
“Para hadirin, mari kita saksikan resepsi pernikahan termegah sepanjang masa. Dengan dua calon mempelai yang sudah siap merubah status mereka ke jenjang yang lebih serius lagi. Mana tepuktangannya?”
PROK…PROK…PROK….
Tempat yang megah, mewah, besar, dan di hadiri lebih banyak orang dalam berbagai kalangan.
Mereka memenuhi undangan itu demi melihat dua orang pemuda itu akan menjalin kisah asmara mereka sebagai Suami dan Istri, dan itu sama hal nya dengan apa yang sudah Vatler dan Risyella alami saat ini.
“Apakah resepsi pernikahanmu sebesar ini?” Serena yang tidak henti-hentinya bertanya itu membuat Vatler sebenarnya sangat enggan untuk memberitahu privasinya, apalagi kepada orang lain seperti ini.
“Tidak.”
“Ohh…apakah sudah bulan madu?”
“Kamu benar-benar iri ya, karena aku sudah menikah, maka dari itu bertanya terus?” Cakap Vatler.
Dan Serena langsung menyangga kepalanya di atas pagar besi pembatas yang ada di lantai dua, seraya memperhatikan satu persatu acara dari resepsi pernikahan yang sedang diadakan di bawah sana.
Senyuman lemah pun menghiasi bibirnya yang sedari tadi tidak menunjukkan reaksinya. “Ya, aku memang iri. Kenapa? Apakah aku tidak boleh merasa iri pada orang yang aku sukai ternyata sudah menikah.” Terang Serena, atas pertanyaan Vatler tadi, seakan sedang mencibirnya?
Tentu saja iya, Vatler memang sedang mencibirnya, karena dengan berkata seperti itu, maka Vatler berharap kalau Serena tidak akan lagi melakukan hal tidak berguna seperti mengintainya.
“Kenapa tidak boleh, itu terserahmu.” Kata Vatler.
Dengan demikian, mereka berdua pun hanya berdiam diri di lantai dua, dan menonton acara itu sampai separuh acara saja, karena Vatler dan Serena bukan tipe orang yang suka menunggu seperti itu, sebab disini yang paling penting adalah mereka berdua sudah hadir.
__________
Setelah bisa pergi dari tempat membosankan seperti itu, seperti yang di sepakati antara Serena dan Vatler, merek berdua saat ini pergi menuju satu butik, tempat dimana Vatler menyewa jas.
KLING…
Satu lonceng yang terpasang di atas pintu itu menjadi tanda adanya tamu yang hadir.
“Oh Tuan Vatler, anda sudah selesai dengan keperluan anda?” Tanya wanita berkacamata oval ini, melihat salah satu pelanggannya sudah kembali lebih cepat.
__ADS_1
“Hmm…” mendehem pelan sambil menyerahkan paper bag kepada wanita itu.
“Terima kasih, lalu…siapa yang anda baw-” Wanita ini langsung menunjukkan keterkejutannya, sebab wanita yang Vatler bawa saat ini adalah, “Nona Serena?”
Serena hanya melambaikan tangannya.
“Ada apa ini? Apakah ada sesuatu ya-” Sebelum pertanyaan atas kesalahpahaman yang dimiliki wanita ini terjadi, maka Serena lebih dulu menyela.
“Any, kami hanya teman, dan dia kebetulan ingin pesan ikat rambut untuk seseorang yang dicintainya, apakah bisa dikerjakan sekarang juga?” Terus terang Serena, kepada wanita tersebut.
‘Di cintainya? Serena sampai mengatakan itu kepada dia agar dia tidak punya salah paham ya. Diam-diam Serena inni bisa menghanyutkan juga.’ Dan Vatler tentu saja segera mengkonfirmasi penjelasan yang dibumbui kebohongan itu, sebab Vatler tidak atau mungkin belum, memiliki rasa cinta terhadap Istrinya, Risyella. “Apa yang dia katakan benar. Buatkan beberapa untukku, sekarang juga.”
“O-oh, baiklah.” Jawab Any ini dengan gugup, sebab hampir membuat kesalahpahaman, karena mengira Serena yang ada di depannya itu benar-benar punya hubungan khusus dengan Vatler itu. “Mohon ditunggu, saya akan langsung mempekerjakan beberapa orang sekaligus agar bisa cepat jadi.”
Dan Any langsung pergi meninggalkan Vatler dan Serena di sana.
