
Ciuman yang berlanjut itu ternyata sampai terbawa ke alam nyata.
Vatler yang awalnya ingin membangunkan Risyella, tiba-tiba saja dia ditarik oleh Risyella dan memaksanya masuk kedalam suasana tak terduga dari sebuah ciuman.
'Apa yang sedang dia mimpikan?' Sorotan mata Vatler yang awalnya memperlihatkan keterkejutannya, sudah sirna dan tergantikan dengan tatapan mata yang dingin, seolah ciuman yang sedang Risyella lakukan padanya tanpa disadari Risyella, adalah ciuman yang tidak berarti apapun untuk Vatler sendiri.
Biarpun begitu, Vatler tidak membalas ciuman yang dipimpin Risyella dan hanya membiarkan wanita yang nantinya akan jadi Istri sah nya, untuk bisa menikmati ciuman seorang diri selagi masih bisa dilakukan.
'Dia memang benar-benar tidak berpengalaman.' Cibir Vatler dalam diam, saat merasakan ciuman kasar dari Risyella yang justru terasa seperti melampiaskan nafsu terhadapnya.
'Kenapa ini lembut? Aku juga merasakan nafas yang menerpa wajahku.' Batin Risyella. 'Lalu kenapa aku juga semakin kesini aku kesulitan bernafas ya?' Janggal dengan deru nafas yang menuntut oksigen lebih banyak, perlahan Risyella membuka kelopak matanya.
Tatkala kelopak matanya sudah terbuka, hal yang dia dapatkan adalah Risyella langsung dikejutkan dengan satu wajah yang tidak asing itu ada di depan matanya persis dengan jarak yang benar-benar sangatlah dekat.
Ya..
Wajah beracun penuh maut untuk seluruh kaum hawa sudah ada di depan matanya persis dan tepatnya jarak wajah diantara mereka berdua sudah tidak tersisa lagi!
"Apa kau sudah puas?" Tanya Vatler selepas melihat Risyella sudah sepenuhnya sadar dari alam mimpinya yang membawanya untuk berciuman dengan Risyella.
Kedua mata Risyella pun membulat lebar dan secara refleks langsung berteriak.
"Kyaa...!" Seraya mendorong wajah Vatler agar menjauh, sekaligus membuat Risyella buru-buru minta maaf. "M-maaf! Aku tidak sengaja!" Ucapnya dengan mulut Risyella sudah dia tutup dengan kedua tangannya saking malunya.
Jika respon Risyella adalah wajah yang benar-benar terkejut setengah mati, maka berbanding terbalik dengan Vatler yang justru seperti menerima apa yang baru saja terjadi dengan respon lidahnya menjilat bibirnya sendiri.
'Apa yang barusan aku lakukan? Menciumnya?! Aku memang sudah gila ya?! Mimpiku mencium Vatler dihari pernikahan, justru benar-benar aku cium di dunia nyata!'
Risyella benar-benar meracau dalam hati. Dia antara bersyukur bisa menikmati ciuman untuk pertama kalinya, juga mengutuk dirinya sendiri karena berbuat hal senonoh dengan pria yang belum sah menjadi suaminya itu.
"Karena kau sudah bangun, jadi turun sendiri." Ujar Vatler berjalan menjauhi mobil.
__ADS_1
Ditinggal pergi begitu saja, Risyella akhirnya menyadari kalau mereka berdua ternyata sudah sampai di tempat tujuan. Sebuah rumah mewah berdiri dengan cukup megah. Entah seberapa luas halaman rumah tersebut, dimata Risyella, luasnya bisa digunakan untuk membuat rumah satu kampung.
"Ini benar-benar rumah yang besar." LIrih Risyella, takjub dengan desain rumah mewah yang bisa dia tebak adalah milk Vatler. Tapi demi sebuah basa-basi kecil, Risyella kemudian bertanya. "Ini...rumahmu?"
KLEK.
Tepat di depan pintu utama rumah tersebut, kedua pintu berwarna putih itu langsung terbuka secara otomatis!
Hal tersebut semakin menambah daftar untuk membuat Risyella takjub.
"Ini Villa lama milikku." Jawab Vatler singkat.
