Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
48 : IPHTV.


__ADS_3

"Poin 12:13" Teriak wasit.


Setelah pertandingan berlangsung beberapa waktu, kedua kelompok sduah mendapatkan poin mereka masing-masing.


"Evan! Evan!"


"Arshel! Hajar mereka!"


Teriakan terus menggema, memeriahkan pertandingan yang sudah berlangsung hampir setengah jam.


PRITTT....


Suara peluit itu menandakan wasit memberikan waktu istirahat.


"Evan, kau jago juga. Aku pikir kau hanya orang yang suka duduk memerintah." Puji salah satu rekan kelompok Evan.


"Ternyata kau punya anggapan seperti itu kepadaku, ya?" Evan hanya mengulas senyum simpul. Dia berjalan menuju angku miliknya, mengambil handuk untuk menyeka peluh miliknya, lalu setelahnya dia meminum air dingin yang dibelikan oleh beberapa perempuan yang tadi datang dan meninggalkan air itu di bangkunya.


"Oh ya, kita harus menang. Karen ajika kita menang, kita pastinya lebih populer dari anak manja itu."


"Soal menang atau kalau, aku tidak begitu peduli." Jawab Evan.


"Jangan-jangan kau tadi sudah membuat taruhan dengan Arshel? Apa yang dia minta?"


"Dia hanya minta-" Evan kemudian menoleh kearah samping kanannya, dia melihat Arshel seperti mengharapkan sesuatu dari salah satu penonton yang hadir itu.


"Minta apa?" Semakin dibuat penasaran oleh tingkah Evan yang suka menggantungkan kalimatnya.


"Agar aku berbicara pada guru untuk tidak menyertakan nama Risya di daftar pengumuman nilai." Imbuh EVan.


"Apa? Arshel memintau untuk melakukan itu?" rasanya tidak percaya, kalau Arshel ternyata membuat taruhan atas nama Risya sendiri, adik kandung Arshel.


DRRTT....DRRTT.....


"................."Evan segera mengangkat telepon dari paman Freddy. "Ada apa paman?"


"Ini sangat darurat, aku minta kau kau pergi ke halaman belakang sekolah, di taman. Cari Risya sekarang juga!" Perintah Freddy kepada Evan.


"E-evan? Kenapa ekspresimu seperti itu?" Teman Evan ini jadi bereaksi kahwatir saat ekspresi Evan yang seperti baru saja mendapatkan berita buruk?


"El!" panggil Evan pada temannya itu. "Cari dan gantikan aku!" Perintah Evan pada El.


"Evan!" Teriaknya, memanggil Evan yang tiba-tiba kabur di tengah pertandingan.


"Evan? Kenapa dia tiba-tiba pergi?" Tanya sang Wasit kepada El.


"Dia menemui sesuatu yang darurat pak. Dan menyuruhku untuk mencari penggantinya." jawab El.


"Aku berikan 10 menit tambahan, cari pengganti Evan."


"Baik pak."


'Kenapa Evan tiba-tiba pergi?' Batin Arshel. Karena tidak tahu apa-apa, Arshel pun masih mengikuti pertandingan.


*


*


Evan, setelah mendapatkan kabar mengejutkan dari pamannya, secara terburu-buru dia pergi menuju taman yang ada di halaman belaang sekolah. Secara fisik tubuhnnya memang sedang lelah, tetapi bagi Evan, itu masih belum seberapa ketimbang seseorang yang ada di dalam kondisi sekarat?


'Risya, dia menyembunyikan penyakitnya dari Arshel?' Terka Evan. Dia hanya tidak menyangka kalau gadis yang sedikit pendiam itu ternyata memiliki rahasia besar di balik latar belakangnya yang merupakan anak dari keluarga berpengaruh.


Sepasang kakinya tidak pernah berhenti untuk berlari, karena ada seseorang yang membutuhkan pertolongan darurat. HIngga kurang dari 5 menit, Evan akhirnya sampai di area taman.

__ADS_1


"Hah...hah...hah..." Evan mulai celingukan, mencari keberadaan dari orang yang sedang di cari-carinya. 'Dimana dia?' Pikir Evan. Evan berlari kecil sambil celingukan mencari Risya.


WUSSHH~


Angin yang tiba-tiba datang berhembus itu secara tidak sengaja mebmuat Evan samar-samar merasakan aroma parfum yang cukup familiar. Karena merasa asal parfum itu tidak begitu jauh, Evan kembali mencarinya, sampai dia melihat sebuah tas kecil yaitu paper bag terbang terbawa angin. Dan rasanya ada di salah satu pohon rindang yang berjarak 20 meter dari posisi Evan berdiri.


Dengan ekspresi wajah termangu, Evan kembali berjalan menghampiri pohon tersebut. Sampai akhirnya Evan melihat seorang perempuan sedang duduk bersandar ke pohon tersebut.


