Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
17 : IPHTV


__ADS_3

“Kenapa handphone ini bisa ada di tangan paman?” Lirih Vatler memandang handphon kecil yang sudah ketinggalan zaman itu dengan tatapan dingin.


Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya sudah pernah terjadi kepada Risyella sampai handphone pertamanya dari wanita itu bisa hancur dan berada di tangan pamannya. 


Tapi Vatler tidak mampu bertanya lagi kepada penemu handphone mendiang istrinya, yaitu pamannya juga sudah meninggal.


Vatler mencoba menyentuh layar handphone yang sudah retak itu, ternyata tidak memiliki reaksi apapun karena sudah rusak. 


“Tidak bisa. Aku harus menyambungkannya ke komputer dulu.” gumam Vatler. Ia terpaksa kembali memasukkan handphone itu kedalam saku jaketnya, dan kembali melanjutkan urusannya untuk kembali bekerja. 


Seperti itulah kehidupannya selama kurang lebih 13 tahun ini.


Vatler tidak mencoba menuruti keinginan orang lain untuk menikah sebab yang akan menjalani hidup itu adalah Vatler sendiri bukan mereka. 


Karena hatinya merasa, kalau dia tidak membutuhkan siapapun lagi.


Pendamping hidup? Vatler bukanlah anak kecil lai, jadi dia bisa mengurus semuanya sendiri.


Dan lamunannya itu langsung sirna saat handphone miliknya tiba-tiba berdering.


DRRTT…..


DRRTT……


DRRTT……


Di tengah malam seperti itu, Vatler kembali dihubungi oleh seseorang?


Karena nada deringnya berbeda, jadi dia tahu kalau yang menghubunginya bukanlah orang yang dia kenal.


Meskipun begitu, Vatler langsung menjawab panggilan itu dengan menekan tombol dari headset bluetooth miliknya.


“Siapa?.” Tanya Vatler tanpa basa-basi lagi.


“Kepada tuan Vatler. Saya Emi, wali kelas baru dari anak perempuan anda. Apakah anda berkenan agar besok datang ke sekolah? Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan kepada anda.”


Ternyata yang menghubunginya adalah wali kelas nya Risya?


Dalam seketika, Vatler langsung dibubuhi rasa penasaran yang tinggi. Karena ini baru pertama kalinya irinya sampai di panggil oleh gurunya.


'Apa yang sebenarnya terjadi? Risya tidak membuat masalah apapun kan?' pikirannya mulai kalut, karena anak perempuannya, yaitu Risya. Risya yang selalu menghindar adalah sesuatu yang sebenarnya membuat hati Vatler sedikit sakit.

__ADS_1


Vatler sebenarnya ingin sesekali berbicara berdua dengan anak perempuannya itu. Tapi setiap kali ingin bebricara, reaski wajahnya yang takut pun menjadi alasan sebenarnya bagi Risya yang memang takut kepadanya.


“Katakan jam berapa aku harus datang?” Tanya Vatler kepada wanita di ujung telepon itu.


“Anda bisa datang sebelum jam 12 siang.” Jawab Bu Emi kepada Vatler.


"Besok aku akan datang sebelum jam itu." sahut Vatler, setelah itu dia segera mengakhiri panggilan itu secara sepihak.


TUT.


“..............” Vatler mematikan panggilan itu begitu saja. ‘Apa yang terjadi? Risya.’


Vatler semakin menambah kecepatan motornya. 


Seperti jalanan itu yang begitu sepi karena kebanyakan orang sudah berada di rumah masing-masing untuk istirahat, maka Vatler sendiri juga ikut merasa sepi. 


Ia sudah tidak memiliki siapapun yang bisa mengisi kekosongan hatinya. Setelah selama itu juga, tidak ada satupun wanita yang mampu merubah perasaannya untuk kembali mencintai dan dicintai oleh seseorang, karena deretan wanita yang dari mulut berkata mencintainya hanyalah wanita yang hanya menginginkan kekosongan dari satu tempat yang sudah ditinggalkan istrinya, sebagai nyonya Ellistone. 


Vatler mengerjapkan matanya dengan kuat, dia mencoba menghilangkan kilatan memori lamanya dari sana dan segera kembali fokus untuk konsentrasi menyetir motor.


‘Jadi aku harus menyelesaikan semuanya malam ini.’ batin Vatler. Kecepatan motornya semakin bertambah di angkat 140 Km/jam.


Sedangkan dirumah, bibi Jeni langsung dikejutkan dengan Nona majikannya yang mana salah satu pipinya sedikit merah karea sebuah tamparan.


