
“Risya!” Arshel menggedor-gedor pintu kamar adiknya itu dengan sedikit keras. “Risya, kau jangan pura-pura tuli. Bangun!”
Jengkel karena tidak ada respon dari pemilik kamar, Arshel dengan berani langsung menerobos masuk ke kamar adiknya itu.
KLEK.
Satu hal yang Arshel lihat saat masuk kedalam kamar milik Risya, kamarnya benar-benar masih gelap total.
Arshel yang memiliki kedisiplinan tinggi itu segera menggapai remot yang ada di samping pintu dan memencet salah satu tombol remot, yang akhirnya membuat tirai jendela yang menghalangi mentari pagi itu terbuka secara otomatis.
‘Anak ini, sudah jam 9 seperti ini masih saja tidur.‘ tatap Arshel kepada Risya yang masih terbaring di kasur dengan cukup nyamannya. “Ris-”
“..............” tidak ada sahutan sama sekali.
“Risya!” panggil Arshel sekali lagi,
Dan seperti tadi juga, panggilannya benar-benar tidak didengar oleh adiknya yang benar-benar sudah tidur mati.
‘Ah~’ Dengan kejahilannya, Arshel pun mengambil gelas berisi air yang ada di atas nakas. Setelah itu dia pun sedikit mengguyur wajah Risya dengan air tersebut.
Risya yang langsung terusik itu, akhirnya membuka matanya lebar-lebar dan segera meneriaki amarahnya. “Kenapa kau mengguyurku!” marah Risya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
“Kau sendiri yang kenapa. Ini tidak seperti kebiasaanmu. Sudah jam 9, tapi kau masih tidur, enak sekali hidupmu makan tidur terus, sedangkan nilai ulanganmu terus saja anjlok.” cibir Arshel.
Merasa tidak terima, Risya langsung turun dari kasurnya, dan mendorong kuat Arshel agar pergi dari kamarnya. “Apa kau sedang pamer denganku? Kau tahu aku memang bodoh, jadi jangan dekat-dekat denganku.” usir Risya.
Tapi seperti tiang yang sudah di semen, Risya tidak bisa mendorong tubuh Arshel agar keluar dari kamar.
‘Gila! Apa kakinya ada lem yang sudah menempel di lantai? Kenapa dia susah sekali aku dorong?’ Risya terus berusaha untuk mengusir kakaknya yang tidak sopan itu, gara-gara menerobos masuk kamar perempuan.
“Tenaga sekecil ini, kau tidak akan bisa mengusirku keluar dari sini.”
“Terus apa maumu?” Tanyanya, dia sudah menyerah soal mengusir paksa Arshel dari kamarnya.
“Kau mulai saat ini harus belajar.”
“Aku tidak mau.” celetuk Risya.
Arshel sesaat terdiam, lalu dia kembali berbicara. “Aku tahu waktu itu kau pasti melihatku ditampar ayah, kan?”
DEG!
“..............” Risya mengernyitkan matanya karena ketahuan.
__ADS_1
“Apa kau tahu kenapa aku ditampar?” tanya Arshel.
“Memangnya kenapa?” antara cuek dan juga penasaran.
“Gara-gara nilaimu turun, akulah yang disalahkan.” Arshel akhirnya membuat kebohongan kepada Risya.
Hati Risya seketika jadi menciut saat tahu kalau Arshel waktu itu di tampar karena nilai?
‘Kenapa yang ditampar Arshel? Bukannya harusnya aku? Kan aku yang nilainya anjlok.’ pikir Risya dengan sangat keras.
‘Dengan begini, kau pasti merasa bersalah kepadaku.’ batin Arshel, diam-diam tersenyum bangga saat membuat adiknya merasa bersalah karena perbuatannya sendiri, ternyata berakibat pada kakaknya. “Asal kau tahu, jika akhir semester kau tidak masuk peringkat sepuluh besar lagi di kelasmu, aku lagi yang akan kena imbasnya.” kata Arshel, dia kembali membuat hasutan kepada Risya.
“Memangnya imbasnya apa? Jika uang sakumu dipotong, aku bisa membaginya kepadamu.” jawab Risya. Matanya sedikit menyipit saat otaknya kembali mengingat ayahnya menampar Arshel secara terang-terangan.
Risya merasa tidak enak, sekaligus jadi merasa bersalah.
‘Tapi kenapa aku harus belajar? Toh aku sebentar lagi menyusul ibu.’ pikir Risya.
Dia awalnya sudah bertekad untuk tidak belajar lagi, karena merasa tidak ada gunanya lagi. Sebab yang Risya butuhkan itu bukanlah belajar, melainkan kesenangan yang ingin dia dapatkan.
Walaupun, kesenangan itu bersifat sementara dan hanya bisa dicari sendiri, dia tidak mempermasalahkannya.
“Apa yang aku dapatkan jika tidak membuatmu masuk ke peringkat atas lagi di kelasmu, maka aku pasti akan mendapatkan pukulan.” lanjut Arshel, memberikan hasutan demi hasutan yang tidak akan membuatnya terlalu bekerja keras untuk mengatur Risya belajar.
