
Hari demi hari selalu terlewati.
Apakah yang cerita di hari itu akan berbuah bahagia, kesedihan, ataukah sebuah amarah?
Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi dari waktu ke waktu.
Tapi..
Risya. Dia adalah perempuan yang di mata teman sekelasnya, sedikit pendiam.
Tidak akan bergaul jika memang tidak ada yang mengajaknya atau karena alasan pribadi yang selalu tidak ingin di ungkapkannya.
Namun, semua orang dikelas sadar jika ada satu waktu kosong paling kosong untuk RIsya, maka Risya gunakan untuk menatap keluar jendela dengan wajah tanpa ekspresi.
Entah apa yang sedang dipikirkan dari Risya, tidak ada satu orang pun yang tahu karena mereka memilih untuk membiarkan gadis itu dalam kesendiriannya, karena terlihat memang terus ingin sendirian.
TAP….TAP…..TAP…….
Siang itu, setelah jam istirahat sudah berakhir, bel masuk ke kelas akhirnya berbunyi dan langsung membuat para guru kembali melakukan pekerjaannya untuk mengajar pada anak muridnya.
“Selamat siang semua.” sapa sang guru wanita, setelah langkah pertamanya masuk kedalam kelas dari 2-D.
“Siang bu.” semua siswa menjawabnya dengan serentak.
“Bu! Apa itu hasil ulangan minggu kemarin?” tanya salah seorang siswa, setelah melihat satu amplop coklat besar yang mampu menampung setumpuk kertas dalam jumlah banyak.
“Benar. Ini adalah hasil ulangan kemarin.” jawabnya. Lalu meletakkan amplop itu ke meja terlebih dahulu. “Sebelum ibu membagikan ini kepada kalian, ada satu hal yang ingin ibu sampaikan kepada kalian. Walaupun kalian baru masuk di kelas dua dan masih ada dalam semester pertama, saya harap kalian perlu meningkatkan semua nilai di mata pelajaran, karena skor nilai dari semester pertama dan kedua ini akan menentukan kalian akan berada di kelas tiga di tingkat apa. Apa kalian paham?”
“Paham bu.” jawab mereka semua secara serentak.
“Risya, apa kamu paham dengan yang ibu katakan tadi?” melirik ke arah Risya yang hanya duduk diam saja di tempatnya, tanpa memperlihatkan reaksi seperti orang yang tidak memiliki semangat.
“Paham bu.” jawab Risya dengan singkat ambil melirik ke arah semua orang yang ada di kelasnya.
Meskipun teman sekelasnya hanya diam, tapi tidak dengan tatapan mereka semua yang sama-sama menatap ke arahnya.
“Ok, sekarang nama yang ibu panggil, harap maju.” sang ibu guru ini akhirnya membuka amplop yang dia bawa itu, dan mulai mengeluarkan isi kertas. “Alven. Alen, Ariska.”
Satu persatu semua nama yang terpanggil, langsung maju sesuai urutan, dan menerima hasil ulangan yang mereka dapatkan dari sesi ulangan tengah semester yang diadakan minggu sebelumnya.
“Devi.” panggilnya.
Perempuan bernama Devin langsung pergi ke depan kelas dan sama-sama menerima hasil ulangannya sendiri.
__ADS_1
“Pertahankan nilaimu ya, Dev.” puji sang ibu guru kepada Devi yang ternyata mendapatkan nilai sempurna.
“Baik bu.”
“Selanjutnya Elen.” hal yang sama terjadi dengan Elen. “Ini sudah bagus, tingkatkan sedikit lagi ya.”
“Iya bu.” jawab Elen, lalu berjalan kembali ke bangkunya sendiri.
“Elen, kamu dapat berapa?” tanya Devi kepada Elen.
“98.”
“Wah, dia hebat juga.” satu pujian terdengar.
“Dia memang pintar dari kelas satu, aku iri dengannya.” satu pujian lagi datang dari salah satu diantara mereka semua.
Semua nama pun dipanggil, bahkan nama Risya akhirnya terpanggil juga setelah deretan nama yang memiliki nama lebih awal dari dirinya itu.
“Risya.” panggil sang ibu guru kepada RIsya.
Seperti halnya yang terjadi beberapa waktu lalu, saat Risya pergi ke depan kelas untuk menerima lembar hasil ulangan, semua orang lagi-lagi menatapnya, bahkan sampai dimana Risya duduk kembali di tempat duduknya sendiri.
“Selanjutnya Syerli dan Vindy.” dua orang maju bersamaan.
“Tidak baik darimu.” jawab Risya dengan singkat, sampai Risya sendiri langsung menyembunyikan kertas ulangannya di laci meja miliknya dan langsung ditindih dengan kotak bekal makanan yang memang ada disana juga.
“Begitu ya.” Annisa jadi tidak bisa bertanya lebih lanjut, karena Risya tampak enggan untuk memberitahu hasil ulangannya yang sebenarnya di bawah nilai rata-rata.
