
Akan tetapi niat baiknya itu jadi sebuah petaka untuk Vatler sendiri, karena di dalam gedung yang Vatler masuki untuk berperan jadi tamu undangan, ternyata membuat dia bertemu dengan temannya, dimana temannya ini adalah orang yang waktu itu menitipkan undangannya kepada palayannya Vatler saat di upacara pernikahan Vatler waktu itu.
Tetapi karena Vatler tidak begitu memperdulikan undangan itu, maka dia lupa, kalau undangan yang sebenarnya Vatler terima waktu itu adalah undangan dengan jenis yang sama dengan acara yang sedang dia dan Serena hadiri ini.
Oleh karena itu, saat ini:
“Oh Vatler, aku pikir kamu tidak datang ke pernikahanku karena mau balas dendam, gara-gara waktu itu aku tidak menghadiri ke acaramu waktu itu. “ Sapa pria ber jas putih ini, namanya adalah Jessie, sang mempelai pria sekaligus rekan kerja Vatler di kamp.
Karena suatu kebetulan, dimana Vatler tiga bulan yang lalu dia menolak kencan buta lagi, dan mengutus Jessie untuk menggantikannya, maka hasil kencan buta yang awalnya untuk Vatler itu berubah menjadi Jessi. Dan hubungan itu akhirnya membawa Jessie ke pelaminan dengan pasangan kencan buta yang Vatler tolak waktu itu.
Serena yang tidak tahu apa-apa, langsung berjalan menghampiri Jessie. “Halo, saya Serena, mewakili ayah saya yang tidak bisa hadir.” Salam Serena memperkenalkan diri kepada Jessie.
Jessi terkesiap karena Vatler rupanya datang dengan Serena, putri bungsu dari komandan mereka berdua.
“Hai juga, ini kali pertama kita saling bertemu kan?” Tanya Jessie agak canggung dengan keberadaan Serena, sebab dia adalah putri dari orang yang terhormat.
“Iya.”
“Jadi, apakah kamu Istri dari anak ini?” Tanya Jessie secara terang-terangan.
“A-apa? Istri?” Dan Serena yang tidak tahu apapun itu jadi bingung total. “Saya hanya mengajak dia jadi pendamping saya saja. Dan Istri? Memangnya kami terlihat seperti itu ya?” Jawab Serena.
Jessie yang ikut bingung itu segera menarik Vatler ke tempat lain untuk berbicara berdua.
“Vatler, bukannya kamu sudah menikah? Kenapa kamu justru datang dengan anak komandan itu? Dia sendiri jadi bingung karena aku pikir dia adalah istrimu, jadi istrimu itu dimana? Padahal aku ingin melihat seperti apakah wanita yang bisa menumbangkan keteguhanmu dalam mempertahankan masa lajangmu ini.” Tanya Jessie panjang lebar.
Sungguh di sayangkan, Jessie yang sudah sangat berharap kalau Vatler bisa membawa Istrinya ke acara pernikahannya, berakhir seperti ini.
Berakhir dengan salah sangka, kalau Serena adalah istri Vatler.
“Di di rumah.” jawab singkat Vatler.
Jessie sontak langsung melongo. Vatler ada di tempat mewah, mengunjungi acara resepsi pernikahan temannya, bahkan sampai bisa membawa Serena si tamu terhormat juga, namun yang jadi hal paling kacau adalah Istrinya Vatler ada dirumah?
“Ha? Kamu gila? Kenapa istrimu justru kamu tinggal di rumah? Kenapa tidak mengajaknya kesini bersamamu?” Jessie jadi menginterogasinya.
“Karena memang bukan rencanaku datang kesini. Apalagi bersama Serena, awalnya aku hanya mengantarkannya kesini, tapi aku harus jadi pendamping dia, agar dia bisa masuk.” Jelas Vatler.
“Yahh…padahal syarat agar tamu undangan membawa pasangan pendamping itu adalah rencanaku agar kamu datang dengan membawa istrimu yang tercinta itu.
Kalau seperti ini, apa jadinya? Aku kan jadi semakin penasaran dengan wajah Istrimu.
