Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
49 : IPHTV


__ADS_3

Arshel yang bingung kenapa Ayahnya tiba-tiba menghina nya langsung, segera berjalan menghampii sang Ayah dan membuka jas yang menutup tubuh dari perempuan yang sedang Ayahnya gendong itu.


SRUK...


"................!" Wajah Arshel berubah mnejadi pucat pasi. Siapa yang ada di gendongan Ayahnya, tidak lain adalah Risya. "K-kenapa? Ayah, Risya kenapa?"


Vatler terus terdiam. Dia segera masuk kedalam helikopternya, dan segera memabwa mereka berempat pergi dari sekolah.


"..............." Vatler benar-benar memberikan tatapan bencinya kepada Arshel.


Tidak...


Vatler sebenarnya benci dengan dirinya sendiri maupun benci dengan takdirnya yang seperti ini?


Padahal besok adalah hari ulang tahun dari mereka berdua. Vatler sendiri sebenarnya sudah menyiapkan hadian lian untuk Arshehl dan Risya.


Tapi apakah semua usahanya untuk membuat hadiah secara pribadi untuk Risya akan menjadi sia-sia?


'APa ini benar-benar terjadi lagi kepadaku?' Detik hati Vatler, memandangi wajah Risya yang kian pucat.


Vatler langsung mendekap tubuh Risya lebih erat. Menempelkan pipi mereka berdua, lalu Vatler membatin lagi, 'Risya, aku mohon...jangan tinggalkan aku. Jangan menyusul Ibumu.'


*****************


Flashback On.


Di sebuah laboratorium komputer.


"Tuan, kapan semua ini harus dieselesaikan?"


Lebih dari 5 orang menggunakan jas putih, mereka semua menatap kearah Vatler yang sedang berkutat di depan layar komputer.


Vatler yang merasakan tatapan dari mereka semua, membuat Vatler menjawab. "Malam ini juga. Semuanya harus sudah jadi, karena aku akan memberikannya pada Risya yang akan berulang tahun besok."


Mereka semua seketika saling pandang satu sama lain, mereka tidak bisa berkomentar apapun setelah tahu tujuan diuatnya terknolgi mutakhir itu digunakan untuk hadiah ulang tahun untuk Nona Risya, maka dengan cepa-cepat mereka kembali bekerja di bidangnya masing-masing.


Vatler, dia sebenarnya memiliki laboratorium komputernya sendiri. Perusahaan ITVR membuat teknologi canggi yang bisa menampilkan seseorang dalam bentuk hologram 3D yang akan ditanamkan kecerdasan buatan, agar segala perasaan, emosi, tinggah dan sifat bisa bear-benar mencerminkan sosok yang akan ditampilkan dalam teknologi itu.


Sosok yang biasanya Risya harapkan untuk bisa Risya temui, yaitu Risyella.


Tapi sayangnya, tepat di tengah-tengan kesibukan Vatler, Vatler tiba-tiba menerima notifikasi pesan dari sesorang.

__ADS_1


".................." Vatler awalnya hanya meliriknya sekilas. Tetapi saat melihat orang yang mengirimkan pesan keadanya adalah Risya, Vatler langsung mengambiil handphone nya dan membacanya.


'Terima kasih karena ayah sudah mau merawatku yang bodoh ini.'


"Apa maksudnya?!" Vatler seketika hatinya merasa tidak tenang.


Vatler mencoba menghubungi RIsya, tetapi Risya tidak kunjung mengangkatnya, sampai 5 kali percobaan, Vatler tetap tidak mendapatkan jawaban.


'Sial! Kenapa aku jadi merasa gelisah? Aoakah sesuatu yang buruk sedang terjadi?' Batin Vatler sambil menyentuh dadanya sendiri. Jantungnya terasa berdebar, itu adalah sesuatu yang tidak pernah terjadi kecuali jika dia merasakan insting bahaya.


Tidiak mau hanya sekedar menunggu saja, Vatler langsung berlari keluar dari kantornya dan bergegas menuju Roftoop.


"Alvan! Kau ikut aku!" Perintah Vatler kepada pria yang sedang duduk hendak makan di ambang pintu helikopter.


"Memangnya kita mau pergi kemana, Tuan?" Tanya ALvan, buru-buru menutup kembali bekal makanan yang Alvan bawa dari rumah.


Vatler sedikit melirik ke arah tangan kiri Alvan. Dimana ketika 1 minggu lalu jari manis itu belum terselip cincin, kini jari manis Alvan sudah memakai cincin.


Terbesit rasa iri kalau Alvan saat ini benar-benar sudah mempunyai calon Istri, dan bekal makanan yang Alvan bawa itu juga hasil buatan dari calon Istri Alvan.


