Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
52 : IPHTV : Awal semua


__ADS_3

Tubuhnya yang tinggi dan tegap, memiliki badan yang berisi sampai semua pakaian yang dipakai pastinya akan menampilkan tubuhnya yang atletis.


"Ibu, sekarang ada di mana?" Suara berat pemilik dari surai hitam dan sepasang mata berwarna biru itu berhasil mengisi kebisingan yang memang sudah ada sejak awal kedatangannya.


Matana yang menyorot tajam ke segala arah, menjadikan dia seperti orang yang akan membaut perhitungan untuk semua orang yang berani mendekatinya.


"Vatler, ibu ada dibelakangmu." Dan suara dari seorang wanita, tiba-tiba muncul tepat di belakang pria itu.


Pria bernama Vatler itu pun berbalik dan akhirnya menemukan seseorang yang dari tadi sedang dai cari. Meskipun Vatler terlihat seperti sedang menatap kearah wanita yang tidak lain adalah Ibunya, tetapi satu hal yang pasti sudut matanya sedang mengoreksi apapun yang ada disekitarnya.


Bagi diri seorang Vatler, dia akan selalu bersikap waspada kapanpun dan dimanapun. Termasuk disaat mereka berdua saat ini tengah berada di bandara.


"Jadi apakah Ibu sudah bisa mengatakannya padaku, alasan Ibu membuatku cuti dari pekerjaanku sendiri dan harus ikut pergi berwisata seperti ini?" Tanya Vatler, pria yang baru menginjak umur 27 tahun itu pun berjalan berdampingan dengan sang Ibu sambil menyeret kopernya.


"Hei..Apa lagi kalau bukan membuatmu merasakan bagaimana itu artinya liburan yang sebenarnya. Kau kan hampir dua tahun ini tidak pernah sekalipun liburan. Uang sudah banyak, kau mau sampai kapan lagi terus bekerja? Dengar ya, uangmu itu tidak akan pernah habis bahkan sampai 7 keturunan." Jelas wanita ini.


CTAS-


Vatler seketika memberhentikan langkahnya ketika Ibunya tiba-tiba membahas uang dan keturunan?


"Hah~ Akhirnya aku tahu maksud dari tujuan Ibu sebenarnya." Tutur Vatler secara tiba-tiba tidak lupa dengan seringaiannya yang berhasil menyapu bersih hati para wanita yang kebetulan berpapasan dengannya itu.


"Ups-" Sang Ibu yang bernama Marlina, detik itu juga akhirnya menutup mulutnya dengan ujung jari-jari tangannya, lalu menoleh ke arah Vatler yang saat ini sedang tersenyum kearahnya. Tetapi senyuman itu adalah senyuman paksa yang seakan Vatler akan membuat perhitungan dengan Ibunya sendiri.


"Kalau begitu aku akan kemba-" Saat Vatler hendak menarik diri dari rencana Ibu, lengan Vatler langsung ditahan oleh sang Ibu.


"Eh..tungg-tunggu. Sudah sejauh ini, apa kau mau pulang begitu saja? Karena aku sudah mengatakan kepada mereka kau akan cuti karena merawat Ibunya, Arvan tidak akan mengizinkanmu bekerja sampai masa cutimu habis.


Dari pada dirumah terus, mending jalan-jalan sama ibu. Kau pasti tidak pernah pergi ke Desa kan?" Bujuk Marlina kepada anaknya itu. "Bagaimana? Walaupun pernah, tapi itu juga karena misimu kan? Setidaknya kau bisa cuci mata un-"


Seketika Vatler mengangkat tangan kanannya kepada Ibunya untuk menjadi kode agar sang Ibu tidak banyak bicara lagi. "B-berhenti, jangan dilanjutkan lagi." Sela Vatler dengan cepat. Dia merasa enggan jika harus mendengar ocehan dari Ibunya yang sangat panjang seperti rel kereta.


"Ayolah, masa ibu sendirian disini? Kau tahu kan? Semua pelayan yang ada di rumah sudah ibu berikan cuti selama satu minggu. Jadi tidak akan ada yang menjaga Ibu sela-"

__ADS_1


Vatler yang merasa terjerat dengan segala hal yang sudah Ibunya lakukan, akhirnya Vatler menyetujuinya. "Baiklah, aku akan pergi dengan Ibu." Jawab Vatler singkat. 'Memang benar, aku sama sekali belum pernah merasakan liburan yang sebenarnya, Meskipun aku pernah ke desa, tapi itu juga aku lakukan karena tuntunan pekerjaan. Lalu Ibu...dia benar-benar membuatku cui selama 1 Minggu?! Bagiku itu terllau lama!' Kutuk Vatler pada dirinya sendiri karena harus punya ibu yang memiliki tingkah aneh daripada kebanyakan perempuan.


Tidak seperti orang kaya pada umumnya ayang akan memperlihatkan segala kemewahan yang mereka miliki seperti sepatu, pakaian, perhiasan, tas, dan lainnya. Untuk Marlina, yang tidak lain adalah Ibunya Vatler, justru sekarang memakai pakaian biasa dengan sandal jepit menjadi alas kakinya.


'Darimana Ibu mendapatkan semua barang murahan itu?' Vatler menepuk dahinya sendiri ketika melihat penampilan Ibunya yang sekarang terlihat seperti kampungan. 'Sebenarnya apa rencana lain yang Ibu miliki? Aku harus tetap waspada dengan semua yang Ibu lakukan.'


Marlina, merasa anak laki-lakinya berjalan lambat layaknya kura-kura, Marlina langsung menarik tangan anaknya itu agar mau berjalan lebih cepat. "Kau itu laki-laki, kenapa jalannya sangat lambat seperti itu sih?" Protes Marlina.


