Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
37 : IPHTV


__ADS_3

“Ehm….” Perlahan kelopak mata yang awalnya tertutup itu, perlahan terbuka. ‘Dimana aku?’ pikir Risya saat pertama kali yang dia lihat adalah langit-langit plafon berwarna putih.


Saat mencoba mencerna suasana yang sedang dia lihat dan rasakan, Risya tiba-tiba menyadari satu hal, ketika perutnya terasa berat. 


Ketika melirik ke bawah, dia melihat adanya tangan seseorang yang sedang menindih perutnya. 


Siapakan pemilik dari tangan itu adalah. paman Freddy?!


‘Paman? Kenapa dia tidur di sini? Apakah paman yang menjagaku sampai tertidur di sini?’ Risya yang merasa perasaan mengglitik ketika paman Freddy yang biasanya memperlihatkan wajah khawatiir itu, kini ternyata bisa diam. 


Risya kemudian mengangkat tangan kanannya, dan mendaratkan telapak tangannya itu di atas kepala paman Freddy, lalu mengusap kepala paman Freddy dengan usapan ringan. 


Dari kepala, Risya menurunkan usapan tangannya itu menuju wajah paman Freddy yang terihat sangat tenang. 


“Paman pasti lelah,” Masih mengusap wajah Freddy, perlahan hasil dari perbuatannya itu sukses membuat wajah pamannya merasa terusik.


Perlahan kelopak mata pemilik dari bulu mata lentik itu terbuka, lalu menatap lurus wajah Risya sambil menangkap tangan kanan Risya yang baru aja mengusik wajahnya.


“.................” Risya ingin menarik tangannya dari cengkraman tangan paman Freddy, tapi nyatanya pamannya itu belum mengizinkannya. 


“Bagaimana perasaanmu saat ini? Apa ada yang sakit?” 


“Seperti biasa.”


Seperti biasa yang dimaksud oleh Risya adalah merasa kedinginan, juga lemas. Bahkan sekarang dia merasa ingin tidur lagi. Tapi waktu tidak megizinkannya untuk tidur lagi, karena hari ini adalah hari pertamanya mengikuti ujian semesteran.


“Apa paman bisa mengantarku ke sekolah?” tanya Risya, dengan senyuman lemah. Dia mengharapkan jawaban iya dari mulut pamannya itu.


“Aku bisa membawa gurumu datang kesini,” Bujuk Freddy. 


“Aku tidak mau aku tidak berangkat sekolah. Walaupun aku bodoh, setidaknya tidak pernah absen. Absen dari daftar absen, maupun absen tidak muncul di sekolah. Arshel akan mencurigaiku, apalagi ayah.” Terus terang Risya. 


“Risya, kau tidak bodoh. Yang bodoh adalah Arshel, karena hanya memandangmu dari sisi kemampuan akademiknya saja. Padahal diluar itu, kau hebat dalam membuat sesuatu kan? 


Apa kau ingat kerajinan Quilling dengan bentuk kupu-kupu yang kau berikan kepada paman sebagai hadiah ulang tahun? Ada seseorang yang sangat menginginkan kerajinan itu dari paman, tapi paman tidak memberikannya, karena itu hadiahmu untuk paman. 


Jadi jangan mengatakan dirimu itu bodoh, karena semua orang mempunyai kelebihannya masing-masing. Tidak hanya terpaku pada nilai.” Jelas Freddy panjang lebar kepada Risya. 


Risya sedikit terpegun karena ucapan yang paman Freddy katakan tadi, hampir sama persis dengan apa yang dikatakan oleh paman Ard. 


Risya hanya tersenyum simpul ketika dirinya mendapatkan penilaian kalau dirinya tidak bodoh, karena di samping nilai akademik nya yang buruk, sebenarnya Risya lebih menyukai untuk membuat kerajinan. 


Dimana, kerajinan pertamanya yaitu Quilling yang memiliki bentuk kupu-kupu dan mempunyai nama Freddy, dia gunakan sebagai hadiah untuk pamannya itu karena bingung tidak tahu harus memberikan apa, ketika paman Freddy adalah orang yang sudah merasakan segala kemewahan. 

__ADS_1


                        **********


“Apa kau sudah belajar?” 


“Aku sudah belajar, tapi semua yang aku pelajari, rasanya tidak ada yang masuk.”


Keluh perempuan ini. 


Mereka berdua berjalan bersama memasuki halaman sekolah. 


Meskpun, banyak dari mereka adalah orang dari kalangan atas, tapi tidak mengartikan kalau sekolah ahrus di antar jemput dengan mobil mewah. 


Mereka memiliki cara masing-masing untuk pergi ke sekolah agar memiliki kesan berbeda.