Dan rasa iri itu muncul ketika Vatler sendiri dulu tidak pernah sekalipun mendapatkan bekal makanan dari Istrinya, karena Vatler sendiri waktu itu tidak begitu membutuhkan makanan yang dimasak oleh Risyella.


"Kita pergi ke sekolah." Jawab Vatler singkat.


"Tuan And yang ma-"


"Kau hubungi saja Arshel," Pungkas Vatler sambil menyerahkan handphone nya ke Alvan agar Alvan lah yang menghubungi Arshel, sedangkan Vatler sendiri akan menerbangkan helikopternya send.


Alvan yang belum pernah melihat Tuan Vatler mengendarai helikopter, sekarang sedang dibuat takjub, karena dalam kurun waktu kurang dari 30 detik, Vatler mampu mengaktifkan semua tombol kendali helikopter, sampai akhirnya helikopter itu mulai terbang.


"Bagaimana?" Tanya Vatler.


"Tidak diangkat." Jawab Alvan, setelah mencoba menghubungi Arshel sampai 18 kali. Tapi hasilnya tetap sama


"Anak itu-" Ekspresi Vatler sekilas berubah menjadi bengus. Sampai Alvan sendiri tidak berani berkomentar apapun lagi. "HUbungi wali kelasnya." Celetuk Vatler.


"I-iya." Dengan gugup ALvan mencari nomor dari wali kelas Arshel. "Terhubung." Beritahu Alvan setelah mengarahkan handphone itu kearah Vatler.


"Hallo? Deng-"


"Beritahu Arshel, angkat teleponnya sekarang!" Pekik Vatler.

__ADS_1


"I-iya Tuan!" Setelah dijawab seperti itu, Alvan memutuskan panggilan tersebut.


"Telepon lagi Arshel!" Perintah Vatler sekali lagi, masih tidak bisa menghilangkan ekspresi seramnya dari wajahnya yang tampan itu. "Masih belum?"


"Iya."


"Sudahlah, aku tidak merngharapkannya lagi." Timpal Vatler.


Setelah itu, kurang dari 2 menit, mereka berdua akhirnya sampai di kawasan sekolah. Dan rupanya tidak hanya mereka saja yang datang, karena helikopter dari rumah sakit Meditama ternyata sudah lebih dulu sampai.


Sontak Vatler jadi bertambah cemas, saat orang yang muncul dari halaman belakang sekolah, ternyata Freddy. Lalu siapakah perempuan yang Freddy bawa?"


Terlihat dari sepatu putih yang dipakai oleh murid perempuan yang digendong oleh Freddy, tentu saja membuat Vatler seketika sudah menerima jawabannya.


Satu-satunya orang yang selalu dekat dengan Freddy akhir-akhir ini, itu adalah Risya.


"Tuan?" Panggil Alvan, saat meliha Vatler tiba-tiba berdiri dengan ekspresi antara marah bercampur dengan kecewa.


"................" Tanpa menghiraukan panggilan dari Alvan, Vatler kemudian berjalan mengampiri Freddy. "Berikan dia padaku." Ucap Vatler kepada Freddy.


"Kau gagal lagi." Sindir Freddy.


Mengabaikan sindiran dari Freddy, Vatler langsung merebut tubuh RIsya yang tertutup oleh jas putih milik Freddy.


"A-ayah itu-"


Geram Arshel baru datang, Vatle rlangsung berkata : " Kau tidak berguna." Celetuk Vatler, mulutnya tanpa sadar jadi mengeluarkan kata hina kepada Arshel yang terlihat kebingungan.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Flashback off.


'Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku disalahkan? Lalu Risya?' Pandangan matanya tetap tidak bisa Arshel alihkan pada tubuh Risya yang sedang digendong oleg Ayahnya.


Karena situasi terasa ada sesuatu yang tidak mengenakkan, Arshel terus berjalan mengekori Ayahnya, dan ikut naik kedalam helikopter.


"Alvan! Cepat, kita kembali." Perintah Vatler kepada Alvan yang akhirnya mengerjakan tugas yang sebenarnya.


"Baik, Tuan." Jawab Alvan, sekilas menjeling ke belakang, terlihat Nona Risya saat ini sedang dipeluk oerat oleh Tuan Vatler. 'Apa yang terjadi? Kenapa wajah Nona terlihat pucat?' Pikir Alvan, merasa khawatir pada keluarga yang sudah tidak utuh itu.


"Risya?" Arshel mencoba untuk membuka jas putih itu dari pada menutupi tubuh Risya terus. Arshel membuka jas itu, bertapa terkejutnya saat dirinya melihat saudarinya benar-benar tidak sadarkan diri?

__ADS_1


"Kenapa kau tadi tidak mengangkat teleponmu?" Tanya Vatler, masih saja tidak bisa menghilangkan rasa amarahnya, gara-gara oran yang bisa Vatler harapkan, membuat dirinya kecewa.


__ADS_2