Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
161 : IPHTV : Risya Risyella


__ADS_3

Setelah selama lebih dari satu setengah jam Vatler membuat lubang untuk meakamkan anaknya. Akhirnya dia selesai juga.


Menggalinya sendirian, tanpa minum, dan istirahat.


'Stamina Ayah memang selalu saja kuat.' benak hati Arshel, melihat sang Ayah sudah keluar dari lubang sedalam dua meter lebih sedikit itu dengan cukup mudah.


Tapi, dengan selesainya pekerjaan yang di lakukan oleh Ayah, berarti artinya saat ini adalah perpisan yang sesungguhnya untuk mereka berdua?


"Lalu sekarang apa?" Tanya Arshel, dia tidak tahu harus apa, karena yang saat ini Arshel tahu adalah untuk meletakkan peti mati di dalam sana.


Namun bagaimana caranya?


Vatler yang sudah dibanjiri keringat itu, segera menjawab. "Menguburkannya."


"Caranya? Kan Ayah sendirian."


"Memangnya apa yang tidak bisa aku lakukan, jika memang sendirian?" Tanya balik Vatler kepada anaknya yang kebingungan itu.


Bagi Vatler, melihat wajah bingung dari Arshel adalah sesuatu yang cukup langka.


Tapi tatapan matanya kembali terfokus pada Risya yang sudah berpenampilan cantik layaknya seorang putri, karena sebelum ini, Vatler meminta seseorang untuk merias Risya agar terlihat cantik.


Dan kecantikan dari wajah anak perempuannya itu pun sungguh membuat Vatler teringat kembali dengan wajah Risyella saat dirinya menikah dengannya.


Itu cukup sama persis.


Makannya Vatler pun kembali menoleh ke belakang, dimana makam milik Istrinya itu berada.


Dan lagi-lagi, sebauh halusinasi itu kembali mendatangi Vatler.


Dia melihat Istrinya, yaitu Risyella, dia sedang duduk di atas batu nisannya sendiri sambil menatap penasaran lubang kuburan yang baru saja Vatler buat.


"Apa ini? Untuk siapa? Apakah aku akhirnya punya teman, untuk menemaniku disini?" Tanya Risyella, masih tidak mengalihkan pandangannya dari lubang kuburan yang ada di samping kuburan Risyella persis.


'Kenapa aku jadi berhalusinasi seperti ini? Apakah aku terlau memaksakan diri?' Pikir Vatler, dia memejamkan matanya, mencoba untuk memperbaiki pikirannya yang terasa kacau itu.


"Vatler, suamiku yang tampan, yang gagah, yang kuat, pria yang tidak ada tandingannya, datang kesini. Menggali lubang, apakah pekerjaannya jadi penggali lubang ya?" Kata Risyella sambil bersenandung membuat lagunya sendiri.


Selagi bersenandung ria seorang diri seraya mengitari pohon Wisteria, Risyella pun sempat berjongkok karena menemukan tunas baru di sebelah makamnya, yaitu anak pohon dari Wisteria itu sendiri.


"Aku ada teman pohon lagi nih, jadi tambah ramai saja." Risyella mencoba untuk menyentuh daun itu, tapi tidak bisa dia lakukan, karena memang sudah tidak punya tubuh fisik lagi. "Tapi sebenarnya, apa yang kamu bawa di dalam peti mati itu?"

__ADS_1


Dan Risyalla yang cukup penasaran, mengalihkan tujuannya untuk pergi menghampiri mereka bertiga .


"Dia anak perempuan yang cantik, tapi kenapa lumayan mirip aku?" Risyella kemudian menoleh ke arah Vatler, dan menatapnya dengan cukup lekat.


"Ada apa Ayah?" Tanya Arshel, melihat raut wajah Ayhah nya itu cukup serius, sampai merasa kalau Arshel seperti baru saja melakukan kesalahan dan ketahuan oleh sang Ayah.


"Tidak, bukan apa-apa."