Lihat dia, wanita dari kencan buta yang kamu tolak itu cantik, kan?”Jessie menunjuk ke arah wanita yang saat ini sedang menggunakan gaun pengantin yang sama cantiknya dengan wajah yang di miliki oleh wanita itu.
“Hmmm…” Vatler menepis tangan Jessie.
“Apa aku perintahkan seseorang untuk menjemput Istrimu?” Tanya Jessie, tiba-tiba menemukan ide yang cukup bagus agar bisa membuat Istri Vatler yang masih cukup misterius bagi Jessie itu bisa hadir juga dan setidaknya bisa menyusul sang suami yang justru sedang menjadi pendamping tamu dari wanita lain.
Akan tetapi saran yang diberikan oleh Vatler jadi satu peringatan agar tidak mengusik Istrinya kah?
Meskipun hal itu membuat Jessie diam membisu, akan tetapi demi satu hal yang sangat di impikannya, yaitu bisa membuat dirinya bertemu dengan Istrinya Vatler, maka Jessie berusaha untuk berani menghadap Vatler yang seperti sedang menatapnya dengan tatapan membunuh itu untuk berbicara lagi.
“Kenapa kamu menatapku seperti itu? Aku dengar Istrimu dari desa kan? Dia pasti akan senang bisa datang ke sini, apalagi berbaur dengan semua orang, iya kan? Aku akan per-”
“Jangan mengganggunya, urus saja urusanmu itu.” Tegur Vatler.
“He~ Jangan mengganggunya? Jangan-jangan Istrimu sedang dalam masa kelelahan karena kamu menyiksanya setiap malam ya? Jadi rasanya seperti apa? Kamu melakukannya dalam berbagai posisi yang bagus dan enak kan? Sampai bisa berkata seperti itu, berarti kamu sungguh perhatian ya dengan Istrimu. Selamat-selamat, kapan-kapan buat aku bertemu dengan Istri tangguhmu itu ya.” Beber Jessie, sambil menepuk bahu kiri Vatler.
Jessi adalah orang yang sama berisiknya dengan Robert, karena itu Vatler sedikit malas dekat dengan anak cerewet seperti ini.
__ADS_1
Apalagi-
‘Menyiksanya? Posisi yang bagus, ternyata anak ini punya selera sampai tahap itu, sampai berani berbicara seperti itu di tengah banyak tamu seperti ini. Lihat saja itu-’ Vatler yang mendapatkan tatapan dari beberapa orang, langsung mendelik tajam ke arah mereka semua. “Jangan pernah berpikiran berlebihan. Lihat dulu calon Istrimu itu, dia sudah memanggilmu.”
Vatler menunjuk seseorang yang ada di jauh di depan sana dengan menggunakan gerakan kepala ringan untuk memberikan kode kepada Jessi, kalau calon mempelai wanita yang saat ini sudah melambaikan tangannya itu sedang ke arah mereka berdua.
Dan Jessie langsung berwajah masam, karena harus meninggalkan topik pembicaraannya dengan Vatler mengenai Istri dari pria ini.
“Yah! Vatler padahal aku masih ingin bicara denganmu. Tunggu aku sampai selesai ya? Aku ingin bicara penting denganmu.” Pinta Jessie agar Vatler tidak pulang lebih dulu.
Tapi memangnya Vatler akan menuruti permintaan Jessie untuk menunggu?
Tentu saja tidak. Sebab Vatler bukanlah orang yang suka menunggu, apalagi dengan urusan yang tidak pasti seperti itu.
‘Akhirnya anak itu pergi juga dari depanku.’ Hatinya sangat sedikit lega, sebab Jessie yang cerewet itu akhirnya bisa pergi, dan membuat Vatler bisa menghirup nafas lega?
“Vatler” Panggil Serena, selepas melihat calon mempelai pria sudah pergi. “Yang tadi itu, apa maksudnya ya? Aku tiba-tiba dibilang Istri . Apa ada kesalahpahaman, seakan kamu ini sudah menikah?”
Vatler melirik ke arah Serena yang terlihat penasaran itu. “Ya, anak itu memang salah paham kalau kamu itu Istriku.”
BLUSHH….
