
Tepat kepergian dari Arshel, Risya sempat melihat kakaknya itu pergi begitu saja.
Membuktikan hubungan yang awalnya sudah renggang, akan menjadi bertambah renggang.
“...............” Risya hanya terdiam sambil melihat kepergian dari Arshel yang kian menjauh itu.
“Risya, siapa pria yang mengantarmu tadi?” Satu pertanyaan langsung tertuju pada Risya yang masih berdiri di depan pintu masuk itu.
“Apakah dia Ayahmu?”
Satu pertanyaan lagi, berhasil menarik perhatian Risya, ‘Ayah? Yah...jika saja dia memang Ayahku, aku pasti sangat senang. Tapi-” Risya memang terbesit kalau paman Freddy adalah ayahnya. Setidaknya Ayah angkat, baginya itu cukup menyenangkan. Karena Risya sendiri sudah cukup nyaman dengan keberadaan dari paman Freddy yang selalu memberikan perhatian lebih kepadanya. “Dia hanyalah pamanku,” Jawab Risya.
“Aku pikir dia Ayahmu.”
Risya melirik pada perempuan yang bertanya kepadanya itu, “Kenapa Ayah?”
“Siapapun akan tahu, kalau tatapan yang pamanmu berikan tadi seperti tatapan dari Ayah yang menyayangi anaknya. Jadi, aku pikir dia benar-benar Ayahmu.”
“Benar. Kami belum pernah sekalipun melihat Ayahmu itu seperti apa. Bukankah setiap penerimaan rapor, yang datang itu adalah bibimu?”
DEG!
“Ayahku selalu sibuk.Jadi dia tidak pernah punya waktu untuk hal seperti itu.” Sanggah Risya dengan cepat.
Risya memaklumi hal itu, karena kenyataannya adalah Ayahnya tidak pernah sekalipun datang ke sekolah. Baik itu untuk penerimaan rapor, maupun rapat antas wali murid, Ayahnya tidak pernah memiliki meluangkan sedikit waktunya untuk datang.
Karena itu, saat beberapa minggu lalu ketika Ayahnya tiba-tiba datang menemui wali kelasnya, dan melakukan pembicaran penting dengan Bu Emi, membuat Risya tercengang sendiri.
Melihat ekspresi Risya yang terlihat canggung saat menjawab pertanyaan terakhir tadi, mereka semua pun langsung menutup mulut mereka untuk tidak bertanya lebih jauh lagi kepada Risya.
KRINGGG…
Suara dari bel tanda masuk kelas, sudah berdering keras.
Tidak seperti yang biasanya, kalau hal itu menunjukkan jam pelajaran akan dimulai. Maka hari ini adalah bel peringatan untuk mempersiapkan diri mereka untuk masuk ke dalam medan pertempuran, yaitu ujian semester.
************
“Waktunya 2 setengah jam. Jika ada yang ketahuan mencontek, akan Ibu keluarkan dari kelas. Dan secara otomatis, akan mendapatkan soal baru untuk dikerjakan diluar kelas. Apa kalian paham?” Jelas Bu Emi.
“Ya, Bu.” Jawab semua orang di dalam kelas.
“Baiklah, sekarang kalian sudah boleh mengerjakannya.” Imbuh Bu Emi.
Dalam kurun waktu yang sudah diberikan oleh pengawas, mereka semua mulai mengerjakan soal mereka masing-masing.
‘Apa ini? Kenapa soalnya sulit?’
‘Ah! Aku sudah tahu jawabannya! Ini mah kacang.’
__ADS_1
Dengan kemampuan mereka masing-masing, pasti ada yang langsung mendapatkan jawabannya tidak lama setelah membaca soal, tapi ada pula yang sudah membacanya berulang kali dan mencoba berpikir keras, tetap saja belum mendapatkan jawaban yang diinginkan.