‘Pasti nilaiku yang paling rendah diantara mereka.’ pikir Risya saat memperhatikan semua orang yang ada di kelas, terlihat sedang memamerkan hasil ulangannya yang masih dibilang bagus, karena masih berada di nilai KKM.
______________________________
Sedangkan di kelas 2-A
“Disini sebelum bapak membagikan nilai ulangan minggu lalu, bapak akan memberitahu kalian. Yang mendapatkan nilai sempurna di hasil ulangan kali ini, bapak harap setelah jam pulang sekolah, temui bapak di kantor.” beritahu sang pak guru pada murid kelas 2-A.
“Iya, pak.”
“Sekarang nama yang pertama dipanggil adalah, Alen, Arga, Arshel.” panggilnya.
Seperti yang terjadi di kelas lainnya, di kelas tersebut semua nama yang dipanggil langsung maju dan mendapatkan hasil dari ulangan mereka sendiri.
“Yang dibawa KKM, besok ulangan remedial.” imbuhnya.
__ADS_1
Arshel, yang memiliki nama paling depan membuatnya langsung mendapatkan urutan awal untuk maju.
“..................” Arshel hanya memandang nilainya untuk sesaat sebelum akhirnya dilipat dan kembali duduk di tempatnya dengan sikapnya yang tenang.
“Pasti dia dapat nilai 100 lagi.” entah itu kalimat sebagai pujian atau cibiran, Arshel tidak menanggapinya.
“Benar. Dia dari awal masuk sekolah memang selalu mendapatkan peringkat pertama dari seluruh siswa.” satu orang lagi membicarakannya dalam hati yang merasakan iri besar dengan pencapaian Arshel.
Tapi apakah memang begitu?
Arshel mendapatkan nilai sempurna?
“................” Arshel hanya mengiyakannya dalam diam.
“Baiklah, karena semua nilai ulangan sudah dibagikan, kita kembali ke pelajaran yang yang terakhir kali bapak ajarkan.” Sesuai dengan ucapannya, guru ini langsung mengkoneksikan laptop yang dibawanya ke sebuah kabel penghubung ke satu mesin proyektor.
Lalu pembelajaran di siang hari itu pun kembali diadakan.
______________________
14:30
Sesi dari pelajaran hari itu pun selesai. Risya yang sudah dijemput oleh paman Ard, langsung membuatnya masuk kedalam mobil.
BRAK.
“Bagaimana dengan pelajaran nona hari ini?”
“Seperti biasa.” celetuk Risya, karena sedang malas membahas topik tentang pelajarannya sendiri.
‘Jika seperti biasa, nona pasti sedang memiliki masalah lagi dengan pelajarannya.’ pikirnya.
“Kenapa tuan muda belum keluar?”
“Entahlah, mungkin saja seperti biasa di dia dipanggil guru ke kantor.” Risya yang sebenarnya sudah bosan menunggu Arshell dari kelasnya tadi, dan sekarang masih dibuat menunggunya lagi, membuat Risya meletakkan tasnya di ujung kursi dan Risya langsung merebahkan tubuhnya, menjadikan tasnya sendiri sebagai bantal. “Paman, apa mendapatkan nilai rendah adalah hal yang menyedihkan?”
“..................” ditanyai langsung seperti itu oleh nona Risya, karena tebakannya soal nilai pelajarannya yang bermasalah adalah benar, paman Ard hanya memberikan senyuman simpulnya dan menjawab, “ Nilai hanyalah angka, nona. Mereka bisa berubah kapanpun tergantung yang berusaha. Lalu menurut paman, nilai hanyalah persoalan angka saja dan tidak akan menentukan masa depan secara mutlak. Akan saya beritahu satu hal pada nona, saya sebenarnya memiliki seorang teman yang saat di masa sekolah, dia selalu memiliki nilai yang lebih bagus diantara semua tamannya. Tapi setelah kelulusan, apakah dia menjadi orang sukses layaknya mendapatkan peringkat yang sering didapatkan di masa sekolahnya?”
“....................” Risya hanya diam dan terus mendengarkan.
“Dia memang kuliah selama 4 tahun, tapi usaha dari waktu yang berlalu itu tidak menjadikannya orang yang sukses. Ini juga tergantung nasib dan tekad. Jika nona tahu, teman sebangku saya dulu sebenarnya adalah orang yang tidak begitu pintar, sampai selalu mendapatkan peringkat 10 dari bawah, tapi kenyataannya apa setelah dia lulus dan langsung bekerja? Dia sekarang menjadi seorang pengusaha yang sukses. Jadi jangan bersedih dengan nilai yang anda dapatkan itu. Mungkin saja itu adalah awal dari anda menemukan sesuatu yang anda inginkan.”
“Yang aku inginkan?” tatapan Risya pun semakin sendu ketika kembali mengungkit sebuah keinginan. “Aku masih belum tahu.”
__ADS_1
“Waktu akan menjawab keinginan anda.” jawab paman Ard yang melihat wajah sedih dari nona Risya membuat tatapan sayu milik nona Risya membawanya dalam buaian mimpi, karena sudah tertidur.