Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
117 : IPHTV : Sakral


__ADS_3

Hutan pinus yang menjulang tinggi membawa nuansa teduh yang cukup cocok untuk menemani para tamu undangan ini agar bisa duduk santai sembari menikmati udara yang cukup sejuk itu. Dan danau besar yang menghiasi area hutan pinus menjadi daya tarik sendiri.


Di pagi ini, pagi yang sudah di selimuti mentari pagi itu akan menjadi awal dari saksi bisu satu acara paling sakral yang pernah ada dan akan menjadi momen pertama sekaligus terakhir untuk satu pasangan yang benar-benar ingin menjalin kekasih lebih dalam, yaitu pernikahan.


Walaupun banyak kasus menikah tidak harus hanya satu atau dua saja, tapi siapapun pasti akan berharap kalau bisa pernikahan hanya bisa di lakukan satu kali dalam seumur hidup.


Dan di hari yang cerah ini, satu pasangan hasil dari perjodohan yang dilakukan oleh Marlina kepada anaknya yaitu Vatler bersama dengan Risyella akan segera berlangsung.


Tidak seperti kebanyakan orang yang menginginkan sebuah pernikahan yang megah dan juga mewah, maka kali ini resepsi pernikahan yang diadakan oleh Risyella dan Vatler hanya berlangsung sederhana saja.


Tamu undangan yang hadir pun adalah keluarga dekat dari kedua mempelai. Maka dari itu, acara yang kana berlangsung ini, benar-benar tidak mencapai lima puluh orang tamu undangan.


Dan meraka semua sudah duduk di kursi masing-masing sesuai nomor undangan yang mereka terima, maka nomor meja itulah yang kan menjadi tempat mereka berkumpul.


"Hmmm... Aku pikir pestanya akan diadakan begitu mewah." Ucap salah satu tamu undangan di meja nomor lima.


"Iku juga pikir akan begitu." Timpalnya.


"Oh ya. Aku dengan Marlina menjodohkan anaknya itu dengan seorang gadis yang berasal dari desa." Wanita ini kemudian mendelik ke arah Marlina yang saat ini sedang berbicara dengan anaknya sendiri yaitu Vatler.


"Oh, jadi rumor itu benar."


"Tapi kenapa orang seperti Marlina justru memilih gadis desa? Mana lagi latar belakangnya biasa saja, sudah pti tidak punya pendidikan yang tinggi juga." Hina wanita ini, seraya mencari keluarga dari pihak mempelai perempuan.


"Lihat saja itu, mempelai perempuannya saja sudah kampungan, apalagi keluarganya? Pakaian mereka saja benar-benar murahan. Aku jadi bingung dengan alasan Marlina itu. Apa yang dia lihat dari gadis kampungan yang dia pilih itu?"


Satu persatu hinaan demi hinaan keluar dari mulut mereka.


Namun ketika Vatler dengan sengaja memberikan jelingan yang cukup tajam kepada mereka semua, sontak mulut mereka langsung diam membisu.

__ADS_1


'Vatler ini, kenapa hanya menatap kami dengan tatapannya yang seperti itu, rasanya cukup mengintimidasi?' Pikir Istri Marvin ini.


_______


"Kenapa ibu mengundang mereka?" Tanya Vatler kepada Ibunya yang saat ini tengah memperbaiki dasi yang Vatler pakai itu.


"Maksudmu kamu ingin aku menyewa tamu bayaran?" Tanya Marlina balik.


"Itu lebih baik ketimbang mereka." Cetus Vatler. Tidak suka dengan semua keluarganya itu karena mereka selalu bersikap sesukanya sendiri. Jika Vatler tidak memberikan tatapan sengit maka mereka akan terus mengoceh hal-hal yang tidak berguna.


"Tapi sudah terlanjur tuh." Jawab Marlina singkat, kaku melepaskan tangannya dari dasi Vatler yang sedang Marlina perbaiki.


"Ya sudah kalau sudah terlanjur." Sela Vatler.


"Sudah seperti biasa ya? Wajahmu itu selalu mengundang dosa." Ledek Marlina.


Salah satu alis Vatler terangkat. "Lagi pula yang dosa bukan aku juga."