Tapi hal itu tetap tidak merubah fakta kalau pemilik dari marga Ellistone akan melakukan hal remeh temeh seperti itu. 


“Lihat, itu mobil milik Tuan muda.”


“Tuan Arshel?” 


“Tuan sudah datang?”


Mendengar hal tersebut, mereka semua yang sedang berjalan di halaman sekolah, segera memalingkan wajah mereka untuk melihat keberadaan mobil berwarna hitam, yaitu Honda Accord terbaru, untuk kelas mobil sedan. 


TIN……


“...............” Arshel terdiam sambil menatap para perempuan yang masih sempat-sempatnya berhenti berjalan demi melihat ke arah mobilnya. ‘Apakah anak itu berangkat?’ 


Arshel tiba-tiba jadi teringat dengan kejadian semalam. 


Adiknya meraung dengan cara menangis. Mengatakan kata benci dengan teriakan keras yang baru pertama kali Arshel dengar. 


Sesampainya di depan pintu masuk gedung sekolah, Arshel pun membuka pintu mobil dan keluar dari mobil. 


Dalam sekejap mata, keberadaannya langsung disambut oleh semua mata dari kalangan perempuan. Dan hal tersebut sudah menjadi rutinitas keseharian Arshel.


Tapi kali ini, ternyata tatapan mereka semua tidak hanya menatap ke arahnya, tapi juga menatap ke arah mobil lain, berwarna putih yang baru saja datang.


“Gila! Siapa pria tampan yang baru keluar dari mobil itu?” 


Sampai akhirnya satu pujian yang terlontar dengan jelas bukan diperuntukan untuk Arshel, melainkan pria dewasa yang baru saja keluar dari mobil sedang putih itu. 


“Siapa yang dia antar?”

__ADS_1


“Apakah akan ada murid baru disini?” 


“Jangan-jangan dia mengantarkan kekasihnya.”


“Berarti yang orang itu antar, adalah seorang guru?”


Semua pertanyaan itu terus menggantung tanpa ada jawaban yang pasti. 


Hingga topik hangat yang baru saja dibicarakan oleh mereka, berhasil menyita perhatian mereka semua untuk diam membisu. 


“..............!” Bahkan Arshel sekalipun, dia juga-juga termangu saat melihat perempuan yang baru saja keluar dari mobil itu adalah, ‘Risya?’


“Aku pikir siapa, ternyata Risya?”


“Apakah pria itu adalah sopir pribadinya yang baru?”


“Tapi, kenapa pria itu menatap lembut Risya, seolah mereka berdua memiliki suatu hubungan yang tidak bisa dijelaskan dengan singkat?’


Segala pertanyaan yang keluar itu pun sama-sama muncul dalam diri Arshel juga. ‘Dia siapanya Risya? Kenapa sampai mengantarnya ke sekolah segala?’


Freddy yang tidak memperdulikan segala tatapan yang sedang tertuju ke arahnya, hanya tetap berusaha untuk memperlihatkan ekspresi wajah kalemnya di depan Risya. 


Dan seperti biasa, Freddy pun mengusap ujung kepala Risya sambil berkata : “Jangan terlalu memaksakan dirimu. Isi saja sesuai kemampuanmu. Ingat kan? Apa yang sudah aku katakan tadi?”


“Iya,” Jawab Risya singkat, dengan wajah sipu. Bagaimana tidak malu, jika sekarang dia sudah menjadi pusat perhatian, gara-gara keberadaan Freddy yang melakukan kebiasaannya itu. ‘Paman memang orang yang sangat romantis.’ Batin Risya. 


“Nanti aku akan menjemputmu.” Beritahu Freddy. 


“Ehm…..” 


Selesai dengan ramah tamah di depan Risya, Freddy kembali masuk kedalam mobil.


TIN….


Suara klakson itu pun menjadi salam perpisahan antara Freddy dengan Risya.


‘Terima kasih paman. Karena peman, aku jadi punya pengalaman seperti ini.’ Batin Risya, terus memandangi kepergian dari mobil milik paman Freddy.


Tidak seperti Risya yang menatap kepergian mobil itu dengan ekspresi bahagia seperti itu, Arshel justru sebaliknya. 


Arshel sangat tidak suka ketika melihat Risya ternyata bisa berekspresi seperti itu kepada pria tadi. 


Entah kenapa di dalam hatinya, dia merasa jengkel melihat Risya yang bersikap seperti itu.

__ADS_1


‘Padahal semalam dia menangis sampai seperti itu, kelihatannya suasana hatinya sudah baik.’ Tidak mau memandangi Risya lama-lama, Arshel tanpa sepatah kata lagi pergi meninggalkan kerumunan yang dibuat oleh para perempuan. 


                      


__ADS_2