"Kata Ibu kita akan berjalan-jalan, bukankah artinya harus menikmati setiap langkah yang kita buat kan?" Balas Vatler.


Perempatan siku di dahi Marlina seketika muncul. Apa yang dikatakan Vatler memang cukup masuk akal, tetapi di dalam diri Marlina, dia hanya tidak sabar ingin sampai ditempat tujuannya dengan cepat, yaitu ke sebuah Desa.


Butuh waktu kurang lebih 6 jam dari bandara untuk pergi ke sebuah Desa yang jadi tempat tujuan utamanya itu. Dan karena keinginannnya yang mendadak muncul itu pula , maka Marlina pun tidak memiliki persiapan apapun kecuali tas tenteng yang dia bawa secara pribadi.


Namun lain hal dengan Vatler, sekalipun pergi dengan cukup mendadak, Vatler mampu menyiapkan segala keperluannya dengan cepat.


"Sebenarnya kita pergi kemana? Kenapa semakin kesini jadi semakin terpelosok?" Tanya Vatler, ketika mobil yang mereka naiki semakin masuk ke daerah yang cukup terpencil dari sudut kota.


"Teman? Berarti perempuan?" Vatler semakin mengernyitkan mataya untuk menunggu jawaban dari Ibunya yang tidak jelas itu.


"Iya."


"Tuan, Nyonya, kita kemana lagi?" Tanya sang sopir secar atiba-tiba.


"Uhm, setelah pertigaan di depan, belok ke kanan." Sahut marlina sambil melihat kearah GPS.


"Lalu setelah bertemu dengan teman Ibu?" Selidik Vatler.


"Tentu saja menginap." Jawab Marina dengan serta merta.


Vatler pun menghela nafas dengan kasar. DIa sudah mulai menduga, kalau hal aneh lain yang sedang Ibu lakukan adalah mengunjungi teman online nya. "Bagaimana bisa Ibu tertarik untuk mengunjungi orang yang tidak Ibu kenal seperti ini?" Tanya Vatler.


"Ibu kan suka dengan rasa penasaran. Daripada Ibu dirumah saja, bukannya lebih bagus menemui teman Ibu dari media sosial?/ Dan karena kamu juga ikut dengan Ibu, Ibu jadi merasa tidak khawatir lagi dengan keselamatan Ibu, kan ka-"

__ADS_1


"Iya...iya..., aku paham jadi ibu berhenti bicara sepanjang itu." Tuntut Vatler setelah berhasil menyela ucapan Ibunya.


"Uhm..maaf menyela pembicaraan anda sekalian. Jalanan ini banyak yang berlubang, jadi agak tidak nyaman." Ucap sang supir, memperingatkan kepada Vatler dan Marline kalau jalan yang akan mereka lalui adalah jalan yang cukup rusak.


"Haih~ Bagaimana dia bisa bertahan dengan jalan seperti ini?" Gumam Marlina sambil menahan guncangan dari mobil yang mereka naiki, gara-gara harus merambah jalanan aspal yang sudah rusak parah, sampai banyak lubang di isi dengan air hujan.


"Aku merasa kita akan seperti jadi dua orang hilang." Lirih Vatler, terus akhirnya dia terdiam sambil menikmati pemandangan yang di isi oleh puluhan hektar sawah siap tanam.


Tidak seperti kota yang dipenuhi oleh gedung pencakar langi, maupun rumah mewah juga besar. Disini Vatler dia hanya melihat deretan rumah kecil, warung kecil, Tidak terlihat ada yang spesial disana kecuali banyak diantara mereka sudah memiliki kendaraan bermotor, seperti motor, mobil, bahkan truk.


Dengan kata lain, terlepas dari rumahnya yang kecil, bukan berarti mereka tidak memilik mobil.


"Hah! Ternyata udara disini jauh lebih segar." Ucap Marlina sambil membuka kaca pintu mobil.


Vatler sendiri yang tidak sengaja terkena hembusan angin yang masuk itu pun jadi menyetujui apa yang Ibunya katakan tadi.


"Apakah masih jauh lagi Nyoya?" Tanya sang supir lagi, masih bingung asal dari tujuan dua orang asing yang sedang dibawanya.


Marlina kembali memeriksa rute perjalanan yang dia miliki, lu berkata :IKuti jalan ini, terus kebarat sampai melewati makam juga."


"Makam?!" Vatler langsung menjeling kearah Ibunya.


Merlina yang menyadari akan tatapan tidak percayanya, membuat Marlina menyodorkan handphonenya tepat ke wajah Vatler.


Vatler langsung menyambar handphone milik ibunya dan memperhatikan rute perjalanannya.


"Vatler, lihat itu!" Marline mengguncang tubuh Vatler agar terpancing dengan panggilannya. "Di atas ada tanggul sungai, dan dibawah kita ada sungai juga. Disini lumayan juga ya, pemandangannya?" Tutur Marlina merasa takjub, disamping harus melewati jalanan yang rusak, ternyata mereka juga disuguhi pemandangan yang cukup asri.


Sampai tidak lama kemudian, mereka melewati makan dengan salah satu sisi makam memiliki 3 pohon beringin yang cukup besar.


Saat melihat itu, Vatler merasa aneh, karen adia tidak memiliki perasaan dari kesan mistis yang biasanya dimiliki kebanyakan makam. Dan justru dimata mereka berdua, area pemakaman yang mereka lewati cukup indah, karena banyak bunga kamboja yang sedang bermekaran.


'Tidak buruk juga.' Pikir Vatler saat melihat pemandangan seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2