Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
163 : IPHTV : Wujud


__ADS_3

"Aku tidak jadi pindah." Imbuhnya.


"Apa alasanmu tidak jadi pindah? Bukannya nenek sudah mengizinkanmu untuk piinda dari sana, dan sudah mengatur keberangkatanmu juga semua berkas-berkasnya." Tanya Vatler.


Vatler dengar dari Bibi Jeni, kalau Arshel minta untuk pindah sekolah. Bahkan semua berkas untuk kepindahan Arshel dari sekolah lama ke sekolah baru sudah tujuh puluh persen siap, tapi apa yang baru saja Arshel katakan adalah dia tidak jadi pergi?


Kemana perginya niat untuk bersikeras ingin pindah itu?


Meskipun baru kemarin, urusan untuk pindah sekolah bagi keluarga Ellistone itu bisa di kerjakan dengan cepatm dan Arshel sekarang justru merubah pikirannya itu.


"Aku hanya tidak ingin pergi meninggalkan kenanganku saat aku sekolah bersama dengan Risya."


Vatler merapatkan bibirnya. Dia ternyata mendapatkna sebuah jawaban yang hampir sama dengan apa yang sedang Vatler pikirkan.


Karena setelah kejadian tadi, halusinasi yang membawa mereka berdua saling bertemu dengan sosok dari roh Risya dan Risyella, membuat Vatler juga sebenarnya akan mengurungkan niatnya untuk kembali bekerja.


Dia ingin merasakan rasanya hidup sebagai orang normal.


Dan jika-


"Dan aku tidak akan tinggal dengan nenek. Aku sudah memberitahu kepada nenek, kalau aku ingin tinggal di sini saja bersama dengan Ayah. Karena dengan semua keutusanku itu, aku pikir hatiku jadi merasa terus berada dekat dengan Risya juga Ibu.


Jadi-" Arshel mengalihkan pandangannya dari menatap langit untuk menoleh ke arah Ayah nya yang masih berdiri di tempat dan smaa-sama saling menatap satu sama lain. "Apakah aku bisa tinggal di sini juga, menemani Ayah?"


Vatler sedikit melebarkan matanya.


Di tengah-tengah kalau dirinya akan berakhir tinggal di rumah sendirian, ternyata semua itu hanyalah imajinasi yang tidak ada artinya sama sekali, sebab Arshel rupanya merubah segala keputusannya dari pindah sekolah ke luar negeri juga tidak akan tinggal bersama dengan neneknya.


Arshel, satu-satunya harta yang masih tersisa itu rupanya masih bisa ingat dengan Ayahnya, "Seorang pria yang tidak pantas di panggil Ayah, karena aku tidak bisa jadi Ayah yang baik."


"Kalau tahu tidak pantas, maka belajarlah. Bukannya itu yang selama ini Ayah lakukan? Belajar sampai Ayah sendiri bisa melakuan banyak hal. Padahal umur sudah ada di kepala empat, tapi terlihat tidak seperti itu."


"........!" Vatler mengerjapkan matanya. "Jangan memuji orang seperti itu."


"Siapa yang memuji, aku hanya memberitahu."


"Itu sama saja."


"Tidak. Itu beda arti."


"Tapi Ayah mendengarnya seperti sebuah pujian saja."


"Ya sudah kalau Ayah memang menganggapnya sebagai pujian. Padahal kenyataannya memang seperti itu kok." Perbincangan akan dari perdebatan mereka berdua pun berakhir dengan acara saling menatap satu sama lain.


Karena beberapa waktu tadi, itu adalah kali pertama untuk mereka berdua bisa bicara panjang lebar, dan bahkan sampai memperdebatkan kalimat.


Sekalipun kesedihan di dalam diri mereka masih ada karena di tinggal pergi oleh dua orang pelengkap keluarga kecil mereka, tapi karena saat ini hanya ada mereka berdua yang bisa saling melengkapi, maka Arshel dan Vatler pun harus menccoba meraskaan apa yang namanya bisa saling mengisi dalam sebuah kasih sayang.


Vatler yang kini sedang membawa tanaman berharga, dia berjalan menghampiri Arshel. Ketika sudah ada di depannya pesis, Vatler pun angkat bicara lagi. "Ulurkan kedua tanganmu." Perintahnya.

