Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
71 : IPHTV : Memukulnya.


__ADS_3

"Jangan mengatakan itu lagi, aku sudah muak mendengarnya." Keluh Vatler, bosan dengan topik pembiacaraan dari Freddy yang lagi-lagi menyangkut soal wanita, karena sekarang dirinya juga harus mengurus satu orang yang suka ceroboh itu.


"Kalau begitu kataka, apa alasanmu cuti. Padahal kau sudah janji minggu ini kita akan pergi bersama untuk mengambil misi yang ketua berkan nanti." Tuntut Freddy, orang yang ada di di ujung telepon itu.


"Kenapa juga aku harus mengatakannya padamu. Dengar, aku ana memberitahu Angie agar dia menggantikanku untuk menemanimu di misi itu."


"Aoa?" Tanya Freddy, tidak percaya kalau pekerjaannya Vatler justru dilepar pada Angie yang merupakan seorang wanita. "Bersama dengan wanita, itu adalah hal yang merepotkan. Apa tidak bisa jika kau saja?"


"Kau ini sudah bukan anak kecil lagi kann? Aku lebih mengenal Angie, dia bisa diandalkan, jadi jangan samakan dia dengan wanita lain." Tegas Vatler. "Jadi ka-"


Belum sempat berbicara lagi kepada Freddy, suara teriakan dari Risyella sukses menghentikan pembiacaraan diantara mereka berdua.


"Aakhh...! Vatler! Penghisap darah!" Teriak Risyeylla dengan cukup lantang.


".............!" Vatler yang tiba-tiba diteriaki sebagai penghisap darah oleh Risyella sukses dibuat berlari menghampiri Risyella yang saat ini juga tengah berlari terbirit-birit kearahnya.


Sedangkan diujung telepon, Freddy langsung memang eksresi terkejut, sebab telinganya baru saja mendengar teriakan seorang wanita.


'Tapi, Vatler penghisap darah? Sikap dari ekspresi wajah Vatler yang terlihat dingin itu memang nampak seperti seorang Vampir. Tapi siapa yang tadi berteriak itu?' Batin Freddy. "Jika kau punya dua taring, kau pasti sudah sangat mirip dengan Tuan penghisap dara, Vatler." Ejek Freddy, karena teleponnya masih terhubung.


"Diam kau." Tekan Vatler, lalu mematikan panggilan itu secara sepihak.


TUT.


Menyimpan kembali handphone nya, Vatler langsung menerima tubuh Risyella yang hampir terjatuh karena tersandung akar.


BRUK!


"Akhh...! Vatler! Ambil itu! Aku jijik! Hii! Cepat...! Aku tidak tahan!" Ronta Risyella menuntut Vatler untuk segera mengambil dua hewan kecil berwarna hitam, yang dmana kedua hewan tersebut menempel di pergelangan kaki kanan Risyella. "Vatler! Aku takut! Huwa...!"


Risyella bernar-benar meracau sampai wajah ketakutan itu sudah berdampingan dengan mata yang sudah menangis.


".........." Dengan ekspresi wajah yang masih saja datar, Vatler berjongkok untuk mengambil hewan yang dimaksud oleh Risyella, yaitu Lintah. 'Baru kali ini aku melihatnya sangat ketakutan.' Benak hati Vatler dengan kedua ujung jari sudah menjepit dua hewan kecil berwarna hitam itu dengan tangan kosongnya.


"Huwa...! Hiks...! Kenapa ada hewan itu! Hitam kecil, menghisap darahku. Huwa...! Jijik! Itu sangat menjijikan!" Racau Risyella dengan tangisan yang sudah pecha.


Vatler yang dengan berani mengambil kedua lintah tersebutdengan tangan kosongnya, langsung dia buang dengan melemparnya sejauh yang dia bisa. "Aku sudah membuangnya."


"Hiks," Risyella mencoba menilik kaki kanan yang dijadikan sasaran oleh Lintah. Terlihat ada begas hisapan sampai masih menyisakan darah yang pelan-pelan keluar. "Pasti mereka jadi gemuk, kan?" Tanya Risyella dengan tangis yang masih sesenggukan.


".............." Vatler mendongak keatas untuk melihat wajah Risyella yang sembab itu. "Benar. Mereka seuddah gemuk karena darahmu." Dengan sengaja Vatler jadi mengiyakan ucapan yang Risyella katakan barusan.

__ADS_1


Risyella yang masih memasang wajah horornya, dia kembali berkata, "Pukul itu."


Vatler tidak bisa mengalihkan tatapan mata Risyella yang serius itu. "Apa kamu menyuruhku untuk memukul kakimu?"


"Hmm...agar aku bisa melukapakan sensasi makhluk itu." Jawab Risyella dengan wajah berharap.


"Aku tid-" Ketika Vatler hendak berdiri, Risyella langsung menahan tindakannya itu.


"Aku tidak akan marah, lakukan itu. Aku tidak mau mengingat perasaan itu, tolong..pukul kakiku." Pinta Risyella kepada Vatler yang masih saja memasang wajah serius.


"Hah..." Vatler pun menghela nafas pasrah. 'Aku disuruh memukul kakinnya?' Vatler mengernyirkan matanya menatap wajah Risyella penuh harap, lalu beralih untuk menatap bekas hisapan lintah itu. "Baiklah."


