
"Apa aku bisa bertanya?"
"Tanyakan saja semamumu." Jawab Risyella detik itu juga.
"Apa yang kamu mimpikan saat di dalam pesawat dan mimpi yang tadi?"
Risyella mengerutkan keningnya, karena ternyata Vatler menanyakan hal yang cukup sensitif.
"Aku," Sambil memalingkan wajahnya ke tempat lain. "Bermimpi kita-" Wajahnya semakin tenggelam dalam tumpukan tangannya yang dia letakkan di atas lututnya. "Berhubungan badan di dalam toilet pesawat." Sepasang matanya melirik ke arah Vatler, dan Vatler hanya bersikap biasa saja. Lantas Risyella berkata lagi, "Kalau yang tadi, aku bermimpi-"
Risyella kembali mengasingkan bola matanya lagi ke tempat lain agar tidak melihat tatapan mata Vatler yang begitu intens untuk menatap ke arahnya.
"Kalau aku melahirkan dua anak kembar." Imbuh Risyella, kali ini dia mengatakannya dengan nada yang cukup lirih, bahkan membuat Vatler yang di buat penasaran itu kembali berjalan untuk menghampiri Risyella yang sudah sangat malu itu.
"Apa kamu bisa mengulanginya lagi?"
"Kenapa? Kan tadi aku sudah menjawabnya." Ragu untuk mengulangi kalimat yang cukup memalukan, karena pada kenyataan pahit yang harus Risyella hadapi, hubungan di antara mereka berdua saat ini adalah pernikahaan di atas kertas.
Sekalipun memang sudah sah di mata agama juga negara, tapi di dalam itu semua ada satu peraturan lagi yang di buat oleh Vatler sendiri, yaitu kontrak pernikahan, dan di salah satu daftar peraturan yang ada di dalam kontrak pernikahan itu, Vatler berjanji untuk tidak menyentuhnya, dan jangka waktu yang akan jalani oleh dirinya bersama dengan Vatler adalah tiga tahun.
Maka dari itu, memberitahu apa yang ada di dalam mimpinya dengan melihat kenyataan pahitnya, Risyella jadi sedikit merasa enggan untuk mengulangi ucapanya lagi kepada Vatler.
Akan tetapi, melihat Vatler benar-benar menatapnya dengan tatapan yang cukup menuntut, Risyella jadi terpaksa mengatakannya lagi, namun kali ini dengan wajah yang benar-benar sudah dia benamkan di dalam tumpukan kedua tangannya.
"Aku tadi bermimpi aku melahirkan dua anak kembar, dan melihatmu mendampingiku di sampingku. Lalu saat kamu tanya nama apa yang akan aku berikan kepada anak perempuan kita, aku jawab Risye. Itu saja, apa kamu puas?" Jelas Risyella.
__ADS_1
Dengan kalimat yang cukup singkat jelas juga padat, hingga Vatler jadi megerti kenapa Risyella beberapa waktu lalu mengatakan Risya, saat ada di dalam tidurnya, sekaligus saat Risyella tidur dengan suara mend*sah, ketika ada di dalam pesawat.
"Ya, aku puas. Sangat puas, karena aku akhirnya tahu kenapa kamu bisa memanggil namaku di tengah-tengah kamu sendiri mend*sah penuh gairah seperti itu." Ledek Vatler, saat melihat Risyella sungguh-sunggu sedang dalam kondisi tidak mampu menatap wajahnya karena seperti biasa, Istrinya itu adalah super pemalu, tapi di dalam otaknya penuh dengan pikiran kotor.
Risyella yang mendengar hal itu langsung bereaksi dengan kedua bahunnya yang terangkat.
"Kamu bisa sepuas hati memikirkanku, tidak ada larangan juga, tapi aku hanya memberitahumu, semua itu tidak akan terjadi. Mengerti kan?" Beritahu Vatler, lalu dia pun pergi meninggalkan Risyella di dalam kamar itu sendirian.
BRAK..
".............." Melihat Vatler sudah pergi dari kamar milik mereka berdua, Risyella buru-buru mengangkat kepalanya dan memandang pintu berwarna coklat yang baru saja tertutup itu, lalu bergumam cukup lirih, "Aku tahu kok, jadi tidak usah di ingatkan lagi. Karena tiap kali kamu mengingatkanku seperti itu, hatiku serasa sakit."
