
Arshel melirik ke arah bukunya dan berkata : “Aku memang sedang mencarinya, karena dia salah mengambil buku milikku.” jawab Arshel.
“....................” Risya tertegun mendengar Arshel ternyata mau membelanya. Meskipu, dengan cara yang terasa seperti orang yang sedang tidak berpihak pada siapapun.
“Apa?” dengan wajah terkejutnya, Rose memandang kedua orang itu dengan seksama.
Arshel yang memang malas untuk berbicara lebih lanjut lagi dengan Rose, segera mengatakan sesuatu kepada Risya, “Aku sudah menaruh bukuku di tasmu.”
"Jadi kau tadi ke kelasku?" tanya RIsya.
"Aku tidak akan mengatakan buku milikku sduah ada di tasmu, jika akubelum ke kelasmu."
"Ya, kan bisa saja kau menitipkannya pada orang lain."
"Aku bukanlah orang yang akan menitipkan barangku kepada orang lain." jelas Arshel "Tapi karena aku sudah meminjamimu buku, harusnya kau bisa menaikkan nilaimu."
'Yah.., it tergantung kemampuan juga. Dan..apkah nanti soalnya sulit? Akutidak bisa memprediksi. Padahal kau sendir iyang mengatakan aku ini bodoh. Jadi tidak usah mengharapkan apapun dariku,' pikir Risya.
‘Apa ini? Tidak sesuai dengan ekspektasiku, kenapa mereka berdua terlihat sangat dekat?.’ pikir Rose saat ditinggal pergi oleh mereka berdua begitu saja, dan para murid yang menyaksikan drama tadi, tidak ada satupun yang menolongnya.
Karena yang ada adalah Rose sudah di hampiri oleh guru.
“Rose, ikut ibu ke kantor.” ucap wanita ini, terhadap Rose yang masih berjongkok dan melihat kepergian dari mereka semua.
Rose menoleh ke arah belakang. Dia sekarang sudah diberikan tatapan sengit oleh guru BP.
_________________________
Sedangkan Risya yang sudah kembali ke dalam kelas segera disambut dengan semua tatapan dari semua orang yang ada di kelas.
Meskipun Risya tidak begitu dekat dengan mereka semua, tapi mereka tidak pernah sekalipun mengusiknya.
Mungkin karena dia adalah seseorang yang mempunyai hubungan dengan Arshel yang populer di sekolah, maka dari itu tidak ada siapapun yang berani mengganggunya.
“Risya, apa kau benar-benar baru saja bertengkar dengan anak pindahan itu?” tanya salah satu diantara mereka.
“Anak baru?” Risya tidak tahu ternyata perempuan yang mengajaknya bertengkar adalah seorang anak baru.
“Ya, dia baru pindah minggu kemarin, dan kau benar-benar berani dengan dia ya, mau bertengkar hanya karena masalah buku.” ucap sang ketua kelas.
__ADS_1
Risya kembali duduk di kursinya lalu kemudian dia menjawab, “Dia yang mengajak ribut dulu, menuduhku pencuri. Padahal……” Risya kemudian mengeluarkan buku milik Arshel yang sudah Arshel letakkan di dalam lacinya, dan menatap buku itu dengan penuh perasaan, karena setiap dia menyentuh buku itu, Risya merasa kalau kakaknya ada di sisinya terus. “Hanya karena aku salah ambil buku, aku jadi dituduh pencuri oleh orang yang tidak aku kenal, dan lagi-lagi pasti karena ingin cari perhatiannya, karena itu dia menuduhku sampai dia menamparku.”
Meski yang ditampar adalah pipinya, tapi yang Risya perhatikan adalah buku milik Arshel.
“.........................” semua orang yang lagi-lagi melihat wajah sedih dari Risya, membuat mereka tidak bisa berkata-kata lagi.
Risya selalu menyimpan perasaan itu dengan sangat hati-hati, itulah kenapa mereka tidak berani mengusiknya, karena setiap apa yang terjadi pasti akan Risya bahwa itu emua kedalam perasaannya sendiri.
Dua anak kembar yang memiliki sifat yang cukup berbanding terbalik.
‘Apa salahku? Sampai aku dituduh seperti itu?’ dikala masih berada di jam istirahat, Risya pun membuka buku IPA milik Arshel. Dia membacanya dan berusaha untuk memahaminya serta menghafalnya.