"........" Risyella pun melihat kearah tangan Vatler yang kini sudah mulai terangkat.


Seperti akan melakukan KDRT, Vatler akhirnya mengayunkan tangannya dan langsung memukul kaki kanan Risyella.


PAK.


Sayangnya, dengan senagaja Vatler justru hanya memberikan tepukan yang cukup pelan.


Mmebuat Risyella membuat wajah penuh kecewa. "Aku bilang pukul." Tegas Risyella.


"Tidak apa-apa, lagian akulah yang menyuruhmu."


"............" Vatler yang terdiam itu berhasil memancing emosi Risyella yang tidak tahan lagi dengan sikap Vatler yang mengabaikan perintah dari permintaannya itu.


"Aku bilang pukul! Vatler! Pukul kakiku!" Desak Risyella, benar-benar menginginkan agar Vatler memukul kakinya.


"Tapi kenapa ak-" Ucapannya langsung terpotong oleh Risyella.


"Karena aku inginnya itu kamu yang melakukannya!" Harap Risyella, sedih, jijik, takut, ketiga perasaan itu muncul bersamaan.


Vatler yang saat itu sedang malas berdebat terus, dan tidak tega melihat wajah tersiksa Risyella, mau tidak mau dia pun menuruti kemauannya.


Vatler kembali menatap kaki Risyella dengan tatapan dingin seperti tak berperasaan, Vatler mengangkat tangannya dan segera mengabulkan kemauan RIsyella dengan sebuah pukulan yang cukup keras.


PLAK.


"............!" Risyella seketika merasakan sakit. Tapi itu adalah keinginannya sendiri jadi dia pun memintanya lagi. "Lagi."


PLAK.

__ADS_1


"Lagi."


PLAK.


'Kenapa aku seperti sedang menghukum wanita ini?' Matanya menyipit. Akhirnya tangannya kembali melakukan kejahatan, yaitu memukul kaki calon Istrinya. "........."


Vatler mendongak keatas, rait wajah Risyella jutru sudah terlihat lebih baik ketimbang sebelumnya.


"Terima kasih." Ucapnya.


"............!" Vatler sedikit terpegun, karena untuk pertama kalinya dia mendapatkan terima kasih padahal sudah memukul kakinya Risyella dengan keras. 'Dan dia berterima kasih kepadaku karena hal itu?' Benak hati Vatler atas permintaan aneh dari Risyella. 'Padahal aku pikir, dia akan protes karena aku memukulnya terlalu keras, tapi yang ada, dia justru perterima kasih kepadaku seolah aku ini berjasa kepadanya.'


Karena urusan kecilnya sudah selesai, Vatler pun bangkit.


"Apa kamu barusan masuk kesana?" Tatapan dari mata Vatler tertuju pada sebuah danau.


Risyella langsung memalingkan wajahnya, dan menjawab. "Aku hanya ingin merendam kaki." Sanggah Risyella.


"Jangan berpikir berpikir lagi jika airnya jernih dan tenang tidak akan ada bahaya apapun." Tegur Vatler memberikan peringatan jelas dan padat kepada Risyella yang terlihat sudah menyesali perbuatannya sendiri.


"Iya, maafkan aku." Sesal Risyella, sekali lagi melakukan sebuah kecerobohan yang membuat dirinya harus merepotkan calon suaminya itu. 'Jangan-jangan karena aku sering ceroboh seperti ini, dia akan mebatalkan pernikahannya denganku?' Risyella merenung memikirkan dengan nasibnya sendiri jika benar-benar mendapatkan sebuah konsekuensi atas kecerbohannya hari ini kepada Vatler.


"..............." Vatler mendelik Risyella sesaat. Kini ekspresi wajah sedih penuh sesal menjadi pemandangannya. "Kalau begitu aku tanya. Setelah kejadian tadi, apakah kamu masih berniat mengadakannya disini?"


Tanpa menatap lawan bicaranya, Risyella memberikan anggukan sebagai jawaban pastinya.


Melihat Risyella masih menetapkan keinginannya itu, Vatler sesaat mengatupkan mulutnya. Apa yang ingin Vatler katakan kepada Risyella, tiba-tiba langsung tertahan di tenggorokannya dan beralih kata : "Kita lanjutkan besok lagi, sekarang kita istirahat dulu."


"Pulang?" Tanya Risyella dengan nada lebih bersemangat.


"Kerumahku." Sambung Vatler detik itu juga.


"Rumahku?"


"Rumahmu jadi rumahku, dan rumahku jadi rumahmu. Jika yang kamu maksud adalah pulang ke desamu, itu tidak akan mungkin." jelas Vatler dengan panjang lebar.


"Kenapa aku tidak mungkin bisa pulang?" Tanya Risyella dengan raut wajah serius. Bagaimana tidak serius jika Vatler selalunya memberikan penjelasan yang membuat dirinya harus berpikir keras untuk mendapatkan jawabannya, dan karena dia sedang tidak mau berpikir, Risyella pun jadi menanyakan balik kepada Vatler.


"Karena acaranya tinggal seminggu lagi, jadi kamu harus disini." Jelas Vatler.


Risyella membulatkan matanya dengan sempurna. Dia tidak tahu kalau jadwalnya tinggal seminggu lagi?!

__ADS_1


__ADS_2