Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
51 : IPHTV


__ADS_3

Terlihat wajah Risya yang begitu tenang, seakan merasakan kedamaian setelah mengarungi berbagai cobaan hidup yang begitu pahit juga berat untuk ditanggung oleh tubuh yang terlihat lebih kurus dari terakhir Ny. Marlina lihat.


Ny. Marlina kemudian mengusap wajah Risya. Wajah yang benar-benar begitu mirip dengan wanita yang dulu dia bawa dari desa untuk dijodohkan dengan anaknya, yaitu Vatler.


Tetapi semua harapan agar Vatler dapat berubah, menjadi karma pelampiasan untuk Risyella dan Risyya.


Tidak tahan dengan kemarahan yang sedari tadi dia pendam, Ny. Marlian berbalik menghadap kearah Vatler yang dari tadi hanya diam membisu.


PLAKK.....!


Dan sebuah tamparan mendarat di pipi Vatler.


"Kau memang anak yang tidak tahu diuntung!" Sarkas Ny. Marlina. Melampiaskan amarahnya kepada dalang dari semua ini.


"Vatler! Kenapa kau begitu menyia-nyiakan wanita?" Ungkap Ny. Marlina, merasa gagal untuk membuat Vatler berubah dari kebiasaan lamanya yang lebih mencintai pekerjaan ketimbang orang yang sudah memiliki jalinan hubungan dengan Vatler untuk seumur hidup.


"Kau sudah merasakannya sendiri kan? Baik Risyella, Arshel dan Risya, mereka tidak menginginkan apapun, tidak begitu peduli dengan kemewahan, yang mereka butuhkan hanya perhatian darimu, makannya aku memilih Risyella menjadi istrimu. Tapi kenapa kau mengulangi kesalahanmu lagi? APa salah mereka berdua padamu?" Racau Ny. Marlina.


Dia terus mencengkram kemeja Vatler dengan kuat, sampai karena tidak bisa menahan kesedihannya, Ny. Marlina perlhan menunudkkan kepalanya sambil menempelkan dahinya di dada bidang milik Vatler.


"RIsya..Risya, dia meninggal karena penyakitnya? Kita itu tidak semiskin itu sampai tidak bisa membuat RIsya tidak mendapatkan perawatan khsus atas penyakitnya. Tapi kenapa hal seperti ini bisa terjadi? Vatler, kau benar-benar tidak bisa mengurus keluargamu sendiri!" Ny. Marlina kemudian melepaskan cengkraman tangannya dari baju kemeja Vatler, lalu berkata lagi. "Mulai dari saat ini biar aku yang mengurus Arshel, sekaligus pemakannya Risya."


DEG!


'A-apa?' Hati Vatler seketika ikut sakit, mendengar keputusan dari ibunya. Ingin menolak, tapi keputusan dari sang ibu adalah hal mutlak akibat dari kesalahan Vatler sendiri.


"Seperti yang kau harapkan. Hidup saja selamanya dengan pekerjaanmu itu." Ejek Ny. Marlina, akhir kata yang mengakhiri pembicaraan sepihak itu benar-benar berhasil membuat Vatler langsung bungkam.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Setelah hari itu, Risya mendapatkan sebuah pemakaman sederhana. Karena itu juga merupakan keinginan dari orang seperti Risya yang tidak menyukai keramaian, jadi hanya pihak tertentu saja yang bisa ikut berkabung secara langsung di pemakaman.


Evan, selaku ketua Osis yang menjadi perwakilan sekolah, mengunjungi pemakan Risya juga.


Sampai Evan yang tidak sengaja melihat Ayah dair RIsya membuat Evan akhirnya memutuskan menyerahkan barang terakhir yang sempat Evan simpan itu.


'Dia anak yang kemarin berdiri di belakang Freddy?' Tatap Vatler dengan tatapan meyelidik.

__ADS_1


"Ini barang yang sempat Risya dapatkan kemarin." Evan hanya berkata-kata seperti itu saja, disamping Vatler hanya menerima barang dari Evan tanpa mengucapkan terima kasinya.


Vatler mencoba meniliknya sebentar, 'Kalung dan penjepit dasi?' pikir Vatler saat membuka kota perhiasan itu.


Seakan menjadi orang asing, saat Arshel dan Vatler saling bertemu, mereka tidak memiliki sapaan yang lebih baik kecuali tatapan mata yang saling bertemu untuk sekilas saja.


Sedangkan Freddy yang tidak bisa datang mendekat ke tempat pemakaman, hanya bisa melihatnya dari kejauhan ditemani Jansen, Angie, dan selena dari dalam mobil.


"Uang kalian sudah aku kembalikan. Terima kasih atas niat baik kalian mau membantuku." Ujar Freddy setelah mentransfer semua uang mereka bertiga.


TING...


TING...


TING...


Selena, Jansen dan Angie langsung menerima notifikasi pemberitahuan uang masuk ke akun bank mereka.


