
"Dia pergi kemana?" Gumam Risyella dengan lirih. Dia berjalan kesana kemari seperti orang hilang gara-gara dirinya terpisah dengan Vatler, tepat saat Risyella melakukan kesalahan karena terbuai dengan pemandangan Mall yang baginya sangat ramai dan menyenangkan. Dan hasil dari kesalahannya adalah, dia jadi terpisah dengan Vatler. 'Ah, sialan. Karena aku tidak punya nomornya, aku jadi tidak bisa menghubunginya. Kenapa juga aku berpisah dengan dia?'
Risyella pun jadi berjalan sendirian kesana kemari, menyusuri lantai 3 itu.
Tapi hasilnya, dia sama sekali tidak bisa menemukannya.
'Bagaimana ini? Kalau aku tetap disini saja, maka aku tidak akan bisa beli barang yang sudah aku catat untuk aku beli. Apalagi disini jika sudah mulai menjelang siang, pasti akan hujan.' Risyella terus menggerutu dalah diam. Dia sudah tidak tahu lagi harus pergi kemana, padahal niat awalnya adalah belanja, bukan mencari orang hilang. "Hah~"
Risyella pun duduk bersandar di tempat duduk sambil bersandar ke belakang. Sekarang dia sedang duduk dibawah pohon-pohonan. Dimana pohon di belakangnya itu dihiasi lampu hias berwarna putih, sehingga Risyella pun jadi mendongak keatas untuk memperhatikan dedaunan yang terbuat dari plastik itu.
Walaupun, palsu "Tapi tetap saja indah. Aku jadi ingin memilikinya satu di depan rumah. Pasti bagus." Lirih Risyella, membicarakan keinginan konyolnya hanya ingin punya pohon palsu seperti itu. 'Tapi yang seperti ini kan bisa jadi tempat romantis?' Lamunannya pun membuat bibirnya merekahkan senyuman lebar. Lagi-lagi dia mebayangkan hal indah dan romantis, gara-gara haus ingin memiliki pria dan dimanja olehnya.
Risyella sadar diri, kalau dirinya adalah orang yang membosankan. Karena itu dia sudah menebak kalau tidak akan seorang pria pun yang akan memiliki perempuan sepertnya.
Risyella memejamkan matanya, "Aku memang perempuan yang membosankan. Jadi sudah wajar juga tidak akan ada yang mau denganku." Gerutu Risyella, mencoba menerima nasibnya sendiri, sampai sebuah bayangan, tiba-tiba menutup wajahnya.
Ketika Risyella membuka matanya, Risyella dikejutkan dengan Vatler yang sudah berdiri di depan matanya.
"Untukmu."
"A-apa ini? Akan tidak minta." Tanya Risyella saat secara tiba-tiba penantiannya selama lebih dari 20 menit lebih itu untuk mencari dan menunggu Vatler, ternyata karena Vatler pergi ke kedai roti.
"Bukannya sekarang kau ulang tahun?"
"Memangnya ulang tahun harus identik dengan roti?" Tanya Risyella lagi. Antara bingung bercampur dengan gugup, karena Vatler yang notabene nya adalah orang asing, tiba-tiba membelikanya roti hanya karena Risyella hari ini ulang tahun?
Yah..itu sangat menyenangkan juga, karena baru pertama kalinya ada orang yang memberinya hadiah. Lagi-lagi itu adalah hadiah ulang tahun yang pertama selama hidupnya.
"Aku tidak mempermasalahkan jika kau menolak ini." Ujar Vatler, lalu duduk di sebelah Risyella.
Tatapan mata dari rasa bersalah pun jelas terlihat pada diri Risyella saat melihat satu kotak roti beraroma kopi.
Ya..
__ADS_1
Dari aromanya saja memang cukup menggiurkan. Tapi sayangnya Risyella memiliki satu kendala.
