Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
83 : IPHTV : Keributan


__ADS_3

"Kevin!" Teriakan itu menggema sampai tempat Risyella berada.


Kevin yang hendak membuka pintu, terlebih dahulu sudah terbuka oleh seseorang.


KLEK!


"Nona!" Teriakan dari salah satu karyawan Kevin membuat Kevin langsung mengernyitkan matanya, sebab panggilan itu ternyata tertuju pada seorang wanita yang saat ini sudah berdiri di depan Kevin persis dengan ekspresi marah.


"Lepas!" Perintah wanita berambut pirang ini karena tangannya sempat di tahan oleh salah satu karyawannya Kevin, karena tidak membiarkannya masuk untuk menemui Kevin secara pribadi.


Karena sudah terlanjur bertemu dengan Bos Kevin, karyawan itu langsung melepas cengkraman tangannya.


"Apa yang membuatmu datang kesini dengan marah-marah?" Tanya Kevin, sambil berjalan kedepan agar Kevin bisa menutup pintu dan mencegah wanita cantik dengan tubuh seksi di depannya itu tidak masuk kedalam, sebab di dalam sana Risyella sedang melakukan ritual terakhirnya.


Dengan wajah geram, wanita ini berbicara, "Kamu bilang apa? Aku kan sudah bilang aku punya jadwal disini hari ini, tapi kenapa kamu malah mengundur perawatan kulitku jadi minggu depan? Jangan-jangan kamu menerima orang luar diam-diam ya?"


JLEB....


"Jika bukan aku, kan bisa?" Tanya Kevin, mencoba membujuk.


"Mana mungkin, mereka semua tidak ada yang bisa menyaingimu. Tetap harus kamu!" Tuntut wanita ini lagi kepada Kevin.


'Padahal sama-sama dipijat, kenapa dia memintaku sih?' Keluh Kevin di dalam hati. Alasan kenapa wanita di depannya itu menuntut agar Kevin yang melayani wanita ini adalah karena ingin mendapatkan sesi pijatan miliknya.


Yah...Kevin memang jago untuk hal yang satu itu, tapi sayangnya hari ini dirinya sudah terlanjur lelah untuk mengurus satu calon yang akan menjadi Nyonya muda Ellistone. Jika di paksakan, itu akan berpengaruh juga pada hasil pijatannya, karena itlah, Kevin meminta jadwal untuk klien pribadinya itu di undur dulu untuk sementara waktu.


Tapi apa jawabannya? Wanita itu sekarang sudah ada di depan matanya.


"Hahh....." Kevin menghela nafas panjang. Dia sudah cukup lelah, dan tidak mau dibuat lelah untuk adu mulut dengan wanita itu. Karena itu, dengan terpaksa Kevin pun mengiyakannya saja, "Kalau begitu ikut aku, aku akan melayanimu lebih dulu, barulah mereka."


"Tunggu. Aku inginnya di ruang ini." Sambil menunjuk ke arah pintu yang ada di belakang Kevin.


"................" Kevin pun menjeling kebelakang, dimana di belakang pintu itu sebenarnya sudah ada yang menggunakannya. "Tidak bisa,"


"Kenapa tidak bisa? Pasti tebakanku tadi memang benar kan? Siapa? Coba aku lihat orang yang sembarangan pakai ruang spa pribadiku." Karena sudah penasaran, wanita ini pun mencoba memasuki ruang spa tersebut.

__ADS_1


"Sebaiknya jangan." Peringat Kevin, menghalangi wanita itu menerobos masuk.


"Kenapa menghalangiku? Aku hanya ingin melihatnya saja, siapa orang yang berani menggunakan ruangan yang biasa aku pakai. Padahal harganya jelas tinggi," Kata wanita ini lagi.


"Arin, aku sudah bilang jangan. Ruangan di sebelah kan ada, apa bedanya dengan yang ini?" Tanya Kevin.


"Bedanya ya jelas pemandangannya." Ketus Arin.


"Hanya beda sedikit, kenapa menuntut sekali sih?" Kevin sudah mulai pusing dengan perdebatan yang sedang dia lakukan dengan Arin ini.


"Sudahlah...! Jangan mengulur waktu, aku ingin melihat orangnya." Arin mulai memaksa agar Kevin menyingkir dari jalannya.


"Arin. Jangan membuat keributan disini," Kata Kevin mencengkram bahu Arin dan mendorong Arin agar menjauh dari pintu.


"Kau menyembunyikan apa disana? Kenapa kamu sampai seperti ini? Kamu semakin mencurigakan loh." Tidak puas hati dengan apa yang dilakukan oleh Kevin, Arin pun langsung menginjak salah satu kaki Kevin sampai akhrinya Kevin langsung merintih kesakitan.


