
BRRMMM……….
Suara knalpot motor milik pria berambut hitam ini langsung memecah keheningan dari jalan raya yang sedang kosong itu.
Vatler, dia adalah seorang pria yang baru menginjak umur 40 tahun. Meskipun begitu, dia tidak memiliki tampang layaknya seorang yang sudah berkepala empat dan apalagi ternyata dia adalah seorang duda dengan dua anak kembar.
Tampangnya yang terlihat seperti baru berusia 30 tahunan itu tetap saja mengundang banyak kaum hawa untuk mendekatinya.
Namun seberapa cerdik wanita yang sering datang kepadanya, seberapapun cantiknya, dan punya body tubuh yang bagus sekalipun atau punya harta yang berlimpah, tidak membuat Vatler memiliki keinginan untuk menikah lagi setelah pernikahan pertamanya akhirnya kandas karena kematian istrinya yang bernama Risyella.
Dia sama sekali tidak membuka hatinya untuk siapapun karena dia merasa itu adalah sesuatu yang tidak berguna lagi.
Kenapa?
Karena Vatler sudah memiliki dua anak sekaligus, maka hal semacam pendamping hidup untuk memiliki ibu sambung untuk mereka berdua tidak pernah terlintas di benaknya.
Yang terpenting untuk Vatler sendiri adalah dia bisa menghidupi kedua anaknya dengan berkecukupan dan bisa membuat mereka hidup dengan mewah, meskipun membuat diri Vatler masuk ke dalam jurang kesepian karena dia selalu berada dalam kesendirian dalam waktu yang cukup lama, dan bahkan bisa dibilang hampir seumur hidupnya, Vatler tidak lagi memperdulikan dirinya itu.
Lalu apa alasan dari Vatler mengisi hidupnya dengan kesendirian Itu adalah karena umur dari pernikahannya dulu adalah 3 tahun saja, dan setelah itu?
“Mau di isi berapa tuan?” tanya petugas pengisian bahan bakar kepada Vatler yang menghentikan motornya untuk mengisi bahan bakar motornya.
“Isi sampai penuh.” jawab Vatler pada perempuan ini.
DRRT….DRRT…..DRRT……
Handphone nya yang berdering itu segera membuat Vatler akhirnya membuka kaca helm nya dan langsung menjawab panggilan itu setelah dia memasang earphone nirkabel.
“Kenapa kau menghubungiku?”’ tanya Vatler.
‘Wah! Tampannya. Aku beruntung sekali bisa melihat wajah dibalik helm itu.’ pikir wanita ini setelah akhirnya bisa melihat wajah dibalik helm berwarna serba hitam itu.
“..............” Vatler yang menyadari tatapan dari pegawai itu terus saja menatap ke arahnya, membuat diri Vatler langsung memberikan isyarat kedua jarinya ditunjukkan pada kedua mata perempuan itu untuk memperhatikan pekerjaannya kalau tangki motornya hampir penuh.
“..................!” Sadar dengan isyarat dari kedua jari yang ditunjukkan Vatler kepadanya, perempuan ini langsung menghentikan mesin pompa bensin sebelum bensin yang mengisi tangki motor milik Vatler itu meluap.
“Kau tunggu disana, aku akan menjemputmu.” jawab Vatler kepada orang yang ada di ujung telepon. Selagi menjawab isi dari panggilan telepon yang dia terima, Vatler langsung memberikan sejumlah uang besar kepada pegawai itu dan langsung melajukan motornya tanpa memperdulikan bahwa masih ada sisa kembalian yang banyak.
__ADS_1
“.................” perempuan ini tetap dalam efek pesona dari Vatler yang meskipun tidak terlihat banyak bicara, tapi semua tindakan yang Vatler perlihatkan tetap berhasil membuat kesan mendalam pada perempuan ini. “Jangan-jangan aku pagi nanti tidak bisa tidur.” gumamnya sambil terus terbayang akan wajah dari pria yang baru saja dia layani tadi.
Di malam yang hening itu, Vatler terus menarik gas motornya jauh kedalam hingga masuk dalam kecepatan lebih dari 120 km/jam.
“......................” Meskipun Vatler terlihat serius untuk terus menatap kedepan, tapi nyatanya dia lagi-lagi masuk dalam lamunan dari masa lalunya sendiri yang sudah terlewati selama 13 tahun ini.
Vatler sangat-sangat merasakan kalau anak perempuannya yang diberi nama Risya semakin hari bagi Vatler sendiri semakin mirip dengan mendiang dari wanita itu.
‘Risyella.’ hatinya memanggil namanya dengan cukup pelan.
Vatler mengingat apa yang terjadi kemarin sore, dimana dia melihat Risya benar-benar melihat ke arahnya yang pergi meninggalkannya begitu saja karena urusan pekerjaannya.
