Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
145 : IPHTV : Kedutan


__ADS_3

"Lihat itu Rosie, mereka berdua terliihat serasi kan?" Tanya Marlina, ketika saat ini dirinya sedang menikmati tontonan yang di perlihatkan dari sepasang pengantin baru yang hendak pergi berlibur untuk melaksanakan bulan madu, sesuai dengan jadwal yang sudah Marlina atur untuk kedua orang di sana.


"Ya." Dan Rosie, selaku pelayan pribadi Marlina, hanya menjawabnya dengan singkat dan mencoba untuk tidak begitu terlarut seperti suasana hati yang sedang di miliki oleh Marlina, sang majikannya itu.


"Rosie, kalau sudah seperti ini, apakah semua persiapan yang ada di sana juga sudah selesai?" Tanya Marlina lagi, atas rencana yang sudah Marlina susun sedemikian rupa itu, agar bulan madu yang akan di laksanakan oleh anaknya bersama dengan istrinya itu bisa berjalan lancar dan bahkan lebih romantis, dalam balutan suasana panas yang bergairah?


"Semuanya sud-" Belum juga mengatakan semua kalimatnya, Rosie sudah di suguhi oleh tingkah majikannya yang gokil itu sedang memeluk dirinya sendiri.


"Rosie, kamu kan juga sudah menikah, bagaimana malam pertama kalian?"


"Anda menanyakan hal pribadi milik saya?"


"Iya lah, kan setiap orang punya pengalaman yang berbeda dalam hal malam manis itu." Sahut Marlina detik itu juga.


Rosie pun membuat wajah berpikir lalu menjawab. "Sebenarnya saya melakukannya dengan mematikan lampu, jadi hanya tahu bagian enak dan sakitnya saja."


"Yah...kamu memang tidak bisa di andalkan." Ketus Marlina, kecewa dengan jawaban yang dijawab oleh Rosie itu.


"Kalau seperti ini, aku jadi semakin penasaran kira-kira seperti apakah gaya yang akan Vatler perlihatkan kepada Risyella ya? Anghh~ pasti memuaskan." Tiba-tiba saja Marlina kembali bertingkah dengan memeluk dirinya sendiri, dan mencoba mengimajinasikan apa yang ada di dalam pikirannya itu.


"Karena dia punya tubuh atletis, besar, pusakanya pasti sama-sama besar. Aku lihat waktu kecil saat aku memandikan dia, betapa gagahnya harta berharga milik anakku itu. Anghh~ Aku jadi tidak sabar melihat kedua anak itu bercumbu satu sama lain."' Ungkap Marlina dengan cukup gamblang, sampai Rosie sendiri ikut tersipu malu, dan ikutan kebawa masuk dalam imajinasi liar, karena memang, seperti apa yang di katakan oleh Marlina tadi itu adalah sebuah gambaran yang terasa cukup nyata, sampai..


____________


"Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat tegang begitu?" Tanya Risyella.

__ADS_1


Saat in imereka berdua sudah berada di dalam pesawat, dan di situ pula lah, Vatler yang memang duduk di sebelahnya persis, tiba-tiba saja memasang wajah tegang yang hampir beda tipis dari orang yang terlihat seperti orang yang akan marha.


"Tidak apa-apa, aku tiba-tiba hanya teringat sesuatu saja." Sebuah alasan konyol yang tidak berdasar itu pun jadi terlontar begitu saja lewat mulutnya yang beberapa saat tadi selalu saja diam.


"Oh...aku pikir apa." karena diarasa Vatler tidak seperti dalam masalah, Risyella pun kembali menikmati pemandangan yang bisa dia lihat dari tepi jendela pesawat.


Namun tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh Risyella terhadapnya beberapa saat tadi, sebenarnya saat ini Vatler sedang di hadapi oleh sesuatu yang lumayan mengkhawatirkan. 'K-kenapa tiba-tiba punyaku berkedut.' Pikir Vatler.


Dia tiba-tiba saja merasakan area pribadinya yang berkedut, seperti tadna-tanda kalau ada sesuatu yang sedang di inginkan oleh pusakanya itu.