"Eh~ Dia anakmu ya? Kenapa tampan? Gen milikmu memang bagus. Benar-benar bibit unggul, dan untungnya aku mendapatkan bibit unggul milikmu. Aku jadi merasa beruntung, bisa merasakan nikmatnya saat berhubungan denganmu, walaupun saat itu kamu sungguh cukup kasar.


Tapi apa gunanya itu, karena kamu cukup kuat na bertenaga, aku jadi terpuaskan. Vatler, terima kasih, karena kamu melanggar kontrak sendiri, dan membuatmu akhirnya bisa menyentuhku.


Walaupun agak kurang menyenangkan, tapi aku sungguh tidak mempermasalahkan itu." Ucap Risyella secara terang-terangan, sambil menepuk perutnya yang kempes?


Menyadari hal itu, Risyella menatap Vatler dengan ekspresi khawatir.


"Bukannya aku sedang hamil anakmu ya? Kenapa perutku kempes? Vatler, ini kenapa perutku kempes?" Menunjuk ke perutnya yang sudah datar itu kepada Vatler.


Vatler yang merasa pikirannya tetap kacau, mencoba untuk beristirahat di bawah pohon sambil minum yang di sodorkan oleh Arshel.


"Kira-kira apa yang sedang Ibu lakukan di atas sana ya?" Tiba-tiba saja Arshel bertanya.


Risyella yang memang tidak punya ingatan tentang dirinya setelah melahirkan, membuat Risyella pun cukup penasaran.


"Apa kamu mengkhianatiku? Kamu memberikan bibit unggulmu kepada wanita lain? Iya yah? Kamu..setelah aku meninggalkanmu, kamu memberikan bibitmu kepada wanita yang lain, karena aku meninggal lebih dulu dan tidak memberikanmu anak?" Tanya Risyella dengan ekspresi wajah yang cukup khawatir.


Vatler mengerutkan keningnya, karena suaranya Risyella yang Vatler dengar itu benar-benar seperti nyata.


Risyella, aku mana mungkin memberikan bibitku kepada wanita lain, sedangkan aku menyadari kalau di hatiku itu hanya punya kamu seorang.' Tiba-tiba saja Vatler jadi membatin atas tuduhan tak berdasar dari Risyella ini. "Mungkin saja Ibu sedang bersenang-senang dengan Risya. Karena akhirnya dia bisa menemui Risya." Jawab Vatler atas pertanyaan Arshel tadi.


"Risya?" Risyella menatap kembali peti mati berwarna putih itu. "Aku rasa aku prnah ingat ingin menamakan anak perempuanku dengan nama Risya. Dan perutku yang kempes ini-" Risyella melihat ke arah Vatler lagi yang terlihat termenung. "Ada apa ini? Kenapa raut wajahmu sedih? Ak-"


Kata-katanya kembali menghilang, setelah menyadari sesuatu yang aneh pada dirinya.


Ketika Risyella melihat ke arah bawah, Risyella langsung memperlihatkan ekspresi cemas nya. "Vatler, kenapa gaunku berdarah? Kakiku? Apa aku mengalami sesuatu? Apakah aku keguguran, makannya di bawah sana rasaya sangat sakit dan bisa berdarah banyak seperti ini? Apa kamu mau diam saja? Ini..berdarah."


Risyella yang ketakutan, perlahan berjalan mundur, sambil sedikit mengangkat dress mini miliknya hingga ke paha. Itu benar-benar berdarah, dan asalnya memang berasal dari pangkal paha miliknya.


"Hah~" Vatler menghela nafas kasar, setelah selesai beristirahat, Vatler kemudian berdiri dan menghampiri kembali peti mati milik Risya.


Dia memandangi wajah Risya yang terlihat tenang itu.

__ADS_1


Karena Vateler sudah mencuci tangan, Vatler pun meraih wajah Risya yang terlelap tidur, tapi tidur itu akan berlangsung selamanya.


