Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
24 : IPHTV


__ADS_3

“Jaga mereka berdua,” pesan Vatler kepada bibi Jeni dan paman Ard. 


“Tuan juga hati-hati,” sahut bibi Jeni dengan sedikit membungkuk.


“Jangan terlalu memaksakan tubuh anda, dan semoga pekerjaan anda berjalan lancar.” jawab paman Ard kepada Tuan majikannya.


Tidak seperti biasanya, Vatler akan pulang dan pergi dengan motor sport kesayangannya, kali ini Vatler pergi dengan membawa mobilnya. 


“Hm..” dehem Vatler. 


Setelah semua keperluannya sudah lengkap untuk pergi ke luar negeri, Vatler menutup pintu bagasi mobilnya, dan masuk kedalam mobil.


BRAK.


Suara itu menjadi pertanda untuk mereka semua bahwa Vatler sebagai ayah sekaligus Tuan besar dari mereka semua, akan pergi meninggalkan kediaman Ellistone. 


‘Kenapa dia tidak keluar?’ Vatler sedikit mencuri-curi pandangan untuk mencari seseorang yang sangat diharapkannya, yaitu Risya. Merasa tidak melihat orang yang diharapkannya, Vatler mulai mengaktifkan mesin mobilnya.


TIN…


Klakson itu pun menjadi salam perpisahannya pada semua orang yang ada di dalam rumah.


Dan Vatler akhirnya menginjak pedal gas, dan pergi dari sana. Meninggalkan semua orang yang ada. Termasuk Risya yang sebenarnya berdiri di dekat jendela kamarnya dan menatap kepergian dari mobil berwarna hitam itu.


‘Kapan ayah bisa istirahat dirumah? Kenapa ayah sangat bekerja keras padahal sudah tidak kekurangan apapun?’ pikir Risya. Dia masih tidak bisa memalingkan pandangannya dari mobil hitam yang kian menjauh, sampai tiba saatnya perutnya merasakan mual, “...........! Huek~” Risya langsung membungkuk dan menutup mulutnya sendiri.


Vatler yang berada di dalam mobil mencoba melirik spion, tanpa sengaja melihat Risya ternyata melihatnya dari kamarnya sendiri.


Tapi tepat saat Risya tiba-tiba membungkuk sambil menutup mulutnya, Vatler dengan cepat langsung menginjak rem se dalam-dalamnya.


“Risya?!” Vatler benar-benar menghentikan mobilnya dan segera turun dari mobil. Dia berbalik dan memperhatikan kamar di lantai dua yang ditinggali oleh Risya. 


DRRRTT….


DRRTT……


Mendengar handphone nya berdering, Vatler langsung mengangkatnya. 


📞 : Vatler, kau ada dimana? Jam terbang kita ke paris dimajukan.


“Aku masih ada di rumah.” jawab Vatler singkat. Dia tidak bisa mengalihkan matanya untuk tidak menatap kamar yang di tinggali oleh Risya itu.

__ADS_1


📞 : Lalu kau sedang menunggu apa?! Nanti kita ketinggalan pesawat!


“Berisik, aku akan berangkat sekarang,” imbuhnya, lalu menutup panggilan itu secara sepihak. ‘Kenapa dia tidak mau terang-terangan saja jika mau melihatku pergi? Dia benar-benar seperti wanita itu.’ senyuman tipis itu kian menghilang saat semua hubungan yang sudah dia jalin puluhan tahun yang lalu memang sudah berakhir begitu saja tanpa ada hal yang diperpanjangkan.


Karena merasa sudah tidak ada waktu untuk memikirkan kisah masa lalunya, Vatler pun memutuskan kembali masuk ke dalam mobil dan akhirnya keberadaannya kembali menghilang. 


Ditelan pekerjaan yang terus menyambutnya.


Meninggalkan kewajibannya sebagai seorang Ayah yang seharusnya memperhatikan anaknya sendiri.


*


*


*


Di dalam kamar..


“Huek~.....Huek~.....” Risya langsng memuntahkan semua makanan yang sudah Risya makan. Dan sekarang yang tersisa di perutnya adalah air. “Huek~....”


Perasaan mual itu terus saja muncul dan terasa tidak mau berhenti, membuat Risya dalam diam menangisi dirinya sendiri.


Ketika berada diluar, dia akan bersikap seperti biasanya, tapi jika sudah berada di tempat pribadinya sendiri, dia akan mengeluhkan semua perasaannya sendiri. 


Dia tidak ingin mendapatkan simpati dari orang lain.


Itulah yang dia pikirkan pada kondisinya sendiri yang semakin memburuk. Karena dalam diam, Risya sudah mulai mengonsumsi obat-obatan yang diberikan oleh paman Freddy.


“Haha….” mata yang awalnya menangis itu digantikan dengan tawa yang begitu lirih. 