‘Jadi aku dan dia memang terlihat seperti pasangan suami Istri ya?’ Batin Serena, tiba-tiba hatinya merasa senang, karena ada yang mengira kalau dirinya adalah Istrinya Vatler. “Eh tunggu, kalau kamu berkata seperti itu, dan yang tadi dia katakan aku ini di kira Istrimu, apakah-” Serena langsung berbisik kearah Vatler dan bertanya, “Apakah artinya soal Istri yang dia maksud tadi, memang benar kalau kamu sudah menikah?”
“Penasaran sekali ya?” Pertanyaan itu sontak jadi pancingan untuk Serena yang semakin penasaran itu.
“Iya lah.”
“Apakah pertanyaanmu itu adalah sesuatu yang harus aku jawab?” Tatap Vatler.
“Iya.” Serena yang sudah di balut rasa penasaran yang cukup tinggi itu jadi menuntut Vatler lebih tegas lagi.
Vatler menarik kembali kepalanya dan langsung melihat reaksi apa yang diperlihatkan oleh Serena setelah mendengar keterkejutannya tadi?
“............” Ekspresi Serena, seperti yang diperkirakan oleh Vatler, saat ini Serena menunjukkan ekspresi terkejutnya sambil menutup mulutnya yang sempat terbuka itu dengan telapak tangan kanannya.
“Jadi, setelah aku menjawabnya, apakah kamu menyesal, karena mendengar tebakanmu yang sudah benar itu?” Tanya lagi Vatler, mengingat Serena juga wanita yang memang pada dasarnya menyukai dirinya.
Karena itu, saat ini saja Vatler sempat melihat mata kecewa itu.
Bagaimana tidak kecewa kalau gebetannya ternyata sudah punya pasangan dan bahkan sudah statusnya sendiri sebagai pasangan suami istri.
Dimana Vatler adalah pria yang banyak di idam-idamkan oleh banyak wanita, bahkan seperti saat ini.
“Lihat siapa itu? Apakah Tuan Jessie mengundang artis juga aktor?” Tanya wanita ini, salah satu tamu undangan yang tidak sengaja saat ini ternyata berdiri di belakang Vatler persis.
“Mereka berdua serasi ya, cantik dan tampan.” Bisik seseorang lagi.
“Tapi jika mereka berdua adalah artis dan aktor, kenapa aku tidak pernah melihatnya di televisi ataupun berita manapun?”
“Mungkin saja mereka berdua pendatang baru, kan bisa jadi seperti itu kan?”
“Eh, iya yah. Kalau begitu bagaimana jika kita dekati mereka dan minta tanda tangannya?” Salah satu dari mereka, jadi punya ide lain agar bisa mendekati Vatler juga Serena.
“Ayo, kita coba hampiri mereka ber-” Sayang sekali, niat awal mereka untuk mendekati Vatler juga Serena membuat mereka tidak tahu harus mencari kemana, sebab mereka berdua sudah kabur lebih dulu.
*
*
__ADS_1
*
“Hahh….berbicara dengan emak-emak seperti mereka itu tidak mengenakkan sama sekali.” Ucap Serena, setelah berhasil kabur dari kerumunan yang bisa membahayakan mereka berdua.
“Ternyata kamu bisa sepemikiran denganku. Tapi apa kamu bisa melepaskan cengkramanmu ini?” Kata Vatler memberikan peringatan kalau saat ini pergelangan tangan kiri Vatler sedang di cengkram oleh Serena, karena Serena tadi langsung menariknya begitu saja demi menjauh dari semua orang.
Melihat tangannya masih mencengkram pergelangan tangan Vatler yang rupanya masih saja terlalu besar untuk di mencengkram pergelangan tangan Vatler sepenuhnya, membuat Serena melepaskannya.
Tapi niatnya itu langsung Serena urungkan, sebab ternyata tangan kiri Vatler, tepatnya di jari manis Vatler saat ini ternyata sudah ada satu cincin nikah, benar-benar sudah tersemat di jari itu.
‘Padahal setengah bulan yang lalu, jari manis ini masih kosong. Tapi sekarang, sudah terisi dengan cincin nikah. Aku telat ya?’ Serena pun jadi menatap terus cincin yang dipakai oleh Vatler itu.
Dan hal itu juga berhasil membuat Serena penasaran, siapakah wanita yang sudah berhasil mendapatkan pria sedingin es ini?
