
Esok harinya.
Tidak seperti biasanya, jika suasana di sekolah akan baik-baik saja, kedatangan Arshel yang sendirian itu menjadi pemandangan terbaru untuk mereka semua.
Tidak ada lagi seorang perempuan yang berjalan membuntutinya dari belakang, tidak ada lagi pannggilan nama yang di panggil secara lantang oleh seorang perempuan yang memiliki wajah yang cukup mirip.
Karena saat ini perempuan itu sudah pergi untuk selamanya, meninggalkan mereka semua, dan meninggalkan bekas akan keberadaan Risya yang ternyata cukuplah samar.
Setiap suara langkah yang di hasilkan oleh Arshel, selalu membungkam dan menghentikan aktivitas dari murid yang lain, karena mereka kali ini mulai takut dengan aura serta ekspresi wajah Arshel yang lebih dingin dan terasa tidak bersahabat.
'Aku benar-benar sudah sendirian. Dia memang sungguh sudah meninggalkan lebih dulu. Risya, kamu memang keterlaluan.' Pikir Arshel. Dia terus saja merasa terusik dengan suasana hatinya yang sungguh tidak bisa membiarkannya tenang, karena dia masih belum bisa menerima kenyataan pahit dari meninggalnya Risya.
"Arshel, kenapa kamu berangkat?" Tanya wali kelas Risya, saat tidak sengaja berpapasan dengan Arshel.
"Aku datang kesini hanya untuk mengambil semua barang-barangnya." Ketus Arshel. Dia yang sudah memiliki kunci locker milik Risya, tentu akan mengosongkan locker yang menjadi penanda kalau Risya memang pernah sekolah disini dan mengisi locker sebagai murid sekolah ini.
Tapi karena Risya sudah tidak ada, maka dia sebagai kakaknya akan mengambil kembali semua barang milik adiknya.
Wali kelas Risya yang sempat penasaran dan sempat berjaan mengikuti Arshel dari belakang, memutusan untuk menghentikan itu dan membiarkan Arshel melakukan segalanya.
Maka dari itu, tidak ada satu orang pun yang berani mendekati Arshel itu.
Dua menit kemudian, Arshel pun sampai di lemari penyimpanan milik Risya yang letaknya ada di depan kelas Risya persis.
Arshel merogoh sakunya dan mengeluarkan sepasang kunci locker milik Risya, memasukkanya kedalam handel kunnci, Arshel pun akhirnya bisa membukanya.
KLEK...
".......!" Arsheal sungguh membuka matanya lebar-lebar, sebab di dalam locker itu tidak ada apapun kecuali kotak hadiah berbentuk persegi. 'Apa ini?'
Dengan berat hati, Arshel pun mengambilnya keluar, dan disanalah Arshel melihat satu fakta yang cukup mengejutkan, sebab kotak itu berisi penuh dengan lembaran foto yang tertumpuk cukup rapi. Sampai Arshel sendiri dapat memperkirakan kalau berat dari kotak yang hanya berisi foto ini, ada satu kilo.
'Kenapa dia menyimpan foto yang tidak berguna seperti ini?' Arshel yang tidak mau tahu dengan isinya, segera mengambilnya, menutup lociker itu dan menguncinya kembali, sebelum akhirnya Arshel benar-benar membawa kotak berwarna biru navy itu dalam pelukannya.
____________
"Vatler, jangan minum lagi." Peringat Angie, saat dia mengetahui dari pemilik bar, kalau ada satu orang pria yang dengan gila memesan sepuluh botol bir.
Tidak menggubris dengan apa yang Angie katakan kepada Vatler, Vatler terus meminum minumannya itu, sampai Angie yang sudah tidak tahan dengan perilaku Vatler ini, langsung mengambil semua boto baik itu yang sudah kosong ataupun masih tersegel untuk Angie buang.
"Siapa yang menyuruhmu membuang minumanku?" Jeling Vatler dengan cukup tajam pada satu wanita yang menjadi saksi gelap dari semua kisah milik Vatler dan Risyella sampai di mana Risya pun menjadi daftar dari kisah yang Angie ketahui dengan cukup baik.
__ADS_1
"Aku sendiri." Ketus Angie dengan ekspresi wajah yang cukup serius.
"Itu milikku, jangan sekal-"
"Milikmu atau bukan, yang aku mau kamu harus berhenti minum." Angie langsung menarik lengannya itu dari cengkraman tangannya Vatler, dan membawa semua botol bir itu untuk dia buang ke tong sampah.
Melihat semua botol miliknya di ambil oleh Angie, Vatler yang tidak suka waktunya di ganggu itu, langsung menghantamkan bogem mentahnya itu ke meja.
BRAKK..!
"Kyaa...!"
Banyak pasang mata yang ada di dalam bar itu langsung memperhatikan Vatler yang baru saja melampiaskan kemarahannya itu dengan memukul meja dengan keras, sampai meja kayu itu sendiri sudah terbelah.
"D-dia, dia tenaganya kuat sekali."
"M-mejanya terbelah jadi dua, dia bukan orang yang sembarangan kita usir."
"Benar, dia sama sekali bukan orang yang bisa kita usir seenaknya."