"Jadi akhirnya begini?" Angie tiba-tiba angkat suaranya.


"Vatler kembali sendirian." Ungkap Selena.


Dan freddy hanya terdiam saja. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi ketika Vatler sendirilah yang membuat keadaan dari 14 tahun itu terulang lagi.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Tidak seperti biasanya jika Vatler pulang kerumah, dia akan melihat kedua anaknya berkeliaran. Sekalipun mereka hanya bertukar pandangan saja, tetapi Vatler jelas merasakan kenangan sebelum-sebelumnya.


Sekarang?


Sekarang ruahnya kembali sepi seperti 20 tahun yang lalu, saat dirinya masih muda dan memutuskan memisahkan diri dari kedua orang tuanya.


Bibi Jeni sudah Vatler perintahkan untuk melayani Ibunya Vatler, Exel dan Ard juga sudah dibebas tugaskan.


TAP....TAP....TAP....


Vatler berjalan menuju lantai dua. Disana Vatler memberhentikan langkah kakinya tepat di depan pintu kamar milik Risya.

__ADS_1


Rasa sepi itu akhirnya Vatler rasakan. Tepat disaat Vatler memasuki kamar Risya, dia benar-benar seperti bisa melihat kebiasaan Risya saat berada di dalam kamar.


"Leukimia?" Sebuah imajinasi mengatakan, 'Dia pasti diam-diam menahan demamnya sendiri.' Pikirnya.


JIka luka tertusuk bisa disembuhkan dengan cepat, maka sangat berbeda jika itu adalah penyakit yang bersarang di dalam tubuh. Rasa sakit yang bisa timbul kapan saja tanpa mengenal waktu dan tempat. Penderitaan yang lebih menyakitkan karena harus merasakan sakit di sekujur tubuhnya tanpa mengenal usia juga. Dan Risya menahan semua sakit itu dengan sangat baik.


'Pantas saja dia sering menggunakan sarung tangan. Karena aku takut dia semakin membenciku jika memaksanya membuka sarung tangannya, aku jadi tidak memperhatikan kalau dia menyembunyikan bekas jarumnya. Kenapa kau bisa sebodoh ini, Vatler?' Racau Vatler.


"Risya." Vatler memanggilnya dengan nada lirih. Dia merasakan penyesalan terbesar karena satu-satunya orang yang memiliki wajah yang cukup mirip dengan Risyella, kini akhirnya sudah pergi meninggalkannya juga, seperti Ibunya RIsya.


Karena keegoisannya sendiri, akhirnya apa yang dia miliki kembali menghilang.


BRUKK...


Untuk melepas rasa penat, Vatler pun langsung menghempas tubuhnya di atas kasur milik Risya.


".............?!" Entah kenapa indera penciumannya benar-benar seperti mencium aroma tubuh milik dari mereka berdua. "Kenapa setiap kali aku tiduran disini, aku jadi merasa mereka berdua ada di sampingku? Kenapa? Risyella, maaf. Maafkan aku karena aku benar-benar tidak bisa menjaga RIsya sesai dengan pesanmu waktu itu." Lirih Vatler.


AKhirnya perasaan bersalah itupun kembali muncul setelah sekian lama sudah Vatler dapatkan. Sampai ekspresi wajah yang dari tadi memperlihatkan wajah yang tegar, sudah tidak bisa Vatler lakukan.


Ya...


Dirinya juga seorang manusia biasa, Dan siapapun bisa menangis karena merasakan kesedihan.


Dan Vatler juga seorang manusia biasa, Mau seberapa hebat manusia mampu mengendalikan perasaannya, pada akhirnya ada satu titik dimana lika liku di dalam hatinya yang tidak pernah disentuh itu akhirnya tersentuh juga.


Dalam tangis diamnya, Vatler pun benar-benar merenungi semua yang diperbuatnya. Baik kepada Risyella, Risya dan Arshel. Ketiga orang yang harusnya bisa ida jaga dengan baik, sekarang sudah tidak biasa dia lakukan.


Vatler sudah gagal sebagai seorang pria.


Karena itu, semuanya meninggalkannya, membuatnya masuk kedalam perasaan paling sepi dan sangat terpuruk.


Vatler mencoba menghela nafas pelan. Semua perasaannya itu akhirnya datang juga. Perasaan yang pernah dulu Vatler rasakan saat Risyella meninggal.


"Aku tahu, aku pantas menerima semua ini. Tapi...kenapa rasanya bisa sesakit ini?" Racau Vatler sambil mencengkram kemeja hitam miliknya.


Didalam perasaan menahan rasa sakit hatinya yang belum pernah dia rasakan selama ini, Vatler pun akhirnya perlahan tidur.

__ADS_1


Samai terbesit ada satu harapan kecil, yaitu semua yang sudah dia lalui itu adalah mimpi belaka.


'Semoga ini hanya mimpi.' Harap Vatler.


__ADS_2