"Disini sejuk ya?" Salah satu anak laki-laki yang lebih muda lima tujuh tahun dari Vatler sedang mendongak ke atas, dan mencoba menghirup udara yang kebetulan cukup sejuk.


"Pohon pinusnya juga tinggi sekali, kira-kira semua pohon disini sudah berumur berapa puluh tahun ya?"


"Risyella beruntung ya? Bisa dapat calon suami sekaya ini."


"Kamu benar. Dia pasti akan hidup dengan bahagia."


"Jelas itu, apapun yang dia mau pasti langsung di belikan."


Marlina dan Vatler yang mendengar percakapan dari keluarga dekat Risyella membuat Marlina tersenyum puas, sebab banyak mendapatkan pujian secara tidak langsung dari mereka.

__ADS_1


Sampai keributan itu langsung segera sirna ketika ada suara seseorang yang tiba-tiba bicara, tapi orangnya tidak tahu sedang ada di mana.


"Ekhemm...cek satu, dua , tiga, suara di coba. Perkenalkan saya adalah Robert yang akan menjadi pembawa acara di hari yang indah ini." Kata pria ini, setelah muncul dari balik pohon dalam posisi sedang duduk menatap pohon pinus yang menjulang tinggi itu.


Tapi di sebabkan hanya ada keheningan, Robert pun sedikit protes.


"Halo....kenapa tidak ada sambutan seperti tepuk tangan? Saya butuh tepuk tangan dari anda sekalian agar suasananya jadi lebih hidup tahu."


Tanpa menuntut apapun lagi, mereka pun memberikan tepuk tangan untuk memeriahkan suasana di sana.


PROK...PROK...PROK....


"NNah, begitu. Hati saya kan jadi ikut senang." Ucap Robert lalu berjalan menuju tepi panggung, dimana saat ini Vatler sudah berdiri di sana lebih dulu. "Halo Tuan Vatler yang terhormat, kir-"


"Langsung ke intinya saja." Pungkas Vatler, tidak suka dengan basa basi yang akan di ucapkan oleh Robert.


Tetapi tanggapan Robert tentu saja biasa-biasa saja dan justru menganggapnya sebagai lelucon yang akan dia katakan kepada para tamu undangan, "Wah apakah semuanya dengar? Calon mempelai pria benar-benar sudah tidak sabar. Bagaiman aini? Kita ingin menikmati acara ini satu per satu, tapi di satu sisi Tuan ini sudah ingin membawa mempelai wanitanya pergi bersama dengannya. "


'Anak ini. Kenapa Ibu justru memilih dia, kenapa bukan orang lain saja?' batin Vatler.


Robert, sebenarnya Vatler kenal Robert itu siapa, dan Robert itu adalah salah satu temannya yang kebetulan sudah menikah dengan salah satu wanita kencan butanya satu tahun yang lalu.


Yah...


Wanita kencan buta milik Vatler akhirnya di dapatkan untuk Robert.


Tetapi seperti sifatnya yang selalu memandang positif apapun yang Vatler katakan maupun berikan, yang biasanya di berikan tatapan seperti orang yang hendak membunuh orang, Robert tetap saja menyunggingkan senyuman lebar.


"Ok, karena Tuan ini benar-benar tidak sabar lagi, mari kita panggil calon mempelai wanitanya! Ayo..dimanakah calon mempelai wanita dari Tuan uda Vatler yang super tampan dan macho ini? Dia sudah menunggumu, ayo cepat keluar." Kata Robert panjang lebar, membuat sebagian besar tamu undangan terkekeh karena cara bicaranya itu mengundang banyak tawa.

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu, ketika pemanggilan untuk calon mempelai wanita berlangsung, maka seorang pianis tiba-tiba duduk di depan piano besar, dan mulai memainkan perannya untuk memainkan salah satu lagu untuk mengiring perjalanan dari mempelai Wanita.


Dan seketika suasana langsung berubah drastis. Yang awalnya berisi lelucon yang dibawakan oleh RObert, saat ini kesan yang mereka dapatkan adalah nuansa yang cukup romantis.


__ADS_2