"Akhh...!" Rintih Kevin.


"Rasakan itu." Kesempatan besar karena Kevin melepaskan cengkramannnya dari bahunya, Arin langsung berjalan untuk menggapai pintu itu.


"Kevin!" Arin yang merasa tidak adil dengan keinginannya yang hanya ingin melihat siapa orang yang ada dibalik pintu itu, tangan Arin langsung memukul tangan itu dengan kuat. "Kevin! Lepaskan ini. Aku hanya ingin masuk dan melihat siapa orang yang sudah memakai ruangan spa milikku."


PLAK....


'Hii..! Kenapa tangan ini kuat sekali?' Arin mulai kesal sendiri, karena pukulannya tidak memberikan pengaruh apapun pada tangan itu.


"Arin," Panggil Kevin dengan lirih.


"Kevin, kamu mau aku injak lagi?" Tanya Arin dengan amarah yang sudah meluap.


"Kalau berani," Pungkas Kevin.


Merasa di tantang karena Kevin tiba-tiba mengatakan itu, Arin pun berbalik dengan kaki sudah bersiap untuk menginjak kaki Kevin. "Aku berani!" Jawab Arin.


Tapi tepat di saat Arin hendak mendaratkan sepatu high heals miliknya di atas kaki Kevin, yang dia sadari adalah dia melihat Kevin memakai sepatu boots?

__ADS_1


"Kamu yakin?" Tanyanya. Kini suara yang lebih dingin langsung menyapa indera pendengaran Arin, yang lantas membuat Arin langsung mendongak keatas.


"............!" Arin seketika mlongo. 'Siapa pria tampan ini?' Arin pun langsung terpesona dengan wajah rupawan Vatler yang saat ini memandang Arin dengan ekspresi serta tatapan yang dingin.


Tapi kesan dari aura yang terlihat seperti akan membunuh itu seketika langsung berubah saat di tangan kiri Vatler ternyata sedang memegang paper bag berwarna coklat dan memiliki gambar donat?


'Apa dia mau membukakan pintu untuk aku?' Batin Arin penuh dengan harap. Tetapi jika mengingat tadi Arin marah-marah sampai memukul tangan Vatler dan akan menginjak kakinya, Arin jadi tersenyum canggung.


"Masih mau menghalangiku?" Tekan Vatler.


Secara, Arin menelan ludahnya sendiri setelah suara yang begitu rendah di sertai tatapan yang sengit itu langsung menusuk sampai ke tulang Arin. "Untuk yang tadi, karena aku memukul tanganmu, aku minta maaf ya?"


"Minggir. Aku tidak memerlukan permintaan maaf darimu." Imbuh Vatler.


Arin yang merasakan aura begitu hitam keluar dari tubuh Vatler, Arin yang sudah tidak punya nyali lagi untuk berbicara lebih lanjut dari itu, perlahan bergeser kesamping kanan.


"................." Melihat Arin sudah bergeser menyingkir dari jalannya, Vatler akhirnya dengan leluasa masuk kedalam ruang spa ditambah dengan membawa sebuah bingkisan yang dipesan oleh Risyella yaitu donat.


KLEK.


Setelah pintu tertutup, Arin yang awalnya termangu karena masih terpana dengan pria tinggi dan tampan tadi kini Arin langsung menjeling tajam kearah Kevin.


Arin berjalan menghampiri Kevin dengan langkah kaki tegas.


Kevin yang masih berdiam diri di tempatnya terus hanya memandang Arin dengan ekspresi sedikit jijik. Jadi saat Arin sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan, Kevin pun jadi dibuat sedikit mundur kebelakang.


"Kevin, siapa pria yang tiba-tiba muncul itu?"


"Kenapa tadi tidak tannya langsung saja?" Sahut Kevin.


"Itu sudah berlalu. Jawab saja siapa pria tadi?!" Tanya Arin lagi dengan cukup menuntut.


"Aku tidak bisa menjawabnya." Itulah yang bisa Kevin katakan kepada Arin.


"..........." Arin yang hanya mendapatkan hal yang sia-sia, memutuskan mengurungkan niatnya untuk bertannya lebih lanjut siapa pria tadi kepada Kevin, karena Arin pastinya akan menanyai mereka, Arin melirik ke arah pegawai Kevin yang saat ini sedang membereskan peralatan spa yang baru digunakan. 'Aku harus cari tahu siapa pria tadi.'

__ADS_1


__ADS_2