Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
155 : IPHTV : Kesedihan yang di bawanya lagi dari masa lalunya


__ADS_3

-"Vatler, kapan kamu bisa mengunjungiku? Aku kangen."-


"Apa kamu masih saja tidak mengerti, aku masih sibuk. Dan sekarang aku cukup lelah, jadi jangan ganggu aku dulu." Pinta Vatler kepada Angie.


Merasa suara yang Angie dengar itu adalah suara Vatler yang sedang menahan rasa kesalnya sendiri, maka Angie pun tidka bisa berbicara panjang lebar lagi.


-"Kalau gitu, jaga kesehatanmu. Jangan lupa untuk mengunjungiku, melihat muka Freddy terus seperti ini rasanya jadi bosan."- Pinta Angie kepada Vatler yang benar-benar sedang di landa dalam segala tekanan juga masalah, hanya karena wanita?


Itulah alasan di balik kenapa Vatle sering menghindari dari bergaul dengan wanita, karena semua wanita, bagi Vatler itu puna segudang masalah yang selalu di rengekkan.


Satu saja sudah cukup, tapi sayangnya Vatler harus menambah satu lagi, dan itu Risyella.


Setelah menutup telepon dari Angie, Vatler yang awalnya mencoba untuk kembali masuk, justru di perlihatkan oleh kondisi Risyella yang beberapa kali tidak bisa memegang garpu dengan benar, dan akhirnya karena menyerah, Risyella mendorong meja makannya ke depan, dan memutuskan untuk berbaring tidur.


Vatler menggeser pintunya, lalu dia kembali masuk kedalam kamar yang di gunakan oleh Risyella untuk beristirahat.


Terdengar isak tangis kecil yang perlahan mengisi kamar rawat inap yang besar itu.


"Kalau akhirnya seperti ini, lebih baik tidak usah pergi ke paris. Apanya yang liburan, jika aku malah diam di tempat seperti ini." Gerundel Risyella. "Harusnya aku memilih untuk tidak pergi. Disini sangat asing, dan Vatler selalu pergi. Aku lebih suka sendirian di rumah dari pada sendiri di kamar ini terus. Hiks...hiks..., aku bahkan tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Aku benar-benar orang yang bodoh, kenapa aku jadi seperti ini? Hiks...hiks.."


Dan tangisan itu kian keras. Tapi karena kamar pasien yang di pesan oleh Vatler punya fasilitas kedap suara yang baik, maka tidak ada seorangpun yang akan bisa mendengarnya dari luar, kecuali Vatler yang saat ini sudah masuk kedalam kamar, dan melihat punggung dari wanita yang sudah menjadi istrinnya itu tengah meluapkan kesedihan dengan tangisannya sendiri.


"Aku ingin pulang saja. Hiks...hiks...aku benar-benar sendirian di sini. Dingin dan merasa lebih sepi ketimbang di rumah. Huwahh..." Tangisan itu pun pecah juga, tepat di hadapan Vatler yang dari tadi sedang melihat istrinya itu sedang menangis tersedu-sedu karena merasa nasibnya sungguh malang.


Dan Vatler sendiri, dia tiba-tiba mengepalkan tangannya, dia sama sekali tidak pernah berpikir kalau liburan yang harusnya setidaknya bisa menyenangkan itu, justru berakhir dengan menyendihkan.

__ADS_1


Risyella adala salah satunya. Karena pesawat yang di tumpangi mereka berdua mengalami turbulensi, alhasil Risyella terluka.


Kalau seperti siapakah yang harus di salahkan?


'Apakah pihak maskapai itu? Atau aku yang salah membuat pilihan untukku dan untuk Risyella?' Pikirnya.


Baru juga seminggu berlalu, vatler dan Risyella menjalani status mereka berdua sebagai suami dan Istri, tapi kenyataannya, Risyella diam-diam jadi sering menangis.


'Bukannya dia yang memilih untuk menikah denganku, jadi bukan salahku juga kan? Kalau dia harus mendapatkan konsekuensi dari pilihanku ini?' Vatler mencoba menyangkalnya, bahwa apa pun keputusan yang mereka berdua ambil ini adalah hasil kesepakatan masing-masing.


