Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
53 : IPHTV : Pertemuan pertama.


__ADS_3

"Ris, ini lampunya." Seorang wanita paruh baya memberikan satu bohlam lampu kepada anaknya yang tadi dipanggil Ris.


Namanya adalah Risyella, bulan ini atau tepatnya di tanggal 27 Oktober ini umurnya akan menginjak 23 tahun.


Untuk saat ini dia adalah seorang pengangguran karena bulan lalu dia baru saja putus kerja gara-gara masa kontraknya sudah habis. Sehingga saat ini dia benar-benar memilik waktu senggang untuk melakukan banyak hal, terutama mengganti lampu.


'Siapa lagi kalau bukan aku yang menggantinya.' Pikir Risyella berjalan ke teras rumah, setelah itu dia menata meja dan beberapa kursi untuk dia tumpuk dan dia jadikan sebuah pijakan.


Tanpa kenal takut, Risyella pun naik keatas meja lalu kurs dan menaiki satu kursi lagi.


"Benar-benar tinggi." Gumam Risyella. Tanpa pikir panjang lagi, Risyella mulai melepas lampu teras rumah yang sudah mati itu, sampai disaat yang sama, hujan tiba-tiba turun lagi.


ZRASSSHHH.....


"Ah..3 hari hujan terus, pakaianku kapan bisa kering?" Gerutu Risyella sambil mempertahankan keseimbangannya di atas kursi yang posisinya sudah cukup tinggi dari atas lantai.


Hingga sebuah suara dari pertanyaan, langsung menyapa Risyella untuk RIsyella jawab.


"Kenapa tidak pakai mesin pengering? Pakaianmu jauh akan lebih cepat kering dengan mesin itu."


"Kalau ada sih, sehari kena angin pasti sudah benar-benar kering." Jawab Risyella, masih mempertahankan posisinya.


"Kamu tidak takut ketinggian?"


'Takut sih, tapi jika aku takut, siapa yang akan mengganti lampunya?"


"Tidak takut jatuh?"


"Takut juga. Makannya jangan buat konsentrasiku hilang." Celetuk Risyella.


"Hari ini hujan, apa kamu tidak merasa ada yang bocor?" Tanyanya lagi pada Risyella yang masih sibuk memutar bohlam lampu agar menyatu pada tempat lampunya.


"Rumah ini tidak ada atap yang bocor." Perempatan siku mulai muncul karena dari tadi menerima segala pertanyaan.


"Rumah ini memang tidak terlihat ada yang bocor, tapi rumahmu yang lain kelihatannya sudah bocor." Sindir wanita ini.


"Rumah lain?" Merasa bingung maksudnya apa, sekaligus penasaran siapa gerangan orang yang dari tadi terus menghujaninya dengan banyak pertanyaan, Risyella pun akhirnya menoleh kebelakang dan sedikit melirik kebawah.


"Hai...." Sapa Marlina, wanita yang dari tadi memberikan banyak pertanyaan yang sedang sibuk dengan urusannya untuk mengganti lampu teras rumah.

__ADS_1


"A-anda siapa?" Tanya Risyella, namun saat itu juga sudut matanya melirik kearah seorang pria yang berdiri di samping wanita asing itu. 'Apa-apaan laki-laki ini?! Kenapa tiba-tiba didepan rumah ada orang setampan dia?! Ah....mampus aku, jangan-jangan yang dimaksud bocor itu-'


Risyella sontak melirik ke belakang, tepatnya di rok yang Risyella pakai.


PSHHHH....


Risyella seketika menunduk dan menutupi kedua matanya dengan telapak tangan kanannya. 'Memalukan! Kenapa dari awal aku tidak sadar kalau dari pagi perutku sakit, artinya sebentar lagi aku Haid. Kenapa juga saat ada tamu datang. Aku merasa sudah tidak punya muka untuk mengahadapi kedua tamu ini.' Batin Risyella sudah malu setengah mati.


"Kamu bisa turun kan?" Tanya Marlina lagi, sadar kalau perempuan yang ada di depannya itu punya nyali tinggi untuk naik keatas sendirian tanpa dibantu seorang pun. 'Dia perempuan yang berani ya? Kira-kira apa yang dipikirkan Vatler ya?' Marlina kemudian melirik kearah Vatler yang justru hanya diam sambil menatap kearah halaman rumah.


"Maaf karena saya tidak sopan." Kata Risyella sedikit menunduk, karena dia beberapa waktu lalu sempat berkata sedikit kasar pada Marlina. Lalu perlahan Risyella turun dari kursi.


Melihat hal tersebut, Marlina mencubit lengan Vatler, sampai Vatler akhirnya melirik kearah sang Ibu.


'Bantu dia!' Percakapan antar mata pun terjadi.


'Kenapa aku harus membantunya? Dia bisa turun sendiri.' Jawab Vatler dengan kedua alis saling bertautan.


