Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
76 : IPHTV : Beban.


__ADS_3

"Ini Tuan, semuanya sudah ada disini." Seorang pria paruh baya memberikan dua buah koper berwarna putih dan hitam kepada Vatler.


Kedua koper itu berisi pakaian untuk Risyella. Ya..sebenarnya Vatler sudah memesan beberapa pakaian untuk digunakan Risyella. Tapi disebabkan yang datang adalah belanjaan yang sudah ditukar oleh Ibunya dengan pakaian Lingerie, terpaksa Vatler memesannya lagi.


Dan dua koper itu untuk Risyella seorang, gara-gara saat berangkat kemarin, Vatler tidak pernah memberitahu tujuan sebenarnya. Jadi Risyella tentu saja tidak membawa apapun selain tubuh, pakaian yang sedang digunakan, serta dompet saja.


"Apa ada sesuatu lain lagi yang harus saya beli?" Tanya pria ini.


"Tidak ada. Jika ada aku akan menghubungimu lagi." Balas Vatler.


Dimana saat Vatler hendak membawa kedua koper itu, tiba-tiba saja suara teriakan keras langsung menggema.


"Aaakkkhhh!"


"Tuan, itu suara Nona?"


"Kamu pergi saja." Perintah Vatler.


"Baik," Awalnya pria ini merasa enggan, karena merasa khawatir setelah mendengar teriakan keras berasal dari dalam rumah Tuan majikannya itu. Tetapi karena dirinya sudah mendapatkan perintah untuk pergi dari sana, mau tidak mau dia harus menuruti perintah itu.


Vatler yang tidak jadi memasukkan kedua koper itu kedalam rumah, dia berjalan terburu-buru kedalam rumah, dan mencoba mencari tahu sumber suara itu berasal.


".............." Vatler mendongak keatas, karena dia tahu kalau Risyella saat ini memang ada di dalam kamarnya, karena dari semalam Risyella lebih dulu menguasai tempat tidurnya.


Ketika Vatler hendak pergi naik ke atas, kebetulan dua orang itu datang dengan cara saling kejar terkejar.


"Kamu pasti orang jahat! Pasti mau melakukan sesuatu kepadaku kan?!"


"Tidak, aku berani bersumpah, aku tidak mela-"


"Diam!" Untuk yang terakhir kalinya, Risyella memberikan lemparan sandalnya kearah Liam, dan


BUKH..


"Ahw.." Lemparan itu berhasil mengenai kepala bagian belakang Liam. Saking sakitnya, Liam pun meringis sampai dia berjongkok dengan kedua tangan memegang kepalanya yang baru saja ditimpuk sandal oleh Risyella.


"...........!" Risyella yang terkejut karena melihat Liam terliha kesakitan, buru-buru diam mematung. 'Waduh, jangan-jangan lemparanku terlalu keras. Dia tidak terkena geger otak kan?' Tetapi sayangnya di saat itu pula Risyella tidak sengaja melihat Vatler ada di lantai bawah sedang menatap kearahnya. 'Dia disana?!'


Risyella yang sudah kelabakan, karena dia baru menyadari posisinya sendiri juga berpenampilan berantakan, ditambah dengan dirinya lupa memakai lagi celana besar itu, sampai sekarang saja kedua kakinya benar-benar telanjang, dan hanya tertutup baju atasan yang hanya menutup sampai separuh paha, segera membuat Risyella berlari kabur dari sana.


*****

__ADS_1


'Apa-apaan ini? Kenapa aku banyak mengalami kejadian mendebarkan seperti ini?' Jantungnya masih tidak bisa dikontol agar tidak berdebar. Dia saat ini kembali masuk kedalam kamarnya Vatler dan bersembunyi lagi di dalam selimut sambil memakai kembali celananya dan mengancingkan kembali baju itu.


"Ris, apa kamu di dalam?" Suara milik Vatler akhirnya datang juga.


Risyella yang ketakutan itu hanya menjawab, "Iya!"


"Pakaianmu sudah ada di dalam kamarmu. Lalu, aku akan pergi, jadi jangan keluar rumah." Kata Vatler memberitahu Risyella yang masih saja bersembunyi di dalam kamarnya Vatler.


"Iya!" Sahutnya lagi tanpa memberikannya deretan pertanyaan? Hanya satu saja yang ingin Risyella tanyakan kepaa Vatler yang hendak mengambil langkah pergi itu. "Siapa orang itu?"


"Apa dia melakukan sesuatu padamu?" Vatler melempar pertanyaan balik kepada Risyella.


"Dia tiba-tiba masuk ke kamar."


"Aku yang akan menanganinya." Ucap Vatler tanpa memberikan penjelasan apapun kepada Risyella.


