
Vatler yang tiba-tiba saja di tanyai hal seperti itu, tentu saja tanpa pikir panjang Vatler jadi menjawab. “Hanya pertemuan biasa, biasa…ibuku selalu menyuruhku memakai pakaian yang dia belikan.”
“Kamu baik hati sekali ya, mau menuruti perintah ibumu. Padahal kamu sendiri sudah bisa hidup dengan bebas.” Timpal Angie.
“Bagaimanapun dia Ibuku, hanya memakai ini, aku tidak mempermasalahkannya.” Imbuhnya.
Angie pun tersenyum mendengar jawaban Vatler yang begitu menurut dengan ibunya, kecuali segala kencan buta yang berhasil Vatler tolak semua tanpa ampun.
CUP..
“Kamu-” Vatler lebih berekspresi wajah cukup datar, karena bibirnya kembali di cium oleh Angie ini.
“Aku apa? Lagian bibirmu ternyata enak juga ya?” Kata Angie lagi seraya jari telunjuknya menyentuh bibir seksi milik Vatler yang begitu menggoda.
Vatler menepis tangan Angie, dan melanjutkan kembali untuk membantu Angie memasang sabuk pengaman.
KLIK….
Tetapi lagi-lagi, ketika Vatler hendak kembali duduk di tempatnya, Angie dengan cepat mengangkat kedua tangannya dan meraih leher Vatler, yang mana hal itu membuat Vatler secara otomatis jadi kembali membungkuk kearah Angie.
Dan berakhir dengan sebuah ciuman..
CUP….
Karena kaca bagian depan alah kaca khusus yang membuat orang di luar tidak dapat melihat apa yang ada di dalam, maka perbuatan Angie saat mencium bibirnya Vatler pun jadi tidak ada yang tahu kecuali mereka berdua.
Ketika Vatler mengernyitkan matanya karena perbuatan Angie yang begitu mendadak itu, maka lain hal dengan Angie yang begitu menikmati ciuman yang sedan Angie pimpin itu.
Lidah yang panas itu pun benar-benar menelusup masuk kedalam rogga mulut Vatler.
Tapi kenapa Vatler membiarkan tindakan yang sedang dilakukan oleh Angie ini?
“Phuah…hah…hah….” Angie akhirnya melepaskan ciuman itu dair Vatler, lalu mencoba mengatur nafasnya, karena dia benar-benar menahan nafas ketika berciuman tadi.
Satu tetes air mata itu tiba-tiba saja membasahi pipi Angie yang putih juga mulus layaknya porselen.
Melihat hal tersebut, Vatler tentu saja langsung terpegun. Vatler tahu apa yang membuat Angie nampak begitu sedih itu. “Maafkan aku, karena aku mengingkari janji kita semalam.” Kata Vatler sebagai kalimat pembuka untuk keheningan yang terjadi di antara mereka berdua.
“Kenapa? Padahal aku sudah banyak memasak makanan kesukaanmu dan makanan kasukaan kakakku, kenapa kamu tidak bisa datang? Apakah kamu tahu, aku benar-benar kesepian, semalam?” Ungkap Angie kepada Vater.
__ADS_1
Vatler yang tidak ingin ada di sana terus, memutuskan menjalankan mobilnya, dan akan melakukan pembicaraan di tengah perjalanan mereka.
“Aku juga tidak sengaja, karena malam tadi aku tiba-tiba ada urusan bersama dengan Ibuku.” Ucap Vatler.
“Urusan apa? Apakah kencan buta lagi?”
“Hmm….” Sahut Vatler atas pertanyaannya Angie.
Lalu karena merasa sedikit gerah, Vatler pun menarik dasi yang begitu mencekik lehernya, dan melonggarkannya.
“Sini biar aku bantu lepas.” Angie mencoba menawarkan diri untuk membantu Vatler melepas dasi itu.
“Tidak perlu, jangan membuat kaki kananmu banyak bergerak.” Tolak Vatler.
“..............” Karena sudah di tolek, Angie pun jadi diam sambil memperlihatkan wajahnya yang sedang sedih itu, karena gara-gara semalam.
“Apa yang kamu inginkan sebagai penebus kesalahanku?” Tanya Vatler, memberikan penawaran kepada Angie yang terlihat sedih itu.
“Aku hanya ingin kamu jadi pacarku.” Cetus Angie saat itu pula.
“..............” Vatler kemudian mengambil jalan arah ke kanan, dan melajukan mobilnya menuju salah satu gedung apertement termewah di kota A. “Kamu ingin aku jadi pacarmu?”
“Ya…itu yang aku inginkan.” Matanya yang sendu itu melirik ke arah Vatler yang tidak terlihat adanya wajah untuk berekspresi terkejut. ‘Kira-kira apa jawaban dia?’