“Nona, apa yang sudah terjadi kepada pipi anda? Lihat ini masih merah.” Bibi Jeni yang khawatir itu berusaha untuk mengoleskan salep yang ia terima dari paman Ard.


Tapi niat baik bibi Jeni langsung ditolak kasar oleh Risya. “Kalau merah kenapa? Jika sudah di salep, besok juga pasti hilang. Jadi tidak usah membantuku, aku bisa mengoleskannya sendiri.”  Risya mengambil botol salep itu dari tangan bibi Jeni lalu membawanya pergi begitu saja.


Karena rasa kesalnya masih ada gara-gara tuduhan palsu itu, secara tidak sengaja kemarahannya pun terlampiaskan pada orang lain, dan itu adalah bibi Jeni.


Arshel yang melihat tingkah adiknya yang seperti itu pun langsung dibuat terheran sendiri.


“Kenapa kau berkata kasar pada bibi?” Tanya Arshel, tidak menerima ucapan yang keluar dari mulut adiknya kepada bibi Jeni terasa begitu kasar. “Kau kan bisa mengatakannya baik-baik.” beritahu Arshel.


“Berisik.” dumel Risya, sambil menaiki tangga menuju lantai dua dengan setiap langkah terkesan di hentak-hentakan dengan sengaja, bahwa ia benar-benar marah.


“...............” Arshel tidak bisa berkomentar lagi ketika melihat Risya terlihat lebih marah ketimbang kemarin pagi.


BRAK!


Bahkan pintu yang tidak salah apa-apa langsung dibanting dengan kasar sampai suaranya terdengar sampai ke lantai satu.

__ADS_1


“Kenapa mood dia tiba-tiba turun drastis?” lirih Arshel. 


Sebagai kakak, ia sendiri tidak begitu mengerti akan jalan pikiran dan suasana hati Risya yang selalu berubah dengan cepat laaknya rolercoaster.


Setelah melihat kepergian dari Risya, bibi Jeni pun memberianikan dirinya untuk bertanya kepada Arshel.


Sudah pasti Arshel tahu apa alasan dibalik kondiis yang Risya terima, karena itulah, bibi Jeni harus mencari informasi itu secara langsung dan akan melaporkannya kepada Vatler, selaku ayah dari mereka berdua.


“Tuan, kalau boleh tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi pada Nona? Sampai pipinya seperti itu? Siapa yang berani menamparnya?” Rentetan pertanyaan bibi Jeni berhasil menarik perhatian Arshel untuk menatapnya. 


Arshel sedikit mendongak ke atas, lalau menjawab : “Dia mendapatkan tamparan dari orang lain karena salah mengira dia adalah orang yang mencuri bukuku.” Mau tidak mau Arshel berkata jujur kepada bibi Jeni.


Alasannya cukup sederhana, jika Arshel tidak memberitahunya lebih dahulu kepada bibi Jeni, maka jika ketahuan oleh ayahnya karena mendapatkan informasi dari orang lain lebih dahulu, maka ayahnya akan langsung bertindak sendiri mencari tahu lengkap kejadiannya.


Dan Arshel tidak mau itu terjadi.


Itu akan lebih serius, dan terasa seperti dibawa masuk ke rana hukum.


Yah…


Sekalipun, tampang dari ayahnya memang terlihat seperti orang yang acuh tidak acuh, tapi jangan mengabaikan sifat aslinya.


Sekalinya marah, aura membunuhnya akan langsung keluar.


Bibi Jeni yang mendengar pernyataan tersebut punlangsung dibuat tertegun. Siapakah orang yang berani menampar Nona majikannya?


"Apakah orang itu tidak tahu siapa Nona Risya?" tanyanya lagi.


"Hmm... , kebetulan dia adalah anak baru. Karena itulah dia beran imenampar wajahnya sampai seperti itu." imbuh Arshel lagi.


"Tapi bukannya keterlaluan, kenapa sampai menamparnya segala? Apa orang itu sudah dihukum?"


Arshel menatap bibi Jeni yang benar-benar memperlihatkan ekspresi khawatir sekaligus marah.


Yah, apalagi kalau bukan khawatir kepada Risya yang sudah bibi Jeni asuh dari bayi, dan sekarang ada yang berani menamparnya. Siapa yang tidak marah kana itu?


Siapapun pasti akan marah.


Tapi....


Arshel merasa tidak marah sekalipun. Dia tidak memiliki perasaan khusus sampai seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2