Risya menertawai dirinya sendiri saat tiba-tiba saja tercetus kalau derita yang sedang dialaminya itu sebagai pertanda kalau dirinya akan dipertemukan dengan orang yang benar-benar sangat Risya rindukan.


“Ya! Jangan-jangan ini adalah takdirku untuk bertemu dengan Ibu! Itu pasti benar! Karena tuhan tahu aku sangat ingin bertemu dengan Ibu, karena itulah aku mendapatkan cobaan ini.” tutur Risya pada dirinya sendiri. Dia terus memantapkan pikiran yang muncul itu adalah kebenaran dari semua yang ada. 


Karena itulah, obat yang awalnya sudah Risya genggam itu, langsung dia buang kedalam kloset dan menyiram semua hasil muntahan tadi.


‘Kalau seperti ini, aku tidak akan perlu membuang uang Ayah lagi yang sudah aku simpan dengan tabunganku yang lain. Aku akan melunasi hutangku pada paman Freddy dan aku pun bisa bersenang-senang tanpa memikirkan nilai lagi. Karena…’ Risya kembali meneteskan air matanya lagi, lalu dia bergumam lirih, “Karena aku sebentar lagi juga pergi, maka aku bisa bebas melakukan apapun.”


Dan mulai dari saat itulah, Risya yang awalnya sangat ingin mendapatkan perhatian dari kakaknya, sangat ingin bisa menyamakan kemampuan akademiknya dengan Arshel, serta berusaha sehat kembali dan memiliki harapan di hari ulang tahunnya nanti bisa berlibur bersama dengan keluarga kecil yang sudah tidak utuh itu, segera Risya buang jauh-jauh.


Keinginannya saat ini adalah bisa menemani seseorang yang sudah tidak ada, yaitu bersama dengan Ibunya. 

__ADS_1


Merasa bahwa semua keputusan itu adalah keputusan yang sangat benar.


___________________


Di sekolah.


“Risya sekarang giliranmu maju.” kata Bu Emi kepada Risya.


“................” Risya dengan menurut segera maju dan menjawab satu soal yang diberikan oleh Bu Emi. Tidak perlu waktu lama, Risya sudah menyelesaikannya. 


Tapi ada satu masalah.


“Risya, jawabanmu salah. Padahal ibu sudah berkali-kali membahas ini, apa kamu masih tidak memahaminya?” tanya Bu Emi.


“Karena otakku lebih kecil daripada orang pada umumnya, mungkin karena itulah mau belajar berapa bannyak kalipun aku tidak bisa memahaminya dengan baik.” jawab Risya. 


Yang mana, jawaban tersebut sontak membuat semua orang di kelas terheran-heran melihat sikap berani Risya.


Bu Emi hanya diam, dan mengalihkan pembicaraan tersebut kepada murid lainnya. “Siapa yang bisa memperbaiki jawaban milik Risya harap maju.” pinta Bu Emi.


“Saya,”


“Ya Annisa, silahkan maju.” imbuh Bu Emi.


Tidak dihiraukan, Risya kembali duduk di tempatnya sambil membatin. ‘Hahaha..ternyata aku punya keberanian untuk ini. Pasti semua orang merasa terheran denganku yang tiba-tiba bersikap berani kepada guru. Yah, aku sadar ini salah. Tapi memangnya apa masalahnya? Dengan nama belakangku, tidak akan ada yang berani mengusik perbuatan aku yang lancang ini. Ahh! Kenapa tidak dari dulu saja seperti ini. Aku merasa bebas melakukan apapun.’


_______________


“Arshel,” panggil temannya, kepada Arshel yang sibuk membaca buku terus.


“Hmm…” dehem Arshel, masih serius menyimak isi cerita dari buku pelajarannya sendiri.


“Apa kau belum dengar?”


“Dengar apa?” masih saja tidak mengalihkan pandangannya dari bukunya sendiri.


“Adikmu, dia sekarang berani berkata tidak sopan pada orang yang tidak sengaja mengganggunya, bahkan pada Bu Emi sendiri tadi pagi menjadi sasarannya.” bisiknya lagi. Dia sengaja memberi informasi berharga itu karena di dalam kelasnya ada satu orang yang sangat berkaitan erat dengan Risya, yaitu siapa lagi kalau bukan Arshel.


‘Apalagi yang dibuat anak itu? Kenapa semakin hari dia semakin berbuat onar? Mengganggu saja. Dia benar-benar suddha mencoreng namaku, dan nama baik ayah juga. Sepertinya dia harus aku beri pelajaran.’ pikir Arshel. Siapapun yang mengganggu ketenangannya apalagi jika sudah menyangkut citra dari nama keluarganya, Arshel tidak akan tinggal diam begitu saja, 


Dan sasarannya kali ini adalah adiknya sendiri, yaitu Risya.

__ADS_1


__ADS_2