Benar.
Risya tidak akan mungkin bertanya langsung kepada ayahnya, karena Risya sendiri memang pada dasarnya sudah takut pada ayahnya sendiri, karena setiap ekspresi, setiap mulut yang akan berbicara itu, seperti akan menjadi palu penghakiman, jika melakukan sedikit kesalahan.
Risya juga sadar kembali, kalau nama yang disandang adalah..
“Kita memiliki marga Ellistone, apa kau mau mencoreng nama baik ayah juga nenek?” terang Arshel. “Dari luar memang tidak ada yang membicarakanmu yang memiliki nilai lebih rendah dari mereka, karena mereka tidak berani mengusik kita yang merupakan keluarga besar Ellistone. Tapi di belakangmu? Kau sudah sebesar ini, kenapa pikiranmu tidak pernah ke arah sana?”
DEG!
Risya di buat diam membisu.
Apa yang dikatakan Arshel semuanya benar, dan Risya tidak bisa menyangkalnya.
Sekarang pikirannya kembali terbuka, kalau dirinya itu memang keluarga dari Ellistone, keluarga ternama di kota A. Karena itulah, selama ini tidak ada seorangpun yang pernah mengganggu Risya karena mereka yang tahu, pasti akan diam.
Ya.
Dari luar memang seperti itu, tidak ada yang berani mengusiknya, apalagi yang namanya ejekan. Risya belum pernah mendapatkannya, berkat marga yang dia miliki.
__ADS_1
Tapi kira-kira apa yang mereka semua katakan di belakangnya?
‘Aku sama sekali tidak memikirkannya.’ pikir Risya. ‘Aku memang bisa melakukan apapun sesuka hatiku, karena mereka takut dengan marga yang aku miliki. Tapi jika aku meninggal dan membawa nama buruk pada ayah? Aku sama sekali belum pernah memikirkannya sampai tahap itu.’
Melihat adiknya termenung, dalam diam Arshel tersenyum penuh kemenangan, ‘Aku sudah berhasil mencuci otaknya. Setelah ini, dia pasti akan lebih memperhatikan apa yang akan dilakukannya. Ah Arshel, kau memang jenius, kenapa tidak dari dulu saja aku mengendalikan adikku seperti ini.’
“Tapi Arshel, setiap aku minta di ajarkan olehmu, kau sendiri selalu menolak.”
DEG!
Mendengar ucapannya Risya yang tepat sasaran itu, membuat Arshel segera meralat apa yang dikatakannya waktu itu.
“Aku bisa mengajarimu, asal dengan satu syarat kau harus menuruti semua perintahku.” balas Arshel.
“Kau yakin?” tanya lagi Risya, merasa curiga kepada Arhsel yang tiba-tiba berbaik hati.
“Apa kau tidak percaya dengan ucapanku setelah semua yang terjadi ini?”
Risya sepintas merasa bingung sendiri. Semua yang dikatakan oleh kakaknya memang selalu dalam kebenaran.
Jadi semua keputusan yang selama Risya ambil adalah salah?
“Karena aku yang lebih pintar, akulah yang menerima semua beban, baik itu dirumah maupun disekolah. Apa sudah sampai ke tahap ini, kau masih saja ragu? Kau mau membuat citra ayah menjadi buruk karena kau?
Ayah sudah bekerja keras untuk membiayai sekolah kita, bahkan uang saku yang ayah berikan setiap bulan? Apa kau yakin mau seperti ini terus, membalas semua usaha ayah dengan keburukanmu itu?” Lagi-lagi Arshel memberikan sebuah hasutan dengan kalimat yang tidak sepenuhnya benar juga salah.
“Aku-” Risya tiba-tiba saja menunduk. Setelah diberikan ceramah panjang lebar oleh kakaknya, Risya jadi memiliki rasa bersalah yang besar terhadap semua yang dia lakukan selama beberapa minggu ini.
Membuat citra yang buruk kepada ayahnya secara tidak langsung.
Kerja keras?
Ayahnya memang sangat bekerja keras sampai melupakan cara yang benar memberikan perhatian kepadanya.
Itulah perasaan Risya yang sempat terbesit akan rasa emosinya sendiri.
“M-maafkan aku,” hatinya kembali menciut. Semua renungan tadi pun membuat sepasang matanya jadi tak kuasa membendung air matanya sendiri, yang mana akhirnya air mata itu tumpah.
“....................” Arshel tidak berkata apapun ketika melihat adiknya terlihat seperti orang yang baru saja melakukan kejahatan besar kepadanya.
Tapi apa pedulinya?
Yang Arshel pedulikan saat ini adalah membuat Risya merasakan rasa bersalah itu, dan secara otomatis akan merubah pikirannya untuk melakukan hal yang terbaik demi menjaga citra dari keluarga milik ayahnya.
__ADS_1
“Aku minta maaf, karena membuatmu sampai ditampar ayah.” gumam Risya.