"Tapi jika orang itu ada di sini terus itu ak-"
Termasuk Angie, yang menjadi satu-satunya orang yang berani membuat perkara dengan Vatler yang sedang di lannda keseiha, kemarahan, dan rasa delima.
"Kembalikan itu sekarang!" Tegas Vatler kepada Angie.
"Tidak! Kamu harus pulang sekarang." Tolak Angie.
"Nona, sebaiknya anda jangan melawannya seperti itu." Bisik salah satu perempuan yang pel*acur yang ada di sana untuk memberikan saran paling logis saat ini, kalau Angie sebagiknya tidak mengusik keinginan Vatler yang ingin minum-minum.
"Kamu tidak akan mengerti, jika kemauannya itu di turuti, itu jauh akan lebih buruk." bisik Angie
"Tidak mau mendengarkanku? Kalau begitu, biar lebih jelas lagi apa perinntahku, kamu memang seharusnya aku tem-"
"Apa yang Ayah lakukan di tempat seperti ini? Dasar laki-laki tidak berguna." Sela Arshel saat itu juga, berhasil menghentikan Ayah nya yang akan menodongkan pistol ke arah Angie.
"A-ayah?"
"Ayah?"
"Pria itu sudah jadi ayah?"
__ADS_1
Seketika semua orang jadi terkejut sendiri, mendengar ada seorang anak remaja tiba-tiba masuk ke delam bar dengan membawa kotak hadiah, dan langsung memberikan pria yang akan membuat onar itu dengan satu semprotan yang cukup mencengangkan.
Karena Arshel dengan berani, menyebut Ayahnya sendiri adalah laki-laki yang tidak berguna.
"Apa? Pria tampan itu ternyata sudah punya anak?"
"Aku dengar ucapan kalian." Sama hal nya dengan Vatler yang bisa menghentikan segala pembicaraan tidak berguna dalam sekali tatapan, maka Arshel pun bisa melakukannya juga, karena Arshel memang keturunan dari gen milik Vatler sendiri.
Tentu saja seperti yang di perkirakan, semua orang yang ada di sana langsung diam membisu.
"Kenapa kamu bisa tahu?" Tanya Vatler, seraya menyimpan kembali senjatanya itu di dalam sarung senjata yang Vatler pakai di balik blazer yang dia pakai itu.
"Karena Ayah bisa melakukannya, memangnya aku tidak bisa melakukannya juga?" Sebuah jawaban yang berakhir dengan pertanyaan.
Arshel bisa mengetahui lokasi Ayahnya sendiri, karena Arshel memang punya kemampuan untuk meretas sistem server di kota, apalagi untuk sekedar mencari Ayahnya ini, bagi Arshel, tentu saja itu adalah hal yang paling mudah.
"Jangan mengacau disini, lebih baik pulang dan bawa ini." Kata Arshel kepada sang Ayah yang terlihat kacau itu sambil memberikan satu kotak berbentuk persegi berwarna Navy.
Vatler yang penasaran itu, langsung mengambil kotak tersebut dari Arshel.
Angie diam-diam langsung membuang bir itu selagi Vatler sedang teralihkan dengan kedatangan Arshel yang cukup tiba-tiba itu.
Dengan ekspresi wajah Vatler yang cukup serius itu, Vatler pun membuka kotak itu dan mengeluarkan isinya.
Isi yang membuat bola matanya bergetar, karena di dalam sana ada banyak sekali foto yang di ambil secara diam-diam, dan semua foto tersebut adalah fotonya Risya?
Tidak hanya itu saja. Sebenarnya Vatler juga menemukan ada foto dirinya juga, serta fotonya Arshel.
"Risya?" Dan semua itu adalah ketika mereka bertiga ada dalam aktivitasnya masing-masing, baik itu saat sedang sendirian maupun saat mereka saling berdiri saling berjauhan.
Sebenarnya tidak hanya itu saja, bukan sekedar foto milik mereka bertiga yang ternyata di ambil, tapi foto ketika Vatler dan Risyella berada di resepsi pernikahan mereka berdua, semua itu juga ada.
TAK.
Vatler yang kembali dalam pikiran warasnya, sekalipun sudah minum bir sebanyak dua botol sampai kosong mlompong, Vatler pun kembali jadi sadar, kalau apa yang di lakukannya kali ini adalah sesuatu yang sama sekali tidak berguna.
'Siapa yang sudah mengambil foto kami secara diam-diam seperti iin. Aku bukannya mempermaslaahkan ini, tapi aku penasaran, siapa orang yang berani melakukan ini? Ketika aku tiba-tiba merasakan kesepian karena mereka berdua meninggalkanku, Arshel tiba-tiba saja membawakanku ini.
Darimana dia mendapatkannya?' Vatler pun melirik ke arah Arshel.
Karena sekarang bukan berada di tempat yang tepat untuk melakukan pembicaraan mengenai masalah pribadi mereka berdua ditempat umum, ketika Angie benar-benar sedang pergi untuk membuat semua botol yang sudah di ambilnya, Vatler dan Arshel segera pergi dari sana saat itu juga.
__ADS_1