Lalu Risyella pun kembali meletakkan kepalanya di atas tumpukan salah satu tangannya, karena satu tagannya lagi, yaitu tangan kanannya, dia menggunakannya untuk menyentuh dahi yang sudah di perban itu.
"Sakit." Cetus nya. Lalu Risyella menunduk ke bawah, dan meletakkan tangan kanannya itu di belakang tengkuknya. Disana dia juga merasakan sakit di bagian sana, dan serasa ada beban berat yang sedang Risyella bawa.
'Aku memang menyukai dekorasi seperti ini. Tapi karena aku dan Vatler bukanlah pasangan suami istri yang di dasari dari perasaan cinta, maka aku harus menyingkikran semua ini. Karena dengan begitu, aku jadi tidak akan punya harapan lebih dengan suasana romantis tapi salah sasaran seperti ini.' Karena itulah, Risyella pun benar-benar membereskan semua dekorasi yang ada, dari lilin, bunga mawar merah, dupa, botol wine, gelas, dan ternyata di tengah-tengah Risyella membereskan semua itu, dia sempat mendapatkan adanya obat di dalam laci di samping tempat tidurnya tadi.
Dia awalnya hendak menaruh lilin di sana, tapi ternyata di dalam sana ada botol obat kecil berwarna putih, dan ketika di buka isinya juga berwarrna putih, dan cukup mirip dengan obat tidur yang pernah Risyella dapatkan dari Vatler waktu itu.
"Apa ini obat untuk penenang?" Gumamnya. 'Dia kan suka menyimpan obat tidur, karena dia katanya memiliki gangguan untuk tidur normal.' Pikirnya.
Karena tidak mau berurusan dengan obat yang tidak dia mengerti, Risyella mengembalikannya ke dalam laci lagi, dan dia kembali melanjutkan acara beres-beresnya.
_____________
__ADS_1
Di luar.
"Tuan, apakan nyonya baik-baik saja?" Tanya salah satu pelayan, saat menemui Vatler yang baru saja turun dari lantai dua.
"Tidak. Dia tidak sedang dalam kondisi baik-baik saja. Apalagi karena kalian menyuruhku memakai kamar yang sudah kalian siapkan, Risyella jadi tambah sakit karena pusing. Jika kalian tidak membereskannya sekarang juga, aku akan meminta pertanggungjawaban kalian karena masalah itu.
Pilih antara ingin mematuhi perintah dari ibuku itu, atau aku. Semua itu ada di tangan dan apalagi ada sangkut pautnya dengan Risyella. Apa kalian paham?" Kata Vatler dengan panjang lebar penuh dengan ancaman.
Dan tentu saja ancaman itu tidak semata-mata untuk sekedar menakut-nakuti semua pelayan yang ada di depannya itu, melainkan agar mereka semua perlahan bisa menuruti perintahnya, sekalipun harus menagtasnamakan Risyella, sebagai orang yang sedang mereka semua awasi dan sebagai beban tanggung jawab mereka.
Ke enam pelayan yang saat ini berbaris di depan Vatler pun sama-sama memperlihatkan raut ekspresi wajah khawatir mereka, sebab mereka harus menemukan pilihan mereka semua saat itu juga.
"Bagaimana ini? Kita semua sudah susah payah menuruti perintah dari Nyonya, dan kita har-"
"Hei, apa kalian hanya memikirkan tugas yang seperti itu? Seperti yang kalian tahu, Nyonya sedang sakit, dan apa kalian akan membuat Nyonya semain bertambah parah?"
"Apa yang di katakannya benar. Apalagi jika baru saja mengalami benturan di kepala seperti yang Nyonya dapatkan, aroma lilin, mawar, wewangian lainnya, justru akan membuat kepala Nyonya semakin pusing." Imbuh pelayan pria ini atas ucapan yang diucapkan oleh rekan kerjanya tadi.
"Begitu ya? Aku tidak tahu ternyata bisa berefek seperti itu." Kata pelayan wanita ini.
"Kalau kalian semua sudah tahu, bereskan semua yang ada di kamar seperti semula. Karnea kalian bilang hanya kamar itu saja yang di siapkan, maka aku tidak mau tahu, aroma aneh itu harus hilang secepatnya." Perintah Vatler.
"Baik, kami akan membereskannya sekarang juga." Jawab mereka semua secara bersamaan.
DRRTT...
__ADS_1
DRRTT....
Karena handphone nya tiba-tiba saja berdering, Vatler segera mengangkatnya, dan yang sedang menghubunginya adalah Angie?