Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
74 : IPHTV : Bersembunyi di dalamnya.


__ADS_3

"Kalau tidak mau ya sud-"


"Eh..jangan!" Risyella mencengkram lengan Vatler, mencegah Vatler pergi dan membatalkan tawaran yang pria itu berikan kepadanya. "Aku akan memakainya." Jawab Risyella.


"............" Sesuai harapan, tanpa banyak kata, Vatler mampu membuat Risyella tidak menolak tawarannya.


Tanpa banyak skenario lagi, Risyella memakai piyama milik Vatler.


KLEK....


Setelah mencobanya, sesuai dengan dugaan, baju piyama itu pun kebesaran di tubuh Risyella yang kurus.


Vatler meliriknya dan berkata "Itu jauh lebih baik."


'Apakah dia berpikir kalau aku memakai Lingerie tadi untuk menggodanya? Tapi mau dilihat dari manapun, kelihatannya dia bukanlah pria yang langsung tergoda.' Benak hati Risyella saat melihat Vatler saat ini sedang mengambil handuk untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


Berkat lampu senter dari handphone milik Vatler, Risyella jadi masih mampu melihat kamar Vatler memang benar-benar berciri khas dengan sang pemilik ini.


Tidak begitu glamor, tapi tetap menampilkan kesan sederhana tapi juga mewah.


Karena merasa sudah tidak ada keperluan lagi dengannya, Risyella pun pergi.


Jelingan mata milik Vatler yang melihat Risyella akan pergi dari kegelapan seperti itu, membuat Vatler bersuara. "Sebentar. Kamu bawa ini,"


Vatler membuka laci dari sebuah nakas, lalu dia pun mengambil sebuah barang dari dalam laci itu, yaitu stick glow in the dark. Vatler mencoba mematahkannya, setelah sudah berhasil membuat bagian dalam stick itu pecah, stick itu pun perlahan mulai bercahaya semakin terang. Vatler memberikannya kepada Risyella batang stick itu untuk dijadikan pengganti senter.


Risyella meengerjapkan matanya beberapa kali, lalu menerima pemberian Vatler itu sambil berkata : "Apakah masih ada lagi?"


".............." Tanpa ragu, Vatler membuka laci lagi dan memberikan dua buah lagi kepada Risyella yang terlihat senang dengan benda tersebut.


"Terima kasih." Ucap Risyella dengan senyuman bahagia.


Setelah berkata demikian, Risyella pun benar-benar tidak menuntut apapun kepada Vatler untuk menemaninya tidur, takut dengan kegelapan, ataupun mengantarkannya ke kamarnya, Risyella sungguh diluar perkiraan Vatler yang mengira Risyella merengek minta ini dan itu karena suasananya memang sedang gelap.


Sampai Vatler tidak menyangka juga, bahwa memberikan Risyella stick bercahaya seperti itu, justru membuat wanita itu menampilkan ekspresi senang.

__ADS_1


KLEK.


Setelah kepergian Risyella dari kamarnya, Vatler terus saja memandangi pintu itu.


'Aku sampai mengira dia memakai itu karena sengaja ingin menggodaku. Tapi melihat dia sangat menurut seperti itu, kenapa aku jadi merasa kasihan?' Namun Vatler segera memejamkan mtanya. Dia menggeleng pelan berusaha untuk tidak menaruh perhatian dan pikiran lebih kepada Risyella.


Ya...harusnya dia melakukan itu dari awal, agar Risyella tidak begittu terosebsi kepadanya.


Walaupun, Vatler sudah punya niatan seperti itu, sayangnya Vatler baru saja mulai melanggar ketentuan yang akan dia buat itu dengan memberikan piyama miliknya itu kepada Risyella.


*


*


Risyella yang saat ini berjalan sendirian dengan membawa lima stick glow in the dark di tangannya, bibirnya tidak henti-hentinya untuk tidak tersenyum.


Bagaimana tidak tersemyum, jika pakaian yang dia pakai saat ini adalah kepunyaannya Vatler.


Meskipun, sangat disayangkan karena dia tidak bisa meminta ini dan itu. Tentu saja dia tidak leluasa untuk membuat pria itu melakukan lebih kepadanya, karena dia tahu arti batasan terhadap orang yang belum lama Risyella kenal.