‘Ya! Kenapa soalnya serumit ini? Apalagi semalam aku tidak belajar. Bagaimana ini?’ Pikir Risya. Soal matematika yang terlihat seperti musuh bebuyutannya, mau tidak mau harus dihadapi saat itu juga agar tidak ada yang bolong, alias menghindari adanya soal yang belum dijawab.
‘Risya, terlihat kesusahan sekali. Ternyata anak orang kaya belum tentu bisa menjawab soal semudah ini.’ Annisa pula memperhatikan Risya untuk sesaat, lalu menatap kembali soal yang sudah mulai dia jawab sampai 6 nomor.
Lain hal dengan kelas 2-D yang terlihat sibuk dengan musuh alami mereka, kelas 2-A yang kebanyakan adalah murid unggulan, banyak dari mereka belum sampai 1 jam sudah berhasil menyelesaikan lembar soal mereka.
DREEKK…
“Arshel, apa kamu sudah menyelesaikannya?” Tanya guru pengawas dari kelas 2-A, saat melihat Arshel adalah orang pertama yang menyelesaikan kertas ujiannya.
“Sudah,” Jawab Arshel dengan singkat.
Guru pengawas itu melihat semua jawaban yang dia terima itu untuk dikoreksi sesaat, apakah ada yang belum terjawab atau sudah semua.
Dan anggukan kecil itu menjadi pertanda kalau Arshel sudah lolos untuk keluar dari ruang ujian. “Kamu boleh keluar.” Ucapnya.
“Seperti biasa, dia menjawabnya dengan cepat.”
“Orang pintar memang seperti itu ya? serba cepat.”
“Kalian diam. Sekalipun bisa selesai dengan cepat, apa gunanya jika jawabannya asal-asalan. Kerjakan dengan benar!” Ujar guru ini kepada mereka semua.
Dan Arshel adalah orang pertama yang keluar dari ruang ujian, sehingga sekarang dia benar-benar berada di koridor sendirian.
“..............” Arehel celingukan ke kanan dan ke kiri. ‘Apa aku terlalu jenius?’ Tidak ingin berdiam diri di tempatnya terus, Arshel menggunakan waktu luangnya itu untuk jalan-jalan.
Karena di setiap kelas memiliki banyak jendela untuk luar maupun dalam, Arshel pun bisa mengintip suasana yang ada di dalam kelas 2-D.
“..............” Arshel melihat Risya sedang mengerjakan soalnya sendiri dengan wajah serius?
Arshel langsung mengatupkan mulutnya sendiri. Dia benar-benar baru pertama kali melihat wajah Risya yang terlihat seserius itu.
Seketika Arshel mengerjapkan matanya beberapa kali, dan berpikir : ‘ Kenapa aku jadi memperhatikan adik bodoh itu?’ Kutuk Arshel, segera meninggalkan tempat itu sebelum ada orang yang menyadarinya?
Tidak, tapi memang sudah ada yang menyadari keberadaan Arshel tadi yang sedang mengintip, itu adalah Bu Emi.
‘Apa Tuan Arshel baru saja memperhatikan adiknya?’ Bu Emi langsung beralih untuk menatap RIsya yang sedang dalam kondisi wajah serius-seriusnya, sampai dahinya terus mengerut. ‘Semoga saja, ujian kali ini nilainya lebih baik.” Batin Bu Emi, berharap pada Risya untuk membawakan perubahan pada dirinya sendiri.
Apalagi mengingat Bu Emi sudha sampai memanggil Vatler selaku ayahnya Risya, tantu saja itu membuat Bu Emi memiliki harapan kalau hal itu akan memberikan dampak perubahan untuk Risya sendiri.
“Waktunya tinggal 1 jam lagi.” Ucap BU EMi, memberitahu waktu kepada semua anak muridnya itu.
‘Satu jam?! Banyak soal yang belum diisi, bagaimana ini?’ Dengan wajah penuh rasa khawatir pada nasibnya sendiri, Risya bergegas menulis dan mencoret jawaban yang benar dalam lembar jawab.