"Lama? Padahal kelihatan baru seperti ini, tapi ternyata lama?" Risyella terus celingukan kesana kemari, memperhatikan dengan seksama desain interior Villa milik Vatler yang terlihat memiliki kesan mewah namun mengusung tema yang lebih modern juga elegan.
Vatler terus berjalan layaknya seorang bos. Disaat itulah Vatler yang saat itu tengah memakai jaket, Vatler lepaskan dan dia letakkan diatas sofa begitu saja sambil berkata : "Tania, putar musik." Ucapnya, kepada Tania?
"Tania?" Gumam Risyella bingung. "Disini ada or-"
"Ha? Apa? Siapa?" Lirih Risyella, sembari mendongak keatas. Sebuah instrumen dari sebuah lagu terkenal namun hanya dimainkan dengan alat musik piano menjadi peneman mereka berdua saat itu.
"Itu teknologi jarvis kah?" Tanya Risyella kepada Vatler yang saat ini ada di depannya persis.
Vatler menjeling Risyella, dan menemukan ekspresi wajah Risyella seketika berubah menjadi bahagia?
'Hanya seperti itu dia terlihat sudah senang senang seperti itu?' Padahal bagi Vatler, hal semacam itu adalah hal yang sudah biasa, tapi rupanya tidak untuk Risyella yang lagi-lagi dibuat terpukau.
"Rumahmu canggih ya?" Kata Risyella, tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari dua lampu kristal berwarna bening yang menggantung tepat di atas kepalanya.
"Hmm..."
"Ini benar-benar hebat." Puji Risyella lagi, sampai dia tidak memperhatikan langkah kakinya, dimana tepat di depan kakinya saat ini sudah ada robot berbentuk lingkaran, cukup tipis, dan suka bergerak kemanapun untuk bekerja membersihkan debu.
__ADS_1
Benar...
Itu adalah robot pembersih debu.
Oleh karena itu, Risyella yang tidak memperhatikan langkah kakinya sendiri, secara tidak sengaja dia pun dia pun menginjak tubuh robot penyedot debu itu dan..
"Kyaa...!" Dalam kurun waktu yang cepat itu, tubuh Risyella pun terhuyung kedepan gara-gara robot yang dia pijak bergerak ke belakang.
"..........!" Vatler yang hendak berbalik untuk pergi kelantai dua, dibuat waspada ketika teriakan itu menggema. Dia pun terburu-buru berbalik lalu mengambil tiga langkah lebar dan cepat kearah Risyella, setelahnya dia pun merentangkan kedua tangannya kedepan sampai akhirnya tubuh Risyella berhasil Vatler tangkap dalam sebuah pelukan.
BRUKK..
".......!" Tangkapan yang sangat pas, hingga wajah Risyella benar-benar menabrak perut Vatler yang, 'Keras! Tapi kira-kira ada berapa kotak ya?' Sebuah anugerah lain benar-benar mendatangi Risyella lagi. Apalagi kalau bukan merasakan perut sixpack milik Vatler .
"Kamu suka sekali ceroboh." Celetuk Vatler dengan wajah berkerut.
"M-maaf, aku jadi merepotkanmu terus." Jawab Risyella. Wajahnya benar-benar merasakan otot perut Vatler yang begitu keras, tapi bukan berarti Risylla mengeluh wajahnya sakit karena menghantam perut keras itu, justru yang ada dia sangat bersyukur untuk kedua kalinya.
"Tapi...kakimu tidak apa-apa kan?" Lirih Vatler sambil membantu Risyella berdiri.
"Tidak apa-apa." Jawab Risyella singkat.
Suasana aneh pun akhirnya terjadi.
Kedua mata mereka saling bertemu, membuat Risyella dapat melihat lagi siluet mata Vatler berwarna biru itu. Tatapan dan warna mata yang sungguh mempesona.
Risyella benar-benar dibuat terpikat karena tatapan mata Vatler yang begitu dingin.
"Aku akan menunjukkanmu tempat yang kamu inginkan itu." Ucap Vatler, memecah keheningan diantara mereka berdua yang tercipta gara-gara Risyella hampir terjatuh tadi.
"O-oh iya." Risyella kembali dibuat gugup, karena ketahuan Vatler buru-buru mengubah suasana diantara mereka berdua.
__ADS_1