__ADS_1


Tanpa sungkan, Arshel mengulurkan kedua tangannya ke depan, dan di saat itulah Vatler memberikan satu pohon Wisteria hasil dari galiannya tadi.


"Rawat itu." Perintahnya lagi, lalu Vatler pun memanggul cangkul itu di baju kanannya seperti seorang petani?


Tidak.


Yang ada, justru adalah Vatler jaid terlihat baru saja menguburkan seorang pembunuh secara diam-diam.


Ya...


Dari belakang, Arshel melihat kalau Vatler atau Ayah nya itu terlihat seperti seorang pembunuh berantai yang suka menguburkan mayat dari korbannya di wilayahnya.


"Ayah, tunggu!" Pinta Arshel. Berlari sambil membawa pohon Wisteria di kedua tangannya itu.


Setelah di tinggal pergi oleh Vatler juga Arshel, maka suasana di area kedua makam itu pun jadi kembali sepi.


Sepi untuk orang yang masih hidup, tapi tidak dengan Risyella dan Risya yang saat ini duduk bersama saling bersandar dengan punggung mereka berdua.


"Ibu,"


"Ada apa Risya?" Hanya meliriknya sekilas, tapi saat itu juga tatapannya kembali menatap punggung Vatler yang kian menjauh.


"Apakah Ibu benar-benar mencintai Ayah?"


"Kenapa kamu bertanya soal itu? Tentu saja Ibu mencintai Ayah. Walaupun Ibu berakhir seperti ini, Ibu tidak begitu mempermasalahkannya. Karena masih bisa melihat Ayah baik-baik saja, rasanya juga senang."


"Tidak, bukan itu yang Ibu rasakan sampai membuat Ibu berekspresi seperti ini. Ibu hanya merasa sedih, kalau Risya justru memilih Ibu, padahal Ibu berharap Risya bisa menemani Arshel juga Ayah."


"Jadi...maksud Ibu, aku tidak begitu di i-"


"Bukan itu yang Ibu maksud, tapi-, tapi Ibu merasa kalau Risya memang pantas hidup. Itu saja-" Risyella yang kehabisan kata-kata di buat diam. Dia tidak tahu lagi apa yang bisa dia katakan untuk di sampaikan kepada Risya agar paham maksud dari ucapannya. "Maaf-" Risyella langsung menunduk sambil memejamkan matanya setelah dia tidak bisa melihat punggung dari pira yang Risyella cintai itu lagi.


Mendengar sang Ibu meminta maaf, Risyella pun jadi tidak enak hati, karena menuduh Ibu nya yang tidak-tidak karena ucapannya tadi yang memang Risya pikir sedikit keterlaluan. "Ibu tidak perlu minta maaf soal apa yang aku katakan tadi."


Risya yang merasa bersalah pun menundukkan kepalanya juga, seraya menatap kedua kakinya itu. Kedua kaki yang tidak bisa merasakan sensasi dari rumput hijau yang sedang dia duduki itu.


SREKK....


Suara dari semak-semak yang tiba-tiba saja bergerak itu sontak berhasil menarik perhatian mereka berdua.


Tidak lama kemudian, asal dari semak-semak yang bergerak dengan cukup mencurigakan itu sukses memunculkan satu orang pria yang mereka berdua kenal.


"Freddy?" Panggil Risyella.


"Paman?" Panggil Risya.


Mereka berdua melihat sosok Freddy yang ternyata baru saja melakukan persembunyian diri dari Vatler.


"Jadi benar, Vatler memang memakamkan Risyella dan Risya di sini. Dia memang pria yang gila ya? Tapi aku salut, dengan kegilaannya itu, karena membuat Risyella dan Risya di tempatkan di bawah pohon Wisteria yang indah ini." Ucap Freddy seraya menatap pohon Wisteria dengan bunga berwarna ungu itu.

__ADS_1


WUSHH~


Angin itu kembali datang, mereka bertiga yang ada di sana, jadi saling menatap satu sama lain.


Freddy mengangkat jari telunjuk kirinya ke depan, dan seekor lebah berbentuk kecil pun mendarat di ujung jarinya.


"Kamu sudah bekerja keras." Puji Freddy sambil mengusap tubuh lebah kecil itu. Lebah kecil yang merupakan robot berukuran mini.


"Kerja keras untuk apa?" Tanya Risya penasaran.