Lagi-lagi pekerjaan?
Karena semua emosi milik Vatler selalu dia tuang dalam pekerjaannya yang merupakan seorang anggota dari pasukan khusus yang identitasnya disembunyikan oleh publik.
Itulah kenapa dia tidak pernah sekalipun membeberkan apa pekerjaannya sampai membuatnya tidak pulang sampai lebih dari dua bulan lamanya.
“Kau dimana?” tanya Vatler ditengah dia masih dalam perjalanannya ke tempat tujuannya.
“Aku masih didalam kantorku. Apa kau bisa sekalian naik kesini?”
“Tunggu saja disitu, aku sebentar lagi sampai.” jawab Vatler, dia terus menaikkan kecepatan motornya hingga dalam kurun waktu kurang dari 10 menit, dia akhirnya sampai ke salah satu gedung pencakar langit di kota A.
BRRMMM………
Kecepatan motornya langsung diturunkan dan berakhir dengan berhenti tepat di depan pintu masuk dari sebuah kantor.
Vatler langsung turun dari motornya dan meletakkan helm di atas jok motornya, lalu berjalan memasuki lobi.
“Selamat datang tuan,” sapa sang resepsionis kepada Vatler.
Vatler yang tidak menghiraukan salam sapa dari wanita itu hanya terus melanjutkan tujuannya untuk pergi naik ke lift menuju lantai 45.
TING!
Bunyi dari LIft yang berdenting segera membuat Vatler kembali mengambil langkahnya yang lebar dan cepat.
__ADS_1
“.................” Vatler kemudian memandangi satu pintu berwarna kelabu.
Belum sempat memegang knop pintu yang akan dia putar dan dia buka, pintu itu lebih dulu terbuka oleh si pemilik ruangan.
“Masuk dulu.” perintah wanita berambut pirang ini kepada Vatler yang hanya memberikan reaksi wajah diam kepadanya.
“Apa kau masih belum selesai?” tanya Vatler sembari melangkah masuk dan berjalan menuju meja kerja milik wanita ini.
“Aku sebenarnya sudah selesai bekerja. Tapi ada satu hal yang ingin aku tanyakan sekaligus berikan kepadamu.” ucap wanita ini.
Dia namanya adalah Arsena, umurnya baru menginjak 34 tahun, dan sudah menikah.
Tapi sama halnya dengan apa yang Vatler alami, suami Arsena sudah meninggal 2 tahun yang lalu. Karena itulah Arsena bebas melakukan apa yang diinginkannya, termasuk memanggil Vatler untuk menjemputnya.
‘Apa yang mau dia tanyakan?’ Vatler jelas cukup penasaran karena tidak biasanya Arsena memanggilnya sampai harus masuk ke dalam kantornya.
Arsena kemudian membuka laci, dan mengeluarkan sebuah handphone berwarna putih.
Arsena menyodorkan handphone itu kedepan Vatler, sekaligus bertanya : “Apa kau tahu ini?”
“....................” Vatler hanya memberikan tatapan dingin kepada Arsena yang menanyakan pertanyaan yang jawabannya saja sudah jelas.
Arsena tersenyum tipis dengan ekspresi Vatler yang terus bertahan seperti itu. “Aku tahu ini handphone, tapi apa kau tahu siapa foto yang ada di dalam gambar ini?”
Arsena kemudian menekan tombol power yang ada di samping kiri handphone itu, tidak berselang berapa lama sebuah gambar muncul dari layar handphone yang sebagian layar LCD sudah retak.
Tapi itu tidak membuat Vatler tidak melihat apa gambar yang dia lihat itu.
“Darimana kau mendapatkan handphone ini?” Vatler langsung mengambil handphone kecil itu dari atas meja dan melihatnya lebih dekat lagi.
“Aku menemukannya di laci meja milik ayahku. Sebenarnya saat aku temukan handphone itu, kondisinya sudah mati. Tapi aku mencoba memperbaikinya, dan ternyata aku melihat wallpaper yang di pasang itu, ternyata adalah foto dirimu dan-” Arsena segera terdiam. Dia tidak berani mengatakan apa yang sudah jelas siapa foto dari satu orang lagi yang kenyataannya keberadaan dari satu orang itu sudah tidak ada di dunia ini lagi.
Melihat Vatler hanya diam saja seperti itu sambil menatap ponsel yang sudah dipegangnya saja menjadi bukti untuk Arsena.
Bahwa…
Vatler masih memikirkan wanita yang ada di foto itu.
__ADS_1
Wanita yang sudah dipasangkan untuk menjadi istrinya Vatler saat itu, yaitu Risyella.
“...............” Vatler memejamkan matanya, dan memasukkan handphone kecil dengan ukuran layar 4 inci itu ke dalam saku jaketnya.