
"Apa maksudmu?! Gubuk? Gubuk siapa yang kamu bakar itu?" Tanya Risyella dengan spontan karena dia benar-benar penasaran akan alasan Vatler kenapa bisa-bisanya membakar gubuk?
"Dari pada menyewa orang untuk menghancurkan gubuk kosong itu, bukannya lebih baik di bakar saja sampai tidak tersisa. Itu akan menghemat uang." Jelas Vatler dengan alasan aneh tapi juga lumayan masuk akal.
"Jadi itu gubuk kosong? Tidak ada bangunan di sekitar kan?"
'Dia banyak tanya juga ya?' Dengan begitu entengnya, Vatler menjawab lagi. "Tidak ada."
"Memangnya gubuk kosong yang kamu bakar itu mau dibuat apa?" Lagi-lagi Risyella dibuat bertanya lagi.
"Mungkin aku bisa buat rumah baru disana." Jawab Vatler singkat.
'R-rumah baru? Orang kaya memang mudah mengatakan membuat rumah baru ya? Tapi....dia mau buat rumah untuk apa lagi? Rumah yang kita tinggali saja masih berdiri kokoh begitu.' Pikir Risyella. Karena lelah untuk terus menoleh kebelakang, Risyella kembali memposisikan arah kepalanya untuk mengarah kedepan lagi. 'Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan lagi sih. Apa sebenarnya pekerjaan dia? Tapi aku saat aku tanya sama Ibunya, aku hanya diberikan senyuman saja.'
"Setelah ini kita pergi ke butik." Ucap Vatler sambil bersandar ke sandaran sofa, dan menatap langit-langit dari ruang itu.
Sedangkan Risyella yang akan mengambil bungkusan kotak berisi donat itu, langsung dibuat terkejut lagi, hingga paper bag yang hendak dia letakkan kembali ke atas nakas, berakhir terjatuh. 'Kenapa jadwal hari ini diam-diam begitu padat?'
Risyella, meskipun terlihat sedang bersantai, karena tubuhnya sedang dimanjakan dengan pijatan yang dilakukan oleh Kevin tadi, tapi nyatanya tidak begitu juga. Sebab tubuh dan pikirannya lebih lelah dari pada yang terlihat itu.
Dia lelah untuk memikirkan bagaimana untuk ke depannya, karena dirinya akan menjadi bagian dari keluarga Ellistone, dan satu lagi adalah bagaimanakah untuk melayani seorang pria yang akan menjadi suaminya?
Semua angan-angan akan imajinasinya itu awalnya memang terlihat cukup menyenangkan, tapi untuk bertahan sampai di hari ini saja, Risyella perlahan mulai merasakan apa itu namanya dunia orang kaya.
Banyak yang harus di waspadai, tapi Risyella sendiri tidak tahu apa dan siapa yang harus dia waspadai.
"Anyam...nyam..." Sambil berpikir, selagi itu pula dia mengisi perutnya yang sudah keroncongan. 'Kenapa donatnya enak?'
Merasa ketagihan dengan donat yang dibelikan oleh Vatler, Risyella tanpa sadar menghabiskan satu lusin donat sendirian.
"Arrghhh~" Sampai Risyella melupakn kalau dia sendawa cukup keras, dan membuat Vatler yang tadinya hanya tiduran, segera terbangun karena suara sendawa milik Risyella itu. "Ups...." Buru-buru Risyella menutup mulutnya sendiri yang tadi setengah terbuka.
__ADS_1
'Apakah dia masih lama?' Vatler sedikit mengeluh dalam diam karena Risyella ternyata suka berendam, sampai jam sudah menunjukkan pukul empat sore.
"Psst.......hei, Vatler..." Panggil Risyella dengan bisikan kecil yang terdengar aneh, karena cara memanggilnya sangat tidak sopan.
"................" Vatler yang mendengar panggilan dengan bisikan kecil itu, segera menoleh ke belakang.
Terlihat kepala Risyella muncul dari balik bathtup, lalu tatapan matanya benar-benar tertuju kearahnya.
"Apa....bisa ambilkan itu?" Risyella menunjuk pada handuk kimono yang ternyata Kevin meletakkannya di atas meja di samping sofa.
Dengan sedikit malas, Vatler mengambil gulungan handuk kimono itu dan dari tempat Vatler duduk, dia pun langsung melemparnya ke arah Risyella.
Dan Risyella pun dapat menangkapnya dengan mudah. 'Dia kira aku tidak bisa menangkapnya ya? Tapi ini....ah...suasananya kenapa benar-benar canggung sekali? Dan kenapa dia terus menatapku begitu sih? Apakah dia mau mengejekku karena apa yang terjadi tadi?' Batin Risyella. Karena merasa risih dengan tatapan yang Vatler berikan kepadanya, Risyella buru-buru berbalik.