Ya.. sekalipun kedepannya, pria itu akan menjadi suaminya, dia akan tetap mempertahankan tindakannya agar tidak dicap sebagai wanita yang tidak sopan santun.


Risyella sanggat senang karena setidaknya sebentar lagi, masa lajangnya akan berakhir. Dan orang yang membuatnya bisa mengakhiri kesendirian itu adalah dia, Vatler yang tiba-tiba datang masuk kedalam hidupnya.


Biarpun semua itu karena sebuah perjodohan, Risyella akan mencoba menikmati apa yang sudah ditentukan untuknya.


Merasa senang dengan piyama milik Vatler sudah melekat ditubuhnya, Risyella pun jadi memeluk dirinya sendiri.


Tapi tatkala RIsyella sedang berjalan menuruni anak tangga, tiba-tiba suasana yang awalnya terkesan romantis itu, berubah menjadi horor. Sebuah kejutan tepat di tangah malam di bawah guyuran hujan lebat disertai petir itu benar-benar kembali mengejutkan Risyella.


Pintu depan yang awalnya tertutup itu, tiba-tiba saja terbuka.


KLEK.


"Dimana dia?"

__ADS_1


Sosok hitam, muncul diambang pintu. Dengan latar belakang kilatan dari petir yang menggelegar keras itu, akhirnya sukes untuk membuat Risyella menjerit.


JDERR...!


"Aaakkhh...!" Jantungnya berdetak cepat. Semua pikiran negatif itu segera menyeruak masuk kedalam otaknya, bahwa sekarang adalah tanda bahaya untuk Risyella agar segera kabur dari sana.


Risyella pun berbalik, berlari menuju kamarnya Vatler. Satu-satunya tempat yang menurutnya paling aman.


"..............?" Vatler yang kala itu sudah membuka bajunya, buru-buru berjalan kearah pintu dan membuka pintu kamarnya selepas dia mendengar jeritan milik Risyella tadi.


"Va-" Belum sempat berteriak memanggil nama si empu, pemilik nama itu sudah muncul dalam posisi sudah bertelanjang dada.


Persetan dengan penampilan Vatler yang menodai matanya dengan keindahan itu, Risyella dengan gelagapan, mencoba untuk berbiara.


"Takut petir?"


Risyella menggeleeng, "D-di depan. Di depan ada se-"


TAP...TAP.....TAP.....


"................!" Semakin dibuat takut dengan langkah kaki yang kian mendekat itu, Risyella tanpa sepatah kata lagi langsung berlari masuk kedalam kamar Vatler begitu saja, dan dia pun naik keatas tempat tidur dan segera bersembunyi di dalam selimut.


"............!" Melihat Risyella dalam ketakutan melebihi apa yang terjadi sore tadi, Vatler langsung menyoroti wajah pelaku dari pembuat onar.


Dan benar saja, yang ditakuti oleh Risyella saat ini adalah seorang laki-laki yang baru saja kehujanan juga seperti dirinya tadi.


"Hah~" Lelah dengan kegiatannya seharian itu, Vatler menghela nafas dengan kasar, lalu dia pun mendelik tajam kearah laki-laki itu.


Vatler menutup pintu kamarnya, membiarkan Risyella menenangkan dirinya sendiri di kamarnya, Vatler pun mengajak orang ini akar pergi menjauh dari wilayahnya.


Sedangkan Risyella sendiri masih meringkuk di dalam selimut menyembunyikan dirinya dari bahaya tadi.


'Siapa? Kenapa tidak ada suara? Apakah Vatler berhasil mengusirnya?' Keluh Risyella di dalam hatinya. Karena masih takut, apalagi dengan banyaknya suara dentuman petir, yang tidak ada habis-habisnya, Risyella terpaksa menyalakan kedua stick pemberian Vatler tadi, agar dia bisa mendapatkan cahaya lebih.


Cahaya putih, hijau, biru yang ada di genggamannya pun menjadi penghibur dirinya yang takut.

__ADS_1


Sampai akhirnya, Risyella yang sudah lelah karena beraktivitas seharian penuh dengan segala ancaman, berakhir dengan tidur di atas kasur kebesaran milik Vatler.


Aroma maskulin milik Vatler yang benar-benar sduah terpahat dengan jelas di dalam kepalanya, menjadi penempan mimpi indahnya.


__ADS_2