Maka, yang diperlukan dari hubungan milik mereka berdua adalah ketahanan.


Itulah yang di pikirkan Vatler kala itu.


Tapi...


Flashback Off.


'Kenapa aku tiba-tiba jadi bermimpi masa laluku?' Batin Vatler. Dia perlahan membuka matanya. 'Lalu ketahanan ya? Kira-kira yang dimakusd ketahanan itu, apakah itu adalah sesuatu yang membuat Risyella dan Risya bertahan dari semua ini sampai mereka berdua pada akhirnya meninggalkanku?' Imbuhnya.


Setelah mengalami mimpi yang cukup panjang, sampai membawanya ke dalam masa lalunya saat dirinya mengawali hubungan pernikahan mereka berdua dengan segean kisah dan drama penuh tangis milik Risyella, Vatler pun sekarang akhirnya jadi merasakan penyesalan yang paling dalam, sebab sekarang ini, kedua malaikatnya sudah pergi meninggalkannya selama-lamanya.


Sampai ketika Vatler bangun dari atas tempat tidur milik Risya, Vatler langsung di kejutkan dengan dirinya sendiri yang ada di cermin, karena wajahnya ternyata basah karena keringat tapi juga air matanya.


Itu adalah air mata pertama dari kesedihan yang akhirnya Vatler miliki lagi setelah kehilangan satu anak perempuannya yang dia dapatkan dari hasil hubungannya dengan Risyella, yaitu Risya.

__ADS_1


Dan saat ini, baik itu kamar ini, maupun rumah yang vatler tinggali ini, adalah hasil dari kenangan lama yang terus di bawa sampai sekarang.


Sekarang? Rumah miliknnya itu sudah tidak ada tawa dan amarah dari dua orang anak yang biasanya selalu saja ada dan membuat suasana menjadi hangat.


Karena saat ini, baik itu Risyella sang Istri, maupun Risya yang merupakan anaknya, sudah benar-benar tidak bisa Vatler temui lagi.


KLEK.


Vatler keluar dari kamar anaknya, yaitu Risya.


"Hahaha...sini kalau kamu bisa tangkap ini."


"Arshel! Kembali bonekaku sekarang juga! Itu perintah!" Teriak Risya kepada kakaknya sendiri yang jahil karena mngambil boneka kesayangannya Risya yang berbentuk kelinci gemuk berwarna hitam bercampur putih.


"Perintah apanya? Kamu sendiri adikku, harusnya aku yang memberimu perintah, bukan sebaliknya bodoh." Sindir Arshel kepada adiknya, Risyella.


"Kamu yang bodoh, kakak bodoh! Masa sudah besar masih jahilin adiknya sendiri! Itulah yang ada pada dirimu, kakak bodoh!" Jerit Risyella. Dia sama sekali tidak sungkan-sungkan untuk meneriaki Kakaknya sendiri dengan sebutan bodoh.


Mendengar segala momen dari ingatan yang di miliki vatler, membuat Vatler tiba-tiba tersenyum tipis tapi sayangnya itu adalah senyuman kebahagiaan di samping kesedihan yang di milikinnya.


Sebab semua yang ada di rumah ini benar-benar sudah pergi meninggalkannya.


"Maafkan aku, karena aku tidak bisa menjadi ayah sekaligus suami yang baik." Gumam Vatler, kini dia melihat seluruh kondisi dari lantai satu dari lantai dua.


Dari ingatan tentang Risyella yang sedang berlari ke arah pintu depan, ternyata di lakukan juga oleh Risya, kenangan itu tidak bisa Vatler lupakan sama sekali, karena kedua perempuan itu berlari menuju pintu depan, adalah untuk melihat setiap kali Vatler pergi, dan kedua orang itu akan menatap kepergian Vatler.

__ADS_1


Sedangkan kenangan yang dimiliki oleh Vatler tentang Arsel adalah, saat ini Arshel sedang berdiri di samping Vatler persis sambil memandang Risya yang sedang duduk bermain sendirian di depan tangga.


__ADS_2