
BRAK!
Risya menutup pintu kamarnya dengan sedikit keras dan langsung berjalan ke arah meja belajarnya, lalu segera duduk.
‘H-hampir saja.’ batin Risya, merasa khawatir sekaligus cemas.
Risya segera membuka buku yang terakhir kali dia buka. Lembar jawab yang sempat terkena tetesan darahnya, akhirnya tidak menyebar ke lembar jawaban yang lainnya, karena terhalang oleh beberapa lembar tisu.
SREEK..
Risya segera menyobek selembar kertas yang kotor itu dan kembali menuliskan jawaban yang serupa di lembar sebelahnya.
Setelah berhasil di salin dan berhasil menyelesaikan sisa dua soal tadi, Risya beranjak dari kursinya dan pergi menuju kamar mandi.
“...................” tangannya merogoh saku yang dijadikan tempat sampah tadi.
Tisu dan kertas yang terkena noda darah miliknya, segera Risya robek menjadi bagian kecil dan mencelupkannya ke air wastafel. Setelahnya, Risya remas dan buang ke dalam kloset.
SRUK…..
Dia siram untuk menghilangkan semua jejak miliknya.
_________________________
Esok harinya.
“Risya, apa ini kamu yang mengerjakannya sendiri?” di kelas, semua PR yang semalam Risya kerjakan, bukunya sudah ditumpuk dan sudah dinilai. Tapi disini karena sang guru merasa ada yang aneh dengan jawaban yang Risya buat, membuatnya jadi bertanya langsung kepada Risya.
“Iya.”
“...................., kalau begitu maju dan kerjakan soal ini.” merasa kurang percaya, maka sang ibu guru menulis soal dengan cara pengerjaan yang sama, namun memiliki angka yang berbeda saja.
“................” tanpa sepatah kata, Risya maju dan mulai mengerjakannya.
__ADS_1
“Dia bisa mengerjakannya.” satu orang siswa mulai berbicara.
“Jawabannya memang benar. Kenapa bu guru curiga dengan Risya?” bisik salah satu siswa lainnya.
Melihat Risya memang mampu mengerjakannya, wanita ini melepaskan Risya. “Ini bukumu, kamu duduklah kembali. perintahnya.
“Iya.” jawab Risya dengan singkat.
“Ris, kamu bisa mengerjakannya seperti itu, kenapa ibu guru curga padamu?” bisik Annisa yang duduk di belakan Risya persis.
“Sudah pasti, dan kalian kau pasti sudah tahu alasannya.” Risya yang merasa enggan untuk ditanyai lagi, terpaksa menjawab seperti itu kepada Annisa.
“.................” Annisa segera terdiam mendengar penuturan Risya yang terasa seperti orang yang putus asa akan sesuatu yang sudah pasti? ‘Apa maksudnya karena dia selalu memiliki nilai rendah, dan sekarang bisa dapat nilai 80, membuat guru curiga padanya?’
Annisa yang tidak begitu mengerti akan kehidupan yang dijalani oleh Risya hanya tetap memandang satu sisi dari Risya, yaitu kasihan. Annisa benar-benar merasa bersimpati soal Risya yang terlihat tidak memiliki wajah bahagia.
“Ulangan remidi untuk kalian yang mendapatkan nilai dibawah KKM kemarin, akan dilakukan setelah istirahat kedua.” beritahu wanita ini kepada semua murid yang memiliki nilai di bawah KKM.
“..................!” Risya langsung gelagapan, dan merasakan cemas jika ulangan kedua nanti akan sama-sama mendapatkan nilai rendah.
__________________
Bel 1 istirahat.
“Arshel, apa kau mau ikut makan di kantin?” tanya salah satu teman sekelas Arshel.
Arshel yang baru saja merapikan bukunya, segera melirik kedua temannya itu kemudian berdiri dan menjawab : “Ayo.”
Mereka berdua adalah Arden dan Nivel, teman Arshel yang semalam diajak pergi ke mall.
“Arshel, kau mau kemana?” seorang wanita berambut pirang, tiba-tiba bertanya, dia adalah Rose siswi pindahan dari luar negeri.
“Apa kau tadi tidak dengar? Mereka mengajakku ke kantin.” jawab Arshel dengan nada yang cukup dingin.
__ADS_1
“Aku ikut kalian ya?” dengan wajah penuh harap.
Nivel yang memang naksir dengan wanita cantik yang merupakan blasteran, langsung menjawab, “Kau bisa ikut, tambah ramai jadi tambah seru.”
“Kalau begitu, aku tidak sungkan ya.” ucap wanita ini dengan senyuman yang mengembang. ‘Yes! Akhirnya aku bisa dekat dengan Arshel.’ batinnya.
“Hmm, kau perempuan yang berani ya?”
“Eh? Kenapa bilang begitu?” tanya Rose balik seolah tidak mengerti, kepada Nivel yang baru saja dipuji.
Melihat Rose bertanya balik dan membuat Nivel semakin tertarik, Nivel sedikit melambatkan langkahnya agar bisa berjalan bersama dengan Rose.
“Kau masih baru, makannya tidak mengerti ya? Mereka semua memang ingin dekat dengan Arshel itu, tapi mereka tidak berani mengungkapkannya karena takut, makanya aku bilang kau cukup berani, untuk ukuran anak pindahan yang baru masuk sekolah ini.” jelas Nivel kepada Rose.
Seperti sebuah geng yang akhirnya diikuti oleh seorang perempuan pindahan yang ternyata tidak kalah cantik berada di antara tiga laki-laki tampan, mereka berempat langsung menjadi pusat perhatian.
“Dia anak pindahan itu kan?”
“Ternyata dia bisa ikut bareng dengan mereka bertiga aku jadi iri.”
“Siswi pindahannya cukup cantik, jangan-jangan dia mau mengambil mereka bertiga menjadi pacarnya.”
Semua pembicaraan yang dari tadi muncul di setiap langkah yang mereka semua ambil, tidak digubris oleh mereka, terutama Arshel.
Dia hanya menganggap bahwa bisikan dari mereka semua hanyalah angin lalu saja. ‘Pacar? Mereka terlalu membicarakan hal yang terlalu jauh.’
TRING……
Notifikasi yang muncul dari Handphon emilik Arshel, membuat Arshel segera melihatnya.
“......................” Arshel hanya membalas pesan notifikasi itu dengan satu huruf yang sangat singkat dan jelas juga padat. ‘Sebenarnya Risya menggunakan otaknya itu untuk apa? Dia sampai ulangan remidi lagi, secara tidak langsung dia sebenarnya sudah mempermalukanku.’ pikir Arshel.
Arshel sejujurnya heran, kenapa Risya yang padahal adalah kembaranya yang hanya lahir beda tipis, tidak bisa memiliki cara berpikir yang sama.
__ADS_1
Buktinya sudah sangat jelas, jika Arshel adalah murid yang pintar, maka Risya adalah murid yang hanya memiliki kriteria dibawa standar, itu sudah menjadi cap untuk mereka berdua.