‘Padahal aku sering dengar dia sering menolak kencan buta, tapi ternyata sekarang sudah menikah? Jangan-jangan alasan Vatler menolak semua kencan buta itu karena-’ Dan pikiran itu dia alihkan ke pertanyaan yang sebenarnya. “Apakah kamu menolak semua wanita di kencan buta, karena kamu sudah punya kekasih?”
“Untuk yang satu itu, aku tidak akan menjawabnya.” Pungkas Vatler seraya menarik tangan kirinya dari genggaman tangan Serena.
Serena yang mengerti dengan pertanyaan itu adalah sesuatu yang privasi, maka dia pun tidak akan menanyakannya lebih lanjut kepada Vatler ini.
“Tapi apakah aku boleh bertanya? Kenapa kamu akhirnya mau menikah?”
“Bukannya itu pertanyaan yang sama tapi beda kalimat?” Cetus Vatler.
“.........!” Serena mengerjapkan matanya mendengar pernyataan Vatler yang ada benarnya juga. “Aku salah tanya nih. Aku ganti saja lah, setelah ini apa yang akan kamu lakukan?”
“Aku akan pergi ke suatu tempat. Apa kamu tahu tempat mana yang membuatku bisa mendapatkan ikat rambut?”
“Pfft…kamu ternyata sayang dengan istrimu itu ya?” Ledek Serena.
Vatler tidak begitu menanggapi ledekan dari Serena ini.
“Bagaimana setelah ini kita kembali ke tempat kamu menyewa jas ini?” Tanya Serena.
“.............” Dan keterdiaman dari Vatler pun sudah menjadi jawaban untuk Serena.
“Kira-kira, aku kapan ya, bisa dapat orang sepertimu?” Tiba-tiba saja Serena bertanya seperti itu, seolah Serena ingin bertemu dengan pria seperti Vatler.
“Kenapa kamu ingin dapat orang sepertiku? Apa yang terlihat itu tidak akan menyenangkan seperti yang kamu kira. Banyak laki-laki lain, lagi pula kamu itu masih muda, kenapa sudah memikirkan sampai sejauh itu?”
“Aku hanya, tidak ingin sendirian terus.” Jawabnya singkat.
Dan kalimat sendirian yang Vatler dengar itu pun membuat diri Vatler jadi berpikir, apa yang sedang Risyella, sang Istri lakukan di saat Vatler meninggalkannya sendirian di rumah sebesar itu?
‘Kenapa aku punya pikiran, dia sedang apa?’ Hati Vatler pun jadi bertanya-tanya sendiri dengan satu perasaan aneh yang muncul di dalam dirinya itu, karena tiba-tiba jadi teringat dengan wanita yang Vatler tinggal itu.
ya…
Di saat Vatler saat ini sedang berdiri di samping wanita cantik, lalu tengah mengunjungi acara resepsi pernikahan yang cukup mewah, hal itu membuat pikiran Vatler jadi terus saja tertuju pada Risyella.
‘Dia tidak menginginkan sesuatu yang mewah seperti ini.’ Kalimat pertama yang muncul, karena sedang membandingkan acara milik Jessie yang terkesan mewah juga mahal, dengan resepsi yang Vatler adakan dengan cukup sederhana, dan bahkan sampai menghemat biaya sampai delapan puluh persen dari total anggaran yang sebenarnya sudah Vatler persiapkan, jika Risyella benar-benar ingin punya kenangan dengan acara yang sedemikian mewah seperti ini.
Lalu di satu sisi lagi, ‘Dia tidak minta apapun kepadaku. Kalau seperti ini, kan aku yang benar-benar memanfaatkan dia sepenuhnya, ketimbang dia yang memanfaatkan aku yang punya kedudukan dan banyak uang ini. Sebenarnya apa yang ada di dalam otaknya itu?
Setidaknya sepulang ini, aku harus memberinya sesuatu kan?’ Pikir Vatler lagi.
Entah karena terpengaruh dengan situasinya yang saat ini sudah menyandang sebagai suami, maka harus punya tanggung jawab untuk menyenangkan istri?
Makannya Vatler punya satu rencana, yaitu membelikan Risyella ikat rambut.
__ADS_1