
Di sisi lain.
Dimana saat ini Vatler benar-benar mengendarai mobilnya kembali menuju kota, dan sangat sungguh di sayangkan, karena dengan terpaksa Vatler meninggalkan Istrinya itu di tengah jalan.
‘Harusnya dia baik-baik saja, karena disana adalah wilayahku. Jadi tidak mungkin akan ada yang membawanya pergi. Ah….maksudku bukan itu, tapi setidaknya tidak akan ada orang jahat yang melintasi jalan itu.’ pikir Vatler di sela-sela dirinya saat ini sedang mengendarai mobilnya, dimana sebenarnya mobil putih yang saat ini dia kendarai adalah mobil pengantin pemberian ayah dan ibunya untuk mereka berdua.
Dan karena tidak ada pilihan lain, sebab itu adalah hadiah dari mereka berdua untuk hadiah pernikahannya bersama dengan Risyella, mau tidak mau Vatler harus menerimanya.
Meskipun sebenarnya Vatler sendiri bisa mendapatkan mobil semau hatinya, tapi apa daya?
DRRTT….
Dan setelah lebih dari lima belas menit dirinya kembali ke kota untuk menjemput Angie, saat ini Angie pun akhirnya kembali meneleponnya.
*Vatler~* Panggil Angie, sosok dari orang yang ada di ujung telepon. Dialah orang yang membuat permintaan kepada Vatler agar pergi menjemputnya.
Kemana?
“Apa yang terjadi? Sekarang kamu ada di mana?” Tanya Vatler saat itu juga.
*Datanglah ke rumah sakit xxx, aku saat ini ada di sana.* Jawab Angie dengan cepat.
Vatler mengernyitkan matanya, sebab Angie ada di rumah sakit?
“Katakan apa yang terjadi kepadamu sampai ada di rumah sakit segala?” Tanya Vatler menuntut sebuah jawaban kepada Angie, satu-satunya wanita yang dekat dengan Vatler.
*Aku akan mengatakannya jika kamu sudah sampai. Aku sudah menunggumu di depan pintu. Cepat datang kesini ya, aku malas sekali di lihat oleh orang-orang.* Jawab Angie sekali lagi.
Mendengar Angie seperti menuntut untuk agar bisa sampai lebih cepat, Vatler pun menaikkan kecepatan mobil yang dia kendarai sampai ke delapan puluh kilometer per jam.
Karena jalanan dari kota memang sedang cukup padat, jadi kemungkinan untuk pulang menemui Risyella pun akan semakin sedikit. Itulah alasan kenapa Vatler jadi harus memberikan satu pesan singkat agar istrinya itu pergi ke villa lebih dulu.
Dan satu alasan lain kenapa Vatler tidak memberinya jemputan, juga karena alasan lain.
__ADS_1
‘Ahh…kenapa aku merasa ini jadi semakin rumit? Aku pikir setelah aku mengantarkan Riyella ke Villa ku aku baru meninggalkannya, tetapi karena Angie tiba-tiba membutuhkan bantuanku saat ini juga, aku jadi terpaksa meninggalkannya. Dan alasanku tidak ada orang yang menjemputnya….aku merasa tidak ada orang lain yang bisa aku percayai untuk mengantar Risyella kesana. Semoga saja dia tidak marah.’ Racau Vatler di tengah-tengah keseriusan dirinya untuk tetap fokus pada jalan yang ada di depan sana.
Dan Vaterl pun harus buru-buru pergi menjemput Angie pulang.
*
*
*
Sepuluh menit kemudian.
Vatler akhirnya sampai di tempat tujuan, dimana Angie ada di rumah sakit.
“..............” Vatler yang baru saja masuk kedalam pintu gerbang, setelah lima ratus meter, Vatler pun melihat seorang wanita sedang duduk di kursi roda dan saat ini sedang ada di depan pintu masuk gedung.
Vatler membawa pergi mobilnya ke depan pintu masuk gedung itu, dan berhenti tepat di depan Angie.
KLEK….
“Apa yang terjadi pada kakimu?” Tanya Vatler pada saat itu juga.
Melihat Vatler sudah datang dan ada di depan matanya persis, Angie pun tersenyum manis, karena terlihat di wajah Vatler yang terlihat lelah itu.
“Ah ini~...” Angie menyentuh kaki kanannya yang saat ini sedang di gips. “Aku jatuh dari tangga.”
Vatler mengernyitkan matanya. Seorang Angie ternyata bisa membuat kecerobohan yang cukup besar.