Karena tidak bisa di biarkan begitu saja, Vatler pun beranjak dari kursinya dan pergi menuju toilet.


Risyella yang diam saja, hnaya memperhatikan kepergian Vatler, lagi?


'Dia ternyata menuju toilet.' Pikirnya. Karena merasa tidak begitu penting, maka Risyella kembali mencoba melihat-lihat keadaan yang ada di sekitarnya itu.


BRAK...


Kedua tangannya sedikit dia hentakkan ke atas wastafel, lalu menatap cermin yang ada di depannya itu.


Sebuah cermin yang memantulan wajah miliknya yang memang tampan, dan berhasil untuk menggoda semua wanita yang beberapa waktu lalu hampir saja menjadi bulan-bulanan mereka, jika Vatler tadi tidak bersikap tegas kepada mereka.


Tapi lebih dari pada itu adalah apa yang sedang dirasakannya saat ini.


'Kenapa, tiba-tiba bisa berkedut? Padahal aku bahkan tidak memikirkan hal semacam itu. Tapi ini?' Vatler pun menundukkan kepalanya ke bawah. Walaupun tidak membuat pusakanya berdiri, akan tetapi merasakan are apribadinya berkedut itu adalah suatu pertanda kalau d dalam dirinya seperti ada sesuatu yang sedang mengetuk-ketuk pintunya gar bisa di buka.

__ADS_1


Tapi jika Vatler membiarkannya terbuka, maka yang terjadi adalah sesuatu yang lebih bahaya, tentunya itu.


'Lebih baik aku coba buang air kecil saja.' Pikirnya. Karena itu, Vatler jadi memutuskan untuk membuka lapisan dari kain celananya,lalu mengeluarkan pusakaya dari celana yang satunya lagi.


Hingga sampailah dimana, Vatler memegang satu gengga, daging berukuran lumayan jumbo.


*


*


*


PSHH....


Namun di satu sisi lain, Risyella yang saat ini sedang asik duduk sendirian sambil mencoba menghabiskan waktunya untuk melihat-lihat lingkukan yang ada di sekitarnya, tiba-tiba saja memalingkan wajahnya ke arah jendela dengan wajah tersipu dan sudut mulut yang terus saja terangkat, membetuk sebuah senyuman kecil yang tidak pernah pudar.


Senyuman itu adalah awal dari imajinasi yang dimiliki oleh Risyella, mengingat Risyella melihat Vatler pergi ke toilet tadi.


'Kira-kira dia sedang apa? Apakah dia sedang buang air kecil? Tapi....aku, aku sebenarnya ini orang yang cukup mesum. Sampai memikirkan, kira-kira dia punya ukuran apa ya?' semua pikiran yang di miliki oleh Risyella pun tentu saja berasal dari setiap kali Risyella curi-curi pandang setiap celana yang di pakai, maka saat itu juga Risyella memang melihat sesuatu yang cukup besar tapi tersimpan dengan cukup baik di dalam sebuah celana milik Vatler.


Sesuatu yang terus saja mengundang imajinasi liar milik Risyella.


'Ah~ Aku, kenapa hanya memilikrkannya saja, punyaku jadi kedutan? Enak sih, tapi, cukup memalukan jika ada yang tahu soal aku ini.


Karena ini bulan madu, aku jadi ingin sesuatu yang lebih mengarah ke sana. Hanya saja karena Vatler saja sudah membua tsurat kontrak seperti itu, maka aku jadi tidak bisa mengharapkannya lebih dari sekdar imjainasi yang aku buat sendiri.' Benak hati Risyella, tatkala area sensitivnya, sebenarnya mulai berkedut lagi, seperti sebuah pertanda gerbang yang ingin di masukan oleh murid juniornya Vatler pribadi. "Pasti enak kan?"

__ADS_1


Risyella pun jadi memposisikan tubuhnya untuk duduk dalam posisi normal, setelah itu dia pun memejamkan matanya, dan dari situ pula semua imjaninasi itu muncul secara tiba-tiba.


__ADS_2