
"Kenapa kamu berani sekali masuk kedalam kamar seorang pria?" Suara rendah lagikan dingin itu segera menyahut respon dari kesalahan Risyella yang menyerobot masuk kedalam kamarnya. "Apakah karena aku akan menjadi suamimu, makannya kamu punya nyali itu?" Imbuhnya.
DEG.
Dan suara dari segala pertanyaan yang menyangkut atas hubungan dari yang akan mereka berdua jalin itu membuat Risyella langsung mematung.
'Ah..iya yah. Kenapa aku jadi sok kenal dan sok dekat dengan laki-laki yang belum lama aku kenal. Meskipun sebentar lagi menikah, aku harusnya tetap membuat batasanku sendiri agar dia tidak selalu direpotkan olehku. Tentu saja aku harus begitu, karena jika tidak.....aku pasti bisa saja di benci olehnya. Dan aku tidak mau itu terjadi.' Pikir Risyella.
Menyadari akan kesalahannya sendiri yang masuk kedalam kamar milik Vatler yang notabene nya masih orang asing, maka Risyella pun melangkah mundur dan keluar dari kamarnya. Sambil menuduk, dia pun berkata, "Di bawah ada orang yang mencarimu. Itu saja, maaf karena aku sembarangan masuk." Ucap Risyella sebelum dia memutuskan untuk pergi dari sana.
"..................." Vatler yang sebenarnya baru saja mandi itu akhirnya melangkah keluar kamar dan melihat kepergian Risyella yang terlihat merasa bersalah. "Hanya karena aku mengatakan seperti itu, matanya sudah terlihat seperti mau menangis." Lirih Vatler.
Vatler sebenarnya tidak ingin berkata seperti itu. Tapi apa boleh buat? Dia tidak ingin Risyella sembarangan masuk ke kamarnya lagi, karena dia tidak begitu suka. Sekaligus dengan kejadian tadi, Vatler berpikir kalau hal seperti tadi tidak akan terjadi untuk yang kedua kalinya atau bahkan seterusnya.
Yah...itu memang peringatan yang sedikit keterlaluan, tapi apa daya...jika tidak seperti itu, Risyella pasti akan menyerobot kamarnya lagi.
"................" Mengingat Risyella tadi mengatakan ada tamu yang mencarinya, Vatler pun kembali masuk kedalam kamarnya untuk berpakaian.
Setelah berpakaian, Vatler keluar kamar dan pergi menghampiri tamu yang di katakan Risyella tadi.
"Oh..mereka." Gumam Vatler, ketika mengetahui yang datang sebenarnya adalah tiga orang desainer yang Vatler hubungi dan dia undang beberapa jam yang lalu agar datang kerumahnya untuk mengukur tubuh sekalian model apa yang gaun yang akan di pakai Risyella nanti.
Tapi....
'Mereka bertiga sudah mendapatkan makanan dan minuman, tapi dimana dia?' Lirik Vatler, ketika dia melihat kearah dapur, dia sama sekali tidak melihat batang hidung dari Risyella.
"Tuan," Sapa mereka bertiga secara bersamaan menyambut Vatler yang datang dari atas dengan pembawaan penuh dengan kharisma yang selalu saja melekat pada tubuhnya itu.
"Apa kalian sudah punya desainnya?" Tanya Vatler.
Mereka bertiga secara bersama-sama duduk kembali dan membuka tas yang mereka bawa, setelah itu mereka pun mengeluarkan buku sketsa mereka dan memperlihatkannya kepada Vatler.
Awalnya mereka menginginkan agar sketsa milik mereka di lihat langsung oleh Vatler, tetapi tatapan mata yang dingin itu seperti mengatakan untuk tidak perlu memperlihatkan kepadanya.
__ADS_1
"Kalian tidak perlu memperlihatkannya kepadaku, tapi pada Risyella."
"Risyella? Apakah itu nama calon Istri anda?" Tanya seorang wanita yang duduk di sofa paling ujung sendiri.
"Hmm....."
"Kalau begitu apakah calon Istri anda ada disini atau sedang dalam perjalanan kesini? Karena dengan begitu, kami bisa mengukurnya secara langsung." Ucap wanita yang duduk di posisi tepat di tengah-tengah mereka berdua.
"Bukannya kalian sudah melihatnya?" Vatler mengernyitkan matanya dan menatap mereka bertiga secara tajam.
Wanita yang duduk di depan Vatler dan berada di sebelah sisi kanan itu bertanya. "I-itu, apakah perempuan yang anda maksud tadi....adalah orang yang tadi membawakan kami minuman....dan makanan?"