“Lalu bagaimana? Apakah kakimu patah atau hanya-”
‘Dia ternyata khawatir sekali ya? Tapi aku sangat senang, karena Vatler bisa cepat sampai kesini tanpa perlu membuatku menunggu lama.’ Batin Angie seraya menjawab rasa penasaran milik pria di depannya itu.
“Tulang kakikku hanya retak, paling sekitar dua mingguan aku tidak boleh banyak melakukan pekerjaan di luar rumah. Karena aku tidak ada siapapun di rumah yang bisa aku minta bantuan, aku jadi memintamu menjemputku. Apakah kamu tidak masalah dengan itu? Atau kamu sedang sibuk dengan sesuatu? Maafkan aku jika aku mengganggu pekerjaamu ya.”
__ADS_1
“Tidak…, tidak perlu di pikirkan. Yang penting sekarang kita pulang dulu. AKu malas di perhatikan oleh mereka.” Kata Vatler sambil menjeling ke arah samping kanan dan kiri, banyak pasang mata yang sedang menuju kearah mereka berdua.
Itu memang sudah kesekian kalinya, tapi apa yang namanya risih tetap saja risih. Dan Vatler saat ini benar-benar sedang malas untuk mendapatkan pusat perhatian seperti ini, apalagi dengan Angie.
“Tuh kan…kita sama. Aku juga sedang malas menjadi pusat perhatian mereka semua. Pasti mereka akan mengira kita ini sepasang kekasih lagi.” Ucap Angie dengan sengaja. Walaupun mulutya mengatakan tidak ingin jadi pusat perhatian karena di kira sepasang kekasih, sebenarnya dia memiliki harapan yang sebaliknya. Dia ingin dianggap oleh semua orang bahwa dirinya dengan Vatler adalah sepasang kekasih. “Jadi…gendong~” Pinta Angie dengan manja.
Dia sudah mengulurkan kedua tangannya sedikit ke atas dan memberikan kode agar bisa di gendong oleh pria ini, Vatler.
“............” Tanpa sepatah kata pun lagi, Vatler pun membungkukkan tubuhnya ke depan, mengulurkan kedua tangannya itu , dimana tangan kirinya dia letakkan di bawah kaki bagian lutut Angie, sedangkan tangan kanannya pun langsung dia gunakan untuk menopang tubuh Angie, sampai akhirnya tubuh molek bak model majalah itu Vatler angkat dengan gaya bridal stayle.
“Keren sekali pacarnya itu, seperti pangeran saja ya.”
“Aku jadi iri dengan mereka berdua. Kelihatan romantis sekali.”
Perlahan bisikan demi bisikan terdengar oleh Vatler dan Angie yang saat ini sedang dalam posisi jarak terdekat mereka berdua.
Karena malas untuk mendengar satu persatu gumaman pada orang-orang yang melihat mereka berdua, Vatler dengan langkah cepat dan lebar pergi menuju sisi mobil bagian depan, dimana saat ini Vatler meletakkan tubuh Angie di kursi yang beberapa saat lalu di duduki oleh Risyella.
Setelahnya, Vatler buru-buru pergi ke satu sisi mobil lainnya, karena dia akan segera pergi keluar dari area sana sekarang juga, Vatler jadi langsung masuk kedalam mobil.
BRAK..
“............, Angie, gunakan sabuk pengamanmu.” Kata Vatler memberikan peringatan kepada Angie yang sibuk menggaruk-garuk sisi kulit yang ada di dekat lilitan gips itu.
“Tapi ini gatal.” jawab Angie.
Malas mendengar alasan yang akan memperlambat mereka berdua pergi dari sana, Vatler pun peri membungkukkan tubuhnya ke depan Angie untuk mengambil sealt belt yang tertanam di ujung sebelah kiri bahu Angie.
“.............!” Angie yang merasa mendapatkan adanya kesempatan, karena saat ini wajah mereka berdua benar-benar dekat, saat itu juga Angie pun langsung mencuri kesempatan itu untuk mencium bibir Vatler.
CUP….
Dan hal itu membuat Vatler terdiam, dan menolehkan kepalanya untuk menatap wajah Angie yang cantik, dan jujur saja di mata Vatler tentunya Angie jauh lebih cantik ketimbang Risyella yaitu Istrinya.
__ADS_1
“Vatler, kenapa kamu memakai kemeja putih? Apakah kamu baru saja menghadiri sebuah acara?” Tanya Angie penasaran.