Lalu setelah itu Freddy mengeluarkan handphone nya dan memotret kedua makam beserta pohon wisteria itu.


CKREK.


Risya dan Risyella pun jadi semakin penasaran dengan apa yang sedang Freddy barusan lakukan itu, hingga mereka berdua jadi melihat senyuman lemah lembut terlukis di bibir Freddy.


"Riyella, Risya, kalian berdua ada di sini kan? Duduk di bawah pohon Wisteria yang menjadi tempat berteduh kalian?" Tanya Freddy dengan cukup tiba-tiba.


Risyella juga Risya pun diam dengan tatapan datar, karena mereka berdua sama sekali tidak mengerti apa yang sedang di maksud dari Freddy yang tiba-tiba datang dan menyapa nama panggilan mereka berdua di depan mereka pula.


"Aku tahu kalian ada di sini, apalagi sedang menatapku."


"A-apa? Ibu- paman ini ternyata bisa mengerikan seperti ini." Ucap Risya, terkejut dengan perkataan yang barusan Freddy ucapkan itu untuk mereka berdua?


Bagaimana seorang manusia bisa tahu?


"Mungkin dia punya indera ke enam." Jawab Risyella. Hanya menebak-nebaknya, meskipun tebakannya sebenarnya salah total.


"Aku tidak bisa melihat kalian berdua, tapi handphone ini bisa melihat kalian." Tunjuk Freddy pada Risyella dan juga Risya. Memperlihatkan layar handphone milik Freddy yang menunjukkan sebuah gambar dalam bentuk animasi dua dimensi yang ternyata memang menggambarkan mereka berdua.


"Paman Freddy ini memang punya kecerdasan yang mengerikan. Kalau aku masih manusia, aku pasti sudah langsung lari." Beber Risya, dia jadi mulai merasa takut dengan cara Freddy yang bisa menemukan cara untuk membuat pria ini menemukan hal yang di luar akal manusia. Karena masih bisa-bisanya mengambil gambar tak kasat mata dan membuatnya jadi bentuk animasi dua dimensi, seperti yang ada di film-film kartunn.


"Kelihatannnya Ibu juga sama. Ibu akan langsung ketakutan dan lari terbirit-birit, karena di depan yang tak kasat mata ini, ternyaa bisa di rekam oleh kamera handphone." Keluh Risyella. Dia sampai lupa, kalau sekarang zaman semakin canggih, hingga apa yang tidak bisa di lihat dengan mata bisa di rekam oleh handphone.


Setelah memperlihatkan hal itu kepada Risyella dan Risya, Freddy memasukkan kembali handphone nya ke dalam saku jaket hoodie nya, lalu pria itu pun duduk di depan makam mereka berdua persis.


"Apa kalian berdua sudah baik-baik saja?"


"Hmm..." Risya hanya berdehem pelan sebagai jawabannya, karena dia sama sekali tidak akan bisa menjawab pertanyaan dari paman Freddy ini.


"Pastinya ya kan. Tidak ada kata rasa sakit lagi.Untuk Risyella." Freddy tiba-tiba memanggil nama Risyella, yang sontak membuat Risya pun menoleh ke belakang dan melihat sang Ibu yang juga sedikit terkejut itu. "Maafkan aku, karena aku tidak bisa menjaga Risya dengan baik. Wasiatmu tidak bisa aku jalankan dengan benar, aku jadi merasa bersalah kepadamu. Padahal kamu sudah susah payan melahirkannya." Ungkap Freddy.


Risya yag mendengar itu segera bertanya kepada sang Ibu. "Jadi Ibu, apakah itu alasanny paman Freddy sangat perhatian kepadaku, karena Ibu menyuruh paman untuk merawatku sebelum Ibu meninggal?"


Risyella pun menarik kakinya sehingga lutut dan dahu Risyella saling bertemu.


Lalu Risyella meletakkan wajah samping kirinya di atas lutut dan menoleh ke arah Freddy yang terlihat menyesal, karena tidak bisa menjalankan permintaan terakhir Risyella dengan baik?


"Tidak perlu minta maaf Freddy. Aku lah yang seharusnya minta maaf, karena harus merepotkanmu. Jadi kamu tidak perlu minta maaf, kamu itu sudah bekerja keras untuk diriku juga Risya." Ungkap Risyella, sekaligus menjadi jawaban tersendiri untuk Risya.

__ADS_1


__ADS_2