Setelah meraih wajah Risya, Vatler pun membungkukkan tubuhnya ke depan sampai wajah diantara mereka berdua akhirnya semakin dekan dan pada akhirnya habis, setelah Vatler memberikan kecupan di atas dahi Risya.


CUP.


"Semoga kamu bisa bertemu dengan Ibu, maafkan Ayah, karena Ayah tidak pantas untuk Ayahmu, sampai membuatmu seperti ini. Semoga kamu bahagia, setelah mendapatkan apa yang kamu inginkan selama ini, Risya." Ungkap Vatler di depan wajah Risya persis.


Ucapan dari salam perpisannya dengan anak perempuannya itu.


"Ayah~" Lirih Arshel, untuk pertama kalinya melihat tatapan sang Ayah yang begitu sendu itu.


"Jadi itu kedua anakmu? Dan Risya, apa yang terjadi kepadanya? Kenapa bebricara seperti itu kepadanya?" Tanya Risyella, bingung dengan pemandangan aneh yang ada di depannya itu, apalagi di tambah dengan lubang kuburan yang baru saja di gali secra pribadi oleh Vatler sediri, itu sudah menjadi sebuah jawaban yang cukup jelas, kalau Risya akan di makamkan di sebelahnya?


Setelah selesai memberikan salam perpisahan, sekarang giliran Arshel pula.


Dia juga sama-sama memberikan salam perpisahannya, dengan memberikan kecupan, tapi Arshel melakukannya di pipi Risya, dan berkata : "Semoga ini pilihanmu yang tepat, berbahagialah dan temani Ibu, apa kamu mengerti?"


Barulah, selepas mengatakan salam perpisahan kepada mereka berdua, Vatler menutup peti mati itu kembali.


*


*


*


Risya, dan Arshel, mereka berdua akhirnya memperhatikan seberapa kerasnya pria di dapannya itu untuk meletakkan peti mati itu dengan cukup hati-hati ke dalam lubang kuburan galian yang di gali langsung oleh Vatler.


"Risya. Jadi itu anakku dan anakmu? Tapi kenapa, dia meninggal? Apalagi yang kamu lakukan kepadanya, Vatler? Padahal aku pikir, aku saja yang menderita, itu sudah cukup. Tapi rupanya tidak ya?" Ucap Risyella pada Vatler yang kini tengah dibantu dengan alat khusus, Vatler pun mampu untuk meletakkan peti mati ke dalam lubang kuburan dengan cukup baik.


Dan setelah itu?


"Maafkan aku Risyella. Aku sama sekali tidak bermaksud melakukannya, sampai membuatnya seperti ini." Ucap Vatler, akhirnya karena terbuai dalam halusinasi miliknya yang terasa cukup nyata itu, membuat Vatler seakan sedang menjawab pertanyaan dari Risyella.


Sedangkan di mata Arshel sendiri, itu terlihat seperti sebuah pengakuan atas kesalahannya pada dirinya sendiri, tepat di makam sang Ibu juga Risya.


"Tapi kamu sudah melakukannya." Ucap Risyella seraya menatap sosok dari pria tinggi dan besar ini. "Kamu sudah melakukan hal ini kepadaku, juga kepada Risya, Vatler-" Risyella yang kini ada di depan Vatler persis, seolah sedang menyandarkan kepalanya di depan dadanya Vatler, dan Vatler sendiri hanya dia berdiri di tempatkan saja, membiarkan apa yang terlintas di benak dan pikiran yang membuatnya kembali berhalusinasi itu.


"Aku kesal, karena kamu tidak bisa berubah, tapi walaupun sudah seperti ini, aku masih saja tidak bisa membencimu." Imbuh Risyella, "Apakah karena aku begitu sangat mencintaimu, membuatku semakin bodoh? Aku tidak bisa membencimu, Vatler. Aku hiks...aku sama sekali..hiks tidak bisa membencimu." Ucapnya lagi.


Risyella pun semakin menundukkan kepalanya, dia tidak tahu bagaimana bisa, dirinya tidak bisa memarahi pria yang ada di depannya ini?

__ADS_1


__ADS_2