"Aku berterima kasih atas niat baikmu. Hanya saja.....aku memiliki pantangan untuk tidak memakan atau minum dengan bahan dasar kopi. Aku memang ingin memakannya, tapi ya itu...." Risyella pun tidak bisa melanjutkan ucapannya karena merasa bersalah harus menolak kebaikan pria di depannya itu karena mau menghadiahkan roti untuknya. "Ibuku pasti suka, jadi aku akan menerima ini."
'Hah~ Tanpa sadar aku membeli roti berdasarkan kesukaanku. Apa yang sedang terjadi denganku? Vatler menarik kembali uluran tangannya itu dan mengambil roti yang dia beli itu.
'Kelihatannya enak.' Risyella terus melirik kearah roti yang hendak dimakan oleh Vatler. 'Aku ingin mencobanya sedikit.'
"..............." Vatler yang hendak memasukkan roti itu kedalam mulutnya, segera disuguhi tatapan Risyella yang terlihat sangat ingin memakannya coba. "Bukannya sedikit itu harusnya tidak masalah?"
"..............." Risyella langsung menolaknya lagi dan berakhir dengan memunggungi Vatler.
Karena sudah ditolak dua kali, Vatler pun memakannya. 'Keluarganya sudah mau menerimaku dan Ibuku untuk tinggal dirumahnya. Dan sekarang hari ini dia sedang ulang tahun. Apa yang sebenarnya dia inginkan? Sebagaiucapan terima kasih, aku ingin membelinya hadiah. Tapi aku sendiri tidak tahu harus memberinya hadiah apa.'
Karena Vatler sedang bingung untuk memberinya ucapan terima kasih kepada Risyella, tanpa banyak pikir Vatler justru bertanya langsung. "Kau ingin hadiah apa?"
"Ha?" Risyella seketika berhasil dibuat bingung lagi. Karena itu Risyella pun memberanikan dirinya untuk berbalik menghadap Vatler dan perlahan sedikit memperhatikan asal muasal niat dari pria itu kenapa tiba-tiba menawarinya hadiah.
"Apa ada sesuatu yang kau inginkan? Sebagai ucapan terima kasihku atas Ibuku karena mengizinkan kami tinggal, katakan apa yang kau inginkan." Ujar Vatler lagi setelah menghabiskan semua rotinya dalam sekejap mata.
'Mengingat dia sudah sadar kalau aku dan Ibuku adalah orang kaya, bukankah harusnya dia tidak bingung ingin hadiah apa?' Pikir Vatler.
'Aku tahu dia orang yang kaya raya, karena semua yang dia pakai itu barang branded. Tapi aku bukanlah orang yang akan memanfaatkan kekayaannya itu untuk membelikanku ini dan itu. Karena aku pikir....' Tatapan mata Risyella pun terus tertuju pada tangan Vatler yang dimana karena lengan kemeja hitam yang dipakai oleh Vatler digulung sampai ke siku, maka kedua tangan Vatler pun secara gamblang memperlihatkan masa otot yang dimiliki Vatler tersebut. "Tiba-tiba aku sudah memiliki jawabannya."
"Katakan saja, aku bisa memberikanmu apapun itu selama masih berada di batas kemampuanku.
'Wah...pilihan kata-katanya benar-benar eksotis.' Benak hati Risyella. Sejujurnya di dalam hatinya dia sudah sangat girang sendiri karena akhirnya bisa mendapatkan kata-kata seperti itu secara langsung dari seorang pria. "Bolehkan....aku, memegang tanganmu?" Tatap Risyella, tidak bisa mengalihkan perhatiannya untuk memandang ciptaan paling sempurna itu.
"................" Vatler pun menemukan ekspresi Risyella yang penuh harap ingin memegang tangannya? 'Dia hanya ingin memegang tanganku? Dari pada dia meminta barang, kenapa dia memilih tanganku?!'
"Kalau tidak boleh ya tidak apa-apa sih-" Tapi lain mulut lain dipikiran. 'Tapi aku sangat ingin memegangnya!'