'Apa mereka juga punya pemikiran yang sama dengan Le Na?' Pikir Vatler. Melihat wajah canggung dari mereka bertiga maka hal itu sudah membuktikan bahwa pikiran dari mereka bertiga juga sama, kalau Risyella bukan siapa-siapa yang mengartikan mengira kalau Risyella hanyalah seorang pembantu di rumahnya Vatler.
Itu memang bisa terjadi, karena mereka semua tidak akan mengira kalau yang akan menjadi pengantinnya Vatler adalah perempuan sederhana yang dia pungut drai desa, sehingga dari segi peampilannya yang polos, dan tidak memiliki satu pun yang menonjol menjadi ketentuan atas penilaian mereka dalam mendapatkan kesan pertama pada Risyella.
Tapi yang menjadi pertanyaannya adalah kemanakah perginya Risyella?
Kepergian dari Vatler pun tentu saja membuat mereka bertiga memulai pembicaraan mereka tentang calon Istri Tuan Vatler mereka.
"Jadi perempuan tadi, benar-benar calon mempelai wanita Tuan Vatler?"
"Walaupun Tuan Vatler tidak menagatakannya langsung, bukankah artinya perkataannya tadi menandakan kalau perempuan itu memang Calon istrinya?"
"Tapi kenapa..."
"Kalian berdua, sudahlah. Jangan membahasnya lagi, lagipun jodoh setiap orang yang akan di dapat pasti selalu berbeda dari ekspetasi. Jadi jangan membicarakan calon Nyona Ellistone, itu tidak baik dan kalian bisa saja langsung di pecat dari pekerjaan kalian, karena kita ini sedang berada di wilayah kekuasaan Tuan Vatler." Jelasnya panjang lebar, memberikan mereka sebuah peringatan keras agar tidak lagi membahas perempuan yang akan menjadi Istri dari Tuan Vatler mereka.
Mereka berdua pun terdiam dengan ucapan yang baru saja di dengarnya itu.
Karena pekerjaan mereka bertiga hanyalah untuk membuat gaun saja, maka mereka pun memutuskan untuk diam dan mencoba mengabaikan segala fakta menarik dari Tuan Vatler yang terkenal dingin itu.
*******
__ADS_1
'Apakah dia dikamar?' Tatapn Vatler pada sebuah pintu kamar yang saat ini sudah memiliki sang pemilik, yaitu Risyella.
Namun niat dari diri Vatler yang hendak mengetuk pintu untuk memanggil Risyella, keluar segera Vatler urungkan.
Saat ini ada dua hal yang Vatler pikirkan asal muasal kenapa Risyella pergi begitu saja setelah memberikan Risyella sebuah peringatan yang terdengar sedikit kasar itu.
Yaitu antara Risyella sedang merenungi dirinya sendiri karena berbuat salah, atau saat ini Risyella sedang tertidur, sebab seharian ini Risyella sudah mendapati beberapa insiden besar, jadi Risyella butuh menenangkan diri.
Karena itulah, Vatler pun beranjak pergi dari sana dan membatalkan niatnya agar Risyella menemui ketiga desainer itu.
*
*
*
Di dalam kamar.
Risyella saat ini sebenarnya sudah meringkuk di atas kasur sambil memegangi kepalanya yanng terasa sakit.
Tetapi rasa sakit yang dirasakannya itu bukan hanya rasa sakit di kepalanya, melainkan di hatinnya juga.
Antara merasa bersalah juga kecewa adalah prirotas utama yang sedang melanda hati kecilnya yang masih rentan akan namanya peringatakan kesalahan.
Karena itu, disamping dirinya saat ini sedang tersiksa sendirian karena sakit kepala, dia juga sedang menahan sakit hatinya yang muncul karena hal sepele
'Tapi aku benar-benar merasa sangat tidak berguna. Apakah aku layak bisa mendapatkan posisi seperti ini, di saat aku saja hanyalah seorang wanita bodoh yang tidak mengerti apapun. Aku jelas-jelas akan mengecewakan semua orang. Ya~ Itu pasti. Karena semua orang selalu menginginkan sebuah kesempurnaan.' Pikir Risyella. Saat ini sudut matanya pun sudah mulai berair.
Tangisan tanpa suara itu berasal dari sakit hati juga kecewa terhadap dirinya sendiri yang benar-benar Risyella anggap sebagai sosok yang tidak akan pernah berguna untuk siapapun.
Dan itu sangatlah mengganggu hatinya itu. Karena...
Risyella sama sekali merasa belum siap untuk menghadapi apa itu yang namanya pernikahan.
__ADS_1