Setengah jam kemudian.
“Ah~” Saat Risya masih membaca soal nomor 39, tiba-tiba saja Risya sedikit melenguh. Dimana lenguhan itu tidak akan digubris oleh mereka semua.
__ADS_1
Bu Emi pun hanya meliriknya sekilas, tapi segera dia alihkan untuk melihat salah satu muridnya yang tiba-tiba berdiri.
“Annisa, apa kau sudah selesai?’ Tanya Bu Emi.
“Sudah,Bu.” Sahut Annisa sambil menyerahkan lembar jawabannya kepada Bu Emi.
Setelah diteliti semua jawabannya tidak ada yang ksong, Bu Emi mempersilahkan Annisa untuk keluar.
‘Annisa sudah keluar dulu? Waktunya tinggal sebentar lagi, dan aku masih banyak yang belum aku jawab.’ Risya merenungi lembar jawabannya sendiri yang masih tersisa 20 nomor lagi, yang harus dia isi.
‘Ah sudahlah. Aku jawab dengan asal.’ Detik hati Risya. Karena disaat yang sama juga, pandangan Risya sedikit kabur, maka Risya pun buru-buru menghantam semua jawaban yang ada.
Risya langsung mencoret jawaban yang dia kira benar, dan setelah selesai Risya pun hanya menunggu sambil berpura-pura masih mengerjakan.
Karena tujuan sebenarnya adalah dia ingin duduk santai lebih dulu, dan mencoba menahan apa yang sedang dia rasakan saat ini.
‘Kenapa rasanya tambah dingin ya?’ Pikir RIsya sambil melihat kearah jendela dan memperhatikan pemandangan yang bisa dia lihat itu.
HIngga secara tidak sengaja, Risya melihat Arshel sudah dijemput pulang oleh paman Ard.
*
*
*
“Apa anda yakin tidak menunggu Nona RIsya?” Tanya paman Ard, khawatir kepada satu majikannya itu masih berada di dalam kelas, sedangkan Arshel sendiri sudah minta ingin pulang.
“Untuk apa aku menunggu jika dia sudah punya orang yang menunggunya?” pungkas Arshel atas pertanyaan dari paman Ard tadi.
Arshel mengatakan hal itu karena Arshel juga melihat sosok dari orang yang pagi tadi mengantar RIsya sekolah, sedang berdiri di kap mobil sambil bermain handphone nya sendiri.
Dia adalah Freddy.
Apa alasan dan hubungan yang Risya miliki dengan Freddy, Arshel jelas sama sekali tidak tahu. Dan justru baru tahu hari ini.
Paman Ard segera menoleh ke belakang. ‘Freddy? Jadi alasan Nona Risya tidak pulang adalah karena Freddy lah yang bersama dengan Nona Risya?’
*********
“Angie, masih kurang berapa lagi?” Tanya Freddy, sedang menelepon Angie.
“1,5 Milyar lagi.”
“..........” Meskipun tinggal 1,5 Milyar lagi, tapi bagi Freddy yang sudah mencoba mencari pinjaman dari orang lain, tetap saja masih terasa banyak. “ANgie, aku mengandalkanmu.” Harap Freddy kepada Angie.
“Ya. kau tenang saja, aku pasti akan mendapatkannya minggu ini juga.” Jawab Angie, setelah itu panggilan mereka Angie akhiri begitu saja.
Freddy menjatuhkan tangannya, lalu sedikit mendongak ke atas. Terlihat rasa takut terlukis di wajah tampannya itu. Dia merasa takut kalau sesuatu yang lebih buruk, akan terjadi lebih cepat ketimbang uang yang terkumpul itu kurang 1,5 Milyar lagi.
__ADS_1
Sesuatu yang akan terjadi pada gadis rapuh yang memiliki harapan besar bertemu dengan Ibunya, yaitu Risya.