Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
78 : IPHTV : Singgungan


__ADS_3

“Lin Da. Mulai sekarang kau tidak perlu bekerja disini lagi.” Kata pemuda ini sambil melempar sebuah amplop berwarna coklat ke atas meja dengan sedikit kasar, sehingga ampolp itu pun sempat terseret menuju Lin Da.


Lin Da saat itu juga matanya membulat sempurna saat melihat amplop coklat itu seperti sebuah seruat kematian untuknya. 


Dengan ragu Lind Da mengambil amplop tersebut dan mulai membacanya dengan seksama. Sampai suara dengan nada sedikit tinggi akhirnya muncul juga setelah keterdiaman Lin Da dari tadi. “Bos, kenapa aku dipindahtugaskan keluar negeri?!”


Pria berambut pirang itu pun mengangkat salah satu alisnya. Tangan kanannya yang saat ini sedang memegang handphone tiba-tiba dia mengarahkan handphone itu ke depan Lin Da dan..


KLIK....


“Ekspresimu cukup menghibur Lin Da.” Ucap pria ini sambil mengamati jepretan foto Lin Da tadi. “Padahal kamu sendiri tahu apa kesalahanmu pada klien kita. Itu hanya di pindahtugaskan, kamu harusnya bersyukur karena dia tidak membuatmu dipecat. Aku dari awal sdah menduganya, dari sifatmu itu pasti suatu saat kamu mendapatkan imbasnya, ternyata yang kamu singgung malah Vatler. Ambil hikmah dari apa yang terjadi hari ini, kalau tidak, suatu saat nanti kamu akan mendapatkan hal yang lebih buruk dari ini." Jelas pria ini dengan panjang dan lebar.


Dia sangat tahu kalau klien kali ini adalah seorang yang punya latar belakang yang cukup terkenal. Tapi karena Vatler sungguh pintar dalam menyembunyikan identitas aslinya sebagai keluarga dengan marga Ellistone, maka banyak yang menganggap remeh Vatler.


Dengan kata lain, Lin Da yang merupakan teman kampus Vatler dulu bisa-bisanya membuat kesalahan seperti itu pun, maka artinya Lin Da pun masih belum tahu siapa sebenarnya Vatler itu.


"Hah~ Lucunya kamu justru menyinggung calon Istrinya. Jika aku jadi dia, aku pasti sudah memecatmu. Jadi sekarang kau ambil itu tiket, berangkat sekarang juga." Imbuh pria ini lagi.


'Vatler. Dia memang tidak membuatku dipecat. Tapi...dipindah tugaskan ke kantor cabang yang ada di rusia, kalau seperti ini aku jadi tidak bisa menemuinya lagi.' Pikir Lin Da. Dia sebenarnya antara menyesal dan tidak menyesal.


Dia tidak menyesal karena bisa menyiram wajah jelek perempuan yang akan menajadi Istrinya Vatler. Tapi yang menjadikan dirinya memiliki penyesalan adalah, dia jadi tidak bisa menemui Vatler lagi. Pria yang sudah dia idam-idamkan saat kuliah dulu.


"Tch..." Decih Lin Da, berjalan keluar dari kantor milik Bos nya dengan wajah amarahn.


Melihat Lin Da sudah keeluar dari kantornya, pria ini pun mengirim dua pesan chat kepada Vatler, dimana salah satunya adalah foto dari ekspresi Lin Da tadi.


'Vatler. Kamu selalu bertindak lebih cepat, ya? Kamu tahu Lin Da pasti sudah menyimpan dendam kepada calon Istrimu karena apa yang terjadi tadi. Karena itu Lin Da jadi dibuat menjauh dari calon Istrimu sejauh-jauhnya.' Pikir pria ini sambil menglum senyum simpul, ketika dia melihat dua pesan miliknya hanya di read saja.


******


Di rumah.

__ADS_1


Vatler saat ini sedang melirik handphone miliknya yang baru saja menerima notifikasi pesan dari salah satu temannya yang merupakan bos dari tempat Lin Da bekerja sebagai organizer wedding.


Hingga semua pikirannya mengenai Lin Da yang ternyata sudah berbuat seenaknya kepada Risyella sampai berani menyiram Risyella di depan banyak orang, tiba-tiba saja sirna ketika suara mlik Risyella akhirnya muncul juga.


"I-ini apa?" Tanya Risyella dengan ragu, saat tiba-tiba saja dia diberikan sebuah tab oleh Vatler.


Vatler menyimpan handphone nya, lalu pergi menjawab "Kamu pilih apa yang kamu suka."


Vatler pun memperlihatkan berbagai dekor pernikahan sederhana namun tetap memiliki kesan elegan dan berkelas tinggi dari tab yang saat ini sudah dipegang oleh Risyella. Banyak contoh yang bisa Risyella pilih untuk memilih wedding organizer mana yang kiranya cocok dengan hati Risyella.


Yah...


Bagi Vatler, itu hanyalah kebiasaan kecil dari orang-orang yang tidak ingin begitu repot saat akan menikah tapi waktunya cukup mepet.


