Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
170 : IPHTV : Tidak terduga


__ADS_3

"Tidak perlu minta maaf." Sahut Vatler.


"Tapi kel-"


"Kalau merasa tidak enak, bersalah dengan pertanyaanmu tadi, sebaiknya jangan di bahas lagi." Sela Arshel detik itu juga.


Dan akhirnya membuat mereka bertiga langsung diam membisu, dan saling menatap satu sama lain.


"Hahh...sudah. Jika suasananya tegang seperti ini terus, kita kapan bisa main?" Sela Vatler.


Vatler kemudian berjalan menghampiri Arfiy dan memberikan usapan lembut di atas kepala Arfiy.


Arfiy yang tiba-tiba saja mendapatkan sentuhan berupa usapan di atas kepalanya, langsung mendongak ke atas.


Sosok pria yang sudah menjadi Ayah, ekspresi itu terpancar jelas di mata Arfiy.


Sampai Vatler yang awalnya hanya memandangi wajah Arfiy yang benar-benar mirip dengan kedua orang yang telah meninggalkannya itu, langsung memeluk tubuh Arfiy yang mungil itu.


GREP....


"T-"


"Satu kali saja, panggil-" vatler membungkukkan tubuhnya ke depan dan berbisik tepat di telinga Arfiy seraya berkata : "Ayah,"

__ADS_1


Arfiy sontak saja terkejut dengan satu permintaan yang di minta oleh Tuan Vatler ini.


Untuk memanggilnya Ayah?


Padahal dirinya hanyalah orang asing, tapi kenapa bisa dirinya mendapatkan kesempatan untuk memanggilnya Ayah?


Itulah yang terlintas dalam benak hati Arfiy selaku orang asing yang harus mengenakan pakaian dan softlens yang sudah di atur oleh Tuan Vatler?


'Tunggu..orang ini menyuruhku memakai semua ini, lalu tiba-tiba menyuruhku untuk memanggilnya Ayah? Jangan-jangan, apakah soal rumor yang beredar kalau ada satu Nona muda yang punya wajah yang sama denganku itu adalah anak dari orang ini? Dan apakah, berita tentang meninggalnya Nona itu adalah benar?' Arfiy yang sebenarnya tahu satu dua informasi yang dia dapat dari rumor dan berita yang sempat beredar, membawa Arfiy seketika di beritahu, kalau orang yang sedang memeluknya kali ini adalah orang yang baru saja kehilangan anaknya.


Walaupun cukup berat hati karena dia sendiri merasa itu bukan hak miliknya, dan seakan dirinya sedang mencoba merebut posisi dari peran yang sedang di bawakannya ini, Arfiy pun menghela nafas, lalu membalas pelukan itu dengan sebuah tepuln di pungguh Vatler, serta usapan di belakang kepala Vatler.


"A-ayah." Arfiy tiba-tiba jadi merasa terjerat dalam benang tak kasat mata.


Vatler yang mendengarnya langsung membelalakkan matanya, karena suaranya benar-benar sama dengan milik Risya.


"Ayah, aku harap Ayah jangan sedih terus. Walaupun aku sudah tidak bisa bersama-sama lagi, aku akan tetap berada di dalam hati Ayah dan akan terus menemani Ayah dimanapun dan kapanpun." Semua ucapan itu pun tiba-tiba jadi terlintas di dalam kepalanya, dan secara spontan jadi terucapkan begitu saja.


Membuat Vatler merasa kalau Risya memang ada di dalam diri anak perempuan ini persis.


"Ayah akan terus mengingatnya. Terima kasih, karena mau memanggilku Ayah." Dan Vatler memeluk Arfiy lebih erat lagi.


Hingga secara tiba-tiba tangan kanan Vatler menelusup masuk kedalam jaketnya, melepaskan pelukannya dari Arfiy, Vatler langsung membalikkan tubuhnya ke belakang dan dalam waktu yang singkat itu, Vatler langsung mengeluarkan senjatanya dan menodongkan pistolnya ke arah depan sana, sampai akhirnya suara tembakan langsung terjadi.

__ADS_1


DORR....


"AYAH..!" Teriak Arshel saat mengetahui Ayah tiba-tiba menembak, tapi hasilnya sang Ayah tertembak juga. Karena itu, Arshel langsung berlari menghampiri sang Ayah.


"Uhuk..." Vatler pun langsung batuk darah, ketika dada di sebelah kirinya kena tembak.


"AYAH! Kenapa seperti ini?! Jangan tinggalkan aku juga. AYAH!" Pekik Arshel seraya mengguncang-guncang tubuh Ayahnya dengan ekspresi wajah Ayahnya yang kian tidak ada ekspresinya sama sekali, serta tatapan mata yang kian sayu.


"A-arshel, hati..hatilah dengan a-apa yang di sekitarmu." Ucap Vatler dengan terbata-bata dan berakhir dengan muntah darah lagi.


Arfiy yang terkejut itu hanya bisa diam mematung dengan posisi dia sedang duduk duduk di atas pasir sambil melihat kondisi dari Tuan Vatler yang tadinya terlihat senang, sekarang sudah seperti seorang yang lebih senang lagi, karena akan menjemput ajalnya?


"T-tuan, anda bertahan dulu, saya akan mencari bantuan." Arify pun mencoba memanggil ambulans, tapi Vatler langsung mencegat tangan itu mengeluarkan handphon nya.


"Tidak perlu."


"Ayah...kamu selalu saja egois! Sudah berada di kondisi seperti ini saja masih saja egois. Arfuy, panggil ambulans." Kata Arshel kepada Ayahnya sekaligus memberikan perintah tegas kepada Arfiy.


Arfiy yang pnaik dengan air mata sduah membasahi pipinya karnea takut sekaligus sedih, hanya mengangguk iya. Tapi lagi-lagi Vatler mecegatnya dengan merampas handphone Arfiy lalu membuangnya kelaut dengan serta merta.


"Ayah! Apa Ayah akan mati seperti ini?! Aku tidak akan membiarkan Ayah mati meninggalkanku juga setelah Risya dan Ibu, aku tidak akan membiarkannya. Dan ini-" Arshel yang sudah marah besar karena keegoisan Ayahnya, langsung merebut pistol dari tangan Ayahnya. "Aku akan membalaskan kejadian ini dengan tanganku, jadi lihat aku, jangan pernah tinggalkan aku, biarkan Ayah melihat aku bisa melakukan sesuatu yang untuk Ayah!"


Tapi sayangnya semua ocehan milik Arshel serasa tidak berguna lagi.

__ADS_1


"Maafkan Ayah, Ayah belum..bisa mengabulkan..per-mintaan Risya." Ucap Vatler.


"B-biar aku saja yang mengabulkannya." Tiba-tiba keberanian milik Arfiy datang, walaupun entah dari mana itu.


__ADS_2