“Kenapa? Apakah karena wanita yang waktu itu kamu bawa?”
“.............” Vatler awalnya diam, tapi kemudian dia menjawab. “Bukan juga. Bukannya dari awal kita hanya berteman saja, lagi pula dia menitipkanmu kepadaku untuk menjagamu, aku han-”
“Jadi maksudmu kamu melakukan ini karena wasiat dari kakakku?”
“Itu kamu paham juga.” Timpal Vatler.
“Tapi Vatler…apa yang akan terjadi dengan hatiku ini? Aku sudah tidak bisa membendungnya, apa kamu tidak bisa membalas perasaanku ini?” Angie pun memperlihatkan ekspresi sedihnya, tangan kanannya mencengkram baju bagian dadanya, bahwa sekarang hatinya itu, dia benar-benar membutuhkan satu balasan dengan hati yang sama-sama menyukai dirinya.
Tapi apa yang terjadi sekarang?
Vatler menolaknya.
“Apa kamu tidak ada hati tidak mau membalas perasaanku ini? Asal kamu tahu-” Sorotan matanya berubah menjadi tajam., dan menjeling ke arah Vatler yang saat ini sedang menyetir. “Jika bukan karenamu yang mengajak kakakku ikut balapan, kakakku pasti masih hidup.”
__ADS_1
Akan tetapi reaksi yang diberikan Vatler tetaplah sama, dia berekspresi wajah datar. “Aku tahu, aku salah. Makannya aku disini karenamu sekaligus mengerjakan tugasku untuk menjagamu.”
“Menjaga apa, semalam saja kamu tidak datang ke acara ulang tahunku.”
CKITT…..
Vatler tiba-tiba mengerem mendadak. Dia memberhentikan laju mobilnya karena selain Angie yang terus saja mengungkit masalah janji yang tidak Vatler tepati tadi malam, sebenarnya mereka berdua juga sudah sampai di basemnet.
“Aku akan menebusnya di lain hari.” Vatler yang sudah lelah karena seharian menjalankan acara resepsi pernikahannya dengan Risyella yang sekarang dia tinggal di tengah jalan, akhirnya mulai menunjukkan ekspresi marahnya.
Sekalipun wajahnya tetap berekspresi datar, tapi tidak dengan rahang Vatler yang sudah lebih mengeras.
Vatler saat ini sedang menggertakkan giginya, karena dia juga harus mengurus masalah Angie yang baru saja mengungkapkan perasaannya, tetapi Vatler memang tidak bisa membalas perasaan Angie, sebab di mata Vatler, Angie hanyalah adik dari sahabatnya yang saat ini sudah meninggal, dan dirinya menerima wasiat terakhir dari sahabatnya untuk menjaga adiknya, dan itu adalah Angie, wanita cantik yang baru saja mengalami insiden sebab baru saja jatuh dari tangga.
BRAK…
“..........!” Mendengar Vatler menutup pintu mobilnya dengan keras, seketika Angie merasa takut.
Ya…
Kalau Vatler sudah di ambang untuk marah, keterdiaman dari mulut itu membuahkan hasil tangan itu bisa melakukan hal kasar apa pun itu.
KLEK…
Sekarang Vatler sudah berada di sisi pintu mobil sebelah, membuka pintu tersebut dan langsung menggendong tubuh Angie ala bridal, kemudian dia pun membawanya masuk kedalam gedung apertement yang menjulang tinggi itu.
Setelah itu, Vatler pergi kedalam lift.
Terlihat sudah, wajah Vatler yang begitu dingin, seakan siapapun yang mendapatkan tatapan mata dari sorotan mata yang cukup tajam itu, orang tersebut seolah bisa mati begitu saja hanya karena tatapan membunuh milik Vatler.
“Vatler~” Angie berusaha untuk meredam amarah pria ini, dengan mengusap sebelah wajah Vatler dengan cukup lembut.
Tapi Vatler tetap tidak bereaksi apapun terhadap tindakan Angie itu.
“M-maafkan aku…aku..aku akan menyimpan perasaan ini, kamu tidak perlu membalasnya.” Ungkap Angie dengan wajah sedih, dan bahkan dia sudah mulai menangis. “Aku hanya..kesepian, tolong jangan marah kepadaku..vatler.” Bujuk Angie lagi. Dia tetap mengelus wajah tampan milik Vatler.
TING…
Pintu lift langsung terbuka tepat saat lift memang sudah sampai di lantai tujuan dari mereka berdua, yaitu lantai lima puluh satu.
__ADS_1
“Vatler…” panggil Angie lagi, lagi dan lagi.
Dia tidak akan berhenti memanggil nama pria ini sampai pria ini membuat respon atas panggilannya.