"Aku hanya tinggal pilih ini?" RIsyella benar-bebnar beranya lagi untuk mendapatkan konfirmasi yang jelas kepada pemilik dana.


Siapa lagi kalau bukan Vatler. Dia adalah orang yang akan mendanai seluruh biaya pernikahannya?!


Benar..


Sebagai pria yang kaya raya dan sebagai pihak yang mengajukan pernikahan kepada Risyella, maka Vatler lah yang akan mengurus segala biaya untuk pernikahannya nanti. Dari biaya foto priwedding, cattering, seluruh pelayan sewaan, penata rias dan masih banyak lagi. Dan itu akan di tanggung oleh Vatler saat itu juga, dan tugas Risyella hanya duduk diam dan memilih saja?


RIsyella beberapa saat jadi diam. Dia jadi merasa tidak enak hati karena hanya duduk diam sambil memilih sendiri tanpa melakukan hal lain.


Vatler yang melihat Risyella tiba-tiba saja termenung, membuatnya angkat suara. "Apa kamu masih kesal dengan kejadian yang tadi?"


"Itu termasuk. Tapi ada yang lainnya lagi." Meletakkan tab itu ke atas meja, lalu Risyella pun kembali berkata : "Aku sedikit malu mengatakannya, tapi juga tidak tahu harus bicara dari mana dulu." Raut wajah Risyella berubah jadi sedih.


Risyella sejujurnya bingung bagaimana cara mengatakan apa yang ingin Risyella katakan kepada Vatler dengan singkat tapi jelas. Maka dari itu, sekarang ekspresinya pun jadi seperti orang bingung yang kehilangan arah.


Vatler yang mengerti dengan situasi Risyella saat ini, maka dia pun memberikannya kesempatan untuk Risyella bicara. "Katakan saja dengan pelan-pelan."

__ADS_1


Ucapan Vatler pun seketika membuat Risyella cukup terkejut. Dia tidak percaya bahwa pria seperti Vatler yang terlihat seperti orang yang tidak sabaran itu ternyata mengerti akan situasinya Risyella yang saat ini sedang kebingungan dengan arah topik yang akan Risyella bicarakan.


Risyella sadar, kalau cara dirinya bicara itu cukup belepotan, makannya Risyella adalah orang yang lebih ke tipe pendiam.


Tapi karena dia sudah diberikan kesempatan untuk bicara pelan-pelan oleh Vatler, maka Risyella pun bicara dengan cukup hati-hati. "Sebenarnya...aku merasa tidak enak."


"................." Vatler langsung melirik kearah Risyella yang kini sedang menunduk karena malu? Risyella lebih suka bicara tanpa menatap lawan bicaranya, itulah yang sering Vatler rasakan selama pertemuannya. "Dimananya yang merasa tidak enak?"


"Karena kamu yang membiayai semuanya. Aku jadi merasa tidak berguna saja. Tapi...kenapa Ibumu memilihku yang banyak kekurangan seperti ini?" Tanya Risyella lagi.


Risyella sebenarnya tidak sepenuhnya percaya kalau Ibunya Vatler benar-benar menginginkannya sebagai Istri dari anaknya ini, makannya Risyella selalu terheran sendiri kenapa keluara terpandang seperti mereka mau menjodohkan anaknya sendiri dengan orang dari kalangan rakyat biasa.


"Untuk ucapanmu yang pertama, kamu bukannya tidak berguna, tapi dikeluargaku itu memang punya sistem sendiri dimana pihak pria yang akan membiayai serta mengatur pernikahannya sediri. Jadi jangan terlalu dibawa pikiran. Karena bagi kami, itu semua sudah jadi sebuah tradisi.


Lalu untuk pertanyaanm yang tadi, sebaiknya tanyakan langsung pada ibuku." Jelas Vatler panjang lebar.


'Bertanya pada Ibunya langsung?!' Di dalam pikirannya RIsyella, dia merasa malu sekaligus takut untuk berhadapan dengan Ibunya Vatler.


Karena apa?


Itu karena, meskipun sifat Marlina itu baik namun terkesan bebas dan mudah berbaur dengan orang, tapi karena wajah cantik Marlina itu terkesan seperti seorang jal*ng, Risyella pun jadi memiliki kesan kurang baik kepadanya.


"T-tidak usah." Dengan ekspresi canggungnya, Risyella mengambil Tab nya lagi dan mencoba melihat ulang semua foto yang akan Risyella buat sebagai referensi untuk resepsi pernikahnannya nanti.


'Kenapa dia justru terlihat takut kepada Ibuku ketimbang aku? Lihat saja eksrpesinya yang jelek itu.' Tidak terasa tinggal tiga hari lagi dirinya akan menikahi wanita yang dijodohkan oleh Ibunya.


Walaupun sebenarnya hatinya kurang berkenan menikahi wanita dari desa, tetapi Vatler akan tetap menikahinya demi menghentikan kebiasaan Ibunya.


Walaupun pernikahan tanpa di dasari cinta?


Ya....

__ADS_1


Vatler sejujurnya tidak memiliki rasa suka pada wanita di sebelahnya itu. Tapi karena takdir, maka mau tidak mau Vatler harus menjalaninya.


__ADS_2