. Dan Freddy sendiri sebagai orang yang dititipi pesan terakhir, akan berusaha semampunya untuk membuat Risya mendapatkan pengobatan sampai sembuh. 


Itulah harapan yang Freddy miliki atas tanggung jawab yang dia miliki. 


Tapi bagaimana dengan Risya?


‘Hah~ Waktunya sudah tidak lama lagi, aku harus mencari pinjaman. Apa Angie mau meminjamiku uang?’ pikir Freddy. Karena terlalu sibuk dengan pasien pribadinya, hampir selama 3 hari itu Freddy benar-benar belum bisa tidur dengan nyenyak, karena yang ada di pikirannya adalah agar bisa mendapatkan uang sebanyak 30 milyar itu. 


_______________


KLEK.


“Apa kau sudah selesai dengan batukmu sendiri?” tanya Arshel ketika mengetahui Risya akhirnya sudah keluar dari kamar mandi setelah 10 menit lamanya.


“Apa kita bisa sudahi dulu belajarnya?” pinta Risya. Dia sangat ingin pergi menemui pamannya, yaitu Freddy. 


Arshel menatap Risya yang terlihat sedang termenung itu, lalu berkata : “Kau bilang ingin memperbaiki nilaimu. Minggu besok sudah mulai ulangan semesteran. Apa ucapanmu waktu itu hanyalah kebohongan belaka?” 


“Tidak. Aku memang ingin mengejar nilaiku agar lebih baik dari sebelumnya. Tapi-” Risya mengatupkan mulutnya sejenak, mengambil nafas sedalam-dalamnya dan kembali berbicara : “Aku merasa ini terlalu berlebihan.”


PHAK.


Arshel yang sedang memegang buku milik Risya, langsung dia lempar dengan kasar ke atas meja. “Berlebihan? Aku sudah merelakan waktuku hampir sebulan ini untuk mengajarimu, tapi kau bilang berlebihan?! Apa kau benar-benar akan menyerah setelah selama ini?”


TAP...TAP….TAP….


Arshel berjalan menghampiri Risya lalu berdiri di depannya persis. 


“Kau harus tahu, aku bahkan sampai begadang demi membuat soal kisi-kisi untukmu.” bohong, itu hanya alasan sekilas saja. Arshel tidak pernah begadang untuk membuat materi kisi-kisi untuk adiknya. Karena dirinya pintar, dia bisa membuat soal dadakan. “Kau mau menyia-nyiakan usahaku? Padahal waktu itu kau sendiri ingin aku mengajarimu. Aku sudah mau mengajarimu, tapi mau berhenti disini? jawab,” 


“Tapi aku juga ingin istirahat. Ini sudah sore, bukannya kau juga butuh istirahat?” tanya Risya.


“Aku tidak butuh istirahat, agar kau bisa menyamaiku dan tidak mempermalukan keluarga Ellistone lagi.” timpal Arshel. 


‘Tapi ini sakit.’ Risya ingin sekali berteriak. Tapii hatinya sedang ciut untuk meneriaki kakaknya yang songong itu. Yang dia butuhkan adalah bisa mendapatkan obat analgesik lagi dari pamannya. Tapi mau bagaimana lagi jika sekarang saja dirinya sedang di cegat dan diceramahi panjang lebar?


‘Aku memang belajar, tapi kenapa dia sangat berlebihan soal kesempurnaan? Padahal mau belajar sebanyak selama , dan sekeras apapun, manusia tidak akan pernah sempurna. Pasti ada celahnya juga. 


Tapi kenapa- , kenapa aku harus lahir di keluarga seperti ini? Ayahku, kakak, ibu. Kenapa aku tidak sekalipun bisa mendapatkan ketenangan? Kenapa juga aku punya kakak sepertinya? 

__ADS_1


Kalau seperti ini, kenapa tidak sebaiknya kau tidak dilahirkan saja, Arshel pasti bisa bebas sendirian, karena tidak ada yang perlu dia tanggung karena adiknya yang bodoh ini.’


__ADS_2