'Masa aku membiarkan perempuan ini turun sendiri? Setidaknya jagain kursinya agar dia tidak jatuh! Kau lihat sendiri kan? Kursinya sangat tinggi, itu berbahaya!'


"Hah!" Helaan nafas yang Vatler lakukan itu, sontak membuat Risyella mematung karena merasa takut dengan ekspresi wajah Vatler yang terlihat seperti orang yang sedang menagih hutang padanya.


"Tidak ada apa-apa" Jawab Vatler, sukses membuat Risyella termangu.


'K-keren sekali! Suaranya kenapa bisa sangat menggoda seperti itu ha?!' Racau Risyella saat kali pertamanya mendengar suara pria yang terdengar cukup seksi.


'Ahahaha.....jelas ia sudah langsung tergoda dengan anakku yang punya feromon tingkat tinggi.' Sedangkan Marlina sudah tertawa terbahak-bahak dalam diamnya, sebab akhirnya ada juga wanita yang tertarik pada Vatler dengan ekspresi antara terkejut bercampur dengan perasaan takut.


"................." Sedangkan Vatler karena tidak begitu tertarik dengan segala tingkah Risyella saat ini, Vatler pun hanya terdiam, sampai..


JDERR....


"Akhh...!" Jerit Risyella. Saking terkejutnya dengan petir yang tiba-tiba muncul dan menggelegar cukup keras, hal itu pula membuat keterkejutannya tadi membuat keseimbangan Risyella di atas kursi langsung menghilang.


".............!" Vatler yang tidak sempat memperhatikan Risyella, langsung dihadapkan Risyella yang saat ini tubuhnya terhuyung dan akhirnya menerjang ke arahnya, hingga suara kerasa itu pun terjadi.


BRUKKK...


Suara keras itupun berhasil mengacaukan semua suasana yang sudah canggung, bertambah lebih canggung.

__ADS_1


'A-apa? Kenapa tidak sakit? Eh sebentar...kenapa aku mendengar detak jantung Ini jantungku atau jan-' Semua pikiran Risyela segera dia tarik semua setelah mendengar helaan nafas dari seseorang!


"Hah~ kau sudah selesai berpikir kan?" Suara dari pertanyaan Vatler berhasil membubarkan imajinasi Risyella sesaat tadi.


'Wow...kau sungguh fantastis Vatler.' Puji marlina dalam diam, setelah melihat kedua insan di depannya itu sedang berbagi oksigen.


"A-aku" Rsiyella seketika langsung gugup karena dirinya ternyata mendapatkan tumpangan paling menakjubkan. Apalagi kalau bukan bisa menindih seorang pria tampan!


"Terima kasih sudah menyelamatkanku." Kata Risyella sambil menundukkan kepalanya, karena dia tidak mampu untuk menatap mata Vatler yang seakan mau memakannya hidup-hidup.


"Hmm...kalau begitu menying-"


JDERR....


Suara dentuman keras itupun kembali menggelegar. Tapi tidak seperti yang tadi, jika Risyella menjerit takut, saat ini Risyella hanya menutup matanya saja sambil menahan keterkejutannya sendiri.


Setelah mencoba menata hatinya sendiri, Risyella pun berusaha beranjak dari atas tubuh Vatler.


Meskipun, terbersit sangat disayangkan karena tidak bisa lebih lama lagi duduk di atas tubuhnya, tapi Risyella harus berada pada akal sehatnya sendiri dalam mengahadapi tamunya.


"Vatler, celanamu jadi kotor tuh." Beritahu sang Ibu pada Vatler, bahwa sekarang celana berwarna abu yang sedang Vatler pakai jadi kotor akibat terkena darah milik Risyella gara-gara bocor.


'Waduh! Gawat! Kenapa aku jadi mengotori celananya! Sekarang aku harus bagaimana?!' Pekik Risyella, dalam seumur hidupnya, ini adalah kesalahan paling fatal. "M-maafkan aku!" Teriak Risyella, tidak kuat untuk tidak berteriak minta maaf.


Vatler hanya menatap celananya sendiri yang dimana tepat di sisi bagian paha, ada bercak darah segar yang baru saja meresap ke serat kain celananya. Itu akan sulit dihilangkan, karena itulah dia akan memilih untuk membuangnya.


"Sudahlah, daripada kau gugup seperti itu, aku pinjam toilet sebentar."


"I-iya."


"Risyella! Ada tamu?" Tanya Ibunya Risyella, yang masih berkutat di dalam dapur.


"Iya!' Jawab Risyella dengan lantang juga.


'Risyella? Jadi itu namanya?' Pikir Vatler.


'Yehe...Vatler sudah mulai kepikiran, kalau ternyata namanya Risyella? Hmm..bagus juga.' Marlina pun hanya mengangguk paham.


"M-mari masuk dulu." Masih dalam perasaan malu serta gugupnya, Risyella pun mempersilahkan kedua tamu itu untuk masuk kedalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2