“Aku pikir tidak sampai perlu membuatnya. Kan banyak yang dijual dalam bentuk jadi, kan?” Tanya Vatler, bingung kenapa Serena justru menyarankan untuk membuat ketimbang beli dalam bentuk jadi.
“Hadiah untuk orang yang istimewa juga harus dibuat dengan istimewa. Dan semua wanita menyukai hadiah yang dibuat khusus untuk dirinya. Jadi itulah, kenapa aku ikut denganmu kesini, agar kamu bisa tahu.” Terang Serena lagi.
“Lagi pula aku juga jadi ingin pesan sesuatu disini. Kamu tunggu ya.” Toleh Serena, menunggu jawaban serta reaksi apa yang sedang Vatler buat saat ini?
“Hmm…aku akan duduk disana.” Jempolnya menunjuk pada satu ruang tamu yang ada di sebelah kirinya.
_____________
“Loh? Kemana dia?” Jessie tidak tahu harus kemana lagi, karena…
“Kepada Tuan Vatler dan Nona Serena, harap naik ke atas panggung untuk pengambilan gambar.” Beritahu MC ini, agar kedua orang yang baru saja di sebutkan itu untuk segera naik ke atas panggung untuk sesi foto dengan sepasang pengantin baru ini.
Tapi…
“Maaf, Tuan Vatler dan Nona Serena sudah lebih dulu pamit pulang, karena ada urusan mendesak.” Ucap pria ini, yang bertugas mengatur keluar masuknya tamu undangan yang hadir.
“Tuan Jessie, bagaimana?” Bisik Mc ini kepada Jessie.
__ADS_1
“Lanjutkan saja dengan daftar nama yang ada.” Sahutnya.
“Baik.” Mc ini mengangguk paham.
Mendengar Jessie tidak berhasil membuat Vatler ikut dalam sesi foto, pengantin wanita ini jadi sedih.
“Yah Jessie, padahal aku ingin punya foto kenangan dengan calon kencan butaku dulu.” Rungut wanita ini, dimana statusnya sudah resmi menjadi istri Jessie.
“Irvie, kamu itu sudah jadi istriku, kenapa membahas laki-laki lain di depanku seperti ini?” Jessie bertanya dengan nada berbisik.
“Iya aku tahu, tapi kan sayang, aku jadi tidak punya fotonya. Jangan cemburu seperti itu dong, lagi pula aku dan kamu sudah resmi jadi suami istri, jadi apa salahnya membahasnya. Kan aku dan kamu juga sudah jadi saling memiliki.” Jelas Irvine ini agar suaminya itu, Jassie untuk tidak cemburu lagi.
“Irvie, kamu ternyata bisa nakal juga seperti ini.” Jessie yang terpancing dengan omongan istrinya yang cukup masuk akal tapi juga lumayan menghasut keinginannya untuk menerkam istrinya itu, membuat Jessie itu langsung mencium bibir istrinya saat itu juga.
“Kepada pengan-” Sampai Mc sendiri, merasa tersinggung, karena tanpa adanya arahan darinya, sepasang suami istri itu kembali memperlihatkan kemesraan mereka di depan umum dengan ciuman penuh gelora itu.
“Aumhh..!” Sampai Irvie itu sudah merasa sesak sendiri karena kehilangan banyak oksigen, sebab Jessie tidak mau membiarkan adanya celah sedikitpun untuk mel*u*mat bibir manis dari istrinya saat ini.
“Apakah, kita harus memberikannya tepuk tangan lebih meriah lagi pada pasangan yang sudah di mabuk cinta ini?”
PROK…
PROK…PROK…PROK….
Perlahan namun pasti, suara tepuk tangan itu semakin ramai dan mengisi suasana di dalam gedung itu menjadi lebih membahagiakan untuk Jessie dan Irvie kala itu.
*
*
*
Berbanding terbalik dengan Vatler dan Risyella yang saat ini sedang dilanda rasa delima, sebab yang satu merasa bosan sendirian, dan yang satu lagi yaitu vatler, merasa sedikit bersalah karena meninggalkan Risyella di tempat yang cukup terisolir.
Karena Villa yang menjadi tempat merkea berdua tinggal itu terletak jauh dari kota, dan alasan Vatler membuat itu jadi tempat tinggal mereka adalah agar bisa melindungi Risyella yang kemungkinan bisa saja akan menjadi incaran oleh musuh yang Vatler tidak ketahui, dan membuat Risyella seakan jadi kelemahan untuk Vatler.
__ADS_1