"RIsya?" Evan mencoba memanggil namanya. Tetapi sayangnya tidak ada sahutan sama sekali." Ris, RIsya? Kau mendengarku kan?" Evan mencari mempercepat langkah kakinya, dan berakhir dengan berlari menghampiri Risya.


Akan tetapi saat Evan sudah berada di depan Risya persis, Risya sudah menutup matanya.


Evan yang panik itu, langsung berlutut dan menyentuh denyut nadi yang ada di leher Risya, setelah itu Evan mendekatkan wajahnya, bermaksud untuk mendengar secara langsung nafasnya.


"Ris," Evan mencoba memanggilnya. Namun seperti yang tadi, RIsya tidak merespon sama skeali. Tetapi saat melihat jam tangan yang dipakai Risya tidak menunjukkan pengukuran detak jantung, Evan pun langsung menghubungi paman Freddy. "Paman! RIsya, dia-.....jantungnya sudha berhenti berdetak."


"Jangan bercanda, kau coba lakukan CPR! Aku sedang kesana sekarang, jadi cepat lakukan padanya!" Teriak Freddy kepada EVan.


Mendengar hal tersebut, Evan meletakkan handphone nya di atas rumput. Setelah itu Evan langsung membaringkan tubuh Risya agar berbaring lurus. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh paman Freddy, Evan segera melakukan CPR, seperti yang sudah pernah Evan lakukan dalam latihan yan diberikan paman Freddy kepadanya.


"Risya!" Panggil Evan dengan nada lirih. Perlahan dia mengulurkan tangannya untuk membuka kancing Blazer yang dipakai oleh Risya. Setelah itu, Evan pun mengarahkan kedua tangannya di atas dada Risya.


Setelah meletakkan tangan kirinya di atas dada Risya ,tangan sebelah kanannya pun dia tumpuk di atas tangan kirinya. Begitu sudah dalam posisi yang benar, Evan pun mulai melakukan CPR kepada Risya.


"Ris-" Panggil Evan, mauh melakukan pekerjaannya untuk melakukan pertolongan pertama kepada Risya.


Tapi mau seberapa lama Evan melakukannya, tidak ada reaksi yang berarti.


Sampai tidak berapa lama kemudian, rintik hujan mulai datang dan perlahan membasahi tubuh mereka bedua.


'Tidak bisa seperti ini terus!' Pikir Evan, dia pun melakukan prosedur kedua.


Evan dibuat kembali memperhatikan wajah Risya yang terlihat tenang itu. Tanpa basa-basi lagi, Evan langsung mendaratkan bibirnya di atas bibir Risya dan mulai melakukan nafas buatan.


"Tidak bisa paman! Aku sudah melakukannya beberapa kali, tapi hasilnya tetap sama!" Jawab Evan, masih memperhatikan Risya dengan ekspresi wajah yang sedih.


"Tunggu disana, setengah menit lagi aku sampai." Pesan Freddy kepada Evan.


"Risya! Apa kau benar-benar akan berakhir seperti ini?" Gumam Evan, memejamkan matanya sendiri. Dia benar-benar merasa tidak menyangka kalau peremuannya kali ini adalah pertemuan terakhirnya?


Evan seektika menggertkkan giginya, karena merasa tidak berguna. Sebab tidak mampu berbua tapa-apa pada orang yang sebenarnya diam-diam Evan sukai.


ZRASSHH.....


Hujan akhirnya turun juga. Evan masih bersikeras untuk melakukan CPR kepada Risya. Dan di dalam hujan yang sedang turun itu, sebenarnya Evan pun sudah menangis.


'Ris, aku pikir kau masih punya waktu yang llama sampai hatiku siap untuk mengungkapkan perasaanku padamu saat lulus nanti. Kenapa diam-diam kau seperti ini?' Racau Evan, sesekali mencoba melakukan nafas buatan lagi.


****************


"Wah! Poinnya tinggal sedikit lagi, Arshel! Kau harus menang!" Teriakan dari penonton terus menerus mengisi keramaian di dalam gedung olahraga.


Hingga secara tiba-tiba guru wali kelasnya Arshel datang dan berteriak. "Arshel! Ayahmu menyuruh untuk mengangkat teleponmu sekarang juga."


Arshehl melik kearah wasit, meminta pertandingan dihentikan sementara.


PRITTT.....


Setelah memberikan tanda permainan dihentikan sementara waktu, Arshel bergegas pergi ke ruang ganti untuk mengambil handphone yang dia simpan di dalam locker.


'Kenapa Ayah tiba-tiba menghubungiku?' Terheran sekaligus penasaran, setelah mengambil handphone nya, Arshel dibuat tercengang. Sebab ada 20 nitifikasi panggilan tidak terjawab.