Anehnya, setiap melihat tulisan milik Arshel, dia jadi sedikit lebih memahami isinya.
Kenapa?
Risya juga tidak tahu, dan begitu mengerti akan alasannya.
Tapi apakah dengan membaca dan memiliki sedikit pemahaman, bisa merubah otaknya yang sering dikatai bodoh oleh Arshel?
Sampai di penghujung jam istirahat kedua pun, Risya tetap berusaha untuk belajar.
KRIINGG……
Sesi jam istirahat kedua pun berakhir, dan ulangan remedial yang diadakan di jam setelah istirahat pun dimulai.
“.....................” Risya terhenti saat akhirnya dia tidak bisa menemukan jawaban yang sedang dia korek di dalam kepalanya. ‘Apa aku benar-benar anak yang bodoh?’
Hatinya sebenarnya sedikit terenyuh karena isi kepalanya benar-benar tidak berjalan sesuai kehendaknya.
_____________________
Di jam setengah 3 sore.
Arshel yang akan mengikuti lomba mau tidak mau jadi memiliki tambahan jam pelajaran untuknya selama 1 jam setiap harinya, kecuali hari jum’at dan sabtu, itu diadakan setengah jam saja.
Dan hari ini, setelah tadi pagi Arshel mendapati adiknya ditampar keras oleh Rose, Rose tidak terlihat tanda-tanda memiliki niat untuk mencari perhatiannya lagi.
Mungkin karena itulah, saat jam pulang Arshel lagi-lagi jadi menemukan Risya sudah tertidur di bangku belakang dengan cukup nyenyak, padahal terlihat salah satu pipinya masih merah.
__ADS_1
“Ayo pulang.” perintah Arshel setelah masuk kedalam mobil.
“Baik tuan.” jawab paman Ard.
BRRMMMM………….
‘Apa tuan dan nona mendapatkan sesuatu lagi?’ lirik paman Ard.
“Nanti pergi ke apotek.” beritahu Arshel.
Arshel yang hanya memandang pemandangan diluar jendela, tidak menghiraukan akan ekspresi penasaran dari paman Ard.
Tidak sampai 5 menit, Arshel sudah berada di depan apotek yang terletak di pinggir jalan kota.
Seperti biasa, kedatangannya selalu membawa gempar para perempuan yang melihatnya.
“Siapa dia? Apa dia model?”
“Wajahnya tampan sekali, dia mirip seperti seorang aktor.” senyuman dengan wajah bahagia terus terlukis di wajah semua kaum perempuan yang melihat kehadiran dari Arshel.
“Selamat datang tuan, apa ada yang ingin anda beli?” seorang pelayan toko, segera menyapanya dengan ramah.
“Salep kulit untuk menghilangkan bengkak.”
“Baik, tunggu sebentar ya tuan.” ucapnya.
Tidak perlu waktu lama, pelayan tadi sudah kembali dengan barang yang sudah dibungkus rapi dengan paper bag kecil. “In-”
Arshel langsung menyambar barang yang dibelinya, dan segera memberinya kartu kredit untuk metode pembayarannya itu, “Pakai ini.”
“Ini struk pembayarannya, terima kasih.”
Arshel langsung berbalik dan pergi dari sana secepat mungkin, karena dia tidak tahan dengan aroma obat yang begitu menyengat.
Setelah itu, Arshel kembali masuk kedalam mobil dan meletakkan obat yang tadi dibeli di depan dashboard mobil.
“Berikan dia ini jika sudah bangun.” kata Arshel kepada paman Ard.
‘Ternyata tuan bisa perhatian. Padahal bisa menyuruhku untuk membelinya, mengingat tuan cukup membenci aroma obat.’ paman Ard dalam diam merasa bersyukur, karena ada satu waktu dimana Arshel yang biasanya memulai pertengkaran kecil dengan Risya, kali ini tidak ada pertengkaran itu, dan justru paman Ard diberikan pemandangan tuan muda Arshel yang mau membelikan obat untuk nona Risya.
__ADS_1
Sebuah perhatian kecil yang tidak bisa Risya Lihat karena Risya hanya akan tahu kalau obat yang sudah dibeli tadi adalah karena paman Ard lah yang beli.