********


Di meja makan.


Liam yang membuat onar itu akhirnya di atasi oleh Vatler. Mereka berdua kini akhirnya menghilang tanpa jejak, antara mau kemana dan seberapa lama keluar, Vatler tidak memberitahunya sama sekali.


Hanya saja, Risyella tidak begitu terganggu dengan kesendiriannya itu, karena dia masih bisa menikmati kehidupannya sebagai orang kaya?


TAK...


Risyella yang saat ini sedang makan di meja makan, segera meletakkan sendok dan garpu. Saat ini dirinya memang berada di rumah besar juga mewah, tapi semua itu tidak seperti ekspetasinya.


Dia tetap sendirian. Hanya itu saja yang terlintas di dalam benak hatinya.


'Tapi tidak apa-apa, kan katanya disini hanya sementara saja. Lagi pula aku sudah terbiasa sendirian, jadi yang seperti ini, bagiku tidaklah masalah.' Benak hati Risyella.


Karena disini yang terpenting adalah sebentar lagi dirinya bisa menikahi Vatler, dia pun kembali bersemangat untuk makan nasi goreng buatan sendiri.


Setelah diberitahu cara menggunakan kompor listrik, akhirnya dia bisa memakai dapur itu dengan leluasa.


Setelah sesi makan selesai, Risyella yang masih saja penasaran dengan seluruh isi Villa milik pria itu, dia kembali mencoba mengunjungi beberapa tempat.


"Hei disini, kau harus meletakkannya disini, sini, dan sini." Seorang wanita berkacamata terus mengkonmando seluruh orang untuk bekerja dengan benar?


"Madam, ini sebaiknya ditaruh dimana?" Seorang pelayan wanita dengan pakian pelayannya, memperlihatkan vas bunga yang sedang di pegangnya.

__ADS_1


"Itu simpan saja dulu. Sekarang yan terpenting hanya untuk menata meja dan kursi, serta membersihkan halaman ini sampai bersih dan rapi, apa kalian mengerti?!" Ucapnya dengan panjang lebar.


Risyella yang kebetulan baru saja masuk ke halaman belakang rumah, sudah diperlihatkan sekelompok orang yang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


'Kenapa disini tiba-tiba jadi ramai ya?' Pikir Risyella tidak paham dengan keramaian yang begitu mendadak itu.


Wanita yang di tebak adalah bos mereka semua, tiba-tiba saja menyadari seorang wanita baru saja muncul dari dalam rumah.


"Hei kamu," Wanita ini menunjuk kearah Risyella.


Risyella awalnya celingukan, tapi dia menyadari kalau tangan itu menunjuk ke arahnya.


Karena sudah begitu, Risyella berlari kecil menghampiri wanita itu.


"Ada apa?" Tanya Risyella dengan wajah polosnya.


"Apa didalam ada makanan yang bisa kami makan?" Tanyanya.


Meskipun sepasang mata itu terhalang oleh kacamata, tapi sangat jelas kalau tatapan matanya jelas-jelas cukup tajam untuk dijadikan tatapan yang mengintimidasi.


"Ada." Jawabnya.


"Buatkan kami makanan dan minuman, itu saja." Perintah wanita ini.


"Berapa banyak?"


"Hm....hanya lima puluh orang." Jawabnya.


"Tapi makanan ap-"


"Apa saja, kami sudah lapar, kamu bagian penanggung jawab untuk makanan kami. Mengerti kan?" Perintahnya lagi. Wanita ini menganggap kalau wanita yang ada di depannya itu adalah pembantu rumah milik Tuan Vatler, maka dari itu, dengan leluasa wanita ini pun memberikan perintahnya, karena Tuan Vatler sendiri sedang keluar.


"Tapi kenapa harus ak-"


"Tidak ada alasan, cepat buatkan makanan untuk kami. Kita akan bekerja sampai siang, dan ini sudah hampir waktunya istiraat, jadi usahakan tanganmu bekerja dengan cepat." Jelasnya.


Selepas mengatakan itu kepada Risyella, Risyella pun ditinggal pergi begitu saja. Dengan kata lain, sekarang Risyella ditinggali sebuah tugas besar untuk memberikan semua manusia itu makan?


'Kenapa aku tiba-tiba disuruh membuatkan makanan untuk mereka?' Hatinya sebenarnya sudah sangat kesal dengan wanita itu. Tapi bebannya ada di tangannya sekarang? Beban untuk membuatkan mereka semua makanan?


Risyella melihat kedua tangannya sendiri. Dia bertanya-tanya apakah dirinya mampu untuk membuat lima puluh porsi makanan?

__ADS_1


__ADS_2