Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
129 : IPHTV : Pertemuan di bawah hujan (2)


__ADS_3

“Dia?!” kata Vatler tiba-tiba saja membelalakkan kedua matanya, ketika dia dikejutkan dengan sosoknya seseorang perempuan yang berdiri tepat di tengah jalan, dan menghalangi jalannya. 


Seorang wanita memakai gaun pengantin itu pun menoleh ke arahnya, dan dia rupanya adalah Risyella. 


Seketika itu Vatler pun langsung menginjak pedal se sedalam-dalamnya. Sayangnya, di sebabkan sekarang jalanan sedang di dilanda hujan yang deras, maka roda mobil tidak sepenuhnya bisa berhenti, dan yang ada justru adalah mobil yang dikendarai oleh Vatler pun tergelincir dan terus melaju ke arah Risyella, yaitu Istrinya. 


Hanya saja, seorang Vatler memangnya hanya bisa menginjak rem dan gas saja?


Kala itu di saat mobilnya dalam posisi tergelincir, Vatler tentu saja dengan cekatan mengganti gigi roda mobil ke nomor dua, memutar stir mobil ke arah kiri, lalu kedua kakinya secara bersamaan menginjak pedal gas dan rem. Alhasil mobil milik Vatler jadi memutari Risyella yang saat itu berdiri di tengah-tengahnya. 


BRRMM…..BRMMM….


Suara knalpot itu pun mengisi ketegangan di antara mereka berdua. Dan Vatler melakukan dua kali putaran drifting kepada Istrinya, sebelum akhirnya mobilnya berhenti tepat di depan Risyella persis.  


CKITT..


“A-apa?” Risyella yang terkejut setengah mati itu, langsung menyipitkan matanya, gara-gara lampu sorot mobil itu menyorot kearahnya langsung. 


“............” Vatler yang terdiam itu langsung keluar dari mobil.


BRAK….


Selepas keluar dari mobil, dengan langkah lebarnya itu Vatler langsung menghampiri Risyella yang masih berdiri di depan mobilnya dan segera berkata : “Risyella, apa yang kamu lakukan di tengah jalan seperti ini? Jika saja aku tidak menyadari kamu ada di tengah jalan, apa yang akan terjadi? Apa kamu tidak pakai ot-” Sontak mulutnya langsung bungkam, ketika Vatler menemui wajah Risyella yang begitu pucat itu.


“M-maaf…maaf..” Mendapatkan kata-kata yang sedikit kasar dalam artian Vatler menggunakan nada tinggi, Risyella yang sudah menggigil gemetar karena keterkejutannya sebab hampir tertabrak, langsung jatuh terduduk.

__ADS_1


BRUK…


“A-aku..aku..a-aku..aku tidak tahu. huwaa…maafkan aku…!” Akhirnya tangisannya pun pecah. Dia takut, gelap memang sudah menjadi ketakutan milik Risyella sendiri, tetapi yang lebih menakutkannya adalah ketika dirinya di bentak. “Aku tidak ta-hu kamu tiba-tiba..d-datang!” Imbuhnya.


Hatinya belum siap untuk mendapatkan bentakan keras seperti itu. 


‘Ahh…’ Vatler pun mengusap wajahnya dengan kasar. Vatler sebenarnya tidak ingin berkata dengan nada seperti itu, tetapi karena keterkejutannya juga, serta khawatir karena wanita di depannya itu selalu melakukan kecerobohannya, spontan mulutnya jadi ingin mencoba untuk menegurnya saja. 


Tapi meskipun begitu, Risyella akan menganggapnya kalau Vatler sedang marah kepadanya. 


“Bukan itu maksudku.” Lirih Vatler. Dia jadi kehabisan kata-kata karena insiden ini hampir saja membuat malapetaka untuk Risyella. “Risyella…”


“Hiks…m-maafkan aku Vatler…aku tidak senga-”


Risyella melirik kearah tangan Vatler yang terulur kearahnya. Dia pun menggapai tangan itu sambil berkata : “T-tapi tadi keren kok.”


JDERR….


‘K-keren? Padahal dia hampir mati karenaku, tapi masih bisa memujiku keren?’ Pikir vatler, dia sama sekali ingin tahu apa yang sebenarnya ada di dalam otaknya Risyella, karena setiap harinya pasti melakukan kecerobohan, dan satu lagi, tadi hampir kena tabrak, tapi sayangnya rasa takut itu seperti sudah menghilang setelah tahu kalau yang datang adalah, Vatler?


Vatler pun menyadarinya. Ya..kali ini dia menyadari alasan kenapa Risyella ada di depan Villa, itu karena dia sedang menunggunya. 


“Kenapa kamu tidak masuk?” Tanyanya, setelah membantu Risyella berdiri. ‘Gaunnya…walaupun basah, tapi itu masih bersih. Dia berusaha keras sekali menjaga agar tidak kena tanah.’ Memperhatikan gaun pengantin yang masih terpaai di tubuh Risyella. ‘Tapi-’ 


Vatler menemukan ada beberapa bagian di kaki Risyella yang lecet. Itu bukan lecet karena berjalan kaki, tetapi karena memakai sepatu hak tinggi. 

__ADS_1


‘Hahh…itu memang hampir saja. Ya…hampir saja, malam pertama pernikahan ini, hampir di akhiri kematianku.’ Risyella menunduk. Dia tak kuasa menahan tangis yang kembali melandanya, sebab Vatler akhirnya kembali. 


Setelah menunggunya selama tiga jam lebih, akhirnya suaminya itu bisa kembali kepadanya. 


‘Itu sudah lebih dari cukup. Iya..iya..yang penting Vatler kan pulang.’ benak hati  Risyella tersenyum mencibir. Dia mencibir dirinya sendiri karena hari pertama dari pernikahannya akhirnya tidak seindah dari bayangannya. 


Namanya juga perjodohan, maka dia pun harus tahu akan konsekuensi yang harus Risyella hadapi. Seperti saat ini saja, ketika dirinya kembali berdiri dan berhadapan dengan Vater yang sudah menjadi suaminya itu, Risyella sadar kalau Vatler memang baru saja menemui seorang wanita. 


Dan itu terlihat dari adanya noda lipstik yang tertinggal di kerah baju Vatler. Walaupun sedikit, akan tetapi yang namanya bukti, itu sudah menjadi bahan acuan sebagai kebenaran. 


Risella menatap wajah Vatler, lalu dia pun menjawabnya, “Karena aku ingin menunggumu.”


Vatler menghirup nafas sedalam-dalamnya, “Sebaiknya jangan terlalu menungguku.”


“Kenapa?” Tanyanya, bingung. “Kalau aku tidak menunggumu, aku juga sebenarnya tidak tahu, apakah ini adalah rumahmu atau bukan.”


“Kenapa berpikiran seperti itu? Aku kan sudah bilang, di ujung jal-”


“Ujung jalan? Tapi masih ada jalan yang tersisa ke arah sana, mungkin saja di sanalah rumahmu. Makannya aku menunggumu….karena aku takut salah tempat.” Tambahnya. 


Kedua matanya Vatler pun melebar. Tebakannya tadi memang sempat benar, tapi juga sedikit meleset. Karena rupanya Risyella ternyata punya pikiran sedemikian rupa, dengan kata lain, Risyella punya dua persepsi atas informasi yang Vatler berikan. 


Jadi kira-kira, siapa yang bisa di salahkan?


Vatler lagi.

__ADS_1


__ADS_2