Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
62 : IPHTV : Karenamu


__ADS_3

Esok pagi.


Tidak seperti biasanya jika rumah nampak rapi dan bersih, sekarang rumah yang ditempati Vatler dan Marlina itu seolah baru saja terjadi perang. Lebih tepatnya perang makanan!


Dari lidi, lem tembak, kertas, gunting, sterofom, snack makanan, pisau, gunting, dan masih banyak lagi yang berserakan di lantai.


"Kenapa berantakan sekali?" Tanya Vatler, dia sempat menyingkirkan beberapa snack makanan yang tergeletak di lantai dan menghalangi jalannya dengan salah satu kakinya.


"Jangan pakai kaki juga kali." Risyella mendengus kesal karena coklat seharga 40 ribu itu malah di tepis dengan kaki Vatler yang hendak keluar dari kamar.


Risyella buru-buru mengambil coklat mahal itu sebelum benar-benar di injak oleh Vatler.


"Risyella..kau punya coklat juga? Ibu boleh minta?" Kali ini Marlina pula yang menyerobot masuk ke area mena perang miliknya, dan hendak mengambil coklat yang tergeletak di atas meja.


"Maaf, tapi itu bukan untuk dimakan." Ujar Risyella kepada Ibunya Vatler.


"Lalu kalau bukan untuk dimakan, mau dibuat apa?" Marlina sedikit merungut karena tidak jadi makan coklat kesukaannya juga. Karena itu, dia mengambalikan batang coklat itu ketempatnya semula.


"Aku akan membuat buket. Itu pesanan orang lain, jaid tidak boleh dimakan." Beritahu Risyella.


"Buket? Bukankah buket itu harusnya isinya bunga?" Marlina pun dibuat penasaran dengan pekerjaan yang sedang dikerjakan oleh Risyella. Termasuk rasa penasaran itu pun memasuki pikiran Vatler juga.


'Dia bisa membuat buket? Jadi itukah alasannya dia memborong coklat sebegitu banyaknya?' Pikir Vatler.


Tapi karena gengsi, Vatler memilih pergi keluar untuk jalan-jalan dan membiarkan Ibunya yang menjadi pengawas Risyella.


Setelah 2 jam berlalu.


Setelah pulang, Vatler langsung disuguhi 4 buket dari berbagai versi. Buket bunga, uang, snack, coklat.


"Vatler...bagaimana? Risyella pintar buat buket ya?" Ibunya Risyella langsung membawa dua buket itu kedalam pelukannya.


"Ya." Jawabnya dengan singkat. Tetapi tatapan matanya itu sedang mencari-cari batang hidungnya Risyella.


"Kalau kau sedang mencarinya, dia sedang ada di kamar. Kelihatannya dia masih tidak enak badan karena kemarin, jadi dia sedang istirahat." Ucap Marlina, melepas rasa penasaran Vatler yang kian hari, anaknya itu kian memperhatikan Risyella. 'Sepertinya dia suadh mulai ada rasa dengannya.' Pikirnya.


'Pasti Ibu sedang berpikiran yang bukan-bukan lagi.' Lirikan matanya kembali menangkap ekspresi Ibunya yang dari tadi menahan senyuman.


**********


Jam 01:00 PM.


WUSH....


Risyella tiba-tiba keluar dengan gaya aneh karena langsung menyibak tirai pintu dengan cara sedikit berlebihan.

__ADS_1


"Kenapa mukamu lesu begitu?" Tanya Ibunya Vatler saat tidak sengaja berpapasan dengan anaknya yang baru saja bangun dari tidur?


Jika dibilang tidur, juga tidak. Itu adalah ekspresi seperti antara marah tapi matanya mengantuk.


"Aku tidak bisa tidur. Walaupun sudah mencoba tidur selama 2 jam, tapi otakku terus dituntut untuk berpikir. Padahal ngantuk...tapi aku tidak bisa tidur." Resah Risyella pada dirinya sendiri sebab selama 2 jam mengurung dikamar, dia sama sekali tidak bisa tidur.