'Dia ternyata sama saja dengan wanita lain. Menginginkan tubuhku huh?' Awalnya Vatler merasa kurang suka dengan permintaan Risyella. Walaupun, sekedar ingin memegang tangannya, itu sudah menjadi pemicu kalau Risyella juga seperti wanita lain yang ingin memiliki dirinya karena tubuhnya.
__ADS_1
Tapi kembali lagi, Vatler yang sudah mengucapkan janji untuk memberikan Risyella hadiah apapun yang dinginkan Risyella selam amasih dalam batas kemampuannya, maka Vatler pun terpaksa mengiyakan keinginannya.
Vatler akhirnya menodorkan tangannya di depan Risyella yang sontak membuat Risyella tersentak kaget, tiba-tiba disodorkan tangan Vatnle yang dimata Risyella itu begitu memukau.
Dengan senyuman lebar penuh bahagia, sebab sudah mendapatkan izin dari pemiliknya, Risyella pun mengambil tangan itu untuk Risyella gengam.
'Wah...ternyata tangannya halus, jarinya lentik tapi juga besar dari tanganku.' Dengan sesuka hatinya, Risyella menempatkan telapak tangannya tepat di atas telapak tangan Vatler. Barulah Risyella menemukan perbandingan masa dari tangan mereka berdua yang cukup jauh itu. 'Dia pasti rajin berolahraga.'
Seperti sedang memegang barang yang cukup rapuh, Risyella menekan-nekan lengan Vatler dengan kedua tangannya.
'I-ini! Benar-benar berotot! Wowww! Aku sudah tidak bisa memuji kehebatan tangan ini!' Kini Risyella benar-benar sudah terpukau dengan tangan Vatler yang sedang Risyella amati dengan cukup seksama.
Sedangkan Vatler terus memandangi ekspersi Risyella yang begitu senang hanya dengan memberinya tangannya itu untuk Risyella sentuh dan pegang-pegang.
Dimata Vatler pun Risyella jadi seperti wanita mes*m. Tapi apa boleh buat? Vatler bukanlah orang yang akan mengingkari janji yang sudah Vatler ucapkan itu.
'Jadi seperti ini ya...jika berpegangan tangan?' Risyella memegang tangan Vatler dengan penuh kehati-hatian, padahal semalam yang harusnya hati-hati dalam berpegangan tangan adalah Vatler sendiri yang tiba-tiba mencenkram tangannya Risyella.
'Dia memang wanita yang aneh.' Satu kesan pertama yang sudah Vatler miliki terhadap Risyella saat ini.
Dua orang duduk bersama di bawah pohon hias. Orang-orang yang tidak sengaja melihat pemandangan romantis itu pun tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak mau mengusik kemesraan yang sedang diperlihatkan kepada mereka semua.
"Padahal hanya duduk seperti itu, dan perempuan tersebut memegang tangan laki-laki itu. Tapi kenapa kesannya lebih romantis ketimbang dinner bersama di restoran mewah ya?"
"Hah...aku yang jomblo ini kenapa jadi melihat pemandangan ini? Aku kan jadi iri."
"Dia wanita yang beruntung."
Satu dua pujian perlahan slaing terlontar satu sama lain. Vatler sendiri yang melihat keseriuan para penonton dalam memandangi kearah tempat dimana dirinya dan Risyella duduk pun jadi sesuatu yang paling menarik bagi Vatler sendiri.
'Haih~ Jadi seperti ini saja sudah berhasil membuat mereka menghindariku juga? Ini, kau bisa berlama-lama memegang tanganku.' Senyuman licik milik Vatler pun tersungging di bibir seksinya. Sepintas membuat semua orang yang menyadari senyuman sinis penuh maut itu, langsung mebuat hati mereka semua meleleh.
Tapi lain hal dengan Risyella yang masih tidak sadar dengan senyuman milik Vatler itu, Risyella tetap melanjutkan kegiatan anehnya.
__ADS_1
'Hehehe...aku bisa memegang tangan laki-laki.' Tawa senang penuh bahagia itu pun terus muncul di wajahnya, yang sukses menarik perhatian Vatler lagi untuk terus memperhatikannya.