'Dia wanita yang mudah malu. Padahal tidak ada yang menarik dilihat.' Pikir Vatler ketika mengingat apa yang terjadi beberapa waktu lalu, dimana dirinya memang sempat melihat tubuhnya Risyella. Tetapi tidak seperti yang diharapkan dari diri Vatler yang sudah kebal dengan pemandangan dimana wanita pasti akan memiliki ini dan itu di tubuhnya, Vatler memang benar-benar tidak begitu tertarik dengan tubuh Risyella yang seperti es lilin itu.
Alasan?
Dia pada dasarnya tidak memiliki alasan untuk tergoda begitu saja hanya karena melihat wanita bertelanjang di depan matanya persis.
"Vatler..." Panggil Risyella sekali lagi, yang mana hal tersebut berhasil menarik segala pikiran Vatler tentang Risyella tadi.
"Apa lagi?" Vatler akhirnya dibuat melirik ke arah Risyella yang sudah keluar dari bathtup dan sudah memakai handuk kimono.
"Kira-kira itu apa ya?" Risyella menunjuk pada pot dari tanaman hias yang punya ukuran besar dan letaknya di ujung ruangan.
Vatler yang awalnya tidak begitu tertarik dengan rasa penasaran yang dimiliki calon Istrinya itu, terpaksa harus melihat apa yang di tunjuk oleh tangan kecilnya itu.
"................!" Mata Vatler semakin mengernyit saat dia melihat benda berwarna hitam yang ternyata memiliki lampu berwarna merah.
Vatler buru-buru beranjak dari sofa, dan bergegas berjalan menghampiri Risyella.
__ADS_1
"Eh? Ada apa?" Tanya Risyella penasaran, sebab pergelangan tangannya tiba-tiba saja di tarik kasar oleh Vatler.
"Kita pulang."
"Tidak jadi ke tempat butik?" Tanyanya lagi dengan wajah polosnya.
"...................." Vatler melihat wajah Risyella yang tidak tahu apa-apa itu, membuatnya harus menggerakkan mulutnya lagi dan lagi. "Kamu pasti lelah kan lebih baik pulang saja, biar besok mereka saja yang datang ke rumah" Vatler langsung memejamkan matanya. 'Padahal aku ingin mengatakan kalau disini ada bom. Aku ingin melihat apakah dia akan panik atau tidak setelah tahu itu. Tapi kenapa aku jadi menyembunyikan fakta itu dan malah membuatku mengatakan ucapan yang aneh? Ini tidak seperti aku saja.' Keluh Vatler.
'Dia?! Buru-buru menarikku seperti ini karena ingin cepat-cepat pulang ya? Ya..dia pasti lelah melakukan pekerjaannya sendiri seharian, dan aku pun memang pada dasarnya lelah. Ternyata di balik tampangnya yang terilhat seperti memandangku seolah aku ini musuh, dia ternyata perhatian. Ah~ Bagaimana ini? Aku jadi bertambah suka dengannya.' Benak hati Risyella.
Melihat tangannya di tarik oleh tangan Vatler yang ternyata begitu besar, namun memiliki jari yang begitu cantik karena begitu lentik, membuat Risyella semakin merasakan kesenangan yang mengatas namakan rasa suka, cinta, dan harapan.
Harapan kalau Vatler suatu saat nanti membalas perasaan yang Risyella miliki itu.
_____________
"Yah....mereka sudah keburu pergi." Gerutu pria ini setelah dia melihat dari kejauhan, Vatler dan Risyella sudah pergi begitu saja.
Karena dirasa rencananya gagal, pria ini pun mengeluarkan handphone nya, dan memberikan pesan singkat pada seseorang.
'Sialan juga ya, aku masih belum bisa melihat wajah dari wanita yang Vatler bawa itu. Vatler....kamu pintar juga ya, selalu menghalangiku dari titik buta.' Pikirnya lagi.
WUSHH.......
Angin dingin di sore hari itu langsung berhembus menerpa tubuhnya.
Pria dengan mantel coat itu pun menyimpan kembali teropong miliknya, dan berjalan menuju helikopter yang ada di belakangnya persis.
"Lagi pula ini permulaan. Masih ada banyak waktu lainnya, sampai aku tahu siapa wanita yang kau bawa-bawa itu. Hahh Vatler, apa kau sudah berpaling dari Angie?" ucap pria ini dengan lirih. Kemudian dia pun masuk kedalam Helikopter, dan memerintahkan satu orang pilot untuk segera terbang dan pergi dari sana.
WOSHH.......WOSSH......WOSHH.....
__ADS_1
Perlahan tapi pasti, baling-baling itu pun bergerak semakin cepat dan akhirnya membawa mereka jauh dari kota tersebut.
"Kita akan bertemu lagi, Vatler." Kata terakhir yang dia ucapkan, seraya emmakai kacamata hitamnya.