"Ibu punya solusinya." Kata Marlina lalu menarik tangan Risyella agar pergi mengikutinya.


"Solusi apa?" Tanya Risyella dengan wajah bingung.


"Kamu akan tahu." Dengan senyuman liciknya, Marlina langsung membuka pintu kamarnya, lalu mendorong tubuh Risyella agar masuk kedalam kamar.


BRAK.


"Eh?! Kenapa aku dikurung? Tante! Tolong buka." Risyella mencoba untuk membuka pintu itu, tetapi yang ada adalah pintu itu terkunci dari luar. 'Ini kan tempat Iblis itu?! Kenapa aku harus masuk kedalam kamar tabu ini!' Risyella yang merasa tidak ada pilihan lain selain keluar lewat jendela, memutuskan untuk pergi ke arah jendela.


Tapi ada satu hal yang pasti, kalau kamar yang dijadikan tempat tidur Vatler itu ternyata benar-benar gelap total!


'Aku tadi tidak melihat apakah Vatler ada di sini atau tidak, tapi sebaiknya aku harus cari saklar lampu dulu.' Risyella pun meraba dinding untuk mencari saklar lampu.


"...................." Vatler yang masih dalam separuh sadar itu, dalam diam terbangun. Dia seacara insting, terbangun karena merasakan adanya penyusup yang masuk kedalam wilayah pribadinya.


Dengan sorotan mata yang cukup dingin, dalam diamnya itu Vatler bergerak untuk meraih tangan itu dengan cepat.


"Kyaa!"


Dalam sekejap itu, Vatler langsung menarik tubuh itu ke atas kasur dan menindihnya, lalu bertanya dengan nada paling dingin. "Kau pikir bisa apa sekarang? Jangan buat aku menunggu, kenapa kau masuk ke tempatku."


Berat, terasa mencekam, sekaligus sakit, itulah yang dirasakan oleh Risyella saat dia tiba-tiba saja ditarik dan ditindih oleh tubuh Vatler.


Sosok hitam yang terasa menakutkan langsung menyeruak masuk kedalam mental Risyella. "Le-lepaskan aku." Pinta Risyella dengan wajah yang sebenarnya sudah membuat ekspresi ketakutan. Tapi entah kenapa, Risyella juga merasa tidak bisa membencinya.


Apakah karena rasa suka yang sudah begitu mendalam?


Ataukah karena bagi Risyella, Vatler adalah orang yang kemarin menyelamatkannya?


Risyella tidak begitu tahu apa arti perasaan takut tapi juga senang itu.


Risyella takut karena Vatler bertanya dengan nada paling dingin dan cukup rendah, yang mana hal tersebut sukses untuk mendirikan bulu kuduknya Risyella. Tapi di saat yang bersamaan adalah dia bisa merasa lebih dekat dengan Vatler.


'Padahal aku sedang ditindih seperti ini. Tapi kenapa aku merasa suka dengan perlakukannya yang tiba-tiba sangat waspada? Yah...karena dia tampan, juga keren. Karena itulah, aku tidak bisa membenci perlakuannya yang seperti ini. Kau adalah satu-satunya yang membuatku bisa merasakan seperti apakah diperlakukan oleh seorang pria sejati sepertimu, Vatler. Aku justru mengatakan terima kasihku ini kepadamu.' Pikir Risyella dengan perasaan hati paling dalam.


Itu adalah satu-satunya perasaan yang tidak pernah Risyella rasakan dan berikan kepada siapapun.


'Risyella? Kenapa dia disi- Ah...gara-gara aku kelelahan, aku sampai lengah dan berkhayal kalau dia adalah musuh yang menyusup.' Karena Vatler menyadari kalau suara tadi adalah milik Risyella, Vatler pun beranjak dari atas tubuhnya lalu turun dari ranjang untuk pergi menyalakan lampu.