Dengan kata lain semua panggilan itu adalah panggilan yang cukup mendesak,

__ADS_1


Tapi apa yng membuat Ayahnya sampai melakukan hal yang tidak pernah dilakukannya?


Arshel mencoba mnelepon balik sang Ayah. Tapi seakan itu adalah balas dendam karena tadi Arshel tidak mengangkatnya, sekarang Arshel pun jadi ikut terkena imbas juga. Arshel terus mencobanya lagi dan lagi, hingga suara riuh dari luar berhasil menarik perhatiannya.


WHOSSH...(3X)


"Eh, kenapa ada helikopter?"


"Bukannya itu helikopter milik rumah sakit Meditama? Rumah sakit terbesar di kota A? Kenapa mereka datang kesini?"


"Hei, ayo kita lihat lebih dekat, apa yang sebenarnya terjadi."


"Ayo...ayo..."


Merasakan adanya kejanggalan karena sang Ayah menelepnnya terus dan disaat yang sama ada helikopter dari rumah sakit yang datang kesekolah.


Arhsel pun jadi ikut pergi untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Tapi di saat itu juga Arshel terus mencoba menghuungi Ayahnya berulang kali juga.


"Wah... Ada helikopter lain juga? Ada apa ini?" Ucapan dari salah satu perempuan yang sedang menonton lewat jendela berhasil menyita perhatian Arshel yang baru saja keluar dari ruang ganti.


"Helikopter hitam itu? Eh itu? Bukannya itu lambang dari keluarga Ellistone?"


"Oh iya! Apakah mereka datang kesini untuk menjemput Tuan muda Arshel dan Risya?"


Mendengar hal tersebut, Arshel langsung keluar dari gedung sekolah. Perlu waktu kurang dari 3 menit agar sampai di halaman belakang gedung sekolah.


Setelah berhasil keluar dari gedung sekolah, Arshel segera diperlihatkan 2 helikoter dengan warna yang saling berkontradiksi, hitam dan putih. Helikopter berwarna putih adalah helikopter khusus milik rumah sakit Meditama, sedangkan yang berwarna hitam adalah helikopter pribadi milik Vatler.


Arshel yang tidak peduli denan hujan yang sedang turun itu, terus Arshel terjang demi menghampiri Ayahnya yang sedang berdiri di depan seorang dokter.


Tidak ketinggalan, Arshel ternyata menemukan Evan juga, tengah berdiri di belakang pria yang Arshel duga adalah seorang dokter.


Namun hal yang membuatnya semakin masuk dalam raa penasaran adalah, 'Kenapa Ayah bereks[resi marah seperti itu?'


Di saat yang sama, sudut matanya berkerut etika sepasang mataya menemukan pria yang sebenarnya adalah Freddy, kini sedang menggendong seorang siswi perempuan.


Sebab perempuan yang digendong itu tertutup oleh jas dokter berwarna putih, Arshel pun jadi tidak tahu siapa perempuan itu.


"Berikan dia padaku!" Desak Vatler kepada Freddy agar memberikan tubuh perempuan yang sedang Freddy gendong itu, kepada Vatler.


"KKau gagal lagi." Sindir Fredddy.


Vatler yang benar-benar merasa terdesak sendiri, dengan rahang yang semakin menengang itu, Valer pun langsung merebut tubuh perempuan yang Freddy gendong itu.


Dalam perasaan yang sucah bercampur aduk, perasaan marah ingin membunuh Freddy di tempat itu juga.


Sayangnya dirinya harus terikat dalam kondisi lain. Dia harus pergi dari sana secepatnya untuk melakukan sesuatu yang bisa dia lakukan untuk seseorang yang saat ini sduah terkulai tidak sadarkan diri di gendongannya.


Risya.


Itulah tubuh yang sedang Vatler gendong di kedua tangannya.


'Kenapa tubuhnya lebih ringan ketimbang bulan lalu?' Batin Vatler. "Tch..." Membawa perasaan dendamnya, Vatler buru-bur pergi menuju helikopternya sendiri, sampai di saat yang sama Arshel berlari menghampirinya.


"A-aya, itu?"


"Kau tidak berguna!" Celetuk Vatler, menanggapi apa yang akan ditayakan oleh Arshel kepadanya dengan sebuah hinaan.


DEG!


Arshel langsung terkesiap dengan ucapan Ayahnya yang berkata kasar di dalam sekolahnya. Karena seang dalam kondisi hujan, maka tidak akan yang mendengar hinaan itu.


"Padahal sduah dibilang, agar kau selalu pakai jam tangan yang Ayah berikan kepadamu. Tapi sia-sia, aku memberikannya padamu." Sarkas Vatler kepada Arshel.

__ADS_1


__ADS_2