__ADS_1


KLIK.


Setelah lampu menyala, akhirnya kamar itu pun memperlihatkan dua insan yang kini sedang menatap satu sama lain.


"Kenapa kau ada di kamarku?" Karena sudah menjadi tempat Vatler tidur, maka Vatler pun berani menyebut kalau itu adalah kamarnya.


Risyella berusaha bangkit dan berakhir dengan duduk di atas kasur.


Di saat itu pula, Risyella pun masih mampu merasakan hangatnya kasur itu sekaligus dia juga dapat mencium aroma tubuh Vatler yang tertinggal. 'Apa-apaan ini? Kenapa hidungku mencium aroma tubuh Vatler yang tertinggal di atas sprei ini?'


Dengan penampilan Vatler yang sedikit acak-acakan karena baru saja terbangun dari tidur lelapnya, namun masih memperlihatkan kesan cool itu, tetap berhasil menyita perhatian akan jati diri Risyella yang merupakan seorang wanita untuk dapat tergoda dengan penampilan Vatler yang sangat sempurna untuk melakukan hal yang lebih dari sekedar bicara lewat mulut saja.


Yah....


Di dalam akal busuk Risyella yang diam-diam memiliki imajinasi liarnya, Risyella mencoba menjawab asal muasal pertanyaan yang terlontar dari mulut penuh maut itu. "Kata Ibumu, solusinya ada disini."


"Solusi apa?" Dengan salah satu alis terangkat, Vatler masih menuntut penjelasan yang lebih jelas dari Risyella.


"Solusi agar aku bisa tidur."


"Bukankah kau sudah tidur?"


Risyella menggeleng pelan. Matanya yang sayu itu pun menjadi isyarat lain kalau Risyella sendiri memang sudah merasakan kantuk yang lumayan, "Aku tidak bisa tidur. Isi kepalaku selalu dibuat berpikir. Pusing tapi tidak bisa tidur."


"...................." Vatler yang terdiam membisu itu pun pergi menuju koper yang dia simpan di atas lemari. Vatler menurunkan kopernya, lalu membuka. Setelah mendapatkan sesuatu yang dia dapatkan, Vatler pun memberikan satu butir obat kepada Risyella. "Makan ini."


"Apa ini?" Menerima obat yang diberikan oleh Vatler.


"Obat tidur."


".............!" Risyella langsung menatap tajam satu butir obat itu. 'Kebetulan sekali aku sangat ingin mencoba bagaimana rasanya makan obat tidur.'


Karena percaya dengan apa yang Vatler katakan dan berikan itu, tanpa basa-basi lagi Risyella langsung memakan pil obat tidur itu.


'Dia! Langsung memakannya?!' Vatler sontak saja mendelik tajam pada Risyella. "Kenapa kau percaya begitu saja denganku? Bisa saja yang aku berikan padamu itu adalah ganja atau bahkan racun."


"Justru karenamu, aku akan memakan dan menerima semua pemberianmu." Ucap Risyella. Dan dalam kurun waktu kurang dari 1 menit, dia pun merasakan kantuk yang sangat berat.


Dengan kata lain, obatnya langsung bereaksi dengan cepat.


BRUK...


"................." Vatler jadi memandangi Risyella yang sudah tertidur di atas kasurnya. 'Kenapa dia megatakan karenaku?' Benak hati Vatler sambil menutup separuh wajah bagian bawahnya dengan telapak tangannya.


Vatler pun hanya punya kesimpulan saat mendengar pernyataan Risyella tadi, kalau...

__ADS_1


'Dia menyukaiku? Sudah seberapa dalam dia menyimpan perasaannya itu, sampai mau memakan obat milikku. Yang berartimi jika aku memberikannya racun, apakah dia juga akan meminum racun itu untukku?' Lirik Vatler pada seorang wanita yang saat ini sduah tertidur lelap di atas kasurnya.


__ADS_2